Pintu istana terbuka perlahan. Udara senja menyusup ke ruang penyambutan bersama suara langkah kaki dan derap kuda dari halaman. Lyla menegakkan punggung. Di sampingnya, Tala berdiri dengan tangan terlipat rapi. Aresh berada beberapa langkah di depan mereka, tenang seperti patung yang kebetulan bernapas.
Rombongan kecil memasuki ruangan. Para pengawal berhenti di dekat pintu, memberi ruang kepada seorang perempuan berambut keperakan yang melangkah maju. Telinganya panjang dan runcing, dihiasi perhiasan sederhana. Gaun hijau gelapnya tidak semegah yang Lyla bayangkan dari cerita tentang putri kerajaan. Ia membawa sebuah kotak tipis di kedua tangannya.
“Yang Mulia Aresh,” katanya sambil membungkuk. “Terima kasih telah menerima kunjungan kami. Saya datang untuk membicarakan hubungan kerajaan, bukan membawa keputusan yang sudah ditetapkan.”
Aresh membalas hormat dengan anggukan. “Selamat datang di Avantera. Perjalanan Anda tentu melelahkan. Kami telah menyiapkan tempat untuk beristirahat sebelum pertemuan resmi.”
Putri Elf itu lalu menoleh kepada Lyla. “Dan Anda pasti Nona Lyla. Saya mendengar Anda membantu mengatur penyambutan.”
Lyla hampir membalas dengan komentar tentang sendok yang terlalu mengkilap. Ia menahannya. “Benar. Selamat datang. Saya harap kamar dan jamuannya nyaman.”
“Terima kasih. Saya menghargai sambutan sederhana seperti ini.” Putri Elf itu tersenyum. “Saya lebih mudah berbicara ketika tidak ada dua puluh orang yang mengamati setiap suapan.”
Lyla mengembuskan napas lega. “Kalau begitu, kita punya satu kesamaan. Saya juga sering diamati karena alasan yang tidak jelas.”
Tala menunduk, menyembunyikan senyum. Aresh melirik Lyla sejenak, mungkin memastikan ia baik-baik saja. Lyla membalas tatapannya dengan anggukan kecil.
Liram maju dan menjelaskan susunan acara. Putri Elf akan beristirahat lebih dahulu. Tidak ada pertemuan khusus malam itu selain jamuan ringan, dan pembicaraan mengenai aliansi dijadwalkan setelah ia cukup pulih dari perjalanan. Liram juga memastikan tidak ada gelar atau susunan acara yang menyiratkan pertunangan.
“Keputusan seperti itu harus kami bicarakan sendiri,” kata Putri Elf. “Saya tak ingin kedatangan saya dipahami sebagai persetujuan menikah.”
“Tidak akan,” jawab Aresh. “Saya pun tidak akan menganggapnya demikian.”
Lyla berdiri tenang, tetapi ia merasakan ketegangan dalam dadanya sedikit mengendur. Sang Putri tidak dibawa ke sana sebagai hadiah untuk Aresh, dan Aresh tidak memperlakukannya seperti jawaban bagi misi Lyla. Keduanya berbicara sebagai dua orang yang berhak menentukan hidup masing-masing.
Jamuan ringan berlangsung tanpa protokol yang rumit. Putri Elf duduk di sisi meja, berhadapan dengan Aresh, sementara Lyla dan Tala duduk agak jauh bersama Liram. Seorang pelayan menyajikan sup hangat dan roti pipih. Lyla memperhatikan sang Putri mencicipi hidangan dengan hati-hati, lalu segera mengalihkan pandangan sebelum pikirannya berubah menjadi penilaian tentang kecantikan atau kecocokan.
“Apakah perjalanan dari negeri Anda panjang?” tanya Tala dengan sopan.
“Cukup panjang. Kami singgah beberapa kali agar para pengawal dan kuda dapat beristirahat.” Putri Elf itu lalu menatap Lyla. “Apakah Anda sudah lama tinggal di istana?”
“Tidak terlalu lama. Aku masih sering tersesat.”
“Bahkan setelah tinggal di sini?”
“Terutama setelah tinggal di sini. Koridornya punya bakat berubah arah saat aku tidak melihat.”
“Koridornya tidak berubah,” sela Aresh.
“Berarti aku yang berubah arah. Itu lebih buruk.”
Putri Elf tertawa kecil, dan suasana meja menjadi lebih ringan. Lyla menyadari ia tidak perlu memaksa percakapan. Ia cukup menjawab saat ditanya, memberi ruang, lalu mendengarkan.
Setelah jamuan, Aresh menawarkan agar Putri Elf beristirahat. Ia menerima tanpa ragu. Sebelum pergi, ia berkata kepada Lyla, “Saya berharap kita bisa berbicara lagi saat saya sudah lebih segar. Saya ingin mengenal orang-orang yang tinggal di sini, bukan hanya nama yang tercantum dalam laporan.”
“Tentu,” jawab Lyla. “Aku bisa menunjukkan taman atau perpustakaan. Tapi kalau tersesat, aku tidak bertanggung jawab.”
“Kalau begitu saya akan membawa peta.”
“Pilihan yang cerdas.”
Senyum Putri Elf itu hangat. Ia membungkuk kepada Aresh, lalu berjalan menuju kamarnya bersama Tala dan seorang pelayan. Lyla memperhatikan kepergiannya, mencoba mengenali perasaan yang muncul. Cemburu masih ada, tipis dan tajam, tetapi ia tidak ingin menjadikannya alasan untuk bersikap buruk.
Aresh menunggu hingga rombongan tamu meninggalkan ruangan. “Kau baik-baik saja?”
“Ya.” Lyla merapikan serbet. “Aku hanya terkejut dia tidak langsung pingsan melihatmu.”
“Dia tampak lelah, bukan takut.”
“Jangan merusak leluconku dengan fakta.”
Liram mengingatkan bahwa agenda resmi baru dimulai esok hari. Aresh mengangguk dan menyuruhnya menyusun pembicaraan yang memisahkan urusan aliansi dari keputusan pribadi tentang pernikahan. Tidak ada yang akan menyebut Putri sebagai tunangan sebelum mereka sendiri menghendakinya.
Saat mereka keluar, Lyla sempat menoleh ke pintu tempat sang Putri menghilang. Misi itu belum selesai. Namun kini ia tidak lagi bisa menganggap kedatangan seseorang sebagai jalan pintas menuju kepulangannya. Sang Putri adalah tamu dengan kehendaknya sendiri, dan Aresh juga berhak mengatakan ya atau tidak.