"Iya, Yo. Aku tidak bisa pulang malam ini," ucap Ardian pada Yolanda yang berada di seberang sana. Dia yang tengah menunggu Clarissa di rumah sakit, tak mungkin meninggalkan wanita itu seorang diri. Apalagi keadaannya yang masih belum siuman tentu saja membuatnya harus rela menunggu walau sampai pagi menjelang. Makanya, Ardian pun segera memberi kabar pada Yolanda agar dia tidak khawatir.
"Apa keadaannya separah itu, Mas?" tanya Yolanda balik. Saat mendengar pengakuan Ardian tentang kecelakaan yang baru saja menimpanya.
"Iya, Yo. Sampai sekarang wanita itu belum juga sadar. Aku takut, nanti aku akan dituntut keluarganya Yo. Kalau meninggalkannya sendiri sebelum mereka datang," ujar Ardian lagi. Untuk kali ini dia sedikit berbohong. Sebab, sesungguhnya ia tidak menunggu kedatangan keluarga Clarissa melainkan memang ingin menjaganya malam ini. Ardian pun tak memberitahu Yolanda jika wanita yang hampir ditabraknya adalah Clarissa. Mantan pacarnya di SMA dulu. Sebab, jika Yolanda tau. Pasti dia tidak akan membiarkannya terlalu lama berada disini.
"Iya juga sih. Ya, sudahlah. Kamu jaga diri kamu baik-baik ya disana. Jangan sampai kamu ketularan sakit karena masuk angin. Oke?" ujar Yolanda dengan penuh perhatian.
"Iya, Yo. Aku mengerti," balas Ardian. Kemudian…. Tut. Hubungan pun terputus. Sesaat Ardian menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ardian pun tersenyum kecut ketika mengingat sifat Yolanda yang sangat perhatian, tapi kadang mirip orang gila itu. Ardian pun menghembuskan nafas beratnya. Lalu melempar pandangannya ke arah koridor yang terlihat sepi.
Sedang di dalam sebuah kamar, Clarissa mulai mengerjapkan kedua matanya perlahan. Ia memandang langit-langit kamar yang tempat ia dirawat. Keningnya pun berkerut sempurna menatap ukiran gypsum yang terlihat asing di matanya. Kemudian tangannya pun terangkat untuk menyentuh keningnya yang terasa perih.
"Aw," rintih Clarissa saat merasakan tangannya pun terasa sakit saat ia angkat. Mendengar suara dari dalam Ardian pun segera masuk ke dalam kamar itu.
Blak! Ardian membuka pintu kamar itu dengan sedikit keras. Lalu ia segera berlari ke arah tempat tidur.
"Clarissa, kamu sudah sadar?" tanya Ardian dengan raut wajah yang gembira. Bukannya menjawab Clarissa pun malah mengerutkan keningnya dengan lebih jelas.
"Ardian? Kamu Ardian kan?" tanya Clarissa balik. Tanpa menghilangkan garis-garis kerutan di dahinya.
"Iya, Clarissa. Aku Ardian," jawab Ardian sambil tersenyum sumringah. Dan kemudian Clarissa pun tersenyum bahagia.
"Aku nggak menyangka kita akan ketemu lagi, Ar," kata Clarissa sambil tersenyum haru. Air matanya pun meleleh seketika.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ardian sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Clarissa.
"Nggak, Ar. Aku hanya merasa bahagia sekali bisa bertemu kamu," ujar Clarissa lagi. Ingatannya pun melayang ke beberapa tahun yang lalu.
Flashback.
"Silahkan duduk, Tuan Putri," ucap Ardian setelah memundurkan sebuah kursi di sebuah Cafe langganannya dengan sang pujaan hati, Clarissa. Cewek manis itu pun tersenyum sekilas lalu segera duduk di atas kursi tersebut.
"Terima kasih, Ar," balasnya kepada cowok yang selalu memperlakukannya bak seorang putri negeri dongeng itu.
"Sama-sama, sayang," timpalnya setengah berbisik tepat di depan telinga Ardian. Lalu laki-laki itu pun segera duduk di seberang meja yang sudah disediakan. "Aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial lho buat kamu," ujar Ardian lagi. Tanpa melepas pandangannya dari gadis yang selalu hadir di mimpi indahnya itu.
