Pagi itu, Lyla tidak membawa daftar atau hadiah. Ia hanya meminta Tala menunjukkan waktu ketika Naran tidak sedang memimpin latihan. Tala menyampaikan pesan itu melalui Liram, yang kemudian memberi tahu bahwa sang panglima akan berada di dekat halaman latihan setelah tengah hari.
“Apakah Anda ingin saya ikut?” tanya Tala.
Lyla menggeleng. “Aku ingin bicara langsung dengannya. Tapi tunggu di dekat pintu kalau aku butuh bantuan.”
Tala mengangguk. Ia tidak menanyakan isi pembicaraan. Lyla menghargai itu, sebab ia belum yakin dapat menyampaikan semuanya tanpa tersendat.
Naran sedang memeriksa laporan prajurit ketika Lyla tiba. Ia mengangkat wajah dan menutup berkasnya.
“Nona Lyla. Anda ingin bicara?”
“Kalau kau punya waktu.”
“Ada.” Naran memberi isyarat ke bangku di bawah naungan. “Kita bisa bicara di sana.”
Lyla duduk dengan jarak yang cukup. Ia menjaga tangannya sendiri di pangkuan. “Aku ingin meminta maaf soal hari-hari awal kita bertemu.”
Naran tidak langsung menjawab. “Tentang telinga saya?”
“Ya. Kau memintaku berhenti dan melepaskannya. Aku tidak melakukannya dengan cepat, bahkan membuatnya seolah lucu. Itu salahku.”
Ia berhenti sejenak, memaksa dirinya tidak menambahkan “aku tidak tahu” sebagai pembelaan. “Aku memang tidak memahami kebiasaan Suin saat itu, tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan permintaanmu. Seharusnya aku berhenti begitu kau bilang tidak.”
Naran menatapnya, telinganya tegak namun tidak bergerak mendekati Lyla. “Saya menghargai Anda mengatakannya langsung.”
“Aku tidak berharap kau langsung memaafkan. Aku hanya ingin kau tahu aku mengerti bahwa aku melanggar batasmu.”
“Waktu itu saya merasa dipermalukan. Bukan hanya karena disentuh, tetapi karena permintaan saya dianggap lelucon.”
Lyla menunduk. “Aku mengerti. Aku menyesal sudah membuatmu merasa begitu.”
Naran mengembuskan napas perlahan. “Saya menerima permintaan maaf Anda. Tapi saya masih perlu waktu agar tidak merasa waspada setiap kali Anda mendekat.”
“Wajar. Aku akan menjaga jarak dan tidak menyentuhmu tanpa izin.”
“Terima kasih.”
Mereka duduk dalam hening beberapa saat. Lyla tak mencoba mengisi jeda dengan gurauan. Naran tak pula mengubah percakapan menjadi penghiburan untuknya. Ia menerima bahwa permintaan maaf itu bukan cara meminta Naran membuatnya merasa lebih baik.
“Aku juga ingin membicarakan liontin amber,” lanjut Lyla. “Kalau kau bersedia.”
Naran menatapnya. “Saya kira Anda akan bertanya.”
“Sejak Tala bilang amber bisa jadi tanda lamaran atau ketertarikan, aku terus bertanya-tanya tentang kalung yang kau simpan. Aku ingin tahu maksudmu, tapi aku tidak ingin menebak.”
Naran mengangguk. “Saya pernah berniat memberikannya. Namun, setelah kejadian di ruang latihan dan melihat Anda bersama Yang Mulia, saya menunda.”
“Karena kau mengira aku menyukai Aresh?”
“Karena saya melihat perhatian Yang Mulia kepada Anda. Saya juga tidak ingin memberi sesuatu yang akan membuat Anda merasa harus membalas.”
“Terima kasih sudah memikirkannya.” Lyla menarik napas. “Aku perlu jujur. Aku menyayangimu sebagai teman dan menghargai perhatianmu, tetapi aku tidak merasakan cinta seperti yang mungkin kau rasakan. Aku tidak ingin keramahan atau permintaan maafku dianggap janji.”
Naran memandang halaman latihan. “Saya tidak menganggapnya sebagai janji. Saya hanya berharap bisa memberi sesuatu yang mewakili perasaan saya.”
