Lyla tidak hadir dalam pertemuan politik pagi itu. Liram mengatakan pembicaraan akan lebih mudah jika hanya dihadiri pihak yang berkepentingan langsung. Lyla setuju, lalu mencari kegiatan lain supaya tidak terus membayangkan Aresh dan Putri Elf duduk berhadapan.
Ia memilih membantu Tala memeriksa persediaan ruang tamu. Pekerjaan itu tak membutuhkan banyak pikiran, tetapi pikirannya tetap berlari sendiri.
“Kalau aku sibuk, aku tidak akan cemburu,” katanya sambil menyusun kain.
“Apakah berhasil?” tanya Tala.
“Tidak.”
“Setidaknya Anda menguji hipotesisnya.”
Lyla meletakkan kain dengan sedikit terlalu keras. “Aku tidak ingin membenci Putri Elf. Dia sopan, jelas, dan tidak mencoba menggunakan Aresh. Itu justru membuatku sulit mencari alasan untuk kesal.”
“Tidak perlu mencari alasan.”
“Aku tahu. Tapi tetap saja, aku ingin dia menyukaiku dan sekaligus tidak terlalu dekat dengan Aresh. Itu tidak adil.”
Tala mengangguk. “Anda bisa mengakui rasa cemburu tanpa menuntut mereka mengubah pilihan.”
“Bagaimana kalau aku gagal?”
“Kalau begitu, Anda meminta maaf dan mencoba lagi.”
Lyla berhenti bekerja. Ia teringat Naran dan bagaimana dulu ia mengabaikan permintaan sederhana untuk melepaskan telinganya. Ketidaktahuan bukan alasan yang cukup. Jika ia ingin belajar menghormati orang lain, ia harus bisa mengakui kesalahan tanpa menjadikan niat baik sebagai pembelaan.
Sore harinya, Putri Elf mengundang Lyla untuk minum teh. Mereka duduk di beranda kecil. Tala berada di dalam ruangan, cukup dekat untuk dipanggil tetapi memberi mereka privasi.
“Saya ingin memastikan sesuatu,” ujar Putri Elf. “Apakah kehadiran saya membuat Anda merasa harus membantu saya mendekati Aresh?”
“Tidak. Aku tidak akan mengatur hubungan kalian.”
“Dan apakah Anda berharap saya mundur?”
Lyla menatap cangkirnya. Kejujuran memang lebih sulit daripada menata jamuan. “Ada bagian diriku yang berharap begitu. Aku cemburu melihatmu mendapat kesempatan mengenal dia. Tapi aku tidak ingin kau mengubah keputusanmu demi perasaanku.”
Putri Elf diam sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih. Saya menghargai Anda mengatakan hal yang tidak mudah.”
“Aku tidak mau bersikap ramah sambil diam-diam menyalahkanmu. Itu akan membuatku jadi orang yang sangat menyebalkan.”
“Menurut saya, mengakui rasa cemburu jauh lebih baik daripada berpura-pura tidak memilikinya.”
“Aku sedang mencoba.”
Putri Elf menjelaskan bahwa pembicaraannya dengan Aresh masih sebatas mengenal pandangan satu sama lain. Ia belum tahu apakah ia tertarik secara romantis. Ia juga tak ingin menjadi alat dalam kesepakatan politik. Lyla mendengarkan tanpa menyisipkan saran. Untuk pertama kalinya, ia merasa bisa berbicara dengan Putri Elf tanpa membandingkan diri mereka.
“Kalau akhirnya kau memilih tidak melanjutkan pembicaraan pribadi dengannya, itu bukan karena aku,” kata Lyla.
“Dan kalau saya memilih melanjutkannya, itu bukan untuk menyakiti Anda.”
Mereka bertukar senyum kecil. Rasa cemburu tetap ada di dada Lyla, tetapi tidak lagi memenuhi seluruh ruangan.
Sebelum teh selesai, Aresh datang untuk menanyakan apakah Putri Elf bersedia bertemu dengannya lagi keesokan hari. Ia menyampaikan pertanyaannya langsung kepada sang Putri, bukan kepada Lyla.
“Saya bersedia,” jawabnya. “Saya juga ingin tahu apakah Anda benar-benar ingin melanjutkan percakapan itu atau hanya merasa perlu bersikap sopan.”
“Saya ingin melanjutkannya,” kata Aresh. “Namun saya tidak menjanjikan hubungan yang belum ada.”
“Jawaban itu cukup.”
Lyla mengangkat cangkir agar tak terlihat sedang memperhatikan. Mereka membuat keputusan sendiri, dan ia berusaha mengingat bahwa tidak ada yang sedang mengambil sesuatu darinya. Aresh bukan miliknya. Ia pun belum memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan hidupnya.
Setelah Putri Elf pergi, Aresh tetap berdiri di beranda. “Kau bicara dengannya?”
“Ya.”
“Apakah kau mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?”
“Aku mengakui bahwa aku cemburu, tapi aku tidak meminta dia mundur.”
Aresh memandangnya dengan serius. “Terima kasih sudah jujur kepadanya.”
“Aku tidak melakukannya demi membuatmu terkesan.”
“Aku tahu.”
“Bagus.” Lyla berdiri. “Aku tidak ingin kau berpikir aku akan mengatur siapa yang boleh kau kenal.”
“Aku tidak berpikir begitu.”
“Dan kalau kau memutuskan melanjutkan perkenalan itu, aku akan menerima.”
Aresh tak menjawab cepat. “Aku ingin membuat keputusan setelah benar-benar mengenalnya, bukan berdasarkan rasa bersalah atau harapan orang lain. Sama seperti aku ingin kau tidak memilih tinggal karena merasa berutang kepadaku.”
Lyla merasakan kalimat itu menghantam bagian dirinya yang paling rapuh. “Aku belum memilih apa pun.”
“Aku tahu.”
“Bagus,” katanya lagi, meski kali ini suaranya jauh lebih lirih.
Malam itu, Lyla menuliskan dua kalimat di kertas: “Aku cemburu” dan “Aku tidak berhak menentukan pilihan mereka.” Ia tak tahu apakah menulisnya membantu, tetapi setidaknya ia berhenti berpura-pura bahwa salah satunya bisa menghapus yang lain.