"Apa?" tanya Clarissa sambil tersenyum malu. Sebab, ia sangat tau pacarnya ini paling bisa membuatnya bahagia.
"Sebentar. Kita panggil Mbaknya dulu," balas Ardian. Lalu ia pun melambaikan tangannya ke arah sang pelayan Cafe. Dengan sigap sang pelayan pun mengangguk. Kemudian ia pun segera pergi dapur. "Tunggu sebentar ya," ujar Ardian yang langsung membuat senyum Clarissa memudar. Ardian pun menangkap gelagat aneh dari kekasihnya itu. "Kamu kenapa sih? Udah nggak sabar ya mau tau kejutannya apa?" tanya Ardian sambil menggenggam tangan Clarissa yang ia letakkan di atas meja. Perlakuan manis Ardian pun kemudian membuat cewek itu mengangkat kepalanya. Dan menatap manik mata Ardian dengan sorot mata sendu.
"Ada yang mau aku bicarakan, Ar," ujarnya lirih. Nyaris tak terdengar.
"Apa?" tanya Ardian cepat-cepat. Seakan sudah tidak sabar dengan apa yang akan diucapkan oleh Clarissa.
"Sebenarnya aku…." Kalimat Clarissa pun terhenti sesaat. Seakan dia tidak kuat untuk melanjutkannya. Clarissa pun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Aku ingin putus, Ar," lanjutnya yang lebih mirip seperti petir di siang bolong bagi Ardian. Hatinya remuk redam menjadi butiran abu yang tak berdaya.
"Putus?! Tapi kenapa kamu minta putus Clarissa? Apa salah aku?" tanya Ardian bertubi-tubi. Clarissa pun langsung menggeleng cepat. Tak terasa air matanya pun mengalir deras.
"Kamu nggak salah, Ar. Kamu nggak salah," ucapnya berulang kali.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu minta putus di saat kita akan merayakan Anniversary kita yang ke tiga? Tiga tahun sudah kita bersama. Apa kamu tidak ingin melanjutkannya sampai akhir hayat kita?"
"Maaf, Ar. Maaf. Aku pun tidak punya kuasa untuk itu," balas Clarissa dengan air mata yang mengucur deras.
"Tapi, kenapa Clarissa. Kenapa? Jawab sekarang."
"Ayahku mau pindah ke Surabaya Ar. Dan aku pun akan melanjutkan kuliahku di sana," sahut Clarissa. Ardian pun langsung mengacak rambutnya dengan frustasi. Sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang berada di belakangnya.
"Kita kan bisa pacaran jarak jauh," usul Ardian. Clarissa pun langsung menggeleng dengan cepat.
"Nggak. Nggak mungkin, Ar. Aku takut kita akan saling menyakiti. Terlalu banyak godaan di saat kita berjarak, Ar," ucap Clarissa. Ia pun beranjak dari duduknya. "Sekali lagi. Aku minta maaf, Ar. Aku tidak bisa melanjutkan kisah kita berdua," kata Clarissa kemudian berlalu. Meninggalkan Ardian yang masih termangu di tempatnya. Beberapa saat setelah kepergian Clarissa para pelayan pun datang lalu menghidangkan makanan spesial, pesanan Ardian ke atas meja di depan Ardian. Namun, baru saja para pelayan selesai menata makanan kesukaan Ardian dan Clarissa. Cowok itu pun beranjak dari duduknya. Lalu berbalik badan untuk bersiap untuk pergi.
"Eh, Mas. Mas. Ini makanannya," ujar para pelayan itu mengingatkan.
"Sudah saya bayar, kan? Silahkan kalian makan. Saya sudah tidak berselera," kata Ardian kemudian ia pun pergi begitu saja.
.
"Jadi, kapan kamu tinggal di Jakarta lagi?" tanya Ardian penasaran.
"Sejak dua tahun yang lalu, Ar. Aku menikah dengan orang sini. Jadi, aku ikut suami tinggal di Jakarta lagi."
"Oh. Kamu sudah menikah ya?" tanya Ardian terdengar kecewa.
"Iya, Ar. Aku sudah menikah. Kamu sendiri gimana?" tanya Clarissa balik.
"Iya. Aku pun sudah menikah beberapa tahun yang lalu," jawab Ardian pelan.
"Oh, begitu ya," balas Clarissa tak kalah kecewa dengan nada Ardian tadi.