Seperti yang direncanakan Ardian kemarin. Dia mengajak Yolanda untuk berkunjung ke rumah sakit, tempat Clarissa dirawat. Awalnya, ia sedikit merasa tidak enak memperkenalkan istrinya pada Clarissa yang sedang tidak akur dengan suaminya. Namun, ternyata mereka malah terlihat bahagia karena memiliki hobi yang sama.
"Oh, jadi kamu satu SMA sama suami aku. Nggak nyangka ya. Kalian malah ketemu dengan cara nggak enak seperti ini," ujar Yolanda dengan senyum yang terus melebar. Ardian memang memperkenalkan Clarissa sebagai teman satu SMAnya dulu, walaupun tentu saja ia tak mengatakan jika mereka pernah menjalin hubungan asmara.
"Iya. Dulu kita bahkan pernah dua tahun satu kelas," balas Clarissa sambil terus mempertahankan senyumnya.
"Wah! Lama juga ya! Kok nggak cinlok. Kan anak SMA biasanya lagi suka main cinta-cintaan begitu," ujar Yolanda yang membuat raut wajah Ardian dan Clarissa seketika berubah memerah. Mereka pun segera membuang wajah. Sengaja menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
"Eh, tas kamu bagus. Itu keluaran terbaru produk New Kelvin kan?" kata Clarissa mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya. Kok kamu tau. Suka koleksi tas branded juga ya?"
"Iya. Aku suka produk New Kelvin, Next Generation dan Female Famous. Bahannya bagus. Desainnya juga unik," jawab Clarissa. Menyebutkan beberapa produsen tas branded asal kota Mode, Paris.
"Beneran? Samaan dong. Aku juga suka produk-produk mereka. Ini aku beli di Paris langsung lho," ujar Yolanda sambil menunjukkan tas brandednya yang ia beli saat jalan-jalan ke Paris tempo hari.
"Wah, keren! Eh, boleh liat nggak. Bahannya kayak apa?" balas Clarissa. Ia yang terlihat sudah lebih baik pun kini tengah duduk bersila di atas tempat tidur pasien yang merawatnya. Wajahnya yang kemarin terlihat ada luka memar kini mulai menghilang. Luka-luka akibat kecelakaan malam itu juga mulai membaik.
"Boleh, kok. Nih!" Yolanda pun menyerahkan tas berharga puluhan juta itu pada Clarissa. Sementara Ardian hanya menjadi penonton setia. Bingung juga harus nimbrung apa. Maklumlah, percakapan mereka kan seputar kesenangan wanita. Jadi, ia lebih baik diam daripada salah bicara. 'Lagian, gue seneng Clarissa bisa mengalihkan perhatian Yolanda. Kalau Yolanda sampai tau dan dia stres. Pasti sisi lainnya akan muncul kayak biasanya. Hiii ngeri,' batin Ardian lalu menggidik ngeri.
"Eh, bahannya sama dengan punyaku lho. Kualitasnya juga. Padahal, aku beli di tempat temanku."
"Beneran? Berarti punya kamu barang asli juga dong! Mana dibawa nggak?"
"Kemarin aku bawa kok. Tapi, aku nggak tau sekarang dimana?"
"Oh, tas yang kemarin ada di mobil kamu. Sebentar aku yang nyimpen," sela Ardian setelah sedari tadi terdiam. Ia pun bergegas mendekati meja kecil di samping tempat tidur pasien. Lalu setelah membuka pintu yang tertutup rapat. Ardian segera mengeluarkan tas wanita yang model dan bahannya sama dengan milik Yolanda tadi. Hanya saja tas di tangan Ardian berwarna gold sedang milik Yolanda berwarna pink peach. Yolanda pun segera menerima tas yang ada di tangan suaminya.
"Wah, iya. Bahan dan kualitasnya sama. Wah, keren nih. Pinter juga kamu beli tas branded di Indo. Aku aja udah beberapa kali ketipu," ucap Yolanda sambil membolak-balik tas Clarissa.
"Masak sih? Kamu kan sering megang tas asli. Masak pernah ketipu juga."
"Pernah tau? Beberapa kali lagi. Biasalah, namanya juga penipu. Pinter banget ngerayunya. Udah kayak cowok playboy aja. Hahaha."
"Hahaha." Kedua wanita itu pun tertawa renyah. Sampai-sampai mereka lupa pada satu sosok pria yang ada di sebelah Yolanda.
"Eh, aku haus. Aku beli minum bentar ya," pamit Ardian yang merasa dicuekin sejak tadi.
"Iya, sana. Jangan lama-lama ya," balas Yolanda cuek.
"Oke," sahut Ardian tak kalah singkat.
Lelaki itu pun keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tidak begitu semangat. 'Males juga di dalem. Mereka ngomongin apa. Gue malah dicuekin. Tapi, lebih baik sih daripada mereka berantem. Jadi, daripada gue kesal sendiri. Mending gue disini,' batin Ardian sambil menurunkan badannya untuk duduk di bangku tunggu. Baru saja ia menyandarkan punggungnya, tiba-tiba seseorang memanggil nama cowok itu.
"Ardian." Ardian pun segera menoleh ke sumber suara.
"Mama," sahut Ardian. Sambil beranjak dari duduknya, ia menatap wanita setengah baya yang berjalan tergopoh ke arahnya. "Mama ngapain ada disini?" tanya Ardian bingung.
