Keesokan pagi, Lyla menemui Naran sekali lagi untuk memastikan ia memahami batas yang telah dibicarakan. Ia tidak mendekat hingga Naran melihatnya dan memberi anggukan. Mereka berdiri di sisi lapangan latihan, cukup jauh dari para prajurit agar percakapan itu tidak menjadi tontonan.
“Aku ingin memastikan tidak ada yang tertinggal dari kemarin,” katanya. “Kalau aku melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja. Aku akan berhenti.”
“Baik. Dan saya juga akan berusaha menyampaikan batas dengan jelas, bukan berharap Anda menebaknya.”
“Meski begitu, aku seharusnya memperhatikan saat kau bilang berhenti.”
Naran mengangguk. Ia tidak mengulang bahwa semuanya baik-baik saja, sebab memang belum sepenuhnya. Namun ia juga tidak bersikap seolah Lyla tak dapat berubah. “Saya menghargai usaha Anda.”
Lyla menjaga kedua tangannya tetap di sisi tubuh. Ia ingin memberikan sesuatu sebagai tanda damai, tetapi kemudian sadar bahwa hadiah dapat terasa seperti cara memaksa Naran cepat memaafkannya. Ia memilih tidak membawa apa pun.
“Apakah kalung amber itu berasal dari keluargamu?”
“Bukan. Saya mendapatkannya saat bertugas di perbatasan. Batu itu menjadi penanda kesungguhan dalam adat Suin. Seseorang dapat memberikannya ketika ingin membuka kemungkinan hubungan romantis.”
“Apakah penerima wajib menjawab?”
“Tidak. Menerima atau menolak adalah haknya. Pemberian itu tidak mengikat.”
“Bagus. Tapi aku tetap tidak mau menerimanya kalau perasaanku berbeda.”
“Saya mengerti. Saya belum akan memberikannya.”
Naran berkata ia menyimpan kalung itu karena ingin memberikannya secara pribadi, bukan karena status atau perintah. Namun kini ia memilih menunggu sampai perasaannya sendiri lebih jelas. Ia tak meminta Lyla menunggu atau menjanjikan masa depan.
Lyla merasa hormatnya kepada Naran tumbuh. “Kau tidak harus menunda hidupmu demi menunggu aku.”
“Saya tidak sedang menunggu Anda. Saya sedang memutuskan apa arti benda itu bagi saya sekarang.”
“Kalau begitu, semoga kau menemukan jawabannya.”
Mereka mengakhiri percakapan dengan saling mengangguk. Lyla berjalan kembali ke halaman tanpa menyentuh Naran. Di jalan, ia bertemu Tala dan menceritakan bahwa ia menanyakan makna kalung dengan jelas.
“Dan Anda tidak meminta dia melupakannya?”
“Tidak. Itu haknya.”
“Bagus.”
“Aku juga sadar bahwa aku harus lebih berhati-hati kepada semua Suin, bukan hanya Naran. Aku selama ini bertindak seolah telinga dan ekor adalah bagian dari kostum.”
“Kesadaran itu perlu dibuktikan lewat kebiasaan.”
“Aku tahu.”
Mereka melewati sekelompok pelayan. Lyla ingin menyapa seorang Suin kelinci, tetapi ia berhenti sebelum mendekat dan bertanya apakah orang itu punya waktu untuk berbicara. Pelayan tersebut menjawab sedang bekerja dan Lyla tidak memaksanya.
“Pagi yang sibuk?” tanyanya dari jarak wajar.
“Cukup sibuk, Nona.”
“Semoga lancar.”
Lyla melanjutkan langkah bersama Tala. Tidak ada tepuk tangan atau perubahan besar, hanya keputusan kecil untuk memberi orang lain kendali atas jarak dan waktunya sendiri. Ia merasa mungkin inilah cara ia mulai memperbaiki sikapnya, bukan dengan mengatakan bahwa ia sudah berubah, melainkan dengan bertanya dan menunggu jawaban.
Di ruang makan, Putri Elf sedang sarapan sebelum keberangkatannya. Ia mengundang Lyla duduk sebentar. Mereka berbicara tentang buku perpustakaan dan rancangan kerja sama yang akan dibawanya pulang.
