Pagi berikutnya, Liram memanggil Lyla ke ruang pertemuan kecil. Di atas meja terhampar jadwal penyambutan Putri Elf dan beberapa rancangan agenda. Aresh berdiri dekat jendela, membaca surat yang baru diterima.
“Kami perlu memastikan bahwa persiapan tidak memberi kesan bahwa keputusan pernikahan sudah dibuat,” ujar Liram. “Rancangan awal menyebut upacara pengikat aliansi. Istilah itu bisa disalahartikan.”
“Kalau begitu, ganti,” kata Aresh. “Tulis pertemuan resmi dan jamuan penyambutan.”
“Bagaimana dengan susunan tempat duduk?” tanya Liram.
“Tempatkan Putri sebagai tamu kehormatan. Jangan menempatkan Lyla sebagai pendamping calon pasangan.”
Lyla berkedip. “Aku memang tidak mau jadi aksesori acara.”
“Itulah sebabnya saya menanyakan pendapat Anda,” jawab Liram. “Anda ingin hadir sebagai apa?”
“Sebagai teman penghuni istana yang ikut menyambut tamu. Jangan tulis jabatan yang tidak pernah diberikan kepadaku.”
Liram mencatat. “Dipahami.”
Aresh melipat surat. “Pertemuan pertama akan berlangsung tanpa pembicaraan pribadi tentang pernikahan. Kita dengarkan tujuan kunjungannya terlebih dahulu.”
“Kalau dia sendiri ingin membahasnya?” tanya Lyla.
“Kami akan membicarakannya dengan jujur. Aku tak akan menghindari pertanyaan, tapi aku juga tak akan memberikan janji yang belum bisa kutepati.”
Lyla mengagumi kejelasan itu. Di saat yang sama, ia sadar betapa sulitnya baginya untuk mendengar Aresh berbicara tentang masa depan bersama orang lain, sekalipun ia tahu percakapan itu wajar.
Setelah rapat selesai, Aresh meminta Lyla menemaninya berjalan di halaman. Mereka berjalan dengan jarak yang nyaman, melewati kolam kecil yang memantulkan langit cerah.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu,” kata Aresh. “Kunjungan ini bukan perintah untuk memilih istri. Aliansi perlu dibicarakan, dan pernikahan hanya salah satu kemungkinan yang muncul dalam surat mereka.”
“Aku mengerti.”
“Jika aku akhirnya menolak kemungkinan itu, hubungan kerajaan tetap harus ditangani dengan baik. Jika sang Putri menolak, keputusan itu juga harus dihormati.”
“Bagus. Aku tidak suka gagasan bahwa seseorang harus menikah hanya supaya orang lain merasa urusannya beres.”
“Aku juga.”
Lyla berhenti di sisi kolam. “Aku ingin bilang aku akan baik-baik saja kalau kau memilihnya. Tapi aku tidak tahu apakah itu benar.”
Aresh ikut berhenti. Ia tak menuntut Lyla menatapnya. “Kau tidak perlu menjanjikan perasaan yang belum kau miliki.”
“Aku tetap berharap kau mendapat yang terbaik.”
“Termasuk jika yang terbaik bukan dirimu?”
Lyla menelan ludah. “Ya.”
Kebohongan kecil itu terasa seperti kerikil di tenggorokannya. Ia tidak menarik kembali ucapannya, tetapi juga tidak sanggup menambahkan apa-apa.
Aresh memandang permukaan air. “Aku tak akan memilih seseorang demi memenuhi harapan orang lain. Aku berharap kau pun tidak memaksakan dirimu memenuhi misi Orion tanpa mencari tahu apa yang kau inginkan.”
Lyla menegang. Nama Orion membuat semua kerumitan itu terasa nyata lagi. “Aku belum tahu apa pilihanku.”
“Kalau begitu, jangan buru-buru.”
Mereka melanjutkan berjalan. Di dekat pintu taman, Lyla melihat Tala menunggu dengan selendang yang tertinggal. Ia menyambut Tala dan mengucapkan terima kasih, sementara Aresh kembali ke ruang kerjanya.
“Bagaimana pembicaraan tadi?” tanya Tala saat mereka berjalan berdua.
“Dia tidak mau menjadikan pernikahan sebagai kewajiban. Itu membuatku lega.”
“Dan membuat Anda takut?”
Lyla mengerutkan kening. “Kau terlalu pandai membaca orang.”
“Saya hanya memperhatikan.”
“Aku takut kalau keputusan yang bebas itu tetap akan menyakitiku. Kalau dia memilih Putri, aku harus menerima. Kalau dia tidak memilihnya, aku masih belum tahu apakah aku sanggup tinggal.”
Tala mengangguk pelan. “Kedua kemungkinan itu memang belum punya jawaban.”
“Kenapa semua hal penting selalu begitu?”
“Karena Anda belum sampai di ujungnya.”
Lyla tertawa kecil tanpa banyak tenaga. Ia ingin menyalahkan orang yang menulis kehidupan ini, tetapi tidak ada yang bisa ia panggil selain dewa yang telah mengirimnya ke dunia tersebut.
Malam itu, ia menyiapkan pakaian sederhana untuk penyambutan. Ia menolak gaun yang terlalu megah dan memilih warna biru lembut. Tala membantu merapikan kerahnya, setelah lebih dulu meminta izin untuk membetulkan kain di bahunya. Lyla memperhatikan gerakan itu dan berusaha mengingat bahwa kebiasaan meminta izin bukan upacara kosong. Itu cara memastikan orang lain merasa aman.
Sebelum tidur, Lyla menatap surat jadwal di meja. Besok, Putri Elf akan tiba. Untuk pertama kalinya, Lyla memutuskan tidak akan menyambutnya sebagai jawaban atas misi. Ia akan menyambutnya sebagai seseorang yang datang dengan kehendak dan tujuan sendiri.