Liram menghabiskan pagi memeriksa catatan lama, sementara Lyla menunggu di ruang arsip. Aresh duduk bersamanya, tetapi ia memberi ruang dengan membaca dokumen lain. Lyla tidak ingin setiap pembicaraan tentang masa depannya menjadi tugas yang hanya ditanggung orang lain.
“Kalau arsipnya tidak memuat apa-apa, kita akan berhenti di situ?” tanyanya.
“Kita akan berhenti membuat kesimpulan dari arsip,” jawab Aresh. “Bukan berarti berhenti mencari jawaban.”
“Bagus. Aku ingin tahu, tapi aku tidak ingin orang-orang mengarang cerita supaya aku tenang.”
Liram kembali membawa dua map tipis. Ia mengatakan catatan yang ada hanya mencakup kedatangan Lyla sebagai korban tumbal, pemeriksaan tabib istana, dan keputusan Aresh untuk menempatkannya di bawah perawatan Tala. Tidak ada laporan tentang penampakan dewa atau perpindahan jiwa.
“Apakah ada kemungkinan laporan dari desa?” tanya Lyla.
“Ada catatan pengiriman, tetapi bukan catatan tentang Orion. Sabas menyerahkan Anda sebagai persembahan; tidak ada penjelasan mengenai bagaimana Anda pertama kali tiba di hutan.”
Lyla menarik napas. Sabas telah menipunya dengan teh dan membawanya untuk tumbal. Namun, membenci Sabas tidak menjawab misteri perpindahannya. Ia tak ingin menjadikan orang itu pusat cerita baru atau meminta Aresh menyelidikinya di luar fakta yang tersedia.
“Tidak perlu memperluas perkara itu,” katanya. “Aku hanya ingin tahu yang benar-benar berkaitan dengan kedatanganku.”
Liram mengangguk. “Saya akan menyimpan catatan ini sebagai batas informasi yang kita punya.”
Aresh membaca laporan tabib. Dokumen itu menyebut Lyla tidak sadar dan berada dalam kondisi lemah akibat ramuan yang diberikan sebelum diserahkan. Tidak ada bagian yang menyatakan tubuh Lyla di Bumi sudah pulih atau masih hidup.
Lyla mengusap tepi kertas. “Aku berharap ada satu kalimat yang menjelaskan semuanya.”
“Aku juga berharap kau mendapat penjelasan,” kata Aresh. “Namun aku tidak ingin berpura-pura ada.”
Lyla menutup map. Ia merasa takut, tapi bukan takut yang membuatnya ingin melarikan diri dari percakapan. Ia bisa duduk bersama ketidakpastian tanpa mengubahnya menjadi kepastian palsu.
Mereka menyusun ulang pertanyaan untuk Orion. Pertama, apa arti tepat misi “mencarikan istri”? Kedua, apakah keberhasilan misi ditentukan oleh pernikahan, pilihan Aresh, atau sesuatu lain? Ketiga, bagaimana keadaan tubuh Lyla di Bumi? Keempat, apakah waktu berjalan dengan cara yang sama di dua dunia? Kelima, apa risiko jika ia memilih tinggal?
“Yang terakhir belum tentu bisa dijawab sekarang,” kata Aresh.
“Tidak apa-apa. Aku tetap ingin bertanya.”
Liram menyarankan agar mereka mencatat pertanyaan itu tanpa menjanjikan jawaban tertentu. Ia tidak tahu cara menghubungi Orion, tetapi bisa memastikan bahwa jika Lyla mengingat petunjuk dari percakapan awal, mereka akan menelitinya dahulu.
Lyla merasa lega karena tak ada yang mendorongnya mengambil tindakan cepat. Ia kembali ke balkon perpustakaan bersama Aresh. Mereka duduk dalam diam, memandang halaman istana.
“Dulu aku pikir misi ini cuma soal membuatmu menikah,” kata Lyla. “Kalau itu terjadi, aku bisa pulang. Sekarang aku bahkan tidak yakin itu benar.”
“Keinginanmu untuk pulang tetap sah, meskipun cara pulangnya belum jelas.”
