Lyla bangun sebelum Tala sempat mengetuk. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi jendela yang masih kelabu, lalu menyadari bahwa ia tidak punya rencana untuk pagi yang terlalu dini itu.
Ketika Tala masuk membawa pakaian, Lyla sudah menyusun daftar kecil di meja.
“Apa itu?”
“Hal yang tidak boleh kulakukan hari ini.”
Tala membaca kertas itu. “Jangan menyentuh telinga siapa pun. Jangan mengatur pernikahan orang lain. Jangan membuat dua belas jenis teh.”
“Aku belajar dari kesalahan.”
“Ini kemajuan.”
“Jangan terdengar terkejut.”
Setelah sarapan, Lyla berjalan menuju perpustakaan untuk mengambil buku tentang tata cara menerima tamu. Ia membaca beberapa halaman, tetapi pikirannya terus kembali pada pertanyaan yang tak berani ia ucapkan kepada Aresh: apakah ia sungguh menginginkan Putri Elf menjadi istrinya?
Aresh datang tanpa suara. Ia mengambil satu buku dari rak, lalu duduk di seberang Lyla.
“Kau menghindariku sejak kemarin,” katanya.
“Aku tidak menghindar. Aku sedang membaca.”
“Kau membalik halaman yang sama tiga kali.”
Lyla melihat buku di tangannya. Benar. Ia membuka halaman yang sama lagi. “Mungkin halamannya menarik.”
Aresh menutup bukunya. “Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja.”
Lyla menarik napas. “Kau benar-benar ingin menikah dengannya?”
“Aku belum mengenalnya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya jawaban jujur yang kumiliki.” Aresh menyandarkan punggung. “Aku bersedia bertemu dan membicarakan aliansi. Aku tidak bersedia berpura-pura bahwa pernikahan sudah diputuskan.”
Lyla menunduk pada buku. “Aku cuma ingin memastikan kau tidak merasa wajib melakukan sesuatu karena semua orang mengharapkannya.”
“Dan kalau aku memilih menikah dengannya setelah mengenalnya?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya. Lyla memaksa dirinya mengangkat wajah. “Kalau kalian berdua menginginkannya, aku akan mendukung.”
“Dan kalau aku tidak memilihnya?”
“Aku tetap akan mendukung.”
“Jadi, kau ingin aku bahagia, apa pun pilihanku?”
“Iya.” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Lyla tersenyum kecil agar suaranya tak bergetar. “Kau raja. Kebahagiaanmu seharusnya tidak diurus oleh orang yang bahkan belum paham aturan makan di istana.”
Aresh menatapnya lama. “Kau selalu menyembunyikan jawaban penting di balik lelucon.”
“Dan kau selalu menggali jawaban yang tidak siap kuberikan.”
“Aku tidak akan memaksamu menjawab.”
Lyla terdiam. Kalimat itu membuatnya merasa dilihat, bukan dikejar. “Terima kasih.”
Mereka membaca dalam hening. Kali ini Lyla benar-benar mengikuti baris-baris di halaman, meskipun tak semua aturan upacara masuk akal baginya. Beberapa saat kemudian, Aresh bertanya tentang buku itu.
“Apakah ada hal yang perlu kuubah?”
“Ya. Bagian yang menyebut tamu harus menyukai semua hidangan yang disajikan. Itu kejam.”
“Buku ini ditulis oleh seseorang yang tidak pernah kelaparan.”
“Setidaknya kita sepakat soal sesuatu.”
Senyum kecil muncul di wajah Aresh. Lyla merasakan dadanya menghangat, lalu buru-buru mengingat bahwa senyum itu bukan janji. Ia tidak ingin mengubah kebaikan Aresh menjadi alasan untuk berharap tanpa batas.
Sebelum mereka berpisah, Aresh mengiringinya sampai pintu perpustakaan.
“Besok, saat Putri tiba, kau tidak perlu membuktikan apa pun,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tidak perlu membuatnya terkesan. Tidak perlu membuatku memilih.”
“Aku tahu,” ulang Lyla, lebih pelan. “Aku hanya akan menyambutnya.”
Aresh mengangguk, seolah menerima jawaban itu walau tahu ada sesuatu yang belum selesai. Ia tidak menyentuh Lyla, tidak pula menahannya. Ia hanya membiarkan jarak di antara mereka tetap utuh.
Lyla melangkah pergi dengan perasaan yang campur aduk. Ia ingin Aresh bahagia. Ia takut kebahagiaan itu akan membawanya jauh dari Lyla. Dua hal itu tinggal berdampingan di dalam dirinya, sama keras kepala seperti dua orang yang tak mau mengalah.