Jalanan kota di pagi hari adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Bunyi klakson bersahut-sahutan, asap knalpot yang membubung, dan ribuan manusia yang berpacu dengan waktu. Di tengah kemelut itu, Berna Lyla mengayuh sepeda jengki birunya dengan semangat yang bisa menghancurkan beton. Rambutnya yang dikepang asal-asalan mencuat ke sana kemari, sementara keringat mulai membasahi kaos oblong yang dikenakannya untuk bekerja.
Lyla adalah gadis yang lugas. Baginya, dunia ini hitam dan putih. Jika dia melihat sesuatu yang salah, dia akan mengatakannya. Jika dia melihat seseorang butuh bantuan, dia akan bergerak. Teman-temannya sering menyebutnya "Gadis Sembrono Tanpa Rem", dan pagi ini, julukan itu akan membuktikan kebenarannya.
"Lampu merah lagi? Ayolah, sedikit lagi aku sampai!" gerutunya saat roda sepedanya berhenti tepat di garis putih persimpangan besar.
Ia berdiri di atas pedal, menyeka dahi dengan punggung tangan, dan menunggu dengan tidak sabar. Matanya yang bulat menyapu pemandangan di depannya. Di saat itulah, dunianya seolah membeku. Di tengah aspal panas, tepat di jalur kendaraan yang melaju kencang dari arah berlawanan, seekor anak kucing oranye sedang meringkuk ketakutan. Makhluk kecil itu tampak sangat mungil di antara ban-ban besar truk dan mobil yang melintas hanya beberapa sentimeter dari telinganya.
"Hei! Ada kucing di sana!" Lyla berteriak pada pengendara motor di sebelahnya, tapi pria itu hanya melirik sekilas lalu membuang muka.
Hati Lyla mencelos. Ia adalah pencinta kucing garis keras. Melihat makhluk tak berdaya itu gemetar di tengah maut membuatnya tidak bisa hanya berdiri diam. Persetan dengan lampu merah. Persetan dengan keselamatannya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Lyla melepaskan pegangan sepedanya hingga kendaraan itu jatuh berdebam ke aspal. Ia berlari sekuat tenaga menembus arus kendaraan.
"Woi! Gila ya?!" teriak seorang pengemudi mobil yang harus mengerem mendadak hingga bannya mencit.
Lyla tidak peduli. Ia terus berlari, meliuk-liuk di antara moncong kendaraan yang menderu. Ia sampai di tengah jalan, tepat di depan si kecil oranye. Tanpa ragu, ia berjongkok dan menyambar tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Dapat! Tenang ya, Manis. Kakak di sini," bisiknya sambil mendekap kucing itu erat-erat.
Lyla tersenyum lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Dari sudut matanya, ia melihat sebuah sedan hitam melaju sangat kencang. Pengemudinya tampak sedang menunduk, mungkin sedang melihat ponselnya, dan sama sekali tidak menyadari ada seorang gadis yang sedang berjongkok di jalurnya.
BRAKKKK!
Suara itu seperti ledakan di telinga Lyla. Tubuhnya terasa seperti dihantam oleh palu raksasa milik dewa. Ia merasakan sensasi terbang sesaat sebelum punggungnya menghantam pembatas jalan dengan sangat keras. Rasa sakit yang tak tertahankan menjalar ke seluruh sarafnya, disusul oleh sensasi dingin yang merayap dari kepalanya.
Pandangan Lyla mulai mengabur. Ia tergeletak di atas aspal, napasnya tersengal-sengal. Namun, hal pertama yang ia lakukan adalah melonggarkan pelukannya. Anak kucing itu merangkak keluar dari dekapan Lyla. Ia mengeong pelan, mengendus pipi Lyla sejenak, lalu berlari menuju trotoar dengan selamat.
Lyla tersenyum. Darah mengalir dari kepalanya yang terbentur dinding jalan, membasahi aspal di bawahnya. Orang-orang mulai berkerumun, wajah-wajah mereka tampak panik dan buram.
Ah, jadi begini rasanya mati? pikir Lyla. Anehnya, ia tidak merasa takut. Ia justru ingin tertawa. Mati demi kucing... setidaknya aku akan masuk berita dengan judul yang keren.
"Kalau boleh... aku ingin kesempatan lagi..." bisiknya dengan sisa tenaga terakhir. "Dunia ini... masih terlalu seru untuk ditinggalkan..."
Dan dalam sekejap, cahaya terang berubah menjadi kegelapan yang pekat.
"Kau adalah gadis yang sangat menarik, Berna Lyla."