"Mama tadi datang ke kantor kamu. Tapi, kamu nggak ada. Orang kantor bilang kamu sedang menjenguk wanita yang kamu tabrak kemarin malam. Kok kamu nggak bilang-bilang Mama sih. Kalau kamu habis kecelakaan," kata wanita itu terlihat cemas. Ardian pun tersenyum, ia senang jika Mamanya kembali seperti dulu. Terlihat sangat menyayanginya dan takut terjadi hal buruk padanya. Bukan Mama yang hanya memikirkan kesenangan dan uang saja seperti beberapa hari yang lalu.
"Aku nggak papa kok, Ma. Cuma orang yang aku tabrak dapat luka yang lumayan serius."
"Oh, begitu. Syukurlah. Tapi, keluarga dia nggak nuntut apa-apa, kan? Kamu nggak disalahin, kan?" berondong Mama Ardian.
"Enggak, Ma. Mama juga kenal kok. Siapa wanita yang aku tabrak." Ardian berucap sambil menahan senyumnya misterius.
"Siapa?" tanya Mama Ardian dengan kening yang berkerut sempurna.
"Clarissa," jawab Ardian mantap. Tanpa merubah senyum di bibirnya.
"Clarissa… pacar kamu di SMA," timpal Mama Ardian dengan nada suara yang sedikit meninggi. Cepat-cepat Ardian menutup mulut sang Mama.
"Jangan keras-keras dong, Ma. Di dalem ada Yolanda," kata Ardian setengah berbisik. Mama Ardian pun segera melepas bekapan anakan.
"Yolanda ada di dalam?" tanya Mama Ardian terlihat heran.
"Iya," balas Ardian mantap sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Kok kamu biarin mereka berduaan di dalam. Kalau mereka ribut gimana?" ujar Mama Ardian. Raut wajahnya pun kembali cemas.
"Mama. Nggak usah khawatir. Mereka berdua sekarang sudah akrab kok. Makanya aku keluar. Abis di dalam aku dicuekin," balas Ardian nelangsa.
"Masak sih?" balas Mama Ardian tidak percaya.
"Kalau Mama tidak percaya. Ayo, kita masuk," ajak Ardian. Lalu kedua orang itu pun masuk ke dalam ruangan yang merawat Clarissa. Baru saja melewati pintu masuk sudah terdengar tawa dari kedua wanita itu.
"Hahahaha. Iya, dulu aku juga gitu. Hahaha," kata Yolanda di sela-sela tawanya.
"Ehemz." Ardian pun berdehem untuk memecah perhatian kedua wanita itu.
"Tante Ira," kata Clarissa dengan mata yang berbinar-binar.
"Hallo, Clarissa. Gimana kabar kamu? Sudah mendingan?" tanya Mama Ardian sambil memeluk tubuh Clarissa dengan erat. Mereka pun melakukan cipika-cipiki. Bak orang dekat yang sudah lama tak jumpa. Sementara Yolanda hanya menatap mereka tanpa curiga.
"Alhamdulillah, Tante. Aku udah mendingan. Kok Tante tau aku disini sih? Pasti Tante cemasin Ardian banget ya pas tau dia abis nabrak orang?" tebak Clarissa.
"Kamu memang benar. Tau sendirilah kamu seperti apa Ardian. Suka sekali menyembunyikan hal seperti ini dari Tante."
"Dia kan tidak mau Tante cemas," sahut Clarissa. Kemudian mereka pun ngobrol banyak hal. Sampai melupakan. ada Yolanda dan Ardian di belakangnya.
# Happy reading, kak. Terima kasih ya sudah mampir di ceritaku. Semoga kalian tetap berkenan membaca cerita ini sampai selesai. Dan semoga ceritaku bisa membuat hari-hari kalian semua terhibur dan berwarna-warni kayak pelangi. Serta memberi sebuah pesan yang bisa kalian terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oh, ya. Sebagai penulis tentunya aku tidak akan pernah jera untuk mengingatkan pada kalian semua. Agar tidak melakukan semua tindakan plagiat dalam bentuk apapun. Entah itu mengkopi cerita lalu hanya mengganti nama-nama tokoh dalam cerita tersebut atau menscreenshot cerita kami lalu disebarluaskan dalam bentuk pdf. Sungguh, itu bukanlah perbuatan terpuji. Bayangkan saja, jerih payah para penulis saat menyusun sebuah cerita. Kadang kami harus begadang semalaman, menggunakan waktunya disaat senggang ngantor bahkan sambil menjaga kedua bocah balita seperti aku. Hiks. Betapa hal itu penuh perjuangan. Di saat fokus nulis, anak-anak entah kabur kemana. Tapi giliran anak-anak duduk diam sambil mainan, idenya yang kabur entah kemana. Jadi, sedikit curhat memang. Namun, apa salahnya kita saling menghargai karya orang lain.
Setidaknya bayangkan saja kalian diposisi kami. Di saat kalian punya karya. Kemudian karya itu mulai dikenal banyak orang. Tiba-tiba muncul seseorang yang meniru karya kalian dan mengakui sebagai karnyanya sendiri. Bagaimana perasaan kalian. Sakit bukan?
Nah, jadi aku tekankan berkali-kali. Cerita ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNG JAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukankah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Hehe. Maaf ngegas. Walau aku pun ragu jika ada orang yang mau plagiat cerita receh ini. Tapi, nggak papa kali ya. Kan cuma mengingatkan. Lagian, lebih baik sedia payung dulu sebelum hujan, bukan? Hehe. Bagi yang sudah baca pengumuman ini dan ketemu lagi di bab selanjutnya. Abaikan saja ya.
Terima kasih.