Hutan belantara ternyata jauh lebih luas dan lebih aneh daripada yang dibayangkan Lyla. Sudah hampir empat jam ia berjalan tanpa arah, hanya mengandalkan insting "sembrono"-nya yang seringkali justru membawanya menembus semak-semak berduri yang menyebalkan. Kakinya yang hanya terbungkus sepatu kets murah mulai terasa lecet, dan perutnya mulai menyanyikan lagu keroncongan yang sangat tidak merdu.
"Orion, kau dewa pelit! Minimal kasih aku roti sobek atau air mineral kek! Kalau aku mati kelaparan di sini, siapa yang mau cari istri buat raja nagamu itu?!" teriak Lyla ke arah langit biru yang jernih. Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya seekor burung berwarna ungu neon yang terbang melintas sambil mengeluarkan suara melengking seperti terompet rusak.
Lyla menghela napas panjang, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Ia duduk di atas sebuah akar pohon raksasa yang permukaannya terasa seperti beludru hangat. Matanya menyapu sekitar dengan rasa takjub yang campur aduk dengan kekesalan. Hutan ini sangat indah, tapi juga sangat asing. Ada bunga-bunga sebesar payung yang bisa menutup sendiri saat disentuh, dan lumut yang berpendar hijau terang setiap kali kakinya melangkah. Namun, keindahan itu sama sekali tidak bisa mengenyangkan perutnya yang kosong.
"Satu-satunya yang bagus di sini adalah udaranya. Segar sekali, tidak ada polusi knalpot atau bau sampah kota," gumamnya sambil bangkit berdiri dengan susah payah. "Oke, Lyla. Jangan menyerah. Kau sudah selamat dari tabrakan sedan hitam itu, masa kalah sama hutan belantara."
Setelah berjalan satu jam lagi dengan tenaga sisa, hidung Lyla menangkap sesuatu yang luar biasa. Bau kayu bakar yang terbakar dan aroma gurih seperti daging panggang yang dibumbui rempah. Matanya seketika berbinar. "Makanan! Ada peradaban di dekat sini!"
Ia berlari menembus semak-semak, tidak peduli lagi jika ranting-ranting pohon menggores lengannya yang mulus. Tak lama kemudian, pemandangan di depannya berubah drastis. Hutan lebat itu terbuka, menampakkan sebuah pemukiman kecil yang sangat unik dan eksotis. Rumah-rumahnya terbuat dari kombinasi kayu berwarna gelap dan batu alam, berbentuk bulat dengan atap jerami tebal yang berjajar rapi di lereng bukit kecil.
Lyla melangkah masuk ke gerbang desa dengan perasaan lega yang luar biasa. Namun, rasa lega itu hanya bertahan lima detik. Saat ia mulai memasuki area pasar desa, langkahnya terhenti mendadak. Mulutnya menganga lebar, matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya.
"Ini... aku sedang di lokasi syuting film fantasi atau aku memang sudah gila?" bisiknya tak percaya.
Orong-orang yang berlalu-lalang di pasar itu sama sekali tidak seperti manusia yang pernah ia lihat di Bumi. Ada seorang ibu yang sedang memilih sayuran, namun di atas kepalanya terdapat sepasang telinga kelinci yang panjang dan sesekali bergerak-gerak sensitif. Di sudut lain, seorang pria kekar sedang memikul karung gandum, dan dari balik celananya, sebuah ekor harimau yang panjang menjuntai dan bergerak-gerak mengikuti irama langkahnya.
Lyla mengucek matanya berulang kali, berharap itu hanya halusinasi karena kelaparan. "Telinga? Ekor? Mereka... manusia hewan? Tunggu, Orion bilang ini dunia baru, tapi dia tidak bilang isinya menggemaskan begini!"
Jiwa pencinta kucing Lyla hampir saja membuatnya hilang kendali dan berlari untuk mengelus telinga kelinci ibu tadi, namun ia masih cukup sadar bahwa tindakan itu bisa dianggap pelecehan atau kegilaan di dunia ini. Ia berjalan perlahan menelusuri pasar, merasa seperti alien di planet asing. Orang-orang di sana juga mulai memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Bisik-bisik mulai terdengar di sekelilingnya.
"Lihat, ras manusia murni?" "Langka sekali. Apa yang dilakukan ras lemah itu di desa Suin?"
Lyla mencoba bersikap biasa saja, meski jantungnya berdegup kencang karena cemas. Ia berhenti di depan sebuah toko yang menjual buah-buahan aneh berwarna ungu mengkilap. Saat ia sedang bingung bagaimana cara bertanya tanpa terlihat bodoh, seorang pria tua menghampirinya dari arah samping.
Pria itu mengenakan jubah lusuh berwarna cokelat tanah. Wajahnya tampak seperti manusia biasa, namun kulitnya memiliki tekstur yang agak bersisik di bagian leher dan tangan. Dan yang paling mencolok, setiap beberapa detik, lidahnya yang panjang dan bercabang akan menjulur keluar dengan cepat untuk menangkap udara, persis seperti seekor kadal.
"Apa yang membawa ras manusia yang cantik ini ke desa kecil kami yang rendah ini?" tanya pria tua itu. Suaranya serak, berat, dan agak berdesis di setiap akhir kalimat.
Lyla berjengit kaget, namun segera menguasai diri dengan senyum lebar andalannya. "Eh, halo Kek. Nama saya Lyla. Saya... saya tersesat. Saya sudah berjalan berjam-jam di hutan dan jujur saja, saya lapar sekali. Apa ada tempat untuk sekadar istirahat atau membeli makanan?"
Pria suin kadal itu menatap Lyla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya yang berwarna kuning terang dengan pupil vertikal tampak berkilat aneh, namun ia segera menyembunyikannya di balik senyum ramah yang tampak sedikit terlalu lebar. "Ah, kasihan sekali. Tersesat di hutan Avantera sangat berbahaya bagi manusia tanpa sihir sepertimu. Namaku Sabas. Mari, ikutlah ke rumahku. Keluargaku akan sangat senang menjamu tamu istimewa dari jauh seperti Anda."
Lyla, yang memang dasarnya memiliki sifat lugas dan terkadang terlalu mudah percaya pada orang asing, langsung mengangguk dengan semangat membara. "Benarkah? Wah, terima kasih banyak, Kek! Kau adalah orang paling baik yang pernah kutemui hari ini!"
Sabas memandu Lyla melewati jalanan desa yang sempit dan berdebu hingga sampai ke sebuah rumah yang agak terpencil di pinggir desa, dekat dengan tebing. Di dalam, suasana terasa hangat namun agak pengap. Ada aroma dupa yang kuat dan menenangkan, hampir membuat pusing. Sabas memperkenalkannya pada beberapa anggota keluarganya yang semuanya memiliki ciri khas suin kadal yang sama.
"Silakan duduk, Nona Lyla. Ini, minumlah teh herbal spesial kami untuk memulihkan tenagamu yang terkuras," ucap Sabas sambil menyodorkan sebuah cangkir kayu berukir berisi cairan berwarna hijau bening yang mengeluarkan uap manis.
"Terima kasih banyak, Kek!" Lyla yang memang sudah kehausan luar biasa langsung meminumnya hingga tandas dalam beberapa tegukan. Rasanya manis, sedikit pahit, dan memberikan sensasi dingin yang menyegarkan di tenggorokan. "Wah, segar sekali. Teh apa ini?"
"Hanya ramuan penenang... agar kau tidak merasa gelisah saat prosesnya dimulai," bisik Sabas pelan, suaranya kini terdengar berbeda, lebih dingin dan tanpa emosi.
Tiba-tiba, dunia di sekitar Lyla mulai berputar hebat. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ditarik oleh gravitasi yang sangat kuat, dan matanya tidak bisa diajak bekerja sama lagi. Tubuhnya terasa lemas seperti jelly yang dipanaskan. Lyla mencoba berdiri, namun kakinya langsung menyerah dan ia jatuh kembali ke kursi.
"Kek... kenapa... kepalaku... pusing sekali..."
"Tidurlah, persembahan suciku," suara Sabas kini terdengar sangat jauh dan bergema. "Desa kami sudah terlalu lama tidak memberikan upeti yang pantas untuk Sang Raja Naga di Istana Avantera. Kehadiran manusia murni dengan jiwa yang segar sepertimu adalah anugerah dari langit. Kau akan menjadi tumbal yang sempurna untuk menenangkan amarah Sang Raja agar desa kami tetap aman dari amukannya."
Lyla ingin berteriak, ingin memaki pria tua penipu itu dengan semua k********r yang ia tahu, namun lidahnya sudah kelu dan kaku. Sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya, ia melihat beberapa wanita suin mulai mendekatinya. Mereka membawa kain-kain sutra indah yang transparan dan berbagai macam minyak wangi. Mereka mulai menanggalkan pakaian kerjanya yang kotor dan menggantinya dengan gaun mewah yang sangat terbuka.
Sialan... Orion... kau benar... dunia ini... jauh lebih gila dari dugaanku... batin Lyla sebelum semuanya menjadi gelap total.
Beberapa waktu kemudian—Lyla tidak tahu sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri—ia mulai merasakan kesadarannya kembali secara perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma lavender yang sangat menenangkan dan kelembutan dari kasur yang luar biasa empuk di bawah tubuhnya. Jauh lebih empuk daripada kasur busa murah di kontrakannya dulu.
Ia membuka matanya perlahan, menyipit karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela kristal besar yang sangat mewah. Ia tidak lagi berada di rumah kayu suin kadal yang pengap.
Lyla berada di sebuah kamar yang sangat luas, megah, dan luar biasa indah. Dindingnya dihiasi dengan ukiran naga-naga agung yang dilapisi emas murni. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lukisan langit malam yang sangat realistis dengan batu permata asli yang berkilauan sebagai bintang-bintangnya. Lyla duduk tegak di tempat tidur, dan ia terperanjat melihat dirinya kini mengenakan gaun putih sutra yang sangat cantik, lengkap dengan perhiasan permata di leher dan pergelangan tangannya.
"Sudah bangun, Nyonya?"
Lyla tersentak hebat dan menoleh ke samping. Seorang wanita muda dengan pakaian pelayan yang sangat rapi sedang menatapnya dengan pandangan sopan sekaligus penuh kekaguman. Wanita itu memiliki sepasang telinga kucing hitam yang menggemaskan di atas kepalanya yang sesekali bergerak-gerak pelan.
"Nyonya? Kau panggil aku apa tadi?" tanya Lyla bingung, suaranya masih serak dan tenggorokannya terasa kering.
"Tentu saja Nyonya. Selamat datang di Kerajaan Avantera, pusat kekuatan ras Naga," pelayan itu menunduk hormat dengan sangat anggun. "Nama saya Tala, dan saya ditugaskan langsung untuk melayani Anda sebagai calon permaisuri agung yang telah dipilih oleh Sang Raja Naga."
Lyla terbelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Calon... permaisuri?! TUNGGU SEBENTAR! APA-APAAN INI?!"
To be continued...