Lyla menyambut pagi dengan daftar kegiatan yang hampir memenuhi dua halaman. Ia menulis jadwal sarapan, waktu berjalan-jalan, pilihan ruang baca, daftar makanan, dan bahkan usulan permainan papan untuk Putri Elf. Tala membaca daftar itu sambil memijat pangkal hidung.
“Ini bukan jadwal kunjungan,” katanya. “Ini jadwal latihan prajurit.”
“Aku hanya ingin memastikan dia tidak bosan.”
“Beliau sudah meminta waktu untuk membaca dan memeriksa rancangan aliansi.”
“Benar, tapi mungkin dia butuh hiburan.”
“Apakah beliau meminta hiburan?”
Lyla memandang daftar itu. “Belum.”
“Kalau begitu, tanyakan saja.”
Lyla menghapus beberapa baris, tetapi tangannya berhenti. Ia menyadari bahwa menyusun kegiatan membuatnya tidak perlu duduk diam memikirkan percakapan sang Putri dengan Aresh. Selama ada daftar yang bisa diperbaiki, tak perlu mengakui bahwa dadanya terasa sesak membayangkan mereka mulai saling mengenal.
“Aku sedang menghindari sesuatu, ya?”
“Sepertinya Anda sudah tahu jawabannya.”
“Kesibukan ini membuatku merasa berguna.”
“Anda memang berguna. Namun bukan berarti Anda harus mengisi setiap menit agar pantas berada di sini.”
Lyla melipat kertas itu dan memasukkannya ke laci. “Baik. Hari ini kita hanya melakukan apa yang diminta.”
Putri Elf meminta mengunjungi perpustakaan lagi. Lyla menemaninya tanpa membawa daftar. Mereka membaca beberapa catatan sejarah dan memilih bagian yang perlu diklarifikasi kepada Liram. Sang Putri tampak fokus, tetapi sesekali mereka berbincang tentang hal-hal ringan.
“Kau selalu menyibukkan diri seperti ini?” tanya sang Putri.
“Biasanya tidak. Dulu aku lebih suka bertindak dulu baru memikirkan akibatnya.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku membuat daftar supaya terlihat seolah-olah aku sudah memikirkan akibatnya.”
Putri Elf tersenyum. “Apakah itu berhasil?”
“Tidak terlalu.”
Mereka tertawa pelan, lalu melanjutkan membaca. Lyla berusaha hadir sepenuhnya dalam percakapan, bukan menebak apa yang Aresh lakukan di ruang rapat. Ketika sang Putri bertanya tentang kehidupan istana, Lyla menjawab jujur bahwa ia masih belajar memahami kebiasaan setempat.
“Ada banyak hal yang berbeda dari tempat asalku,” katanya. “Aku pernah membuat orang tidak nyaman karena menganggap sesuatu lucu, padahal bagi mereka itu pribadi.”
“Apakah Anda meminta maaf?”
“Ya. Aku belajar bahwa meminta maaf tidak berarti orang lain harus langsung melupakan.”
Putri Elf mengangguk. “Itu pelajaran yang berguna bagi siapa pun yang memiliki kuasa.”
Lyla memikirkan Aresh, Naran, dan semua orang yang mungkin merasa sungkan menegurnya. Ia belum sepenuhnya mengerti dunia ini, tetapi bisa belajar untuk bertanya sebelum bertindak.
Menjelang sore, Aresh mendapati Lyla di ruang arsip membawa setumpuk buku yang terlalu tinggi. Ia segera menawarkan bantuan, tetapi berhenti sebelum mengambilnya.
“Boleh kubantu?” tanyanya.
Lyla menatap tumpukan tersebut, lalu terkekeh. “Boleh. Terima kasih sudah bertanya.”
Aresh mengambil beberapa buku setelah Lyla mengangguk. Mereka membawanya ke meja bersama-sama.
“Kau membuat jadwal untuk Putri Elf?” tanyanya.
“Tidak jadi. Daftarku sudah masuk laci.”
“Kenapa?”
“Aku sadar dia bukan proyek. Dia tahu apa yang ingin dilakukan. Aku tidak perlu membuat setiap jamnya penuh.”
