"Ehemz." Ardian pun berdehem. Dan seketika tawa ketiga orang terdekat Ardian itu pun terhenti. Mereka pun menoleh serempak.
"Nah, itu dia Ardian," ucap Mama Ardian sambil beranjak dari duduknya. Ia pun segera memapah Ardian sampai di ia duduk di sofa dekat samping Yolanda.
"Aku punya sesuatu buat kamu," ucap Yolanda sambil tersenyum manis.
"Apa?" tanya Ardian bingung.
"Tara," balas Yolanda histeris sambil menunjukkan paper bag yang sempat ia letakkan di bawah meja. "Ini semua buat kamu," ujarnya sambil memberikan paper bag itu.
"Apa ini?" tanya Ardian bingung.
"Ini baju-baju baru buat kamu. Aku beli di butik terkenal lho!" ujar Yolanda dengan senyum sumringah.
"Makasih," jawab Ardian lirih. Dengan tak bersemangat Ardian pun menggapai paper bag itu.
"Wah! Kamu beruntung banget Ardian. Punya istri yang sangat peduli sama kamu," puji Mama Ardian pada Yolanda.
"Ah, Mama bisa saja deh," timpal Yolanda sambil tersipu malu. 'Ih, Mama apa-apaan sih. Pakai acara muji-muji segala. Lupa kali apa yang gue katakan tadi,' ujar Ardian dalam hati.
"Nah, mumpung kita lagi ngumpul begini. Yuk! Kita makan bersama. Mama udah masak masakan spesial lho," ajak Mama menawarkan.
"Hemz. Kayaknya enak, Ma. Yuk! Aku jadi laper," balas Yolanda dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Ayuk. Yuk. Kita langsung cobain," balas Mama Ardian. Lalu keduanya pun masuk ke dalam ruang makan sambil bergandengan tangan. Meninggalkan Ardian dan Papanya yang masih berdiam diri di tempat duduknya.
"Ar," panggil Papa Ardian. Ardian pun mengangkat wajahnya untuk menatap sang Papa. "Jangan pernah bohongi diri kamu sendiri, Ar. Kalau memang kamu tidak bahagia. Katakan saja. Tak perlu menutupi apapun pada dirimu sendiri," lanjut Papa Ardian. Ardian pun menghembuskan nafas beratnya.
"Pa. Percaya saya Ardian. Ardian nggak pernah bohong sama siapa-siapa. Ardian hanya melakukan apa yang seharusnya Ardian lakukan, Pa," balas Ardian pelan tapi pasti. Ardian pun tersenyum manis ke arah Papanya yang tetap terdiam. "Ya, udah. Kalau gitu. Kita susul mereka di ruang makan yuk," ajak Ardian sambil beranjak dari tempat duduknya. Lalu dengan sedikit terpincang Ardian pun melangkah ke arah Yolanda dan Mamanya pergi.
"Ardian," panggil Papanya lagi. Lelaki yang umurnya sudah tidak muda lagi itu pun beranjak dari duduknya. "Jangan kamu besarkan ego, Nak. Tidak akan jalan semulus yang kamu pikirkan," ujar Papa Ardian. Lalu ia pun berjalan mendekati anak sulungnya itu. "Jangan andalkan nafsu belaka. Pikirkan baik-baik apa yang seharusnya kamu lakukan. Masih ada jalan menuju hidup yang lebih baik. Sebelum Tuhan marah dan menutupnya. Lalu kau hanya akan mendapatkan penyesalan belaka," tambahnya mengakhiri wajangannya kali ini. Papa Ardian pun berjalan mendahului Ardian yang masih termangu di tempatnya. Ia pun berusaha mencerna setiap kata-kata yang baru saja dikeluarkan Papanya.
@@@@@@
Di sepanjang perjalanan pulang Ardian terus memikirkan ucapan Papanya tadi. Ia memang berniat mengambil rute terjauh. Karena jujur ia masih malas pulang ke rumah Yolanda. Pandangannya yang ia buang jauh ke depan sesungguhnya tidak berarti ia tengah fokus menatap jalan raya. Ia malah sibuk mencerna kalimat Papanya yang masih membelit otak kanan dan kirinya. Bahkan, ia sampai lupa jika ia sedang mengendarai mobil mewah hadiah dari Yolanda beberapa bulan yang lalu. Ia memang sedang berkendara sendiri. Sebab, Yolanda sudah pulang duluan tadi siang. Karena ada urusan pekerjaan lainnya.
'Maksud Papa apa ya? Kenapa Papa bicara seperti itu sama gue? Seakan dia benar-benar tau dengan apa yang sedang terjadi sama hidup gue sekarang,' ucap Ardian dalam hati.
