"Hampir dua ratus juta?!" ulang Yolanda kaget.
"Iy… iya, Yo," balas Ardian yang terdengar bergetar. "Tapi, kalau kamu tidak mau membantu juga, tidak apa-apa Yo. Aku tau uang dua ratus juta itu bukanlah uang yang sedikit," lanjut Ardian sambil menundukkan kepalanya. Bukan karena ia sedang pura-pura ngambek, tapi Ardian mengatakannya memang dari dalam hati yang paling dalam. Ia cukup sadar kalau keluarganya sudah sering merepotkan Yolanda, entah sejak kapan.
Yolanda pun menyentuh pundak Ardian. Dan langsung membuat Ardian menoleh seketika.
"Kalau memang Mama kamu butuh. Kenapa enggak kita bantu, Mas?" ucapnya dengan lembut. Jelas saja ucapan Yolanda tadi membuat Ardian tersenyum sumringah.
"Beneran?" tanya Ardian setengah tak percaya.
"Iya, Mas," ujar Yolanda sambil menganggukkan kepalanya mantap. Lalu ia pun mengambil ponsel pintarnya yang berada di dalam tas wanita yang ia tenteng di tangannya. Lalu segera ia masuk aplikasi perbankan yang selalu menjadi alat untuk Yolanda mengelola keuangannya. Yolanda pun mengetik beberapa digit angka di fitur transfer uang. Lalu ia segera send ke rekening Mama Ardian yang memang sudah tersimpan di ponselnya. "Sudah, kan," tambah Yolanda sambil mengangkat kedua pundaknya bersamaan.
"Makasih, Yo. Kamu emang baik banget," kata Ardian sambil memeluk Yolanda.
Lalu ia pun langsung mengangkat tubuh Yolanda ke dalam gendongannya.
"Aduh. Kamu ini, Mas. Turunin aku ah. Malu kalau dilihat orang," ujar Yolanda.
"Biarin aja. Biar mereka semua ngiri sama kita," balas Ardian keukeuh. Kemudian membopongnya melewati tangga untuk menuju kamar tidur mereka berdua.
"Hahahaha." Keduanya pun hanyut dalam kebahagiaan.
Blakk!! Ardian pun menyenggol pintu dengan pundaknya. Lalu ia segera menutup pintu kamarnya dengan kaki kanannya. Lalu segera menidurkan wanita yang kini ada di dalam gendongannya itu dengan hati-hati.
Sejenak Ardian hanya memandangi wajah cantiknya yang terpoles make up. Lalu ia pun segera menggerakkan kepalanya mendekati kepala Yolanda. Berniat ingin segera meraih bibirnya yang menggoda. Namun, saat jarak mereka hanya beberapa centi lagi. Yolanda meletakkan telunjuknya di bibir Ardian. Menahan gerakan cowok itu.
"Aku mandi dulu ya. Udah bau. Risih deh rasanya," ujar Yolanda yang langsung membuat Ardian terlihat kecewa. Yolanda pun mendorong tubuh Ardian hingga ia menjauh. Dan tanpa menunggu komentar Ardian, wanita itu pun masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Sedang Ardian pun duduk di pinggiran tempat tidur sambil meredam hasratnya yang sempat naik ke ubun-ubun. Ia pun melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Lalu membuka jas yang sedari tadi ia kenakan. Ardian pun segera melepas kancing kemeja yang ada di kedua pergelangan tangannya. Kemudian ia melepas kedua sepatu pantofel beserta kaos kaki yang menyelimuti kakinya. Untung saja ia sering mengganti sepatu dan kaos kakinya, jadi baunya juga tidak banyak terasa. Setelah itu Ardian pun membaringkan punggung ke tempat tidurnya yang empuk.
Baru beberapa saat ia mencoba memejamkan matanya untuk melepas penat. Tiba-tiba…. Brukk! Pyar! Terdengar suara benda dibanting dan ada juga suara benda yang pecah. Ardian pun langsung membuka matanya dengan cepat.
"Suara apa itu?" tanyanya pada diri. Sambil mengangkat punggungnya hingga berada di posisi duduk.
Pyar! Pyar! Pyar! Berulang kali suara benda pecah itu semakin terdengar jelas dan beruntun. Ardian pun langsung beranjak dan mendekati sumber suara. Setelah ditelusuri ternyata bunyi itu berasal dari dalam kamar mandi.
