Gabriel terbang kesana-kemari untuk mencari orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Namun, sudah dua hari ini ia tidak menemukan manusia yang membutuhkan bantuannya. Hal ini membuat kekuatan Gabriel pun kian menurun. Gerakan kepakan sayapnya tak sekuat biasanya.
"Aku harus bisa menemukan manusia yang butuh pertolongan secepatnya. Kalau tidak, kekuatanku akan benar-benar habis," gumamnya sambil terus menyusuri angkasa raya. Matanya dengan jeli menyapu seluruh permukaan bumi yang berada di bawahnya. Hingga tak sampai lima menit kemudian, ia pun mendapatkan sebuah pemandangan yang cukup memprihatinkan di bawah sana.
Kruk!! Kruk!! Kruk!! Bunyi perut seorang bocah berusia dua belas tahun. Salah satu tangannya yang hitam karena terbakar sinar menyengat matahari, tengah mengais-ngais tumpukan sampah yang ada di samping sebuah restoran cepat saji. Sedangkan satu tangannya yang lain tengah memegangi sebuah karung besar yang setengahnya sudah terisi dengan sampah plastik bekas botol air mineral. Anak itu terus mengorek sampah itu tanpa rasa jijik.
Cling!! Gabriel pun menggerakkan tangan kusam itu sampai ia menemukan sebuah kotak yang berisi makanan basi di tumpukan paling bawah. Bocah itu pun mengangkat kotak kardus yang sebagiannya sudah basah terkena tumpahan air di atasnya. Bak menemukan sebuah harta karun. Anak itu pun segera membuka kotak itu dengan penuh semangat. Dan alangkah bahagianya ia saat mendapati kentang goreng, roti burger serta beberapa potong pizza sisa jualan kemarin yang tidak laku.
Cling!! Satu senyuman bocah itu. Mampu membangkitkan kadar kekuatan yang ada di dalam badan Gabriel walau belum mencapai satu persen. Namun, melihat anak itu bisa mengisi perutnya dengan makanan itu. Membuat Gabriel pun ikut senang memandanginya dari atas sana.
Hanya saja, ternyata tak semua orang sependapat dengan Gabriel. Buktinya, sekelompok manusia yang sedang menikmati hidangan dari dalam restoran itu. Merasa terganggu dengan pemandangan yang tersaji di luar kaca bening yang langsung menghadap ke arah jalanan ibukota. Dimana mereka yang seharusnya mendapatkan pemandangan kesibukan ribuan kendaraan yang berlalu lalang. Malah merasa terganggu dengan sosok anak pemulung yang sedang menikmati makanan basi dengan lahapnya. Jujur saja mereka merasa jijik dan tidak ada lagi selera makan membayangkan rasa makanan yang ada di tangan bocah kecil itu.
"Gila bikin selera makan gue ilang aja tuh bocah," kata salah satu laki-laki yang duduk tepat berhadapan dengan kaca jendela.
"Iya, bener. Ngerusak pemandangan ada deh," sahut yang lain.
"Mas! Mas! Mas!" panggil si lelaki pertama sambil melambaikan tangannya ke udara. Dan seketika seorang lelaki berpakaian seragam warna merah. Khas restauran itu pun mendekati meja mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya si pelayan cowok itu dengan sopan.
"Iya. Tolong dong. Kamu usir anak itu biar nggak ngerusak pemandangan di luar. Selera makan kita jadi hancur nih gara-gara dia," kata si lelaki tadi. Sementara teman-temannya mengangguk-anggukan kepalanya beberapa saat. Tanda setuju.
"Baik, Mas. Saya laksanakan segera," kata si laki-laki itu lalu ia pun bergegas keluar restoran dan mendekati bocah itu. "Eh, loe pergi sana! Gara-gara loe ada disini para pelanggan gue jadi nggak nafsu makan tau! Udah sana pergi! Pergi!" usir pelayan tadi tanpa rasa iba.
"Tapi, kan saya tidak ngapa-ngapain, Bang. Saya cuma numpang makan sama ngadem doang disini," balas anak itu.
"Gue nggak mau tau. Pokoknya elu pergi sekarang juga dari tempat ini! Cepat!!" usirnya lagi dengan nada membentak.
"Ba… baik, Bang!" kata bocah itu akhirnya. Ia pun segera memasukkan sisa makanan di kotak tadi ke dalam karung lusuh yang ia bawa. Lalu ia pun mengangkatnya pergi dari tempat itu. Disaat yang sama seorang manajer restoran baru saja keluar dari tempat makan orang-orang kaya itu. Melihat ada keributan di sekitar tempat bisnis yang dikelolanya ia pun menghentikan gerakannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Ya. Surya," panggil si Manajer kepada seorang satpam yang berdiri di dekat pintu masuk. Segera lelaki berbadan tegap itu pun mendekati atasannya.
"Ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki yang dipanggil Surya itu.
"Kenapa itu ada ribut-ribut?" tanya si Manager. Dagunya yang sedikit lancip ia gerakan ke arah bocah dan salah satu anak buahnya itu.
"Oh, itu. Jadi, anak itu tadi memungut makanan di dalam tong sampah. Lalu ia makan di tempat itu. Tapi, ada pelanggan yang protes dan minta Jeki mengusir anak itu, Pak," jelas si Surya.
