"Ar. Ardian. Bangun Ar," panggil Clarissa sambil menepuk lengan Ardian yang sedang terlelap di sampingnya. Ardian yang duduk sambil melipat kedua tangannya di atas tempat tidur yang digunakan untuk merawat Clarissa.
"Hemz. Hemz," gumam Ardian yang merasa tidurnya diusik oleh seseorang. Ardian pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian ia juga mengucek matanya untuk mempertajam pandangannya.
"Kenapa Clarissa? Apa ada yang kamu mau? Biar aku carikan?" ujar Ardian cepat-cepat.
"Aku nggak mau apa-apa kok, Ar. Aku cuma mau ngingetin kamu. Sekarang sudah malam. Istri kamu nggak marah kalau kamu masih tetap disini?" ucap Clarissa yang langsung membuat Ardian tersadar.
"Udah malam ya?" balas Ardian malah balik bertanya. Dengan malas ia pun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 20. 35 malam. Jujur, ia masih merasa malas bertemu dengan Yolanda di rumah, tapi kalau dia tidak pulang pasti Yolanda khawatir. 'Dan kalau sampai dia menyusul kesini bisa ngamuk lagi dia. Mending gue pulang aja dulu sekarang,' ujar Ardian dalam hati. "Ya, sudah. Besok gue kesini lagi ya. Sekarang gue pulang dulu," pamit Ardian sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, Ar. Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut dan jangan ngelamun lagi nyetirnya. Oke?" ujar Yolanda menyindir. Ardian pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe," balasnya hanya nyengir kuda. "Ya, udah. Aku pulang ya. Sampai besok. Dah," ujar Ardian kemudian berlalu.
"Iya. Dah," sahut Clarissa sambil tersenyum manis. Pandangannya pun mengantarkan Ardian hingga ia menghilang dari balik daun pintu rumah sakit itu.
Sedang Ardian berjalan dengan malas-malasan ke arah parkiran. Ia pun teringat sesuatu. Ardian meraih ponsel pintar di sakunya. Lalu ia segera membuka layar ponselnya. Seketika terpampanglah puluhan chat dan miscall dari Yolanda. Karena sejak pagi Ardian menggunakan mode silent. Jadi, semua pesan ataupun telepon yang masuk tak terdengar olehnya.
"Wah. Gawat nih bisa ngamuk beneran dia. Bisa-bisa dia kembali jadi sosok lainnya itu. Lalu membunuh gue lagi. Hii," gumam Ardian lalu mengedikkan bahunya ngeri.
Sampai di dalam mobilnya Ardian segera tancap gas menuju rumah Yolanda. Untung saja jalanan sedang lenggang. Jadi, bak penguasa jalanan. Dia langsung menembus kegelapan malam dengan kecepatan penuh.
Sesungguhnya Ardian malas banget pulang ke rumah. Tapi, dia teringat dengan perkataan Mamanya tadi pagi. Sehingga, apapun yang terjadi dia harus bertahan di rumah Yolanda. 'Semua demi Papa dan Mama. Demi keluarga gue,' batin Ardian sambil terus menginjak pedal gas mobilnya.
"Andai saja istri gue itu Clarissa. Semua pasti tidak akan menjadi seperti ini," gumam Ardian tanpa sadar. Pikirannya pun kembali melayang pada beberapa jam yang lalu. Saat Clarissa menceritakan kisah hidupnya yang pilu.
Flashback.
"Sebenarnya tadi malem aku sedang berantem sama suami aku, Ar. Aku ribut besar sampai-sampai aku kabur dari rumah," cerita Clarissa dengan bercucuran air mata.
"Memang kalian ribut masalah apa?" tanya Ardian dengan tatapan penuh amarah. Seakan ia tidak rela jika Clarissa diperlakukan seperti itu.
"Masalah kecil, Ar. Dia itu memang sering membesar-besarkan masalah. Hanya untuk alasan dia memukul, dia menampar. Pokoknya dia tega banget sama aku, Ar," kata Clarissa dengan air mata yang semakin deras saja.
"Kamu yang sabar ya, Clarissa. Semua ini pasti ada hikmahnya," ucap Ardian sambil mengusap ujung kepala Clarissa dengan mesra.
"Iya, Ar. Kamu benar. Aku harus kuat," balas Clarissa sambil mengusap kedua kelopak matanya yang berair. Kemudian ia berusaha tersenyum.
