"Suara apalagi itu?!" tanya Ardian sambil menahan rasa perih yang mendera keningnya. Ia pun segera balik badan dan mengejar Yolanda keluar. Namun, saat ia balik badan dan hendak berjalan keluar. Ia terlalu tergesa-gesa hingga ia tak sadar ada pecahan kaca di depannya. Hingga akhirnya….
"Aw. Aw. Aw," ucap Ardian saat merasakan ada sesuatu hal menusuk kakinya. "Aw. Aduh. Aduh. Aduh," ucapnya terus merintih. Ardian pun langsung menyandarkan pundaknya ke dinding. Lalu salah satu tangannya ia gunakan untuk menahan kaki yang diangkat sampai pahanya. Nampaklah luka yang menganga lebar dengan darah yang mengalir deras. Bahkan kaca yang masih menancap di tengah-tengah lukanya. Ardian pun langsung mencabut pecahan kaca itu. "AWW!!!" teriaknya menahan rasa sakit yang teramat sangat. "Sshh…. Aduh. Aduhhh…," rintih Ardian sambil berjalan berjingkat sebelah. Darah pun menempel di permukaan lantai yang terlewati telapak kakinya yang terluka.
Sampai di luar kamar mandi. Ardian pun syok melihat semua baju-bajunya sudah berserakan di lantai.
"Apa-apaan lagi ini, Yo?!" tanya Ardian bingung. Yolanda pun menghentikan aktivitasnya.
"Apalagi?!!!" ucapnya sambil melirik Ardian dengan manik matanya yang seakan ingin menusuk mata Ardian. "Sebelum gue bangkrut. Gue pengen loe pergi dari sini. Pecundang!! Hahaha," tambahnya seakan tak sadar.
Ardian pun menatap Yolanda yang kini membuka balkon kamarnya lebar-lebar. Kemudian ia buang baju-baju Ardian semuanya tanpa terkecuali.
"Yo! Yo! Hentikan Yo. Kalau loe emang udah nggak pengen gue disini. Gue akan pergi sekarang. Tapi nggak begini juga Yo!" ujar Ardian sambil mendekati Yolanda yang masih kesetanan.
"Bagus! Bagus kalau elo sadar diri dan segera pergi dari sini!" kata Yolanda.
Dan sumpah. Inilah waktu yang paling terasa sangat menyedihkan bagi Ardian. Tidak ada orang yang pernah menjatuhkannya lebih dari ini. Apalagi orang itu adalah istrinya sendiri. Orang yang seharusnya bisa hormat dan patuh terhadapnya. Bahkan, di sepanjang pernikahannya dengan Saskia. Sekalipun wanita itu belum pernah menggunakan nada tinggi saat bicara. Apalagi merendahkannya seperti ini.
"Baik! Gue akan segera pergi!" ucap Ardian. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Ardian pun segera balik badan. Lalu dengan langkah yang tertatih ia pun berjalan keluar dari kamar itu.
Dengan kaki yang masih terasa perih. Ardian berjalan menuruni tangga. Tetes-tetes darah segar pun mengikuti setiap langkah kakinya. Kepalanya pun mulai terasa pusing. Mungkin karena sudah terlalu banyak darah yang mengucur keluar. Dan sampai di ujung tangga terbawah. Tak terasa tubuhnya hampir limbung. Untung saja ada tukang kebunnya, Kang Ujang yang langsung menangkapnya agar tidak jatuh ke lantai.
"Tuan. Tuan tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Kaki saya terkena pecahan kaca, Kang. Dan sudah banyak darah yang mengalir. Kepala saya terasa pusing," jelas Ardian lemah. Bibirnya pun kini terasa pucat.
"Aduh. Ini bahaya Tuan. Ayok ikut saya saja. Saya obati," ujar Kang Ujang sambil memapah Ardian ke arah dapur. Kang Ujang pun segera memasukkan Ardian ke dalam ruangan khusus yang mereka jadikan tempat untuk bersembunyi. Dan, di dalam sana sudah berkumpul para Asisten Rumah Tangga yang lainnya.
"Tuan! Tuan tidak apa-apa?" ucap orang-orang yang ada di sana sambil mengerubungi Ardian. Ardian pun hanya meringis lemah. Sedang salah satu diantaranya langsung menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Bahkan, menguncinya beberapa kali.
"Tuan, terkena pecahan kaca pada telapak kakinya. Dia terluka parah," jawab Kang Ujang.
