Setelah Kang Ujang pergi, Ardian masih termenung di tempatnya. Sungguh, ia tidak percaya akan mendapatkan hal yang tidak pernah duga seperti ini. Saat ia tengah kebingungan seperti ini. Tiba-tiba Gabriel datang.
"Hai, Ardian," sapanya setelah muncul tepat di depan Ardian yang tengah melamun. Jelas saja, Ardian langsung terlonjak kaget.
"Eh, kamu. Ngagetin aja deh," ujarnya sambil menipuk Gabriel dengan bantal yang tadi menopang kepalanya.
"Hehe. Siapa suruh kau hanya bengong saja disini," balasnya tak mau kalah. "Kenapa? Menyesal sudah merubah takdir hidupmu menjadi seperti ini?" tanya Gabriel. Ardian pun tersenyum.
"Entahlah. Gue masih bingung menyikapinya," balas Ardian tak begitu semangat.
"Heh. Dasar manusia. Sifatnya memang begitu ya. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah ia dapatkan."
"Bukannya begitu. Gue memang masih syok dengan keadaan Yolanda yang ternyata memiliki kepribadian ganda. Tapi, bukan berarti gue pengen kembali ke kehidupan yang dulu. Seenggaknya disini hidup gue lebih santai. Tidak tertekan seperti dulu."
"Yakin? Apa yang kau bicarakan itu benar?"
"Iya, jelaslah."
"Heh." Gabriel pun hanya menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu silahkan nikmati saja kehidupanmu sekarang," ujar Gabriel. Kemudian…. Whusss!! Ia pun menghilang.
Di detik berikutnya setelah Gabriel pergi. Bik Tum salah satu pembantu di rumah ini pun datang.
"Selamat pagi, Tuan," ucapnya sambil membuka pintu.
"Selamat pagi," balas Ardian sedikit terperanjat. Ia pun membenarkan posisi duduknya agar bisa menyandarkan punggungnya di sandaran atas tempat tidur.
"Ini sarapan untuk, Tuan Ardian. Silahkan dimakan," ujarnya kemudian. Sambil meletakkan semangkuk sop buntut, sepiring nasi dan segelas s**u ke atas meja kecil yang berada di samping tempat tidur itu.
"Iya, Bik. Makasih," balas Ardian tak begitu bersemangat. Bik Tum pun berbalik badan sambil untuk segera keluar. Namun, saat ia baru saja mengangkat kakinya Ardian pun langsung menghentikan gerakannya.
"Bik," panggil Ardian. Bik Tum pun langsung menoleh.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya sopan.
"Nyonya sudah berangkat ke kantor?"
"Belum, Tuan. Nyonya Yolanda masih berada di ruang makan. Sepertinya sedang menunggu Tuan Ardian untuk sarapan bersama. Tapi, kemudian beliau meminta saya untuk menyiapkan sarapan ke sini saja. Meskipun, Nyonya masih menunggu Tuan sampai sekarang," jelas Bik Tum. Ardian pun terdiam. Bingung harus berbuat apa? Jujur, ia masih trauma dan ada rasa dongkol di hatinya teringat kejadian tadi malam, tapi jujur ia pun merasa kasihan padanya. Sebab, sebenarnya Yolanda pun tidak mengetahui tindakan tadi malam.
"Tuan," panggil Bik Tum lirih. "Kalau boleh saya menyarankan. Lebih baik Tuan temui Nyonya Yolanda saja. Karena, Nyonya pun terlihat sangat terpukul saat mengetahui kalau Tuan terluka tadi malam. Hanya saja beliau takut Tuan masih marah padanya. Jika Nyonya Yolanda datang menemui Tuan," kata Bik Tum sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Takut Ardian langsung naik pitam dan memarahinya.
"Iya, Bik. Saya pun berpikir begitu," balas Ardian mantap. Ia memang harus melakukan ini. Sebab, ia tidak mungkin berdiam diri di dalam ruangan ini terus menerus. Ia harus keluar dan suatu saat pasti akan berpapasan dengan Yolanda. Baik yang disengaja ataupun tidak.
Bik Tum pun tersenyum. Melihat Ardian berusaha turun dari tempat tidurnya. Lalu ia pun berjalan dengan tertatih menuju arah pintu keluar.
"Mau saya bantu, Tuan?" tawar Bik Tum.
"Enggak usah, Bik. Saya masih bisa sendiri kok. Bibik kalau mau ke dapur bawa saja makanan tadi. Saya mau makan di ruang makan saja," titah Ardian kemudian.