"Oh, begitu," balas si Manajer singkat. "Ya, sudah. Kamu bisa kembali bertugas!' titah lelaki berjas dongker itu. Lalu ia pun segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Bersamaan dengan anak tadi yang lari terbirit-b***t, saking takutnya dengan bentakan pelayan tadi. Mobil si Manager pun terus berjalan menuju sebuah ATM terdekat. Karena ini awal bulan jadi ia pun harus segera membayarkan gaji para anak buahnya. Tak butuh waktu lama, jumlah uang yang diinginkan pun sudah rapi berada di dalam tas hitam cangklongnya. Namun, saat ia hendak masuk ke dalam mobil seorang penjambret menarik tas itu dari tangannya. Lalu segera dibawa kabur.
Gabriel yang melihat hal itu pun memberikan kekuatan pada bocah kecil tadi yang kebetulan juga ada di tempat itu. Langkah kaki sang bocah pun terasa ringan mengejar jambret yang masih terus berlari di depan sana.
"Maling!!! Tolong maling!!! Maling!!" teriak bocah itu yang langsung membuat warga sekitar terperangah. Mereka yang mendengar teriakan bocah itu pun ikutan berlari mengejar si jambret. Hingga tak butuh waktu lama si jambret pun bisa dilumpuhkan. Tas hitam tadi diserahkan pada bocah tadi untuk segera dikembalikan ke pemiliknya. Sedangkan si penjambret diserahkan kepada pihak yang berwajib.
"Ini, Om," kata bocah pemulung itu sambil menyerahkan tas tadi kepada pemiliknya.
"Aduh. Terima kasih ya. Berkat kamu uang saya tidak jadi terbawa penjambret tadi," sahut si Manajer sambil menerima tasnya kembali. Lalu si Manager merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang kertas pecahan lima puluh ribuan. "Ini untuk kamu. Sebagai bentuk rasa terima kasih saya. Karena kamu sudah menolong saya tadi." Si Manager pun menyodorkan uang itu ke arah si bocah. Namun, berbeda dengan apa yang si Manager pikirkan. Bocah itu tak kunjung menerima uang yang hanya selembar itu.
"Kata simbok. Kalau jika mau menolong orang lain. Harus dengan rasa ikhlas, Om. Jadi, aku juga tidak akan menerima uang ini, Om. Aku ikhlas bantuin, Om," kata si bocah tadi. Ia pun kembali meraih karungnya lalu segera pergi dari tempat itu. Sementara si Manager masih mematung di tempatnya. Ia sungguh, tidak menyangka anak sekecil itu memiliki hati yang luar biasa besarnya. 'Kalau begitu aku akan menyediakan tempat khusus di belakang restoran untuk tempat makanan yang sisa terjual. Jadi, bisa jadi pengganjal perut bagi orang-orang yang membutuhkan,' batin si Manajer sambil terus tersenyum. Dan berkat kejadian itu kekuatan Gabriel meningkat beberapa derajat lagi.
#
Happy reading, kak. Terima kasih ya sudah mampir di ceritaku. Semoga kalian tetap berkenan membaca cerita ini sampai selesai. Dan semoga ceritaku bisa membuat hari-hari kalian semua terhibur dan berwarna-warni kayak pelangi. Serta memberi sebuah pesan yang bisa kalian terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oh, ya. Sebagai penulis tentunya aku tidak akan pernah jera untuk mengingatkan pada kalian semua. Agar tidak melakukan semua tindakan plagiat dalam bentuk apapun. Entah itu mengkopi cerita lalu hanya mengganti nama-nama tokoh dalam cerita tersebut atau menscreenshot cerita kami lalu disebarluaskan dalam bentuk pdf. Sungguh, itu bukanlah perbuatan terpuji. Bayangkan saja, jerih payah para penulis saat menyusun sebuah cerita. Kadang kami harus begadang semalaman, menggunakan waktunya disaat senggang ngantor bahkan sambil menjaga kedua bocah balita seperti aku. Hiks. Betapa hal itu penuh perjuangan. Di saat fokus nulis, anak-anak entah kabur kemana. Tapi giliran anak-anak duduk diam sambil mainan, idenya yang kabur entah kemana. Jadi, sedikit curhat memang. Namun, apa salahnya kita saling menghargai karya orang lain.
Setidaknya bayangkan saja kalian diposisi kami. Di saat kalian punya karya. Kemudian karya itu mulai dikenal banyak orang. Tiba-tiba muncul seseorang yang meniru karya kalian dan mengakui sebagai karnyanya sendiri. Bagaimana perasaan kalian. Sakit bukan?
Nah, jadi aku tekankan berkali-kali. Cerita ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNG JAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukankah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Hehe. Maaf ngegas. Walau aku pun ragu jika ada orang yang mau plagiat cerita receh ini. Tapi, nggak papa kali ya. Kan cuma mengingatkan. Lagian, lebih baik sedia payung dulu sebelum hujan, bukan? Hehe. Bagi yang sudah baca pengumuman ini dan ketemu lagi di bab selanjutnya. Abaikan saja ya.
Terima kasih.