Pagi pertama setelah Putri Elf berangkat terasa lebih sunyi. Tidak ada jadwal penyambutan, tak ada rapat yang menunggu Lyla di ruang tamu. Ia bangun dan menemukan secarik catatan dari Liram bahwa Aresh ingin bertemu dengannya di perpustakaan setelah sarapan.
Lyla membaca catatan itu dua kali. “Apa isinya?” tanya Tala.
“Dia ingin bertemu. Tidak ada alasan.”
“Apakah Anda ingin pergi?”
“Aku ingin tahu apa yang akan dibicarakan. Tapi aku tidak mau menganggap setiap pertemuan sebagai pengakuan cinta.”
“Bagus.”
Mereka sarapan bersama. Setelah itu Lyla menuju perpustakaan dan mendapati Aresh duduk di meja dekat balkon. Di hadapannya terletak dokumen-dokumen aliansi, tetapi ia menutupnya ketika Lyla datang.
“Bagaimana perasaanmu setelah kunjungan selesai?” tanya Aresh.
“Campur aduk. Aku senang Putri Elf bisa pulang sesuai kehendaknya. Aku sedih karena aku menyukainya. Aku juga lega karena kalian tidak dipaksa mengambil keputusan.”
“Dan tentang kita?”
Lyla menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk. “Aku masih mencintaimu. Tapi aku belum mau menjadikan itu keputusan untuk tinggal. Aku harus tahu apa pilihan yang sebenarnya diberikan Orion.”
Aresh berdiri, lalu menunggu. Ia tidak mencoba mendekat. “Aku akan membantumu mencari cara berbicara dengannya, jika itu yang kau inginkan.”
“Aku ingin. Tapi aku tidak ingin bantuan itu dianggap sebagai syarat agar aku memilihmu.”
“Tidak akan.”
Lyla duduk. “Aku punya pertanyaan yang harus dijawab. Apa arti misi selesai? Apakah tubuhku di Bumi masih hidup? Apakah waktu di sana berjalan sama? Dan apakah aku bisa kembali tanpa harus membuatmu menikah dengan seseorang?”
“Aku tidak tahu jawabannya,” kata Aresh. “Tapi kita bisa mencarinya tanpa membuat siapa pun menjadi alat.”
“Terima kasih.”
Liram masuk membawa jadwal pertemuan aliansi berikutnya. Ia menjelaskan bahwa sang Putri akan mengirim tanggapan setelah kembali, tetapi tidak ada tenggat untuk keputusan. Aresh meminta Liram mengurusnya tanpa mengganggu Lyla. Urusan pribadi Lyla tidak akan dimasukkan ke dalam dokumen kerajaan.
Setelah Liram pergi, Lyla membuka buku catatannya dan menunjukkan pertanyaan yang ia tulis. Aresh membaca semuanya, lalu berhenti di pertanyaan terakhir tentang apakah kebahagiaannya sendiri cukup untuk menyelesaikan misi.
“Orion harus menjelaskan itu,” kata Aresh. “Aku tidak akan mengarang jawaban.”
“Bagus. Aku juga tidak mau menebak.”
Mereka menyusun daftar informasi yang perlu diminta, bukan rencana untuk memanggil Orion dengan cara yang belum mereka pahami. Aresh meminta Liram memeriksa catatan tentang kedatangan Lyla dan saat Orion muncul, sementara Lyla mencoba mengingat kata-kata yang disampaikan Orion. Mereka sepakat tidak mengambil tindakan sebelum tahu apakah cara itu aman dan dapat diulang.
Lyla merasa lebih tenang karena ada langkah konkret, namun ia tahu pencarian itu belum memberi jawaban. Ia menutup buku dan memandang ke luar balkon.
“Setelah semua ini,” katanya, “aku mungkin tetap memilih pulang.”
Aresh menjawab tanpa jeda panjang. “Aku akan menghormati pilihanmu.”
“Dan mungkin aku memilih tinggal.”
“Aku akan menghormati itu juga.”