Ia pun terus saja memikirkan kata-kata itu sampai-sampai ia tidak melihat ada sebuah mobil yang baru saja membelok dari tikungan di kiri jalan lalu berjalan berlawanan dengannya. Di jarak yang hanya tinggal beberapa meter saja. Sorot lampu mobil itu menusuk kelopak mata Ardian. Sedang sorot lampu mobil Ardian menembus kaca depan mobil itu. Hingga akhirnya…..
Kedua mobil pun saling menginjak pedal remnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya. Chiiittt….. Keduanya pun berhenti tepat di tengah-tengah jarak keduanya tadi. Dan…. Dug! Bunyi dari kedua kap mobil depan yang saling berbenturan kecil. Namun, tetap saja kejadian itu menyisakan trauma pada setiap pengemudi mobil itu masing-masing. Lihat saja mereka yang masih memejamkan mata sampai beberapa beberapa detik kemudian. Ketakutan.
Di menit berikutnya Ardian pun membuka matanya satu persatu. Dan mendapati mobilnya masih dalam keadaan aman sentosa.
"Alhamdulillah gue selamet," gumamnya penuh syukur. Ardian pun menatap ke depan ke arah depan mobilnya yang ditakutkan akan rusak karena kejadian ini. Segera Ardian keluar dari dalam mobilnya lalu memeriksa setiap detail dari tidurnya.
Ternyata hanya ada goresan kecil di lampu-lampu depan hasil saling bergesekan. Ardian pun mengintip ke dalam. Sebab, dari tadi sang pengemudi mobil itu belum keluar juga. Ardian pun menangkap sosok wanita yang wajahnya masih terbenam di atas setir mobilnya.
Tok. Tok. Tok. Ardian pun mengetuk pintu di depan mobil di depannya berulang kembali. Namun, tetap saja belum ada sautan. Ardian pun semakin ketakutan karena wanita itu tetap saja tak bergerak sama sekali. Sungguh, ia takut kalau wanita itu terkena serangan jantung. Hingga mati mendadak di dalam mobil. Ardian pun menatap ke arah sekitar untuk mencari bala bantuan.
'Wah, gawat nih kalau dia sampai mati beneran. Bisa-bisa gue ntar dipenjara,' batinnya tidak tenteram. Beberapa saat kemudian Ardian pun hanya bisa berdiri mematung sambil mencari cara untuk mengeluarkan wanita itu.
Sesaat kemudian Ardian pun mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia segera mencari kontak bengkel langganannya untuk segera mendapatkan bantuan. Namun, beberapa kali menelpon tak pernah sekalipun ada yang tersambung. Tut. Tut. Tut. Hanya bunyi itu yang terdengar.
"Ck. Nggak nyambung juga! s**t! Kalau begini gimana caranya gue ngeluarin tuh cewek," gumam Ardian mulai panik.
Akhirnya ia pun memiliki ide yang cukup brilian. Walaupun sedikit gila. 'Tapi, mau gimana lagi? Cuma itu jalan satu-satunya untuk bisa mengeluarkan cewek ini sebelum mati,' batin Ardian. Sambil berjalan tertatih kembali ke mobilnya bagian belakang. Lalu mengambil dongkrak yang tersimpan di jok belakang. Lalu Ardian pun kembali ke sisi kanan mobil. Dan sesaat kemudian ia berpikir sejenak. Lalu mengawasi keadaan sekitar bila mana ada bantuan yang Tuhan kirimkan untuknya. Namun nihil. Tetap saja tak ada orang yang lewat sama sekali. Mau tak mau Ardian pun harus menjalankan idenya. Ia pun segera mengangkat tinggi-tinggi benda di tangannya lalu ia hantamkan dongkrak itu ke kaca mobil di samping dabin kemudi itu.
Dug! Dug! Dug! Pyar! Akhirnya setelah entah pukulan ke berapa kaca mobil itu bisa pecah. Ardian pun memasukkan tangannya ke dalam kaca mobil yang sudah bolong dengan ukuran diameter kira-kira sepuluh sentimeter. Ardian pun segera memasukkan tangannya ke dalam lubang itu. Lalu membuka pintu yang terkunci otomatis dari salah satu tombol di pintu itu. Krek! Pintu terdengar terbuka lalu Ardian segera membukanya.
"Mbak! Mbak bangun!" ujar Ardian sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu hingga kemudian tubuh lemas wanita itu terjatuh ke arahnya. Dan saat Ardian bisa menatap wajahnya yang penuh memar dia keningnya pun segera berkerut dan matanya membulat sempurna. "Clarissa!" ucapnya setengah berteriak.