Pada hari kedua kunjungan, Putri Elf mengajak Lyla kembali ke taman. Kali ini ia datang tanpa pengawal yang berdiri dekat, meskipun dua penjaga tetap menunggu di kejauhan. Tala ikut menemani, tetapi berjalan beberapa langkah di belakang agar percakapan mereka tidak terasa seperti sidang.
“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan,” ujar Putri Elf setelah mereka melewati kolam. “Bolehkah saya bertanya tentang hubungan Anda dengan Raja Aresh?”
Lyla menatapnya. Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat langkahnya tertahan. “Boleh. Aku tidak yakin punya jawaban yang rapi.”
“Saya juga tidak meminta jawaban rapi.”
Lyla mencari kata-kata. “Kami dekat. Dia memperlakukanku dengan baik. Aku peduli padanya. Tapi aku datang ke sini karena sebuah misi, dan aku belum tahu apakah aku bisa tinggal atau harus kembali ke dunia asalku.”
“Apakah Anda mencintainya?”
Lyla memandangi jalan setapak. Ia bisa menyangkal, tetapi kebohongan itu akan menyulitkan semua orang. “Kurasa iya. Aku baru menyadarinya setelah mendengar kau akan datang.”
Putri Elf menerima pengakuan itu tanpa mengubah ekspresi. “Terima kasih sudah jujur.”
“Aku tidak ingin membuatmu berpikir aku menganggapmu saingan. Kau datang untuk tujuanmu sendiri.”
“Saya tidak menganggap Anda begitu. Namun saya ingin memahami keadaan sebelum mengambil keputusan tentang apa pun.”
Lyla menghela napas. “Itu masuk akal.”
Mereka duduk di bangku batu yang menghadap kolam. Putri Elf bercerita bahwa ia tidak datang untuk mencari gelar atau memenangi hati seorang raja. Ia ingin tahu apakah hubungan antara kedua kerajaan bisa dijalin tanpa menjadikan dirinya alat perjanjian. Ia belum tahu apakah ia tertarik kepada Aresh; ia hanya ingin berbicara dengannya sebagai pribadi.
“Aku senang kau bilang begitu,” kata Lyla. “Aku tidak mau menjadi orang yang berkata ‘silakan pilih dia’ sambil diam-diam berharap kau mundur.”
“Perasaan Anda boleh rumit. Yang penting, Anda tidak perlu mengubahnya menjadi tanggung jawab saya.”
Lyla tertawa lirih. “Kau jauh lebih bijak daripada aku.”
“Saya hanya berusaha tidak menerima keputusan yang dibuat orang lain atas nama saya.”
Kalimat itu tinggal di kepala Lyla. Ia teringat bagaimana selama ini ia menganggap menyelesaikan misi berarti mencarikan seseorang untuk Aresh. Padahal Aresh sendiri harus menentukan siapa yang ingin ia dampingi, sama seperti Putri Elf berhak menentukan apakah ia ingin mendampingi Aresh.
Mereka kembali ke istana dan menemukan Aresh sedang berbicara dengan Liram di dekat ruang kerja. Putri Elf menyapa lebih dahulu. “Saya ingin melanjutkan pembicaraan tentang jalur kerja sama yang kemarin. Namun saya berharap kita dapat berbicara tanpa berasumsi bahwa pertemuan itu berarti janji pribadi.”
“Tidak ada asumsi seperti itu,” jawab Aresh. “Liram akan mencatat butir politiknya, dan setelah selesai kita bisa bicara sebagai dua orang yang sedang berkenalan.”
“Kalau Anda masih bersedia.”
“Saya bersedia.”
Lyla merasakan dadanya mengencang. Aresh tidak melirik ke arahnya untuk meminta persetujuan, dan Lyla tahu itulah yang seharusnya terjadi. Ia tak punya hak memberi izin atau melarang. Ia menarik Tala ke samping dan membiarkan mereka masuk ke ruang pertemuan.
“Kau baik-baik saja?” bisik Tala.
“Aku tidak tahu.”
“Itu jawaban yang jujur.”
Lyla duduk di bangku koridor sambil menunggu. Ia tak bermaksud menguping. Namun suara dari dalam kadang terdengar ketika pintu dibuka oleh Liram. Percakapan mereka berisi soal kerja sama, batas kewenangan, serta cara menghindari kesalahpahaman. Tidak ada janji pernikahan. Tidak ada rayuan yang bisa Lyla salah artikan.
Setelah pertemuan, Aresh keluar dan menghampiri Lyla. “Kau tidak harus menunggu.”
“Aku tahu. Aku sedang menunggu Tala.”
Tala berdiri tepat di sampingnya, tetapi tak menanggapi alasan itu.
Aresh mengangguk. “Pembicaraan berjalan baik. Kami sepakat untuk melanjutkan peninjauan usulan aliansi.”
“Bagus.”
Putri Elf muncul di belakangnya. “Dan saya akan terus mengenal Aresh tanpa menganggap hasilnya sudah ditentukan.”
Lyla tersenyum. “Kedengarannya adil.”
Putri itu lalu pamit untuk beristirahat. Aresh berjalan ke arah berlawanan bersama Liram. Lyla tetap di tempat, mengingat nada suara Aresh ketika berkata bersedia berbicara sebagai dua orang yang sedang berkenalan.
“Pekerjaanmu berhasil,” kata Tala.
“Aku tidak sedang menjodohkan mereka.”
“Benar. Anda memberi ruang agar mereka menentukan sendiri.”
Lyla menatap taman dari ujung koridor. Ia telah mengira misi membuatnya bertanggung jawab atas pilihan orang lain. Kini ia mulai memahami bahwa tugasnya mungkin hanya membantu, bukan memutuskan. Pemahaman itu tidak membuat rasa cemburu hilang, tetapi setidaknya memberi rasa tersebut batas yang lebih masuk akal.