Sore itu, Lyla menghabiskan waktu di balkon perpustakaan. Ia mencoba membaca, tetapi pikirannya kembali pada percakapan dengan Naran. Ia merasa lega Naran menerima permintaan maafnya. Namun ia juga tahu bahwa hubungan mereka tidak langsung kembali seperti semula. Ada kewaspadaan yang tetap harus dihormati.
Tala datang membawa minuman. “Bagaimana pembicaraan Anda?”
“Aku meminta maaf. Dia menerimanya, tapi masih perlu waktu.”
“Itu terdengar seperti hasil yang jujur.”
“Ya. Aku tidak bisa menuntut lebih.”
Tala duduk sejenak. “Apakah Anda juga berbicara tentang amber?”
“Dia memang berniat memberikannya. Tapi kami sepakat dia menahan dulu. Aku bilang aku menyayanginya sebagai teman, bukan sebagai kekasih.”
“Apakah Anda merasa bersalah?”
“Sedikit. Tapi akan lebih tidak adil kalau aku berpura-pura membalas perasaannya hanya supaya dia tidak kecewa.”
Tala mengangguk setuju. Lyla menyadari bahwa kejujuran bisa menyakitkan, tetapi memberikan harapan palsu akan menambah luka di kemudian hari.
Malamnya, Aresh mengundang Lyla makan bersama di ruang makan kecil, bukan aula besar seperti sebelumnya. Liram dan Tala ikut, sebab mereka sedang membahas jadwal akhir kunjungan Putri Elf. Sang Putri telah memilih pulang pada pagi hari berikutnya setelah pertemuan terakhir tentang rancangan aliansi.
“Apakah keputusan itu datang dari dirinya?” tanya Lyla.
“Ya,” jawab Liram. “Beliau akan membawa rancangan yang sudah ditinjau untuk dibahas lebih lanjut di negerinya. Tidak ada tekanan agar beliau tinggal lebih lama.”
“Bagus.” Lyla mencoba tersenyum. “Dia sudah cukup lama bepergian.”
Aresh memperhatikan nada suaranya. “Kau tampak lega.”
“Aku lega dia bisa pergi sesuai keinginannya. Aku juga sedih karena kunjungannya berakhir.”
“Dua hal itu bisa benar sekaligus,” kata Tala.
Lyla menunjuknya dengan sendok. “Kau makin sering menyampaikan kalimat bijak. Aku mulai curiga kau menyimpan buku petuah.”
“Saya tidak punya buku seperti itu.”
“Berarti kau improvisasi. Lebih mengesankan.”
Aresh tersenyum tipis. Makan malam berlanjut dengan pembicaraan praktis. Liram menjelaskan bahwa dokumen aliansi akan diperiksa lagi sebelum disahkan. Aresh tidak meminta Lyla mengatur perpisahan atau menentukan hadiah untuk sang Putri.
“Apakah kau ingin mengantarnya besok?” tanya Aresh setelah Liram selesai.
“Kalau dia ingin aku hadir, tentu.”
“Aku akan bertanya kepadanya.”
Sang Putri, yang bergabung sebentar setelah selesai membaca, mengatakan ia ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Lyla sebelum berangkat. “Saya ingin mengembalikan buku dan berterima kasih karena Anda menemani saya.”
“Aku akan ada di halaman,” jawab Lyla. “Aku tidak akan membawa daftar jadwal.”
Putri Elf terkekeh. “Saya menghargai itu.”
Sesudah makan, Lyla berjalan sebentar di taman bersama Tala. Ia merasakan rasa cemburu yang dulu mendominasi kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang. Ia tetap tidak ingin membayangkan Aresh bersama orang lain, tetapi ia tak lagi melihat Putri Elf sebagai ancaman yang harus diusir.
“Aku kira kalau dia pergi, semua perasaanku akan hilang,” ujar Lyla.
“Apakah Anda menginginkan itu?”
“Tidak. Aku hanya ingin perasaan ini berhenti membuatku panik.”
