"Aku berangkat dulu ya, Mas," pamit Yolanda sambil mencium punggung tangan Ardian. Ardian pun hari ini memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Makanya dia hanya mengantar Yolanda sampai depan rumah saja.
"Iya. Kamu hati-hati di jalan," balas Ardian dengan ekspresi datar. Jujur, ia belum bisa melupakan kejadian tadi malam. Makanya, ia hanya bersikap biasa saja. Bahkan untuk tersenyum pun rasanya sangat sulit sekali.
"Iya, Mas. Pasti," timpal Yolanda. Kemudian ia pun balik badan dan berjalan menjauh. Sedang di tempatnya berdiri, Ardian menatap punggung Yolanda yang semakin menjauh. Ardian pun menghembuskan nafas beratnya. Kepalanya tiba-tiba terasa nyut-nyutan seketika. Lalu setelah itu ia pun menutup kedua pintu depan rumah Yolanda dari arah luar. Sebelum akhirnya ia pun berjalan tertatih menuju ke garasi.
@@@@@@
"Apa?! Jadi sebenarnya Papa dan Mama sudah tau kalau Yolanda memiliki kepribadian ganda seperti itu?" tanya Ardian dengan nada tinggi saat ia tahu kalau keluarganya sendiri seakan tengah menjebaknya di dalam lumpur penghisap.
"Maafkan Mama, Ar. Tapi kami tidak punya pilihan lain," balas Mamanya lirih.
"Tidak punya pilihan lain? Maksud Mama apa?" tanya Ardian semakin bingung. Untuk beberapa menit keduanya pun masih terdiam. Sedang Papanya malah meneteskan air matanya dengan begitu deras tanpa ada niat sedikitpun untuk membuka mulutnya dan menjelaskan apa yang sedang mereka tutupi dari Ardian. "Ma, Pa? Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian hanya diam saja?" tanya Ardian lagi mulai geram.
Mama dan Papa Ardian pun saling melempar pandangan satu sama lain. Hingga akhirnya Papa Ardian menganggukkan kepalanya. Beberapa kali dengan tatapan mata yang masih menatap mata Mama Ardian. Seakan ia memberinya izin pada Mamanya untuk memberitahu sebuah rahasia besar. Mama Ardian pun kemudian mengangguk tanda mengerti.
"Jadi sebenarnya sebelum kamu menikah dengan Yolanda. Papa kamu terlilit hutang dengan keluarga Yolanda," ucap Mama Ardian pelan. Sepertinya ia akan menceritakan suatu cerita yang akan menguras emosinya. Mendengar itu Ardian pun kembali membulatkan matanya dengan lebih besar lagi. "Papa bingung harus bagaimana. Karena pada saat itu perusahaan kita hampir kolaps. Kemudian Papa Yolanda memberikan sebuah solusi yang sangat membantu kami. Dia bilang dia akan menghapus hutang kami dan juga memberikan tambahan modal. Jika kami mau menikahkan kamu dengan anak semata wayangnya. Yolanda," ujar Mama Ardian. Kemudian ia pun menghela nafas beratnya sebelum melanjutkan ceritanya. "Awalnya kami pikir itu adalah sebuah hal yang sangat mudah dan menyenangkan sebab Yolanda adalah Gadis cantik dengan gaya hidup dan pikiran high class. Namun, ternyata Mama dan Papa salah. Saat pesta pernikahan kalian telah selesai dilaksanakan. Mama dan Yolanda pun berniat ingin merayakan kesuksesannya berdua. Namun, kamu tau apa yang terjadi saat kita berdua sudah bertemu?" tanya Mama yang langsung dijawab Ardian dengan gelengan kepalanya. "Di sebuah restoran yang sudah kami sepakati. Setelah bayar bill makanan yang sudah kita makan. Dia tiba-tiba marah-marah, memaki-maki Mama bahkan hampir memukul Mama pakai vas bunga. Dan sejak saat itulah Papa dan Mama baru tau kalau Yolanda memiliki kepribadian ganda," lanjutnya.
"Terus gimana ini, Ma, Pa? Gimana sama nasib aku disana? Kemarin aja aku hampir mati karena ditutup bantal saat tidurv, terus semalam kaki aku terluka, baju-baju aku juga entah kemana? Ntar kalau lebih parah lagi gimana?" ucap Ardian mulai frustasi.