“Terima kasih karena tidak menjadikan saya pesaing,” kata sang Putri.
“Aku sempat merasa cemburu, tapi itu perasaanku sendiri.”
“Dan saya berterima kasih karena Anda mengatakannya tanpa meminta saya mengubah pilihan.”
Lyla tersenyum. “Aku sedang belajar.”
Sebelum kereta bergerak, Putri Elf meminta Liram memastikan dokumen aliansi akan dikirim setelah pemeriksaan terakhir. Liram menjelaskan bahwa catatan akan disampaikan melalui jalur resmi dan setiap pihak dapat meminta perubahan. Tidak ada tanda tangan yang akan dianggap sebagai persetujuan atas hal di luar isi dokumen.
“Saya menghargai kejelasan itu,” kata Putri Elf. “Saya ingin membawa pulang sesuatu yang dapat ditinjau, bukan keputusan yang dibuat terburu-buru.”
Aresh mengangguk. “Avantera akan menunggu tanggapan Anda. Perjalanan ini tidak membuat Anda berutang jawaban pribadi kepada saya.”
“Dan saya tidak akan meminta Anda membuat janji hanya karena kedua pihak berharap demikian.”
Lyla mendengar percakapan itu dari samping Tala. Ia merasa bangga kepada mereka karena mampu menyatakan batas tanpa mengubahnya menjadi penghinaan. Sang Putri lalu mengucapkan terima kasih kepada para pelayan yang menyiapkan perjalanan. Ia tidak berbicara seolah mereka hanya bagian dari rombongan.
Ketika kereta mulai bergerak, Lyla berdiri di tempat. Ia tidak mengejar atau mencoba memperpanjang perpisahan. Putri Elf melambaikan tangan dari jendela, dan Lyla membalasnya.
“Apakah Anda ingin menyimpan sesuatu dari kunjungan ini?” tanya Tala.
“Buku yang dia pinjam sudah kembali. Sepertinya cukup menyimpan pelajaran bahwa seseorang bisa datang, memilih, lalu pergi tanpa menjadi musuh.”
“Dan apakah Anda merasa tugas Anda berubah?”
“Ya. Aku tidak lagi menganggap tugasku mencarikan pasangan untuk Aresh. Aku bisa mendukungnya, tapi dia yang menentukan hidupnya.”
Mereka kembali ke dalam istana. Liram segera melanjutkan pekerjaan tanpa membuat upacara perpisahan menjadi kemenangan atau kegagalan. Ia menyimpan salinan dokumen, mencatat tanggapan yang masih ditunggu, lalu meminta Aresh menentukan waktu untuk membahas langkah berikutnya.
Lyla menolak tawaran untuk ikut mengurus berkas. “Aku bukan sekretaris tambahan.”
“Keputusan yang tepat,” kata Liram.
“Aku tahu. Aku sedang belajar mengenali batas pekerjaan.”
Liram mengangguk dan kembali pada catatannya. Lyla pergi ke taman bersama Tala, mencoba membiarkan hari berjalan tanpa menuntut bahwa setiap perpisahan harus menyelesaikan seluruh masalah.
Sebelum menaiki kereta, Putri Elf mengucapkan terima kasih kepada Liram atas ketelitian dokumen dan kepada Tala atas bantuan selama tinggal. Ia menyebut nama mereka dengan jelas, lalu membungkuk sopan. Para pelayan membalas hormat.
Lyla mengamati adegan itu dan merasa kunjungan tersebut telah memberi mereka lebih dari sekadar rancangan aliansi. Sang Putri memperlakukan orang-orang istana sebagai individu, bukan sekadar bagian dari sambutan. Lyla ingin melakukan hal yang sama, terutama kepada mereka yang selama ini ia dekati tanpa berpikir.
“Semoga perjalananmu aman,” katanya.
“Semoga Anda menemukan jawaban yang Anda cari,” balas Putri Elf.
Kereta bergerak. Lyla tidak berlari mengejarnya. Ia mengangkat tangan sampai rombongan melewati gerbang, kemudian menurunkannya dengan perlahan.