“Barangkali itu memerlukan waktu.”
Lyla memandang ke arah istana. Aresh masih berada di ruang makan, berbicara dengan Liram. Ia tahu Putri Elf akan segera pergi, tetapi itu bukan berarti ia harus membuat keputusan tentang cinta malam itu juga.
Saat Lyla meninggalkan lapangan, ia melihat dua pelayan Suin berbincang di lorong. Salah satunya mempunyai telinga panjang yang bergerak ketika tertawa. Secara refleks Lyla merasa ingin menyentuhnya, tetapi ia berhenti dan mengingat percakapan dengan Naran. Ia tidak menganggap dorongan itu sebagai sesuatu yang harus dituruti.
Ia menyapa mereka dari jarak wajar. “Selamat pagi. Boleh aku bertanya sesuatu?”
Mereka menoleh. Lyla bertanya apakah jalan menuju ruang makan utama melewati lorong itu. Salah satu pelayan menjelaskan arah yang benar, lalu kembali berbincang dengan temannya.
“Terima kasih,” kata Lyla, kemudian melanjutkan perjalanan tanpa mendekat lebih jauh.
Tala yang berjalan di sampingnya berkata, “Anda tadi berhenti sebelum bertindak.”
“Aku ingat permintaan Naran. Aku tidak mau membuat orang lain merasa seperti benda lucu yang boleh kupegang.”
“Kesadaran itu penting, tetapi jangan jadikan satu kesalahan sebagai satu-satunya ukuran diri Anda.”
“Aku tahu. Aku tetap bisa bersikap baik sambil belajar.”
Mereka sampai di ruang makan saat Liram sedang menyusun jadwal keberangkatan Putri Elf. Lyla bertanya apakah ia dapat membantu memeriksa kamar tamu, tetapi Liram mengatakan urusan itu sudah selesai. Ia tidak mencari tugas lain untuk menggantikannya.
“Kalau begitu aku akan makan siang dan membaca.”
Tala tersenyum. “Rencana yang sehat.”
Lyla memilih duduk dekat jendela. Dari sana ia melihat Naran mengarahkan latihan. Ia tidak memanggil atau melambai agar menarik perhatian. Ia membiarkan Naran melakukan pekerjaannya. Ketika Naran kebetulan menoleh, mereka saling mengangguk singkat. Tidak ada tuntutan untuk lebih dari itu.
Lyla merasa hubungan yang sehat mungkin dibangun lewat jarak yang dihormati, bukan kedekatan yang dipaksakan. Ia berharap suatu saat Naran tak lagi merasa perlu waspada terhadapnya, tetapi pemulihan itu bukan sesuatu yang dapat ia atur jadwalnya.
Lyla kemudian bertanya apakah Naran merasa nyaman jika ia menyapanya seperti biasa di istana. “Tentu,” jawabnya, “selama Anda tidak menganggap kedekatan berarti Anda bebas menyentuh saya.”
“Aku akan ingat. Kalau aku ragu, aku akan bertanya.”
“Dan saya akan menjawab.”
Percakapan mereka terasa lebih baik karena batasnya disebutkan secara jelas. Lyla tak mencoba memeluk atau menepuk bahunya sebagai tanda damai. Ia cukup mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan Naran kembali pada tugasnya. Jarak itu tidak berarti kebencian; itu hanya ruang yang ia minta.
Naran lalu bertanya apakah ada hal lain yang ingin Lyla tanyakan tentang adat amber. Lyla menjawab belum, tetapi ia akan bertanya langsung jika nanti ada kebingungan. Ia tidak ingin mendengar kabar dari orang lain lalu membuat kesimpulan sendiri. Naran setuju bahwa percakapan terbuka akan lebih baik bagi mereka.
Lyla mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu membiarkan Naran kembali bekerja. Ia tidak menunggu tanda bahwa segalanya telah pulih. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghormati jawabannya hari ini dan menjaga sikapnya pada hari-hari berikutnya.