"Aduh, Ar. Kamu yang sabar ya. Kamu tau kan keuangan kita kayak apa? Cuma Yolanda yang bisa kita andalkan Ar. Mama mohon kamu yang sabar menghadapi Yolanda. Demi kami Ar. Demi Papamu juga. Lihat Papamu sekarang! Lihat Ar! Seperti apa kondisinya?" kata Mama Ardian sambil memindah duduknya di samping anak sulungnya itu. Ardian pun menatap Papanya yang sedang menangis pasrah. Jujur, melihat kondisinya yang sakit-sakitan seperti ini. Tentu saja membuatnya merasa iba. "Lihat, Ar! Sebentar lagi Papamu harus menjalani operasi. Darimana kita dapat uang kalau bukan dari Yolanda, Ar?" tambah Mama Ardian. Ardian pun terdiam. Bingung harus berkata apa. Sungguh, ia sangat prihatin melihat keadaan Papanya sekarang, tapi ia pun tak kuat rasanya jika harus hidup dengan wanita gila seperti Yolanda.
"Ar," panggil Papanya lirih. Ardian pun menoleh ke arah lelaki yang paling ia hormati itu. "Kamu nggak perlu pikirkan Papa, Ar. Kamu harus bisa hidup bahagia. Bapak sudah tua, umur Bapak sudah tidak lama lagi. Sedang umur kamu masih panjang. Masa depan kamu masih jauh," lanjut Papa sambil menangis sedih.
"Pa," kata Ardian sambil bersimpuh di depan Papanya itu duduk. "Papa jangan pernah ngomong begitu ya. Aku janji, aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Papa," lanjut Ardian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi Ar. Kebahagiaanmu lebih penting, Nak."
"Enggak, Pa. Enggak. Aku nggak akan pernah bahagia kalau melihat Papa menderita dengan penyakit Papa seperti ini. Papa harus sembuh, Pa. Itu kebahagiaan terbesar aku," kata Ardian. Air matanya pun meleleh dengan begitu derasnya.
"Kamu yakin, Ar?" tanya Papa Ardian yang langsung dijawab dengan anggukan mantap oleh Ardian.
"Iya, Pa. Iya. Asalkan Papa sehat seperti dulu. Apapun akan Ardian lakukan, Pa," balas Ardian. Pikirannya pun teringat pada sosok Papanya yang dulu selalu memanjakannya dengan semua mainan yang diinginkan Ardian. Ardian merasa banyak berhutang budi pada Papanya. Dan sungguh tidak adil jika ia hanya mementingkan egonya saja.
"Makasih ya, Nak. Makasih. Kamu memang anak yang berbakti pada kedua orang tuamu," ujar Mama Ardian sambil merangkul anaknya yang sedang berlutut di depan suami yang tercintanya. Ia pun ikut menangis terharu. Akan pengorbanan anaknya begitu besar untuk keluarga ini.
"Ya sudah. Kalau begitu kamu mandi dulu ya. Simbok sudah nyiapin air hangat dan pakaian ganti buat kamu mandi," kata Mamanya sambil menyeka kedua kelopak mata Ardian yang berair.
"Iya, Ma. Bantuin aku ke kamar mandi ya."
"Iya, Nak. Yuk! Mama anterin kamu sampai ke kamar mandi."
Mama Ardian pun memapah tubuh Ardian hingga berdiri. Lalu ia mengantarnya sampai ke depan kamar mandi.
"Pelan-pelan masuknya. Nanti kepleset," saran Mama Ardian mengingatkan.
"Iya, Ma. Makasih," balas Ardian sebelum menutup pintu kamar mandi.
Beberapa menit pun berlalu. Walau dengan sedikit kesusahan. Akhirnya Ardian bisa selesai mandi juga. Ia pun berjalan tertatih keluar kamar mandi lalu menuju ke arah ruang keluarga. Sebab, ia sangat yakin Papa dan Mamanya kini sudah berpindah ke tempat itu. Namun, saat ia baru saja memasuki ruang keluarga. Mata Ardian pun membulat sempurna tatkala melihat sosok Yolanda sudah berada di sana. Bahkan, sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Seakan ia tidak pernah melakukan sesuatu tadi malam.
"Ehemz." Ardian pun berdehem. Untuk mengalihkan semua perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu.