Keesokan paginya, Lyla tiba di ruang pertemuan sebelum jadwal dimulai. Ia membawa buku catatan kecil, bukan untuk menulis keputusan, melainkan supaya tangannya punya kesibukan. Aresh sudah berada di sana bersama Liram. Di atas meja terhampar dua berkas: satu mengenai hubungan kerajaan, satu lagi berisi pertanyaan tentang kemungkinan pernikahan.
“Kenapa berkasnya dipisah?” tanya Lyla.
“Karena keduanya bukan hal yang sama,” jawab Aresh.
Liram menjelaskan bahwa beberapa pejabat berharap kunjungan tersebut berakhir dengan janji pernikahan. Mereka menganggap hubungan dua kerajaan akan lebih kuat jika sang Raja dan Putri menikah. Namun tak ada kesepakatan tertulis yang mewajibkan itu.
“Jadi, ada orang-orang yang sudah berharap kalian menikah sebelum kalian bicara?” Lyla bertanya.
“Harapan bukan keputusan,” kata Aresh. “Aku akan menyampaikan bahwa pembicaraan politik tidak boleh dipakai untuk menekan sang Putri ataupun diriku.”
Lyla mengangguk. Ia ingin mengatakan bahwa ia lega, tetapi menahan diri. Perasaannya bukan hal yang perlu dibawa ke meja pertemuan.
Putri Elf datang bersama seorang pengawal yang menunggu di luar. Ia tampak sudah beristirahat dan mengenakan pakaian perjalanan yang lebih sederhana. Ia memilih kursi di sisi meja, bukan tempat tinggi yang telah disiapkan. Liram menerima isyaratnya dan mengubah susunan dokumen agar semua orang duduk sejajar.
“Terima kasih karena sudah memisahkan agenda,” kata Putri Elf. “Saya ingin membicarakan kemungkinan kerja sama terlebih dahulu. Saya juga ingin menyatakan dengan jelas bahwa saya belum menyetujui perkawinan.”
Aresh mengangguk. “Saya pun belum menyetujuinya. Saya ingin mengetahui tujuan kunjungan Anda sebelum membicarakan kemungkinan pribadi.”
Putri itu membuka kotak tipis yang dibawanya kemarin. Di dalamnya terdapat lembaran peta dan rancangan kesepakatan perdagangan. Ia menjelaskan bahwa negerinya menginginkan jalur pertukaran barang yang lebih aman dan kerja sama dalam menjaga perbatasan. Tidak semua usulan harus diterima saat itu juga. Ia datang untuk mengetahui apa yang bisa dibangun bersama.
Liram mencatat butir-butir penting. Aresh menanyakan beberapa hal tentang rute dan tanggung jawab masing-masing pihak. Lyla diam, berusaha memahami pembicaraan tanpa menjadikannya panggung untuk menyelipkan gagasan tentang calon istri. Ia baru membuka mulut ketika Putri Elf menanyakan apakah taman istana terbuka untuk dikunjungi.
“Terbuka,” kata Lyla. “Aku bisa menemanimu nanti, kalau kau mau. Tala tahu jalannya lebih baik dariku, jadi kemungkinan kita tidak tersesat akan meningkat.”
“Kesempatan itu terdengar menarik,” jawab Putri Elf.
Pertemuan politik berlangsung hampir satu jam. Mereka menyepakati beberapa hal untuk diperiksa lebih lanjut, tetapi tidak memutuskan semuanya. Saat pembicaraan selesai, Aresh menutup berkas pernikahan dan meletakkannya di ujung meja.
“Untuk urusan pribadi,” katanya, “saya ingin memastikan tidak ada pihak yang menganggap Anda terikat pada kesepakatan apa pun. Jika Anda tidak ingin membahas pernikahan selama kunjungan ini, saya akan menghormatinya.”
Putri Elf mengamati Aresh. “Saya bersedia membicarakannya, tetapi bukan sebagai syarat bagi hubungan kerajaan. Saya ingin tahu siapa Anda, dan saya ingin Anda mengenal saya. Setelah itu, kita masing-masing bisa memutuskan.”
“Itu adil.”
Lyla memandang mereka bergantian. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ada rasa perih saat mendengar mereka ingin saling mengenal. Namun ia juga menghormati keterbukaan itu. Tidak ada yang menipu siapa pun, tidak ada yang dipaksa memberikan janji.
Setelah rapat usai, Putri Elf meminta waktu sebelum berjalan-jalan. Aresh kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan dokumen. Lyla keluar bersama Tala, lalu berhenti di lorong.
“Kau tampak lega,” kata Tala.
“Karena tidak ada yang dipaksa.”
“Dan kau tampak sedih.”
“Karena ternyata melihat orang bicara jujur tidak otomatis membuatku kebal.”
Tala tidak membantah. Mereka berjalan menuju halaman, membiarkan jawaban itu tetap sederhana.
Sore harinya, Putri Elf menemui Lyla di dekat taman. “Saya siap berjalan-jalan sekarang, jika tawaran Anda masih berlaku.”
“Masih. Aku akan menunjukkan jalan, dan Tala akan memastikan kami tidak membuat lingkaran yang sama tiga kali.”
“Kalau kita tersesat, saya tidak akan menyalahkan Anda.”
“Jangan katakan begitu. Aku bisa kehilangan alasan untuk menyalahkan koridor.”
Tala memimpin mereka ke taman. Percakapan mereka beralih ke tanaman, perjalanan, dan makanan yang disukai. Putri Elf tidak banyak bertanya tentang Aresh. Lyla menghargai itu. Ia juga tak menyodorkan pujian atau alasan untuk memilih Aresh. Ia membiarkan tamu itu mengenal tempat tersebut dengan caranya sendiri.
Menjelang senja, mereka kembali ke istana. Putri Elf mengucapkan terima kasih kepada Lyla dan berjanji akan melanjutkan percakapan mereka esok hari. Lyla membalas senyumnya, meski perutnya terasa berat.
“Dua agenda,” gumamnya kepada Tala setelah sang Putri pergi. “Dua orang yang boleh memilih.”
“Dan Anda?” tanya Tala.
“Aku masih berusaha belajar melakukan hal yang sama.”