Rombongan Putri Elf bersiap berangkat menjelang siang. Lyla berdiri di halaman bersama Tala dan Liram. Aresh menunggu di dekat pintu gerbang, sementara sang Putri memeriksa barang-barangnya sendiri sebelum menaiki kereta.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Liram.
“Sudah,” jawabnya. “Saya akan membawa salinan rancangan aliansi dan mengembalikan hasil pemeriksaan setelah dibahas bersama pihak kami.”
“Avantera akan menunggu kabar Anda,” kata Aresh. “Tidak ada tenggat untuk jawaban pribadi.”
“Terima kasih. Itu membuat perjalanan pulang terasa lebih ringan.”
Putri Elf lalu menoleh kepada Lyla. Ia menyerahkan buku yang dipinjam dari perpustakaan. “Saya sudah mengembalikannya dalam keadaan baik.”
Lyla memeriksa sampulnya. “Tak ada halaman yang hilang. Berhasil.”
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih karena menemani saya. Anda membuat saya merasa diterima sebagai tamu, bukan sebagai calon jawaban bagi masalah istana.”
“Aku senang kau merasa begitu. Aku juga belajar banyak darimu.”
“Apa yang paling Anda pelajari?”
“Bahwa seseorang bisa peduli tanpa mengambil alih keputusan orang lain. Aku ingin mengingat itu.”
Putri Elf tersenyum. “Saya akan mengingat percakapan kita.”
Lyla ingin menawarkan pelukan, tetapi menahan diri. Ia tidak tahu apakah sentuhan seperti itu nyaman bagi sang Putri. “Bolehkah aku memelukmu sebelum kau pergi?” tanyanya.
Sang Putri tertawa lembut. “Boleh.”
Mereka berpelukan singkat. Setelah itu Lyla mundur lebih dahulu, memberi ruang. Tidak ada kecanggungan; hanya salam perpisahan yang dipilih kedua pihak.
Aresh menyampaikan ucapan selamat jalan dan memastikan jalur perjalanan aman. Putri Elf membalas bahwa ia akan menyampaikan salam kepada pihaknya. Ia menaiki kereta dan rombongan bergerak melewati gerbang.
Lyla mengikuti kereta dengan pandangan sampai menjauh. Ada rasa hampa, tetapi juga lega. Ia tidak kehilangan teman dekat—mereka baru mengenal satu sama lain—namun kunjungan itu membantunya melihat pilihan dengan lebih jernih.
“Apakah kau sedih?” tanya Aresh.
“Ya. Dia orang yang menyenangkan. Aku juga senang dia pulang karena memang itu yang dia pilih.”
“Dua perasaan lagi.”
“Sepertinya aku punya banyak sekali perasaan yang tidak mau antre.”
Aresh berdiri di sampingnya tanpa menyentuh. “Liram akan melanjutkan urusan aliansi. Tidak ada keputusan pribadi yang perlu dibuat sebagai akibat kunjungan ini.”
“Bagus. Aku belum siap menjawab semua hal.”
“Aku tahu.”
Lyla berbalik menuju istana. Ia sempat melihat Naran sedang berdiri di sisi lapangan, jauh dari gerbang. Ia tak melambai berlebihan atau berlari menghampiri. Ia hanya mengangguk ketika Naran melihatnya, dan Naran membalas dengan anggukan kecil.
Di dalam, Tala menanyakan apakah Lyla ingin kembali ke kamarnya atau minum teh. Lyla memilih teh. Mereka duduk di ruangan kecil yang menghadap halaman.
“Aku tidak harus menyelesaikan perasaan hari ini,” kata Lyla.
“Tidak.”
“Aku juga tidak harus menyenangkan semua orang dengan keputusan cepat.”
“Benar.”
“Dan aku tidak bisa menjadikan Putri Elf sebagai alasan misi selesai.”
Tala mengangkat cangkir. “Anda semakin memahami keadaan.”
Lyla menyesap teh. “Jangan khawatir, aku masih bisa melakukan hal bodoh lainnya.”
“Saya tidak meragukannya.”
Tawa mereka ringan, tetapi Lyla merasakan perubahan yang nyata. Kunjungan telah berakhir tanpa pertunangan, tanpa pertengkaran, dan tanpa seseorang kehilangan hak untuk memilih. Kini urusan aliansi akan berjalan sendiri. Lyla pun harus menghadapi pertanyaan tentang misi dan tubuhnya di Bumi.
