Pagi berikutnya, Lyla tidak membuat daftar. Ia bangun, sarapan, lalu bertanya kepada Tala apakah ada pekerjaan yang benar-benar perlu dibantu. Tala menjawab bahwa tidak ada tugas mendesak. Jawaban itu membuat Lyla bingung harus ke mana.
“Jadi aku boleh duduk saja?”
“Anda boleh melakukan apa pun yang Anda inginkan.”
“Bahkan tidak produktif?”
“Bahkan itu.”
Lyla memutuskan pergi ke balkon perpustakaan membawa buku ringan. Ia baru membaca beberapa halaman ketika Aresh muncul dengan secangkir teh. Ia berhenti beberapa langkah darinya.
“Apakah kau ingin ditemani, atau lebih suka sendiri?” tanyanya.
Lyla mengangkat alis. “Kau bertanya sebelum duduk?”
“Aku sedang mencoba kebiasaan baru.”
“Silakan duduk. Tapi jangan berharap aku bisa membaca dengan benar.”
Aresh mengambil kursi di seberangnya. Mereka membaca masing-masing selama beberapa menit. Hening itu nyaman, meski pikiran Lyla sesekali kembali ke Putri Elf. Ia tidak berusaha mengusirnya. Ia membiarkan rasa cemburu itu hadir tanpa menjadikannya pusat seluruh paginya.
Aresh menurunkan bukunya. “Kau tampak lebih tenang.”
“Aku tidak sedang sibuk mengatur hidup orang lain.”
“Itu memang membantu.”
“Jangan terlalu senang. Aku bisa saja kembali membuat daftar nanti.”
“Aku akan bertahan.”
Lyla tertawa kecil. Setelah itu mereka membahas buku yang dibaca, lalu percakapan beralih ke hal-hal sederhana: cuaca, taman, dan makanan yang disajikan. Aresh tetap kaku ketika menjelaskan selera, tetapi Lyla mulai mengenali jeda-jeda kecil yang menandakan ia sedang bercanda.
Tak lama kemudian, Liram datang mengabarkan bahwa Putri Elf ingin meninjau naskah aliansi. Aresh beranjak, lalu memandang Lyla. “Kau boleh ikut jika mau. Tidak ada kewajiban.”
Lyla menimbang tawaran itu. “Kali ini aku akan ikut. Aku ingin mendengar pembicaraan mereka, tapi kalau mulai terasa terlalu berat, aku akan keluar.”
“Baik.”
Di ruang pertemuan, sang Putri menyampaikan beberapa perubahan pada rancangan aliansi. Aresh menanggapinya dengan serius. Lyla mengamati bagaimana ia memberi ruang untuk sang Putri menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada nada merendahkan, tidak ada asumsi bahwa ia tahu lebih baik hanya karena menjadi raja.
Lyla merasa bangga kepadanya dan sedikit sakit karena rasa itu bercampur cemburu. Ia tak perlu menyangkal salah satunya. Ketika diskusi berlangsung cukup lama, Lyla mulai lelah. Ia mengingat janjinya sendiri, lalu berdiri.
“Maaf, aku perlu udara sebentar. Silakan lanjutkan.”
Aresh mengangguk. Putri Elf juga berhenti sejenak. “Tentu. Terima kasih sudah bergabung.”
Di koridor, Lyla menarik napas dalam-dalam. Tala menemaninya tanpa bertanya. Beberapa menit kemudian, sang Putri keluar membawa berkasnya.
“Apakah Anda baik-baik saja?” tanyanya.
“Ya. Aku hanya perlu jeda.”
“Saya mengerti. Saya pun kadang merasa semua orang mengharapkan saya bertahan sampai rapat selesai meski sudah kelelahan.”
Lyla mengangguk. “Aku senang kita boleh pergi tanpa dianggap tidak sopan.”
Putri Elf tersenyum. “Saya akan kembali menyelesaikan pembicaraan. Anda boleh beristirahat.”
Setelah sang Putri pergi, Lyla melihat Tala. “Aku keluar tanpa membuat alasan.”