"Nah, gitu dong," timpal Ardian sambil mengembangkan senyumnya.
"Oh, ya Ar. Kamu sendiri gimana? Bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Clarissa yang langsung melunturkan senyum di bibir Ardian.
"Ya, begitulah," balas Ardian sambil memundurkan badannya dari tubuh Clarissa.
"Begitu gimana?" pancing Clarissa. Ardian pun terdiam. Sejujurnya ia ingin menceritakan semua keluh kesah yang ia simpan sendiri di dalam hati. Namun, akhirnya ia hanya menjawab.
"Ya, begitu. Bahagia," jawab Ardian sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
.
"Maafin aku Clarissa. Aku harus berbohong sama kamu. Sesungguhnya, aku pun tak bahagia Clarissa. Tapi, aku tidak mungkin meninggalkan Yolanda. Walau aku masih mencintaimu sampai sekarang ini," gumam Ardian sambil terus menyetir. Untung saja jalanan masih sepi. Kalau tidak, pasti sudah terulang lagi kecelakaan seperti yang terjadi semalam.
Tak terasa Ardian pun sudah sampai di depan rumah Yolanda. Lalu ia pun segera memasukkan mobilnya saat pintu gerbang sudah dibukakan oleh Kang Ujang. Ardian pun segera melenggang masuk ke arah lahan parkir yang luasnya sekitar setengah lapangan futsal. Di sana tertata kendaraan koleksi Yolanda mulai dari mobil keluaran tahun tujuh puluhan sampai mobil sport mewah berlogo kuda jingkrak yang sudah dihadiahkan untuk suaminya tersayang. Ada juga beberapa sepeda motor matic yang digunakan para asisten rumah tangga kalau mau pergi ke pasar.
Ardian pun memarkirkan mobilnya di parkiran yang paling dekat dengan pintu keluar. Lalu ia segera keluar dari mobil itu dan bergegas pergi ke arah dalam. Baru sampai ruang tamu Ardian pun berniat langsung menaiki tangga yang akan mengantarnya menuju kamar pribadinya dengan Yolanda.
Namun, saat ekor matanya menangkap sosok Yolanda yang sedang tertidur di sofa ruang tamu, langkahnya pun terhenti. Ia memundurkan lagi langkahnya yang tadi nyelonong begitu saja. 'Gue jadi nggak enak. Yolanda tidur disini gara-gara nungguin gue pulang,' batin Ardian sambil menatap tubuh Yolanda dengan tatapan iba.
'Rasanya memang tidak seharusnya gue terlalu memusuhi Yolanda. Sebab, dia pun sebenarnya tidak tau apa-apa. Tapi, gue hanyalah lelaki biasa. Gue pun butuh dihormati dan dihargai. Bukan direndahkan dan dicaci maki. Dan setiap kali gue ingat akan hal itu. Gue selalu saja marah dan ingin segera pergi dari hidup ini,' batin Ardian sambil terus menatap tubuh Yolanda yang masih berselimut mimpi indah.
Ketika Ardian masih terus menatap Yolanda yang sedang tidur. Tiba-tiba ia pun terjaga.
"Mas, kamu sudah pulang," ujarnya sambil mengucek matanya. Ia pun segera beranjak dari tidurnya.
"Iya. Aku nggak tega bangunin kamu. Jadi, aku biarin aja dulu," ucap Ardian lirih.
"Ya, udah. Aku tau kamu udah cape kan? Yuk! Kita tidur sekarang," ujar Yolanda sambil beranjak. Ia pun langsung memeluk lengan kanan Ardian. Ardian pun terkejut.
"Kamu nggak marah sama aku yang baru pulang jam segini?" tanya Ardian. Yolanda pun tersenyum.
"Nggak dong. Kamu kan lagi memenuhi tanggung jawab kamu sama orang yang kamu tabrak. Jadi, untuk apa aku marah," jawab Yolanda mantap. Ardian pun merasa semakin bersalah kepada Yolanda.
"Besok kamu mau ikut jenguk dia, Yo?" ajak Ardian. Yolanda pun langsung tersenyum senang.
"Emang boleh?"
"Boleh dong. Cuma besok kamu sibuk nggak di kantor?"
"Nggak kok. Aku nggak ada jadwal meeting."
"Oke. Kalau begitu besok kita kesana."