Pertemuan dengan Liram berlangsung menjelang siang. Lyla membawa catatan pertanyaan yang dibuat bersama Putri Elf. Sang Putri ingin mengetahui bagaimana usulan aliansi akan memengaruhi perdagangan dan keamanan, sedangkan Liram menjelaskan bahwa setiap butir perlu diperiksa sebelum menjadi kesepakatan resmi.
Aresh hadir untuk memberi penjelasan langsung. Ia tidak berbicara seolah semua keputusan telah ada di tangannya. Ia meminta Putri Elf menyampaikan prioritasnya, lalu mendengarkan tanpa menyela.
“Jalur perdagangan aman akan membantu kedua pihak,” ujar sang Putri. “Namun saya tidak ingin hasilnya membuat warga di wilayah perbatasan kehilangan kendali atas tanah mereka.”
“Kita dapat menambahkan batasan dan meminta kedua kerajaan meninjau rancangan itu,” kata Aresh. “Tidak perlu menyetujui hari ini.”
Liram mencatat perubahan yang perlu disusun. Lyla duduk di sisi ruangan, hanya mengajukan satu pertanyaan ketika diminta pendapat. Ia menanyakan apakah perwakilan wilayah perbatasan akan didengar sebelum kesepakatan disahkan. Aresh menjawab bahwa hal itu bisa dimasukkan sebagai syarat pembahasan lanjutan.
Putri Elf mengangguk. “Itulah alasan saya ingin mengenal cara kerja istana ini. Saya tidak ingin menandatangani sesuatu yang terdengar baik tetapi mengabaikan orang-orang yang akan terdampak.”
Lyla merasakan hormatnya tumbuh. Sang Putri tidak berbicara tentang dirinya saja. Ia memikirkan orang-orang di balik peta dan angka.
Setelah pertemuan selesai, Putri Elf meminta Lyla menemaninya ke taman. Mereka berjalan menyusuri jalur yang dinaungi pepohonan. Kali ini Lyla tidak membawa daftar atau agenda. Ia berusaha mengikuti langkah tanpa menjadikannya tur resmi.
“Ketika saya menerima undangan, banyak orang menganggap pernikahan adalah bagian yang paling penting,” kata Putri Elf. “Mereka membicarakan siapa yang akan mendapat keuntungan, bukan apakah saya atau Aresh menginginkannya.”
“Pasti melelahkan.”
“Sangat. Karena itu saya ingin melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan orang. Bukan hanya bagaimana dia berbicara kepada saya saat ada pejabat.”
“Dan bagaimana hasil pengamatanmu?”
“Aresh cukup keras kepala, tetapi ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan jawaban. Ia juga lebih banyak mendengar daripada yang saya kira.”
Lyla tersenyum kecil. “Itu pujian besar. Biasanya dia bicara seperti sedang membacakan peraturan.”
“Apakah Anda mencintainya sejak awal?”
“Tidak. Awalnya aku cuma ingin pulang. Aku berusaha menjalankan misi Orion secepat mungkin. Lalu Aresh berhenti terasa seperti tugas dan mulai terasa seperti seseorang yang akan kurindukan.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu aku mencintainya, tapi aku belum tahu apakah aku bisa memilih tinggal. Aku bahkan belum tahu apa arti kembali ke Bumi.”
Putri Elf tidak buru-buru memberi jawaban. Mereka berhenti dekat kolam kecil. Air memantulkan cahaya siang, dan sesaat Lyla melihat bayangan dirinya yang tampak lebih tenang daripada perasaannya.
“Kalau saya boleh bertanya, apa yang Anda takutkan dari tinggal?”
“Bahwa aku hanya akan menjadi orang yang dibawa ke sini untuk mengerjakan misi. Kalau misi selesai, apakah aku masih punya alasan untuk ada di dunia ini?”
“Apakah Aresh pernah mengatakan Anda harus tinggal?”
“Tidak. Justru dia terus mengingatkanku bahwa aku boleh memilih.”