"Aduh. Aduh. Kita harus segera obati," ucap yang lain panik. Mereka pun segera mencari kotak P3K. Ada juga yang langsung membuatkan teh manis hangat dan juga sebungkus roti bantal.
Ruangan ini memang bukan sembarangan ruangan. Ruangan yang memang di desain khusus untuk melindungi orang-orang yang ada di dalamnya. Dan dilengkapi dengan semua peralatan dan kebutuhan yang mungkin mereka butuhkan selama berada di dalam ruangan ini. Mulai dari dapur mini, kulkas dengan isi yang penuh, kotak pertolongan pertama dan juga kamar mandi memadai.
Ardian pun merasa seseorang tengah mengobati lukanya. Ia bahkan sedikit meringis saat lukanya dibersihkan dengan alkohol. Dan tak sengaja, matanya menangkap sosok Gabriel di sela-sela orang-orang itu. Ia tengah menatapnya dengan penuh rasa iba. Namun, tak lama kemudian Ardian sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Beberapa saat pun berlalu. Ardian yang tengah terbaring di atas tempat tidur pun akhirnya tersadar juga. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan ingatannya semalam.
"Tuan. Tuan Ardian sudah bangun?" ucap Kang Ujang. Ardian pun teringat sesuatu. Ia segera bangun dari tidurnya.
"Yang lain mana Kang? Kayaknya semalam di tempat ini banyak orang deh," kata Ardian bingung.
"Iya, Tuan. Semalam semua ART di rumah ini berkumpul di sini semuanya. Tapi, sekarang semua orang sudah kembali ke pekerjaan mereka masing-masing," jawab Mang Ujang.
"Lalu ini ruangan apa, Kang?" tanya Ardian lagi.
"Ini adalah ruangan khusus untuk kita bersembunyi kalau Nyonya sedang kumat," ujar Mang Ujang yang langsung membuat Ardian mengangkat punggungnya. Sehingga ia berada di posisi duduk.
"Kumat? Maksudnya?" tanya Ardian semakin bingung. Keningnya pun berkerut sempurna.
"Masak, Tuan lupa? Nyonya Yolanda kan punya kepribadian ganda," jawab Kang Ujang mantap.
"Hah?! Kepribadian ganda?" Ardian pun syok mendengar ucapan Kang Ujang barusan. Sungguh, ia tidak pernah menyangka. Wanita seperfect Yolanda harus mengalami sesuatu hal yang diluar nalar manusia itu.
"Iya. Dia itu sebenarnya baik. Tapi, sisi lainnya ia Nyonya itu memiliki sifat yang berbanding terbalik. Dia itu pemarah, suka melampiaskan kekesalannya dengan benda-benda di sekitarnya, kadang juga main tangan dan yang paling mengerikan. Dia suka mencari kesalahan orang lain. Untuk dimaki-maki dengan kata-k********r," jelas Kang Ujang. Ardian pun hanya melongo.
"Apa?!" ucap Ardian setengah berteriak.
"Iya, Tuan. Kalau Nyonya sedang tertekan, memiliki banyak pikiran yang akhirnya membuatnya pusing. Pasti langsung mengundang sisi lainnya. Dan begitulah Tuan. Dia bisa ngamuk, memecahkan banyak benda bahkan sampai melukai orang lain," ujar Kang Ujang panjang lebar. Ardian pun terdiam. Saking syoknya. Sungguh, ia tak pernah bayangkan akan memiliki istri yang setengah gila seperti itu. "Tapi, Tuan. Sebenarnya dia itu baik. Lihat saja! Dia juga bikin ruangan ini. Agar kami bisa berlindung saat dia kumat menjadi sisi lainnya."
Ardian pun mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ruangan ini memang tidak seperti ruangan persembunyian dadakan yang tidak berkonsep. Sebab, dari detail isinya terlihat memang sengaja dibuat.
"Kalau Tuan, sudah merasa lebih baik. Temui saja Nyonya di atas. Dia pasti sedang menunggu Tuan. Dengan ketakutan," kata Kang Ujang memberi saran. Ardian pun kembali menoleh ke arahnya. "Malu ya, Tuan. Ini kan bukan kali pertamanya Tuan diperlakukan seperti ini. Dulu yang paling parah. Pernahkan Tuan hampir mati karena kehabisan nafas. Saat ditutup bantal oleh Nyonya ketika tidur," tambahnya. Ardian pun semakin tak percaya dengan cerita Kang Ujang. 'Harusnya gue nggak pernah meminta ditukar nasib menjadi suaminya Yolanda,' sesal Ardian dalam hati.