Pagi setelah percakapan di taman, Lyla mendapati Putri Elf menunggu di dekat pintu perpustakaan. Sang Putri mengenakan gaun biru tua dan membawa sebuah buku bersampul kulit. Wajahnya terlihat lebih santai daripada saat pertama kali tiba.
“Selamat pagi,” sapa Lyla. “Kau mencari buku tertentu?”
“Saya ingin membaca sejarah Avantera sebelum kembali membahas aliansi. Apakah Anda bersedia menunjukkan bagian yang paling berguna?”
“Bersedia. Tapi aku harus mengaku, aku belum ahli. Aku masih kadang tersesat di rak yang sama.”
“Kalau begitu kita bisa belajar bersama.”
Tala menyerahkan kunci lemari buku sejarah kepada penjaga perpustakaan, lalu membiarkan Lyla memimpin. Lyla berjalan ke bagian timur, melewati rak tinggi yang selalu membuatnya merasa kecil. Ia menunjukkan peta lama, kronik kerajaan, dan catatan tentang hubungan antara bangsa naga dan suin. Putri Elf membaca judul-judulnya dengan penuh minat.
“Apakah Aresh sering datang ke sini?” tanya sang Putri.
“Dulu lebih sering sendirian. Belakangan, dia kadang duduk di balkon sementara aku berusaha membaca.”
“Berusaha?”
“Aku gampang terdistraksi. Apalagi kalau dia ada. Aku bisa membaca satu kalimat lima kali, lalu bertanya hal yang sama.”
Putri Elf tersenyum. “Saya kira hanya saya yang gugup ketika berbicara dengannya.”
Lyla menyentuh tepi buku, bukan tanduk atau bagian tubuh siapa pun. Ia sengaja membiarkan tangannya tetap di sana. “Dia memang sulit ditebak. Tapi kalau kau ingin tahu pendapatnya, lebih baik tanyakan langsung. Dia tak selalu pandai menebak maksud orang.”
“Apakah Anda juga berharap saya bertanya langsung kepadanya?”
“Ya. Aku tidak mau menjawab atas nama Aresh.”
Mereka menemukan sebuah meja dekat jendela dan duduk. Putri Elf membuka peta, sementara Lyla membantu menjelaskan nama wilayah yang ia kenali. Sebagian informasi sudah usang, dan mereka menandai bagian-bagian yang perlu dikonfirmasi kepada Liram. Percakapan itu membuat Lyla merasa berguna tanpa harus menjadi penentu bagi siapa pun.
Setelah membaca beberapa halaman, Putri Elf menutup buku. “Bolehkah saya menjelaskan mengapa saya menerima perjalanan ini?”
“Tentu. Kalau kau ingin cerita.”
“Saya menerima karena ingin membuktikan bahwa kerja sama antara kerajaan bisa dibangun melalui pembicaraan yang setara. Ada orang yang berharap saya menikah dengan Aresh demi menguatkan hubungan. Namun saya tidak ingin menerima atau menolak hanya karena orang lain menyebutnya kewajiban.”
Lyla mengangguk. “Kau ingin mengetahui apa yang kau mau sendiri.”
“Benar. Saya juga ingin melihat apakah Aresh dapat menjadi mitra yang menghormati pilihan saya. Sampai sekarang, ia melakukannya.”
Ada rasa kecil yang mencubit dada Lyla. Ia merasakannya dan membiarkannya ada, tak berusaha menyamarkannya dengan gurauan. “Aku senang dia memperlakukanmu dengan baik.”
Putri Elf menatapnya hati-hati. “Apakah itu sulit dikatakan?”
“Sedikit.”
“Terima kasih karena tetap mengatakannya.”
Lyla menarik napas panjang. “Aku mungkin akan cemburu lagi nanti. Tapi itu urusanku untuk dihadapi, bukan kesalahanmu.”