“Kalau begitu, mungkin sebaiknya jangan berikan dulu. Aku tak mau menerima lambang yang lebih besar artinya bagimu daripada bagiku.”
Naran mengangguk pelan. “Saya setuju. Saya akan menyimpannya sampai maksud kita sama-sama jelas. Atau sampai saya memutuskan bahwa menyimpannya tak lagi tepat.”
Lyla merasa lega, meski ada bagian dirinya yang sedih karena mungkin telah melukai Naran lagi. “Aku tidak mau kehilangan teman.”
“Persahabatan tidak hilang hanya karena saya belum bisa memberikan liontin itu. Namun kita perlu membangun kepercayaan dengan cara yang lebih baik.”
“Aku bisa melakukan itu.”
Tala terlihat di ambang halaman, tetapi tidak mendekat. Lyla berdiri setelah meminta izin dengan gerak tubuh yang jelas, menunggu Naran memberi tanda bahwa percakapan selesai. Ia tidak menyentuh bahu atau lengannya.
“Terima kasih sudah mendengarkan,” katanya.
“Sama-sama. Dan terima kasih karena tidak meminta saya melupakan semuanya seketika.”
Lyla mengangguk. Ketika ia meninggalkan halaman latihan, ia merasa lebih ringan sekaligus malu. Permintaan maaf tak menghapus masa lalu, tetapi memberinya kesempatan untuk bertindak lebih baik pada pertemuan berikutnya.
Sebelum Lyla benar-benar pergi, Naran bertanya apakah ia ingin mengetahui bagaimana ia mengambil keputusan untuk menunda pemberian itu. Lyla menjawab bahwa ia bersedia mendengar, tetapi tidak ingin pertanyaan itu membuat Naran merasa wajib menjelaskan lebih dari yang nyaman baginya.
“Saya melihat Anda sangat dekat dengan Yang Mulia,” kata Naran. “Saya juga tahu perhatian saya mungkin datang pada saat yang membuat Anda bingung. Saya tidak ingin menjadikan hadiah sebagai cara menuntut jawaban.”
“Aku menghargai itu. Aku juga seharusnya bertanya lebih awal, bukan membiarkan diriku menebak-nebak.”
“Banyak orang mengira menerima hadiah berarti menerima perasaan pemberinya. Padahal tidak selalu begitu.”
“Kalau begitu, kita sama-sama perlu berhati-hati supaya adat tidak berubah menjadi tekanan.”
Naran mengangguk. Ia mengaku masih memiliki perasaan, tetapi tidak meminta Lyla membalasnya. Lyla tidak menjawab dengan janji bahwa suatu hari ia mungkin berubah pikiran. Ia hanya berkata bahwa ia menghargai kejujuran Naran sebagai teman dan tidak ingin memberinya harapan palsu.
“Persahabatan kita boleh berjalan perlahan,” katanya. “Kalau kau butuh jarak, aku akan menghormatinya.”
“Saya akan memikirkan apa yang saya perlukan.”
“Baik. Dan kalau aku salah membaca batasmu lagi, katakan. Aku akan berhenti.”
Naran menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk sekali. Tidak ada pelukan atau jabat tangan yang dipaksakan. Mereka berpisah dengan kesepakatan bahwa percakapan itu boleh berakhir tanpa membuat semuanya langsung pulih.
Lyla kembali ke menara bersama Tala. Ia merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaan Naran, tetapi ia tahu rasa bersalah bukan alasan untuk menerima liontin. Kejujuran adalah bentuk penghormatan yang masih bisa ia berikan.
Lyla berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi. “Aku juga tidak ingin kau mengira permintaan maafku adalah cara supaya semuanya kembali seperti dulu.”
Naran mengangguk. “Saya tidak mengira begitu. Saya akan menilai dari apa yang Anda lakukan setelah ini.”
“Itu adil.”
Mereka mengakhiri percakapan tanpa menyentuh satu sama lain. Lyla berjalan ke pintu dan menoleh sekilas. Naran sudah kembali membuka laporannya. Ia tak terlihat marah, tetapi juga tidak berusaha mengejar atau menghiburnya. Untuk pertama kalinya Lyla memahami bahwa meminta maaf berarti membiarkan orang lain menentukan bagaimana ia akan melanjutkan hubungan mereka.