Gabriel menepakkan sayapnya yang mulai kelelahan. Di bumi ia memang tidak punya tempat untuk beristirahat. Palingan hanya di langit malam dengan membentangkan sayapnya serta menggunakan kaki dan tangannya untuk mencengkram awan. Walau akhirnya hal itu akan menutup cahaya bulan dan menutup keindahan kelap-kelip bintang yang bertaburan, tapi Gabriel tidak punya pilihan lain. Ia harus beristirahat setelah beberapa masa ia gunakan untuk terbang dan menjalankan tugasnya dengan benar.
Di bumi memang sangat berbeda dengan di kerajaan Langit Keenam. Jika disana mereka akan dengan mudah menatap manusia dengan jarak jutaan mil dan luas ribuan kilometer persegi hanya dalam satu tempat saja, di bumi Gabriel harus terbang kesana kemari untuk mencari manusia yang membutuhkan bantuannya.
Sesaat Gabriel pun menghentikan gerakan sayapnya. Ia segera membalikkan badannya untuk melepas penat. Namun, ketika kedua tangannya baru saja akan mencengkraman awan tiba-tiba dari arah langit keluar cahaya di langit malam yang gelap. Mirip seperti petir tapi tidak bersuara. Jelas Gabriel tau itu pertanda kalau seorang Dewa akan muncul ke bumi. Dan benar saja tak lama kemudian tampak seorang Dewa yang hanya terlihat sinar berkilauan dari kejauhan. Setelah dekat, semakin dekat dan semakin dekat….
"Gabriel! Kucari kau dimanapun tempat di bumi ternyata kau disini," ucap Warren sambil tersenyum sumringah. Ia pun terbang ke arah Gabriel yang mengurungkan niatnya untuk beristirahat di awan.
"Warren?! Wah. Akhirnya aku bisa melihat kau lagi," ujar Gabriel tak kalah gembira. Selayaknya kawan dekat yang sudah lama tak bertemu. Mereka pun saling berpelukan untuk melepas rindu. "Bagaimana dengan keadaan di kerajaan? Apa Raja sudah tau kalau aku hanya korban kelicikan Lucas?" tanya Gabriel bertubi-tubi. Warren pun terdiam untuk beberapa saat.
"Warren. Kenapa kau diam saja. Apa semuanya di atas baik-baik saja?" tanya Gabriel lagi.
"Tidak, Gabriel. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi di kerajaan kita," jawab Warren pelan.
"Maksud kau apa?" tanya Gabriel cepat-cepat.
"Lucas menang. Dia sudah dinobatkan sebagai Jagoan Angkasa. Dia sekarang sangat berkuasa di bawah raja. Hampir semua elemen kehidupan di atas diubah olehnya. Tak hanya satu Dewi yang ia nikahi tapi puluhan. Dan mereka semua menikah hanya karena ingin mendapatkan tahta tertentu di kerajaan . Bahkan, dia tak sungkan memaksa Dewi Fortuna untuk menjadi istrinya. Padahal, Dewi Fortuna selalu menolaknya. Sungguh, aku sendiri pun sekarang sudah tidak kuat hidup di atas Gabriel," cerita Warren panjang lebar.
"Memangnya Raja kemana? Apa dia tidak menghentikan kegilaan Lucas?" tanya Gabriel terburu.
"Entahlah. Raja tiba-tiba menghilang setelah hari penobatan Lucas. Makanya aku mencari kau Gabriel. Hanya kau yang berani melawan Lucas."
"Tapi, kan. Kau tau aku tidak bisa menembus perisai yang dipasang Raja. Agar aku bisa kembali ke atas."
"Ada satu cara yang bisa kau lakukan Gabriel," ucap Warren dengan nada mantap.
"Apa?!"
"Cari satu manusia yang bisa membangkitkan energi Panglimamu. Dan dengan kekuatan itu pula kau bisa mengalahkan Lucas yang sudah diberkahi berbagai energi oleh sang Raja," ujar Warren yang langsung membuat Gabriel berfikir.
"Energi Panglima? Aku pernah mendengarnya dulu di tempat kita belajar berbagai ilmu kan?" tanya Gabriel dengan polosnya. Warren pun menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Ck. Iya, itu pelajaran dasar tentang berbagai energi besar yang bisa kita dapatkan selain diberkahi oleh Raja. Kau ini tidur saja di sekolah. Makanya hal besar seperti ini saja tidak tahu," sindir Warren dengan sewot.