Mereka kembali membaca. Putri Elf menanyakan tentang sejarah perbatasan dan Lyla mencatat pertanyaan yang perlu diserahkan kepada Liram. Tak terasa pagi berjalan hingga menjelang siang. Saat mereka berhenti, Lyla menyadari ia tidak memikirkan kapan sang Putri akan pergi atau apakah misinya telah selesai. Untuk beberapa jam, ia hanya menjadi teman membaca.
Di ambang pintu, mereka berpapasan dengan Aresh. Ia membawa beberapa dokumen untuk ditinjau. Putri Elf menyapanya dan mengatakan telah menemukan beberapa hal yang ingin dibicarakan. Aresh menjawab bahwa ia bersedia menjelaskan setelah makan siang.
“Lyla membantu saya memahami susunan buku di sini,” kata sang Putri.
“Semoga dia tidak mengarahkanmu ke rak yang salah.”
“Aku tidak pernah salah arah,” protes Lyla. “Aku hanya menemukan rute yang tidak direncanakan.”
Aresh menatapnya datar. “Itu disebut tersesat.”
Putri Elf tertawa kecil. Lyla ikut tertawa, meski ada kesadaran baru yang tumbuh di dalam dirinya: ia melihat Aresh bersikap hangat kepada sang Putri, dan ia tidak ingin menghalanginya. Perasaan cemburu tetap membuat hatinya berdenyut tak nyaman, tetapi ia bisa hidup berdampingan dengannya tanpa mengubahnya menjadi tindakan.
Mereka berpisah untuk makan siang. Sebelum pergi, sang Putri berjanji mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Lyla menawarkan bantuan, lalu mengingatkan bahwa ia sendiri belum tentu ingat rak yang benar.
“Kita bisa meminta petunjuk,” kata Tala.
“Pilihan yang masuk akal. Aku mulai menyukai pilihan yang masuk akal.”
“Jangan terlalu cepat. Nanti Anda kehilangan reputasi.”
Lyla tersenyum. Hari itu tidak memberikan jawaban tentang masa depannya, tetapi memberinya pemahaman yang lebih nyata tentang Putri Elf: seorang perempuan yang datang bukan untuk merebut siapa pun, melainkan untuk mencari kehendaknya sendiri.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, Putri Elf meminta Lyla membantu memeriksa kembali nomor rak agar buku-buku tidak tertukar. Mereka mengembalikan satu per satu jilid yang telah dibaca. Lyla menyebutkan bahwa buku sejarah di Avantera sering ditulis dari sudut pandang para raja, sehingga catatan tentang kehidupan sehari-hari warga jauh lebih sedikit.
“Apakah itu juga berlaku di Bumi?” tanya sang Putri.
“Kadang. Orang yang punya kuasa lebih mudah meninggalkan catatan. Orang biasa sering hanya muncul sebagai angka.”
“Kalau begitu, mungkin kita perlu lebih banyak mendengarkan cerita mereka.”
Lyla mengangguk. Ia menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan yang tak terduga: keduanya tidak ingin orang lain meringkas hidup mereka menjadi tugas atau kesepakatan. Putri Elf tidak ingin dikenal hanya sebagai calon istri, sementara Lyla tak ingin keberadaannya di Avantera hanya dinilai dari keberhasilan misi.
Mereka berhenti di dekat jendela. “Aku senang kau datang,” kata Lyla, “meski perasaanku kadang tidak menyenangkan.”
“Saya juga senang kita bisa bicara tanpa berpura-pura.”
Saat mereka berpisah, Putri Elf meminjam satu buku sejarah untuk dibaca di kamarnya. Lyla menuliskan judul dan nomor raknya agar buku itu mudah dikembalikan. Ia tidak menawarkan diri untuk menyusun agenda tambahan. Percakapan mereka sudah cukup untuk hari itu.
Lyla pulang ke kamarnya membawa buku yang dipinjam sang Putri. Ia menuliskan judulnya di secarik kertas agar tidak lupa mengembalikannya, lalu meletakkan kertas itu di atas meja. Bukan daftar kegiatan, hanya satu pengingat sederhana. Ia merasa mampu membedakan keduanya sekarang.