“Anda menyatakan kebutuhan Anda dengan jelas.”
“Sepertinya itu lebih mudah daripada membuat jadwal.”
“Sedikit lebih mudah.”
Lyla duduk sebentar di bangku lorong. Ia tidak merasa kalah karena meninggalkan pertemuan. Ia juga tidak merasa harus membuktikan bahwa dirinya pantas berada di istana dengan terus membantu. Saat Aresh keluar kemudian, ia tidak membawa kabar besar. Hanya berkata bahwa diskusi akan dilanjutkan esok hari.
“Bagus,” kata Lyla. “Aku rasa aku akan membaca di balkon lagi.”
“Sendiri?”
“Belum kuputuskan.”
Aresh menerima jawaban itu dengan anggukan. Mereka berjalan beriringan sampai persimpangan lorong lalu memilih arah berbeda. Lyla menyadari jarak kecil itu tidak membuat kedekatan mereka hilang. Ia bisa mengambil ruang untuk dirinya sendiri dan tetap merasa terhubung.
Malamnya, Lyla mencoba kembali membaca buku yang sebelumnya ia tinggalkan. Ia tidak mengatur jadwal untuk esok hari dan tidak menanyakan kapan Putri Elf akan berangkat. Ia tahu kunjungan itu akan berakhir sesuai agenda, tetapi ia tak perlu menghitung jamnya.
Tala datang mengantar teh dan melihat buku catatan terbuka di meja. “Apakah pertanyaan untuk Orion sudah siap?”
“Sebagian. Aku ingin bertanya tentang tubuhku di Bumi, tapi aku takut jawabannya tidak seperti yang kuharapkan.”
“Takut bukan berarti Anda tidak boleh bertanya.”
“Aku tahu. Aku cuma perlu memilih waktu yang tepat dan memastikan aku tidak mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasannya.”
Lyla menulis satu pertanyaan lagi: apakah keberhasilan misi bergantung pada Aresh menikah, atau pada kebahagiaan yang ia pilih sendiri? Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan bahwa ia belum yakin misi itu masih dapat diselesaikan. Tidak ada jawaban di halaman, hanya hal-hal yang harus ditanyakan.
Ia menutup buku dan memandang ke luar jendela. Aresh berjalan melintasi halaman bersama Liram, membawa dokumen. Lyla tidak memanggilnya. Ia membiarkan malam menjadi malam biasa, tanpa memaksa dirinya mendapatkan kepastian sebelum waktunya.
Esok hari ia akan bertemu Naran. Ada permintaan maaf yang telah lama ia tunda, dan ia ingin menyampaikannya tanpa menuntut agar Naran segera memaafkan. Satu langkah kecil itu terasa lebih nyata daripada semua daftar yang pernah ia buat.
Aresh menunggu sampai Lyla selesai bekerja sebelum berbicara lagi. “Aku tidak akan membahas perasaanmu dengan orang lain,” katanya. “Apa pun yang kau katakan kepadaku tetap milikmu.”
“Terima kasih. Aku tidak ingin kabar tentangku menjadi bahan keputusan istana.”
“Liram juga memahami itu.”
Lyla mengangguk. Ia menyukai bahwa Aresh tidak menawarkan solusi yang tak diminta. Ia hanya memastikan bahwa rahasianya aman. Mereka lalu berbicara tentang jadwal kunjungan tanpa menyebut pernikahan. Putri Elf akan menyelesaikan beberapa urusan esok hari dan menentukan sendiri kapan ia pulang. Aresh tidak menganggap keberangkatannya sebagai penolakan terhadap Avantera; itu hanya bagian dari tugas sang Putri.
Lyla menyadari bahwa ia pun ingin diberi kebebasan serupa: sebuah keputusan tentang pulang tidak harus berarti ia membenci tempat ini, dan keputusan untuk tinggal kelak tidak harus menjadi bukti bahwa misi telah mengikatnya selamanya. Ia masih belum mengetahui jawabannya, tetapi setidaknya kini ia punya kata-kata untuk menjelaskan apa yang ia butuhkan.