Pagi kedatangan Putri Elf, istana terbangun lebih awal daripada Lyla. Pelayan bergerak menyelesaikan persiapan, tetapi suasananya tertib. Tidak ada karangan bunga berlebihan atau barisan upacara yang memenuhi halaman. Liram memastikan semuanya sederhana, sesuai permintaan tamu.
Lyla berdiri di ruang tamu sambil memeriksa meja sekali lagi. Tala menatapnya dengan senyum geli.
“Tidak ada yang perlu diperiksa lagi.”
“Ada. Sendoknya terlihat terlalu mengkilap.”
“Sendok memang biasanya mengkilap setelah dipoles.”
“Kalau begitu, mereka bekerja dengan baik.”
Tala mengambil daftar dari tangan Lyla. “Anda sudah memeriksa ruangan tiga kali.”
“Empat kali.”
“Nyonya.”
Lyla melepaskan kertas itu. “Aku gugup. Bukan karena aku akan mengatur apa-apa, tapi justru karena aku tidak tahu harus berbuat apa.”
“Anda cukup menyambutnya dan mendengarkan.”
“Kalau dia sangat cantik?”
“Dengarkan.”
“Kalau dia sangat cerdas?”
“Dengarkan.”
“Kalau Aresh langsung tersenyum padanya?”
Tala tidak menjawab cepat. Ia menatap Lyla dengan lembut. “Anda tetap boleh merasa sedih. Tapi jangan menjadikan kecantikan atau kecerdasannya sebagai alasan untuk merendahkan diri Anda.”
Lyla mengembuskan napas. “Aku tidak akan begitu.”
“Bagus.”
“Aku cuma akan berdiri di sana dengan wajah ramah dan pikiran yang tidak berisik.”
“Yang terakhir terdengar paling sulit.”
Sebelum tengah hari, Liram datang membawa kabar bahwa rombongan telah melewati gerbang luar wilayah istana. Kedatangan diperkirakan menjelang senja. Ia menyerahkan sebuah jadwal baru kepada Lyla.
“Pertemuan awal akan dilakukan setelah sang Putri beristirahat,” katanya. “Tidak ada pembahasan pernikahan dalam agenda hari ini.”
“Terima kasih. Itu pasti lebih nyaman untuk semua orang.”
“Yang Mulia juga meminta saya menegaskan bahwa Anda bebas meninggalkan jamuan kapan saja jika merasa tidak nyaman.”
Lyla terkejut. “Dia mengatakan itu?”
“Ya.”
Lyla memandangi halaman jadwal. Di bagian catatan, tertulis dengan tulisan tangan Aresh bahwa tidak seorang pun boleh dipaksa ikut dalam percakapan yang tidak mereka inginkan. Ia menyentuh ujung kertas itu, lalu segera menarik tangannya seolah catatan tersebut terlalu hangat.
“Aku akan tetap hadir,” katanya. “Aku ingin menyambut tamu dengan baik.”
“Baik.” Liram mengangguk. “Saya akan memberi tahu Yang Mulia.”
Sore merambat perlahan. Lyla menemani Tala membawa air ke ruang tamu, lalu menghabiskan beberapa menit memandang halaman dari jendela. Jalan masuk istana masih kosong. Ia berkali-kali membayangkan pertemuan itu dan menghapus bayangan-bayangan tersebut sebelum berubah menjadi kesimpulan.
Saat Aresh datang, ia sudah mengenakan pakaian resmi berwarna gelap. Ia tampak tenang, walau tangannya sesaat berhenti ketika melihat Lyla.
“Kau siap?”
“Sepertinya.”
“Kau tidak harus berdiri di sampingku.”
“Aku tahu. Aku akan berada di tempat yang pantas untuk seorang tamu istana.”
Aresh mengangguk. “Dan kau tidak perlu membuktikan bahwa kau mendukung apa pun.”
“Aku mendukung kalian berbicara jujur. Itu saja.”
“Cukup.”
Lyla menatapnya. “Aresh, kalau aku terlihat aneh nanti, anggap saja aku sedang berusaha tidak membuat komentar yang tidak perlu.”
“Aku akan menghargai usahamu.”
“Wah. Dukungan yang luar biasa.”
“Setidaknya aku tidak menyuruhmu membuat dua belas jenis teh.”
“Itu keputusan Liram. Jangan curi jasanya.”
Aresh tertawa pelan. Suara itu membuat Lyla merasa rumah yang belum ia miliki sedang memanggilnya. Ia mengalihkan pandangan ke jendela sebelum wajahnya mengkhianatinya.
Dari halaman terdengar bunyi terompet pendek: tanda rombongan telah memasuki jalan terakhir menuju istana. Para pelayan mengambil posisi. Lyla berdiri di samping Tala, bukan di sisi takhta, dan mengingat dirinya sendiri bahwa Putri Elf bukanlah akhir misi yang berjalan dengan gaun cantik. Ia adalah seseorang yang akan membawa pilihan dan harapannya sendiri.
Pintu-pintu besar belum terbuka. Aresh berdiri tegak menunggu, sementara Lyla merapikan napasnya.
“Siap?” bisik Tala.
“Tidak,” jawab Lyla jujur. “Tapi aku akan tetap menyambutnya.”
Terompet kedua terdengar. Langkah-langkah rombongan semakin dekat, dan Lyla mengangkat wajah. Kali ini ia tidak berjanji bahwa ia akan pulang, juga tidak berjanji akan tinggal. Ia hanya berjanji untuk mendengar sebelum memutuskan apa pun.