"Yo! Yo! Kamu kenapa Yo! Buka pintunya!" teriak Ardian sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Namun, tetap saja tidak ada respon. Yolanda malah terdengar semakin liar di dalam. Akhirnya Ardian pun mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.
Blak! Pintu pun terbuka dan menampakan sosok Yolanda yang sedang memegangi vas bunga. Sedang di sekitarnya sudah berserakan pecahan kaca dari berbagai benda Mulai dari pecahan cermin datar yang semula menempel di dinding, pecahan kaca pembatas kamar mandi dan benda-benda keramik lainnya semua berserakan dengan alat-alat mandi lainnya.
"Yo. Kamu kenapa?! Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?!" tanya Ardian bingung. Yolanda pun hanya terdiam. Ia malah menundukkan kepalanya sambil mengatur nafasnya yang terlihat berat.
"Yo! Kenapa kamu diam saja, Yo. Yo!" panggil Ardian sambil berjalan mendekati wanita itu dengan langkah yang hati-hati.
"Stop!!!" Pyar! Yolanda pun berteriak sambil membanting vas bunga itu ke arah Ardian. Untung saja dia bisa mengelak jadi benda keramik itu tidak sempat mengenai badannya. "Nggak usah deketin gue! Gue nggak butuh elo. Pecundang!" bentak Yolanda dengan kasar.
"Yo. Kamu kenapa,Yo?" tanya Ardian bingung. Sambil berjalan mendekati Yolanda.
"Jangan mendekat! Gue benci sama cowok kere yang cuma numpang hidup enak di rumah gue!" ujar Yolanda yang langsung menghentikan langkahnya. Deg! Jantung Ardian pun seakan tertusuk belati berkarat yang menghujamnya berulang kali. Saat mendengar ucapan Yolanda barusan. Ingatannya pun melayang pada saat pesta ulang tahun pernikahannya beberapa hari yang lalu. Ketika Yolanda mempermainkan adik dan Mamanya di depan semua tamu undangan.
"Loe dan keluarga loe. Hanya jadi benalu dalam hidup gue. Sejak dulu, nggak elo, adik loe atau kedua orang tua loe hanya bisa meminta dan terus meminta uang yang tidak sedikit. Apa niat loe menikahi gue hanya untuk memanfaatkan kekayaan gue?! Iya?" ucap Yolanda tadi. Walaupun hampir semua ucapan Yolanda benar, tapi emosi Ardian seketika meledak.
"Gue tau uang yang barusan loe kirim untuk nyokap gue itu nggak sedikit, Yo. Tapi, bukan seperti ini juga loe bisa marah-marah sama gue. Harusnya kalau loe emang nggak ikhlas untuk memberi uang itu. Mending loe nggak perlu transfer berapapun ke nyokap gue," balas Ardian dengan nada tak kalah tinggi.
"Apa loe bilang?! Jadi loe mau nyalahin gue? Iya?" sahut Yolanda tak mau kalah. "Sudah berani loe sekarang. Hah?!" tambahnya sambil meraih botol shampoo yang sudah tergolek pasrah di lantai kamar mandi. Dan tanpa di sangka botol itu pun dilayangkan ke arah Ardian berdiri. Pletak! Tak ayal botol itu pun langsung mengenai ujung kepala Ardian.
"Aduh," rintihnya sambil memegangi keningnya yang berdarah.
"Hahaha." Bukannya menolong apalagi mengobati Ardian. Yolanda malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha. Rasain loe. Hahaha," ujarnya di antara tawanya yang terus menerus. Kemudian Yolanda pun melirik ke arah pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Lalu ia segera berlari keluar.
Yolanda pun berhenti tepat di depan lemari berukuran besar yang menyimpan baju-baju Ardian. Segera ia membukanya lalu mengeluarkan semua baju-baju Ardian tanpa terkecuali. Tak hanya itu ia pun merobek beberapa baju Ardian yang tidak bersalah itu.
Sreeet. Sreeet. Sreeet. Bunyi yang kemudian segera dicurigai oleh Ardian.
"Suara apalagi itu?!" tanya Ardian sambil menahan rasa perih yang mendera keningnya.