“Kalau begitu, mungkin jawabannya tidak harus ditemukan hari ini. Anda dapat mencari tahu siapa diri Anda di Avantera, terlepas dari apakah Anda menjadi permaisuri.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang Lyla hindari. Selama ini ia selalu membayangkan dua ujung: pulang sebagai misi yang berhasil atau tinggal sebagai istri Aresh. Tidak ada pilihan ketiga yang berarti membangun hidupnya sendiri sementara keputusan besar masih belum diketahui.
“Aku belum pernah memikirkan itu.”
“Tidak ada yang salah dengan mempertimbangkan kemungkinan lain.”
“Aku kira misi membuat hidupku seperti soal dengan satu jawaban.”
“Barangkali misi hanya salah satu bagian dari hidup Anda.”
Lyla mengangguk pelan. Perkataan itu tidak menyelesaikan kebingungannya, tetapi memberinya cara lain untuk melihat persoalan. Ketika mereka kembali ke istana, Aresh menunggu di dekat koridor. Ia bertanya apakah sang Putri ingin melanjutkan pembicaraan mengenai rancangan aliansi besok.
“Ya,” jawabnya. “Saya ingin meninjau ulang syarat tentang wilayah perbatasan.”
“Liram akan menyiapkannya.”
Putri Elf kemudian berpamitan untuk beristirahat. Lyla berjalan beriringan dengan Aresh menuju perpustakaan.
“Kalian terlihat akrab,” kata Aresh.
“Dia orang yang baik. Kami membicarakan alasan kedatangannya.”
“Apa yang kau pikirkan tentangnya?”
“Dia ingin memilih sendiri. Sama sepertimu.”
Aresh mengangguk. “Itu haknya.”
“Dan hakmu.”
“Ya.”
Lyla menatap lorong di depan. Ada perih kecil ketika membayangkan mereka mungkin cocok, tetapi kini perih itu tidak membuat sang Putri menjadi lawan. Ia mengingatkan dirinya bahwa keputusan Aresh harus tetap menjadi miliknya. Dan pilihan Lyla sendiri, kelak, harus lahir dari pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia dan tubuhnya di Bumi.
Sebelum Putri Elf tiba di taman, Lyla menghabiskan waktu menyusun ulang catatan pertemuan. Ia menandai pertanyaan tentang jalur perjalanan dan daftar pihak yang perlu dimintai pendapat. Liram memeriksa tulisan itu dan mengatakan beberapa hal masih perlu dipastikan.
“Kalau ada yang belum pasti, jangan tulis seolah sudah menjadi keputusan,” kata Lyla. “Aku tahu rasanya menerima kabar yang berubah sebelum sempat dipahami.”
Liram mengangguk dan mengoreksi satu baris. Lyla menyadari ia sedang belajar dari kekacauan sebelumnya: menyampaikan fakta apa adanya lebih baik daripada memberi kepastian yang belum dimiliki.
Ketika Putri Elf datang, Lyla menyimpan catatan tersebut. Ia tak ingin pertemuan pribadi mereka berubah menjadi urusan administrasi. Sang Putri bertanya apakah Lyla pernah ingin kembali ke Bumi sejak kedatangannya.
“Setiap hari,” jawab Lyla. “Tapi ada juga hari ketika aku ingin tetap di sini. Itu yang membuat semuanya sulit.”
“Apakah dua perasaan itu saling membatalkan?”
“Seharusnya tidak. Tapi aku terbiasa menganggap kalau ingin pulang, berarti aku tak boleh menyayangi siapa pun di sini.”
Putri Elf berkata bahwa ia pun pernah merasa harus memilih antara tanggung jawab dan kehendak pribadi. Namun ia akhirnya belajar bahwa memahami tanggung jawab tidak menghapus haknya untuk menentukan batas. Lyla mendengarkan tanpa menyela, lalu mengucapkan terima kasih.
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan lebih ringan. Sang Putri menceritakan beberapa kebiasaan di negerinya, sedangkan Lyla membalas dengan cerita tentang kehidupan kota di Bumi tanpa mengulang kisah kematiannya. Perbedaan dunia membuat mereka tertawa ketika menyadari kata yang sama bisa memiliki makna berbeda.