Aresh meletakkan buku dengan hati-hati. “Itu keputusan yang baik.”
“Dan aku sibuk karena takut melihatmu makin dekat dengannya.”
Kata-kata itu keluar sebelum Lyla sempat menahannya. Ia memalingkan wajah. “Maaf. Aku tahu aku tidak berhak mengatur—”
“Kau berhak mengakui perasaanmu,” sela Aresh. “Mengakuinya bukan berarti memaksaku memilih.”
Lyla menatapnya. Ia tampak sungguh-sungguh, tidak kesal atau mengejek. “Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah.”
“Aku tidak merasa bersalah karena kau cemburu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak menyakiti dirimu dengan berpura-pura tidak merasakannya.”
“Sulit sekali mengakui hal begitu tanpa terdengar seperti sedang minta dipilih.”
“Kalau kau meminta jawaban dariku, aku akan menjawab. Tapi aku tidak menganggap pengakuanmu sebagai tuntutan.”
Lyla menelan ludah. Ia tidak meminta jawaban. Belum. “Terima kasih.”
Aresh tidak menyentuhnya atau mencoba menghibur dengan gerakan yang tak diminta. Ia hanya berdiri di dekat meja, memberi ruang bagi Lyla untuk mengatur napas.
“Bagaimana pertemuan kalian?” tanya Lyla setelah beberapa saat.
“Kami meninjau syarat aliansi. Tidak ada pembicaraan pribadi hari ini.”
“Bagus. Aku sungguh ingin kalian bicara jujur, walau aku mungkin harus belajar menahan rasa tidak nyaman.”
“Kau tidak perlu memaksakan diri ikut dalam setiap pertemuan.”
“Aku tahu. Hari ini aku memilih tidak ikut.”
Lyla mengambil satu buku dari tumpukan dan menyusunnya di rak. Untuk pertama kalinya, ia merasa kesibukannya bisa berhenti tanpa membuatnya lenyap dari istana. Ia tetap Lyla, bahkan ketika tidak sedang membantu siapa pun.
Saat Tala kembali dari dapur, Lyla akhirnya melipat kertas daftarnya dan menyerahkannya kepadanya. “Buang saja. Kalau disimpan, aku mungkin tergoda membuat versi baru.”
“Bisa saya sobek?”
“Silakan. Ini bukan dokumen kerajaan.”
Tala menyobek daftar menjadi beberapa bagian kecil. Lyla memandang potongan kertas itu jatuh ke keranjang, merasakan sesuatu yang aneh: kelegaan kecil karena tidak perlu membuat dirinya berguna setiap saat.
Mereka lalu berjalan ke taman tanpa tujuan khusus. Lyla meminta Tala mengajarinya nama beberapa tanaman. Ia bertanya sebelum memetik daun, dan Tala menjelaskan bagian mana yang boleh dipotong. Untuk pertama kalinya, kegiatan bersama itu tidak ditujukan untuk menyambut Putri atau membantu Aresh. Mereka hanya menghabiskan waktu.
“Apakah Anda merasa lebih baik?” tanya Tala.
“Sedikit. Aku masih memikirkan mereka di ruang rapat.”
“Pikiran tidak harus hilang agar Anda dapat beristirahat.”
Lyla menyentuh gagang gunting, lalu menunggu Tala menunjukkan cabang yang perlu dipangkas. Ia mengikuti petunjuk, kali ini tanpa tergesa. Tindakan sederhana itu membuatnya sadar betapa sering ia menganggap kecepatan sebagai bukti kesungguhan.
Ketika Aresh datang, Lyla tidak berusaha menyembunyikan pekerjaannya atau berpura-pura santai. Ia menjawab pertanyaannya dengan jujur, lalu kembali memotong cabang kering. Aresh menghormati batas yang ia minta dan tidak mengubah pengakuannya menjadi janji atau tuntutan.
Lyla teringat bahwa ia pernah menganggap perhatian Aresh sebagai tanda bahwa ia harus segera menentukan masa depan. Kini ia mencoba menerima perhatian itu tanpa menjadikannya utang. Ia dapat menghargai kebaikan seseorang dan tetap meminta waktu untuk memahami keinginannya sendiri.