Suara itu terdengar berat namun sangat merdu, bergema di ruang hampa yang tak berujung. Lyla mencoba membuka matanya, tapi kelopaknya terasa seberat timah. Perlahan, kesadarannya kembali. Sensasi dingin aspal berganti dengan perasaan melayang yang hangat.
Saat ia akhirnya berhasil membuka mata, ia tidak melihat langit-langit rumah sakit. Di atasnya adalah dahan-dahan pohon raksasa dengan daun berwarna hijau segar yang berpendar lembut. Lyla duduk tegak dengan kaget. Ia tidak lagi berada di persimpangan jalan. Ia berada di tepi sebuah danau yang airnya berwarna biru safir.
"Aku... di surga?" gumamnya, meraba kepalanya. Tidak ada luka. Pakaian kerjanya masih melekat, meski kini tampak bersih seolah baru dicuci.
"Belum saatnya bagimu untuk ke sana," sebuah suara menyahut dari arah belakang.
Lyla berbalik dengan cepat. Seorang pria berdiri di sana. Ia mengenakan jubah hitam yang tampak seperti ditenun dari cahaya, dengan hiasan emas yang rumit di bahunya. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun lyla tahu jika ia memiliki sepasang mata hijau yang memancarkan kebijaksanaan ribuan tahun.namun lyla melihat sosok itu samar.
"Siapa kau? Dan di mana ini? Mana kucingku?" cecar Lyla bertubi-tubi.
Pria itu terkekeh pelan. "Namaku Orion, putra Dewa Kemakmuran. Mengenai kucingmu, dia selamat di duniamu. Sedangkan kau... kau berada di wilayah Avantera."
Lyla mengernyit. "Avantera? Kedengarannya seperti merek deterjen. Dan tunggu, tadi kau bilang dewa? Jadi aku benar-benar sudah mati?"
Orion mengangguk kecil. "Tubuh aslimu sedang terluka berat. Namun, karena kau meminta kesempatan kedua dengan hati yang murni saat menyelamatkan makhluk lain, aku memutuskan untuk membantumu. Aku memiliki kekuatan untuk memindahkan jiwa-jiwa yang sekarat ke dunia ini."
Lyla terdiam sejenak, mencerna informasi gila itu. "Jadi... aku hidup lagi? Di dunia fantasi?"
"Tepat. Tapi ada syaratnya," Orion melangkah mendekat. "Di dunia ini dipimpin oleh raja-raja besar. Salah satunya adalah Raja Aresh, penguasa ras Naga. Dia adalah pria yang luar biasa, namun hatinya sedingin es dan ia tidak memiliki pendamping. Jika kau ingin tetap hidup di dunia ini dan suatu saat kembali ke tubuh asalmu di Bumi, kau harus menyelesaikan sebuah misi."
Lyla menaikkan sebelah alisnya. "Misi apa?"
"Carikan dia seorang istri. Buat dia jatuh cinta," jawab Orion tenang.
Lyla tertegun, lalu tiba-tiba meledak dalam tawa yang sangat keras hingga burung-burung di sekitar danau terbang ketakutan. "Hahaha! Hanya itu?! Kau membawaku ke dunia lain hanya untuk jadi makcomblang?! Ya ampun, Orion! Kau dewa atau admin biro jodoh?"
Orion tersenyum misterius. "Kau mungkin menganggapnya mudah sekarang, Lyla. Tapi Aresh bukan naga biasa. Dia dikenal kejam, berdarah dingin, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya."
"Tenang saja!" Lyla menepuk dadanya dengan bangga. "Aku ini ahli dalam urusan orang-orang kaku. Berikan aku waktu, dan aku akan buat dia bertekuk lutut pada salah satu gadis di sini. Itu misi yang sangat mudah!"
"Semoga keberuntungan menyertaimu, Lyla," ucap Orion sambil perlahan-lahan memudar menjadi serpihan cahaya emas. "Ingat, kau harus hidup dan berbaur di dunia ini. Jangan sampai identitasmu sebagai manusia dari bumi terbongkar sebelum waktunya."
"Hei! Tunggu! Aku harus ke mana?!" teriak Lyla. Namun Orion sudah menghilang sepenuhnya.
Lyla berdiri sendirian di tengah hutan belantara yang asing. Ia melihat sekeliling, hanya ada pepohonan raksasa dan suara serangga yang aneh. Ia menyadari satu hal yang sangat penting. "Sialan... dia lupa memberiku peta ke kerajaan itu!"
Lyla mulai berjalan menelusuri hutan sambil terus bergumam kesal. Mulutnya tidak berhenti mengomel, memaki Orion yang dianggapnya tidak profesional sebagai dewa. Ia tidak tahu bahwa di luar hutan ini, petualangan yang jauh lebih berbahaya dan membingungkan sedang menantinya.
To be continued....