Hari ketiga rangkaian pembicaraan aliansi dimulai tanpa Lyla di ruang rapat. Ia sengaja memilih membantu Tala di taman, meski tidak ada kebutuhan mendesak. Kali ini ia tidak melakukannya untuk menghindari perasaan, melainkan karena ia ingin belajar merawat sesuatu yang tidak berkaitan dengan tugas menjodohkan Aresh.
Tala mengajarinya memangkas tanaman berbunga. Lyla memegang gunting kecil dan menunggu instruksi sebelum memotong.
“Yang ini?”
“Belum. Cabang itu masih sehat.”
“Bagaimana cara membedakannya?”
“Lihat warna dan teksturnya. Jangan memotong hanya karena bentuknya tidak sesuai bayangan Anda.”
Lyla berhenti. “Kau sedang bicara soal tanaman atau aku?”
“Keduanya bisa berlaku.”
Lyla terkekeh, lalu memeriksa cabang itu lebih teliti. Ia akhirnya memilih bagian lain yang memang kering. Pekerjaan kecil itu mengajarinya untuk melihat keadaan sebelum mengambil tindakan. Ia berharap kebiasaan yang sama bisa ia bawa saat menghadapi urusan lebih besar.
Menjelang siang, Aresh datang ke taman. Ia terlihat selesai rapat, tetapi tidak langsung berbicara. Tala pamit mengambil air, meninggalkan mereka berdua.
“Kau sengaja tidak ikut?” tanya Aresh.
“Ya. Aku ingin memberi ruang bagi kalian menyelesaikan urusan aliansi.”
“Apakah kau menghindariku?”
Lyla menaruh gunting di meja. “Sedikit. Tapi bukan karena marah. Aku sedang mencoba memahami apa yang kurasakan.”
“Apakah pekerjaan di taman membantu?”
“Lebih membantu daripada menyusun jadwal untuk sang Putri.” Lyla mengusap telapak tangannya dengan kain. “Tapi Tala bilang pekerjaan tidak akan menjawab perasaanku.”
“Dia benar.”
“Jadi aku perlu bicara?”
“Kalau kau siap.”
Lyla memandang tanaman yang baru dipangkas. “Aku menyadari aku menggunakan kesibukan supaya tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa kau akan memilih orang lain. Tapi aku tidak mau terus melakukannya. Aku perlu tahu lebih banyak soal misi Orion dan apakah aku bisa pulang. Setelah itu, aku baru bisa memutuskan.”
Aresh mendengarkan tanpa menyela. “Kau berhak mencari jawaban itu.”
“Dan selama aku mencari, aku tidak ingin kau merasa harus menungguku atau menjanjikan sesuatu.”
“Aku tidak akan membuat janji yang tidak kau minta.”
“Bagus.”
“Tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa kau tidak penting bagiku.”
Lyla membeku. Ia tahu Aresh pernah mengungkapkan perasaannya dalam bentuk kalimat-kalimat kaku, tetapi setiap kali ia mengatakannya dengan jelas, hati Lyla terasa goyah.
“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”
“Kau tidak perlu menjawab sekarang.”
Tala kembali membawa air, dan percakapan berhenti. Lyla berterima kasih kepadanya, lalu melanjutkan pekerjaannya. Aresh tak memaksanya bicara lagi. Ia duduk sebentar di bangku dekat taman sebelum kembali ke ruang kerjanya.
Sore itu, Lyla menemui Putri Elf untuk mengembalikan buku. Sang Putri mengatakan bahwa pembicaraan aliansi berjalan baik, meski masih ada banyak hal yang harus ditinjau. Ia juga mengabarkan bahwa ia akan berangkat kembali setelah menyelesaikan pertemuan terakhir pada hari berikutnya.
“Apakah kau merasa siap pulang?” tanya Lyla.
“Saya merasa siap membawa hasil pembicaraan kepada orang-orang yang perlu meninjaunya. Saya juga lega karena tidak dipaksa membuat keputusan pribadi.”
“Aku senang kau bisa memilih.”
Putri Elf memandang Lyla. “Sekarang giliran Anda.”
“Aku masih butuh informasi. Tapi aku tidak mau terus bersembunyi di balik kesibukan.”
“Itu langkah yang baik.”
Mereka berpisah dengan ucapan terima kasih. Lyla kemudian pergi ke balkon perpustakaan membawa buku catatan kosong. Ia menulis beberapa pertanyaan untuk Orion: apa syarat misi sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuhnya di Bumi, dan apakah kepulangan masih mungkin. Ia tidak menuliskan jawaban karena ia belum memilikinya.
Tala datang dan melihat halaman itu. “Apakah Anda akan menghubunginya?”
“Aku harus mencoba. Tapi belum sekarang. Aku ingin memastikan Aresh tahu apa yang sedang kucari, dan aku tidak akan menukar jawabannya dengan pernikahan.”
Tala mengangguk. “Itu terdengar jelas.”
Lyla menutup buku. Pekerjaan telah memberinya ketenangan sejenak, tetapi tidak memberi jawaban. Kini ia memahami bahwa ia harus menghadapi pertanyaan itu dengan berani. Di bawah sana, taman mulai diselimuti cahaya senja. Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin bisa tinggal di dunia ini tanpa menjadikan dirinya milik misi atau milik siapa pun.
Malamnya, Lyla mencoba kembali membaca buku yang sebelumnya ia tinggalkan. Ia tidak mengatur jadwal untuk esok hari dan tidak menanyakan kapan Putri Elf akan berangkat. Ia tahu kunjungan itu akan berakhir sesuai agenda, tetapi ia tak perlu menghitung jamnya.
Tala datang mengantar teh dan melihat buku catatan terbuka di meja. “Apakah pertanyaan untuk Orion sudah siap?”
“Sebagian. Aku ingin bertanya tentang tubuhku di Bumi, tapi aku takut jawabannya tidak seperti yang kuharapkan.”
“Takut bukan berarti Anda tidak boleh bertanya.”
“Aku tahu. Aku cuma perlu memilih waktu yang tepat dan memastikan aku tidak mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasannya.”
Lyla menulis satu pertanyaan lagi: apakah keberhasilan misi bergantung pada Aresh menikah, atau pada kebahagiaan yang ia pilih sendiri? Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan bahwa ia belum yakin misi itu masih dapat diselesaikan. Tidak ada jawaban di halaman, hanya hal-hal yang harus ditanyakan.
Ia menutup buku dan memandang ke luar jendela. Aresh berjalan melintasi halaman bersama Liram, membawa dokumen. Lyla tidak memanggilnya. Ia membiarkan malam menjadi malam biasa, tanpa memaksa dirinya mendapatkan kepastian sebelum waktunya.
Esok hari ia akan bertemu Naran. Ada permintaan maaf yang telah lama ia tunda, dan ia ingin menyampaikannya tanpa menuntut agar Naran segera memaafkan. Satu langkah kecil itu terasa lebih nyata daripada semua daftar yang pernah ia buat.
Lyla menyimpan catatan itu di laci, lalu memutuskan bahwa percakapan dengan Naran tak perlu menunggu sampai ia merasa sempurna. Ia hanya perlu bersikap jujur, menerima tanggapan apa pun, dan tidak menuntut pengampunan. Untuk malam itu, keputusan tersebut cukup.
Lyla menutup jendela dan membiarkan malam menjadi tenang. Ia belum punya jawaban untuk Bumi, tetapi setidaknya sudah berhenti menutupi pertanyaan itu dengan kesibukan. Besok ia akan meminta waktu kepada Naran untuk berbicara, tanpa menganggap bahwa permintaan maafnya otomatis memperbaiki semuanya.