"Baik, Tuan. Saya ambil lagi,Tuan," ujar Bik Tum sambil kembali mengangkat makanan yang dibawanya tadi.
Sedang Ardian sudah tidak peduli lagi dengan nasib makanan itu. Kini dia hanya tengah berusaha berjalan ke arah ruang makan dengan sedikit tertatih. Walau sebenarnya ruangan itu berada tidak jauh dari tempatnya keluar tadi. Namun, dengan kondisinya yang seperti ini membuatnya terasa lebih jauh dari biasanya.
Saat Ardian melewati dapur ia tak menemukan siapapun disana. 'Mungkin mereka sedang membersihkan kamar mandi atas. Tempat yang semalam terjadi insiden yang cukup besar,' ucap Ardian dalam hati. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dengan menjikatkan kakinya yang luka.
Beberapa menit pun berlalu. Akhirnya Ardian pun sampai di ruang makan juga. Dan seperti apa yang Bik Tum bilang. Yolanda ternyata masih duduk di salah satu kursi di meja makan yang panjang itu. Sambil sibuk memainkan ponsel pintarnya. 'Entah apa yang sedang ia lakukan,' batin Ardian lagi.
"Ehemz…." Ardian pun berdehem untuk menarik perhatian Yolanda dari layar gawainya itu. Dan benar saja seperti perkiraannya. Yolanda pun akhirnya sadar kalau sang suami tercinta yang ia tunggu sejak tadi pagi sudah berada di ambang pintu masuk ruangan itu. Yolanda pun langsung beranjak.
"Mas," ujarnya dengan senyum yang mengembang sempurna. Ia pun bergegas mendekati Ardian yang masih berdiri mematung di tempat. "Bagaimana keadaan kamu? Kamu masih merasa sakit?" tanya Yolanda dengan penuh perhatian. 'Sungguh, dia benar-benar berbeda dengan perilakunya yang semalam. Padahal, sejujurnya aku masih belum bisa memaafkan perilakunya yang semalam. Tentang sikapnya, perkataannya. Yang benar-benar menjatuhkan harga diriku sebagai kepala rumah tangga di rumah ini,' batin Ardian sambil menatap lurus ke arah wanita yang sedang menjadi istrinya itu.
"Hei, kenapa kamu diam? Masih marah sama aku ya?" ucap Yolanda yang kemudian membuyarkan lamunan Ardian. "Maafin aku ya, Mas. Aku nggak sengaja buat kamu terluka," tambahnya sambil memeluk badan Ardian dengan mesra. "Maafin aku ya, Mas. Aku amat sangat menyesal," ujarnya berulang kali sambil mempererat pelukannya di pinggang Ardian.
Ardian pun menghirup nafas dalam-dalam. Lalu ia keluarkan perlahan. Ardian pun meraih kedua pundak Yolanda. Hingga akhirnya wanita itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ardian.
"Aku sudah memaafkan kamu, Yo," ujar Ardian dengan berat hati. Sebab, rasanya tak pantas juga kalau ia terus menerus marah pada Yolanda. Sedang Yolanda pun hanya korban.
"Beneran?!" tanya Yolanda setengah tidak percaya. Manik matanya yang bersinar-sinar pun menatap manik mata Ardian yang terlihat kebingungan.
"Iy… iya," balas Ardian terbata. Karena ia mengatakan hal yang bertentangan dengan kata hatinya.
"Makasih sayang. Aku sangat mencintaimu," ujar Yolanda sambil memeluk Ardian lagi dengan lebih erat. Ardian pun tak membalas, ia hanya tersenyum sekilas. "Ya udah. Kalau gitu kita sarapan bareng yuk! Aku nungguin kamu sejak tadi lho!" ujar Yolanda sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo," balas Ardian sambil berusaha mempertahan kan senyumnya. Lalu Yolanda pun memapah Ardian mendekati salah satu kursi yang mengelilingi meja makan itu. "Kamu mau makan sama apa? Nih, Bibik sudah memasakkan makanan yang enak-enak untuk kita," tawarnya sambil meraih piring yang sengaja ditangkupkan di atas meja. Yolanda pun mengambilkan nasi dan lauk pauk yang diminta oleh Ardian. 'Jika sedang bersikap baik seperti ini. Siapa yang menyangka dia memiliki sikap yang sangat keterlaluan seperti semalam,' batin Ardian lagi.