Dalam perjalanan menuju perpustakaan, Aresh bertanya apakah Lyla menyesal tidak mengatur pertemuan mereka dengan lebih baik.
“Tidak. Aku senang Putri Elf memilih sendiri kapan bicara dan kapan pulang. Kalau aku berusaha mengendalikan semuanya, aku cuma mengulangi kebiasaan lama.”
“Kau sudah membuat perubahan besar.”
“Aku baru mengakui kesalahan. Perubahan besar harus dibuktikan berkali-kali.”
Aresh menerima jawabannya. Ia tidak memuji berlebihan atau menyatakan semuanya sudah selesai. Lyla justru merasa lebih dihormati karena ia tak dipaksa segera merasa baik.
Di perpustakaan, mereka membentangkan catatan tentang kedatangan Lyla. Aresh meminta Liram mengumpulkan salinan yang memang tersimpan, bukan mencari rahasia baru. Mereka ingin memahami kapan Orion muncul, apa yang dikatakan, dan apakah ada cara untuk berkomunikasi tanpa membuat dugaan.
Lyla menulis ulang kata-kata yang masih ia ingat: bahwa ia diberi misi mencari istri untuk Aresh dan bahwa ia mungkin dapat kembali ke tubuh asalnya setelah misi. Ia tak yakin apakah Orion menjanjikan secara pasti atau hanya memberi kemungkinan. Ia menandai bagian itu dengan tanda tanya.
“Jangan mengubah ingatan menjadi kepastian,” kata Aresh.
“Aku tidak mau. Aku ingin bertanya langsung.”
“Kalau kita tidak berhasil menghubunginya, kita mencari cara lain yang sudah kita pahami.”
Lyla mengangguk. Mereka menyepakati langkah kecil: memeriksa catatan lama dan meminta waktu kepada Liram untuk menelusuri arsip yang tersedia. Tidak ada ritual atau panggilan baru yang mereka coba tanpa mengetahui akibatnya.
Saat bekerja, Lyla merasa pikirannya lebih tertata. Ia masih takut jawaban Orion akan menyakitkan, namun sekarang ia tidak mencoba menghapus ketakutan itu dengan mencarikan Aresh pasangan. Ia dapat menghadapi satu pertanyaan pada satu waktu.
Aresh mengeluarkan satu lembar catatan dari berkas kedatangannya. “Ini ringkasan yang dibuat Liram setelah kau dibawa ke istana. Tidak ada rincian baru tentang Orion, tetapi ada waktu dan tempat saat kau pertama kali sadar.”
Lyla membaca tulisan tersebut dengan saksama. Beberapa bagian hanya mengulang apa yang ia tahu: ia ditemukan sebagai persembahan, Aresh meminta agar ia dirawat, dan Tala ditugaskan mendampinginya. Tidak ada keterangan tentang tubuhnya di Bumi.
“Setidaknya kita bisa membedakan apa yang tercatat dan apa yang hanya kuingat,” katanya.
“Ya. Kita tidak akan menyimpulkan lebih dari yang tertulis.”
Mereka membuat dua kolom di kertas: fakta yang diketahui dan pertanyaan yang belum terjawab. Lyla menulis kematiannya saat menyelamatkan anak kucing, percakapan dengan Orion, dan perpindahan ke Avantera sebagai ingatan. Ia memberi tanda bahwa belum ada bukti mengenai kondisi tubuh setelah itu.
“Sulit melihat betapa banyak yang tidak kita ketahui,” ujarnya.
“Tetapi sekarang kita tahu bagian mana yang harus ditanyakan.”
Lyla mengangguk. Ia tak meminta Aresh menjanjikan bahwa semuanya akan berakhir baik. Janji semacam itu mungkin menghibur sesaat, tetapi tidak akan menjawab kebenaran. Ia lebih memilih kejujuran yang belum lengkap.
Liram masuk membawa dokumen lain dan menjelaskan bahwa catatan lama hanya mencakup kejadian di istana. Ia akan memeriksa apakah ada laporan tentang kemunculan Orion, tetapi tidak menjamin akan menemukan apa pun.
“Terima kasih. Tolong jangan mengubah catatan menjadi dugaan kalau memang tidak ada keterangan,” kata Lyla.
“Saya akan mencatat kekosongan informasinya juga,” jawab Liram.
Mereka menyimpan berkas dengan rapi. Pencarian mereka baru dimulai, namun kini tak lagi bergantung pada ingatan Lyla seorang diri.