Pada hari ketiga kunjungan, Liram mengatur pertemuan untuk membahas langkah selanjutnya dalam aliansi. Usulan perdagangan masih perlu diperiksa dan batas kerja sama belum disepakati. Namun sebelum rapat dimulai, Putri Elf meminta berbicara dengan Aresh secara pribadi di ruang yang tetap terbuka bagi kedua sekretaris mereka.
Lyla berada di perpustakaan bersama Tala. Ia berusaha membaca, tetapi sekali lagi menemukan dirinya mengulang halaman yang sama. Kali ini ia menutup buku sebelum Tala perlu menegurnya.
“Aku tidak perlu tahu apa yang mereka bicarakan,” ujarnya.
“Kalau Anda memang tidak ingin tahu.”
“Aku ingin tahu. Tapi aku tidak akan menguping.”
Tala tersenyum. “Itu juga kemajuan.”
Mereka berbicara tentang hal lain sampai Liram datang. “Pertemuan aliansi akan dimulai sebentar lagi. Yang Mulia meminta saya menyampaikan bahwa Anda boleh hadir sebagai pendengar bila menghendaki, Nona Lyla. Kehadiran Anda tidak diwajibkan.”
Lyla memikirkan tawaran itu. “Aku akan hadir. Tapi duduk di belakang dan tidak ikut memutuskan.”
Ruang rapat telah disiapkan dengan tiga kursi utama dan beberapa kursi untuk pendamping. Aresh dan Putri Elf duduk berhadapan, sementara Liram mencatat. Lyla memilih tempat di sisi Tala. Ia mendengar keduanya membahas jalur perdagangan dan mekanisme untuk meninjau keamanan perjalanan. Mereka tidak menyepakati seluruh rincian, tetapi sepakat mengirim rancangan masing-masing untuk diperiksa.
Setelah urusan politik dibahas, Putri Elf meminta waktu untuk menjelaskan sikapnya tentang pernikahan.
“Saya tidak datang untuk menerima lamaran,” katanya. “Saya datang karena ingin mengetahui kemungkinan hubungan antara kerajaan kita. Saya juga bersedia mengenal Anda. Namun, setelah berbicara beberapa hari, saya belum merasakan keinginan untuk menjadikan perkenalan ini hubungan romantis.”
Aresh mendengarkan dengan saksama. “Terima kasih telah mengatakannya secara langsung. Saya pun belum merasakan bahwa pernikahan adalah pilihan yang tepat. Saya menghormati Anda dan tidak ingin memberi kesan sebaliknya.”
“Kalau begitu, kita sepakat untuk tidak melanjutkan pembicaraan pribadi ke arah pernikahan.”
“Ya. Hubungan kerajaan akan kita lanjutkan melalui kesepakatan yang tidak mengikat kehidupan pribadi siapa pun.”
Tak ada ketegangan atau kemarahan dalam suara mereka. Hanya dua orang yang menyampaikan batas dengan jelas. Liram mencatat bahwa hasil pembicaraan itu tidak mengubah status kunjungan; Putri Elf tetap menjadi tamu dan utusan, bukan calon permaisuri.
Lyla menyadari ia menahan napas. Ia mengembuskannya perlahan, bukan karena merasa telah menang, tetapi karena Putri Elf baru saja membuat pilihan untuk dirinya sendiri.
“Apakah Anda kecewa?” tanya sang Putri kepadanya setelah rapat selesai.
Lyla terkejut. “Kenapa aku harus kecewa?”
“Karena mungkin Anda berharap kunjungan saya menyelesaikan misi Anda.”
Lyla tidak ingin berbohong. “Aku memang sempat berpikir begitu. Tapi sekarang aku tahu misi itu tidak memberiku hak untuk menentukan hidup siapa pun. Aku belum tahu apa yang akan kulakukan setelah ini.”
Putri Elf mengangguk. “Saya harap Anda memperoleh jawaban yang benar-benar Anda pilih.”
“Terima kasih. Aku juga berharap kau menemukan jalan yang kau inginkan.”
Mereka berjabat tangan setelah Putri Elf lebih dahulu menawarkan. Lyla menerima dengan sopan. Tidak ada rasa persaingan dalam gerakan itu, hanya penghormatan antara dua orang yang sempat ditempatkan dalam kemungkinan yang sama oleh orang-orang lain.
Aresh mengantar Putri Elf ke ruang tamu. Liram akan menyiapkan pembicaraan lanjutan mengenai aliansi tanpa memasukkan perkawinan. Lyla menyusul Tala ke taman, memberi mereka jarak.
“Jadi, misi belum selesai,” gumam Lyla.
“Apakah Anda kecewa?”
“Sebagian. Ada bagian diriku yang ingin jawaban mudah. Putri datang, Aresh menikah, lalu aku pulang. Tapi jawaban itu ternyata bukan milikku untuk diberikan.”
“Lalu apa yang akan Anda lakukan?”
“Aku akan menunggu sampai aku tahu apa saja pilihanku. Aku tidak mau tinggal hanya karena takut pergi, dan tidak mau pulang hanya karena menganggap itu satu-satunya kewajiban.”
Tala memandangnya dengan hangat. “Itu terdengar seperti pilihan pertama yang benar-benar milik Anda.”
Lyla memandangi taman. Ia tetap mencintai Aresh, dan rasa takut kehilangan masih ada. Namun kunjungan Putri Elf telah mengajarinya bahwa kasih sayang bukan alasan untuk mengambil keputusan bagi orang lain. Kalau ia ingin memilih Aresh suatu hari nanti, ia harus melakukannya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai mak comblang yang sedang memenuhi misi.
Saat Aresh kembali, ia berdiri di samping Lyla tanpa menyentuhnya. “Putri Elf dan aku telah sepakat. Tidak ada hubungan pribadi yang akan kami lanjutkan. Aliansi tetap dibicarakan terpisah.”
“Aku senang kalian bisa bicara jujur.”
“Apakah kau berharap hasilnya berbeda?”
Lyla mempertimbangkan jawaban. “Aku tidak berharap dia dipaksa menjadi istrimu. Aku juga tidak bisa menyangkal bahwa aku lega. Dua hal itu benar.”
Aresh menerima kejujuran itu. “Kita tidak harus menentukan apa pun hari ini.”
“Bagus. Aku perlu waktu untuk mencari tahu apakah aku tinggal karena mencintaimu atau cuma takut kembali.”
“Ambillah waktu sebanyak yang kau perlukan.”
Lyla tersenyum kecil. “Kau tahu, dulu aku pikir tugas mencarikanmu istri akan menjadi pekerjaan paling aneh dalam hidupku.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku pikir pekerjaan paling aneh adalah mencari tahu apa yang kuinginkan tanpa membuat formulir.”
Aresh tertawa. Lyla ikut tertawa, dan kali ini suara itu tidak terasa seperti upaya menutupi air mata. Kunjungan sang Putri belum menyelesaikan masa depan mereka, tetapi satu kemungkinan telah diputuskan dengan jujur oleh orang-orang yang menjalaninya.