“Dan kalau pada akhirnya aku tak bisa?”
“Kita akan menghadapi kenyataan itu setelah mengetahuinya. Aku tak akan menentukan jawaban untukmu.”
Lyla memandangnya. “Kau terus mengatakan hal-hal yang membuatku lebih sulit pergi.”
“Aku tidak berusaha membuatmu pergi atau tinggal.”
“Aku tahu. Justru itu.”
Aresh menundukkan kepala, menerima ucapannya tanpa membalas dengan rayuan. Lyla menganggap sikap itu sebagai bentuk hormat. Ia tidak tahu apa yang akan dipilihnya, tetapi setidaknya tak merasa harus memberi jawaban demi menjaga perasaan Aresh.
Mereka juga membahas kemungkinan bahwa kata “mencarikan istri” berasal dari tafsiran Lyla terhadap perintah Orion, bukan rumusan yang sempurna. Lyla ingat ia mendengar nama Aresh dan kata misi dengan jelas, tetapi ia tak yakin apakah Orion menjelaskan batas tanggung jawabnya.
“Kalau aku hanya diminta memperkenalkanmu pada seseorang, berarti aku sudah mengerjakan sebagian,” katanya. “Kalau aku diminta membuatmu menikah, itu hal yang sama sekali berbeda.”
“Aku tidak akan membiarkanmu memaksaku menikah agar memenuhi versi kedua,” jawab Aresh.
“Aku juga tidak mau. Tapi kita tak tahu apakah itu benar-benar yang Orion maksud.”
“Karena itu kita bertanya kepadanya, jika ada cara yang aman.”
Liram menyarankan agar mereka tidak menggunakan adat kerajaan untuk menafsirkan misi. Adat amber, misalnya, menjelaskan maksud pemberian liontin di antara Suin, tetapi tidak memberi petunjuk tentang syarat Orion. Lyla menyetujui pemisahan itu.
“Aku sempat mengira semua hal di dunia ini bisa dibaca seperti tanda,” katanya. “Kalung, undangan, kedatangan putri. Padahal itu semua punya arti sendiri, bukan jawaban untuk misi.”
Aresh mengangguk. Ia mengatakan bahwa kedatangan Putri Elf telah selesai sebagai urusan kunjungan, tetapi urusan politik tetap berjalan. Tak ada hasil diplomatik yang bisa menentukan apakah Lyla harus pulang.
Mereka menambahkan batas itu dalam catatan. Lyla merasa semakin banyak hal yang belum diketahui, tetapi setidaknya ia berhenti menyatukan peristiwa yang sebenarnya terpisah.
Mereka membicarakan juga apa yang akan dilakukan jika Orion tidak muncul lagi. Lyla bertanya apakah ia harus terus tinggal dan menunggu, atau menganggap misi sudah gagal. Aresh tidak mencoba menjawab. Liram pun mengatakan bahwa mereka belum memiliki dasar untuk menentukan itu.
“Aku tidak mau menunggu tanpa batas hanya karena takut mengakui misi mungkin tidak berhasil,” kata Lyla. “Tapi aku juga tak mau menyerah sebelum tahu apakah masih ada cara bertanya.”
“Untuk saat ini, kita hanya tahu bahwa belum ada catatan,” ujar Aresh. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.”
Lyla menulis ini sebagai pertanyaan baru: berapa lama ia perlu menunggu sebelum dapat membuat keputusan tanpa informasi Orion? Ia tahu jawabannya mungkin harus datang dari dirinya sendiri, tetapi belum sekarang.
Aresh berkata bahwa ia bersedia mendampingi proses itu, tetapi tidak akan menyusun batas waktu atas nama Lyla. Ia tidak ingin mengubah dukungannya menjadi cara halus untuk mengendalikan pilihannya. Lyla berterima kasih dan mengatakan bahwa jika ia mulai merasa tertekan, ia akan menyampaikannya.
Mereka sepakat membuka kembali map hanya ketika ada informasi baru atau ketika Lyla meminta. Tidak perlu membaca daftar setiap hari sampai pertanyaan-pertanyaan itu menjadi satu-satunya hal yang ia pikirkan.