“Bagaimana kalau aku belum tahu?”
“Kalau begitu, kita menunggu sampai kau tahu.”
Lyla akhirnya duduk dengan nyaman. Tidak ada janji atau desakan. Hanya dua orang yang sepakat bahwa keputusan besar harus datang dari orang yang menjalaninya.
Dari lorong terdengar langkah Tala. Ia meletakkan teh di meja dan bertanya apakah pembicaraan mereka berjalan baik.
“Belum ada jawaban,” kata Lyla. “Tapi sekarang kami tahu pertanyaan yang harus diajukan.”
“Kadang itu awal yang cukup.”
Lyla menyesap teh. Ia masih takut akan apa yang mungkin dijelaskan Orion. Namun kini ia tidak lagi menggunakan tugas menjodohkan Aresh untuk menutupi ketakutannya. Sesudah rombongan pergi, jalan di hadapannya tidak menjadi lebih mudah, tetapi setidaknya menjadi miliknya untuk dipilih.
Sebelum tidur, Lyla menambahkan satu kalimat di bawah daftar pertanyaannya: “Aku boleh menyayangi seseorang sebelum tahu apakah aku akan tinggal.” Ia membaca kalimat itu beberapa kali. Kalimat tersebut tidak menjawab apa pun, tetapi membuatnya berhenti menyalahkan diri sendiri karena memiliki perasaan.
Ia juga menambahkan catatan bahwa mencintai Aresh tidak berarti ia berhak meminta Naran melupakan apa yang terjadi atau meminta Putri Elf mengubah rencananya. Setiap orang memiliki batas dan jalan masing-masing. Lyla ingin mengingatnya ketika rasa cemburu atau takut kembali datang.
Ia menutup buku, meletakkannya di meja, dan memadamkan lampu. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tidak menyusun jadwal esok hari sampai penuh. Ia hanya merencanakan sarapan dan waktu untuk meninjau catatan dengan Liram.
Tala mengucapkan selamat malam dari ambang pintu dan bertanya apakah Lyla ingin ditemani sampai tertidur. Lyla menolak dengan lembut; ia ingin mencoba menghadapi pikirannya sendiri malam itu. Tala menerima jawabannya dan pergi tanpa membuatnya merasa bersalah.
Lyla duduk di tepi ranjang, lalu membaca kembali catatannya. Tidak ada jawaban tentang tubuh di Bumi, tetapi daftar fakta dan pertanyaan membuatnya merasa sedikit lebih berpijak. Ia tahu Orion mungkin belum bisa dihubungi, dan ia tahu bahwa menginginkan Aresh tidak otomatis menyelesaikan misi.
Ia memadamkan lampu dan menarik selimut. Besok ada pekerjaan meninjau arsip bersama Liram. Ia akan melakukannya tanpa berjanji bahwa hasilnya akan menentukan pilihannya. Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya beristirahat.
Sebelum meninggalkan balkon, Lyla menuliskan tanggal kedatangan Putri Elf dan hasil akhir kunjungannya di halaman terpisah. Ia mencatat bahwa aliansi masih dibahas, tetapi keputusan pernikahan tidak diambil. Dengan begitu, ketika nanti ia mengingat masa ini, ia tidak akan mencampuradukkan kabar resmi dengan harapannya sendiri.
Ia lalu menutup buku catatan. Pencarian tentang Orion akan dimulai dari informasi yang tersedia, sementara pembicaraan dengan Naran sudah memberi satu pelajaran: orang lain berhak menerima waktu dan ruang untuk menentukan perasaannya sendiri. Lyla ingin membawa pelajaran itu ke langkah berikutnya.
Ia tidak tahu kapan bisa menghubungi Orion, tetapi setidaknya tak lagi menyamakan harapan dengan kepastian. Itu cukup untuk menutup malam ini.
Ia meletakkan pena, merapikan halaman, lalu memutuskan tidur tanpa menambah pertanyaan baru malam itu. Esok masih ada waktu untuk mencari jawaban, satu langkah demi satu langkah.