"Hehe. Iya maaf. Maaf," sahut Gabriel sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudahlah. Biarkanlah itu berlalu. Kita punya masalah yang sangat besar sekarang. Dan kita harus bisa mengalahkan Lucas. Jika tidak, dia kan diangkat menjadi Raja. Dan dia pasti akan lebih sewenang-wenang lagi dengan semua Dewa dan Dewi yang berada di kerajaan atas."
"Oke. Oke. Aku mengerti. Cuma yang tidak aku mengerti. Bagaimana cara aku mendapatkan Energi Panglima itu?"
"Caranya kamu pilih salah satu manusia di bumi. Lalu kamu lakukan tugas terbaikmu. Berhubung kamu berasal dari klan Dewa Penolong. Itu sangat mudah, bukan? Kamu tinggal bantu manusia pilihanmu semaksimal mungkin. Jika dia mendapatkan bantuan seperti apa yang dia butuhkan. Dan dia merasa sangat terbantu. Pasti dia akan bersyukur kepada Tuhan. Nah, di saat itulah Tuhan akan memberimu Energi Panglima sebagai penghargaan atas semua kerja kerasmu," jelas Warren panjang kali lebar kali tinggi.
"Oh, begitu ya?" ujar Gabriel sambil manggut-manggut. Namun, tak lama kemudian ia pun menghentikan anggukannya lalu menatap Warren dalam-dalam.
"Kenapa?" tanya Warren bingung melihat ekspresi Gabriel yang tiba-tiba berubah.
"Tadi kau bilang apa? Bersyukur kepada Tuhan?" tanya Gabriel balik. Warren pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Itu adalah masalah terbesar yang dialami manusia pilihanku. Dia tidak bisa bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan," lanjut Gabriel merasa frustasi.
"Apa kau bilang?! Manusia pilihan? Jangan bilang kalau kau sudah menunjukkan wujud aslimu di depan manusia itu?" ujar Warren dengan nada yang kian meninggi. Lagi-lagi Gabriel pun hanya menatap Warren sambil nyengir kuda.
"Peace, Warren. Aku tau aku salah, tapi dia memiliki bulu burung pelangi yang terbawa saat aku dihempaskan ke bumi. Jadi, mau tidak mau kita memiliki ikatan," jawab Gabriel.
"Ya, sudahlah. Terserah kau saja. Hanya saja perlu kau tau. Setiap Dewa hanya diizinkan untuk menampakkan wujud aslinya pada satu manusia di bumi dan manusia itu pun harus dijadikan manusia pilihan yang bisa kau bantu secara spesial. Jadi, jangan jadikan kecerobohanmu akan semakin menyulitkan hidup kau dan kerajaan. Sebab, keselamatan para Dewa di kerajaan Langit Keenam kini berada di tanganmu. Kau mengerti?" ucap Warren kembali mengingatkan sahabatnya itu.
"Iya. Iya aku sangat mengerti sekarang," balas Gabriel.
"Ya, sudah. Kalau kau sudah mengerti aku akan kembali ke kerajaan Langit Keenam. Sebab, jika salah satu bawahan Lucas tau aku menemuimu. Aku pasti akan dimasukkan ke dalam penjaranya."
"Baiklah. Hati-hati kau di atas. Aku pasti akan segera kembali ke sana. Dan jika ada apa-apa lagi temui saja aku disini. Sepertinya tempat ini aman untuk kita bertemu," ujar Gabriel dengan penuh penekanan.
"Iya, kau juga hati-hati di bumi. Jangan sia-siakan tenagamu untuk hal-hal tak jelas. Karena kekuatan kita terisi setelah manusia ya," saran Warren.
"Iya, pasti," balas Gabriel sambil mengangguk mantap.
Kemudian Warren pun berbalik badan. Ia bentangkan kedua sayapnya lebar-lebar. Lalu mengepakkan keduanya dan melesat ke atas dengan kecepatan cahaya.
Di bawah jika dilihat oleh orang awam. Mungkin mereka berpikir kalau itu hanyalah bintang pindah. Atau pun meteor yang melintas. Tidak ada yang tau jika sebenarnya cahaya sekilas itu adalah pergerakan dari para Dewa yang selalu membaur dalam kehidupan manusia. Sebagai penyalur semua kebesaran Tuhan yang terpampang nyata di kehidupan dunia.