Sambil berbisik-bisik ekor mata Jeng Mira pun menangkap sosok Mama Ardian berlari dengan jarak yang sudah cukup jauh.
"Hei. Dia kabur!!" teriaknya sambil menunjuk ke arah Mama Ardian yang sudah semakin jauh.
"Wah, ternyata kita ditipu. Kita teriaki maling aja biar dia ditangkep masa," kata Jeng Ratih.
"Bener juga. Maling…. Maling…. Maling…." teriak keduanya sambil berlari mengejar yang Mama Ardian yang sudah ngacir duluan. Seketika semua orang yang mendengarnya pun langsung berkumpul mendekati kedua wanita sosialita itu.
"Ada apa Bu? Ada apa?" tanya seorang tukang parkir yang terlihat panik berjalan ke mereka.
"Wanita itu, Pak. Dia sudah mencuri ponsel saya lalu dibawa lari," jawab Jeng Ratih .
"Iya, betul Pak. Saya saksi matanya," tambah Jeng Mira.
"Oh, wanita itu," sahut si petugas parkir itu. "Maling…. Maling…. Maling…." teriaknya.
Semua orang di sekitar sana pun langsung mengejarnya Mama Ardian yang kesulitan berlari. Akibat high heel yang dipakainya justru mempersulit langkahnya sendiri. 'Nggak. Nggak. Aku nggak boleh ketangkap. Aku bisa babak belur dihakimi warga kalau sampai tertangkap,' batin Mama Ardian sambil terus berusaha berlari lebih kencang. Walaupun hasilnya sama saja.
Hosh. Hosh. Hosh. Nafas Mama Ardian pun terengah-engah. Rasanya ia ingin berhenti berlari. Namun sayang, masa yang mengejarnya semakin kesini semakin banyak saja. Maklum, orang-orang yang melihat Mama Ardian sedang dikejar dan diteriaki maling langsung ikutan mengejar. Sehingga, jarak mereka pun semakin dekat saja. Sedang tenaga Mama Ardian semakin menipis.
"Mama!!!" teriak Ardian dari dalam mobilnya. Dewi Fortuna memang sudah merasa iba melihat Mama Ardian yang sebenarnya tidak bersalah harus dikejar masa seperti itu. Makanya, dengan sengaja ia mempertemukannya dengan si Ardian, anaknya.
Seperti mendapat secercah harapan Mama Ardian pun segera berlari ke arah mobil anaknya itu dengan sisa-sisa tenaganya. Hosh. Hosh. Hosh. Nafasnya yang tersengal sudah tidak ia pikirkan lagi. Peluh di keningnya yang bercucuran pun ia biarkan begitu saja. Di pikiran Mama Ardian sekarang hanyalah bagaimana ia cepat sampai di dalam mobil anaknya dan segera kabur dari tempat ini.
Flashback end.
"Kok bisa sih Mama tertipu seperti itu, Ma? Uang dua ratus juta kan nggak sedikit, Ma?" ucap Ardian kesal. Ia pun sampai memukul setir mobilnya lalu membuang wajahnya keluar jendela. Saking marahnya.
"Iya, Ar. Mama juga merasa Mama bodoh sekali. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Hiks. Hiks. Hiks," ujar Mama Ardian sambil memukul kepalanya sendiri beberapa kali. Melihat wanita yang paling berarti di hidupnya menderita seperti ini, Ardian pun merasa kasihan. Ia pun menoleh ke arah Mamanya. Lalu menggenggam kedua tangan Mamanya agar menghentikan sikap bodohnya itu.
"Cukup, Ma!" kata Ardian setengah berteriak. Dan langsung membuat Mamanya menghentikan gerakannya.
"Hiks. Hiks. Hiks." Hanya tangisnya yang masih sulit ia hentikan. "Kamu mau bantuin Mama kan, Ar?" tanya Mamanya dengan nada yang masih sesegukan. Ardian pun terdiam sesaat. 'Minta uang lagi sama Yolanda. Baru saja kemarin aku memakai uang perusahaan sebesar lima puluh juta. Sekarang, malah lebih besar lagi,' ucap Ardian bingung. Sebab, mau bagaimana pun perusahaan itu bukan miliknya. Ia memang berwajib mengatur perusahaan, tapi bukan berarti dia menjadi leluasa untuk memakai uang perusahaan seenak jidatnya sendiri.
"Ar," panggil Mama Ardian yang langsung membuyarkan lamunan Ardian. Ardian pun menoleh dengan perasaan yang berkecamuk.
"Kenapa, Mah?" tanya Ardian dengan nada tak bersemangat.
"Kamu mau kan menolong, Mama?" tanya Mama Ardian dengan nada memelas. Ardian pun masih terdiam, tapi beberapa saat kemudian kepalanya mengangguk lemah.
"Iya, Ma. Nanti aku ngomong sama Yolanda," kata Ardian akhirnya.
"Nah, gitu dong. Itu baru anak Mama," balas Mama sambil mengusap kepala anak sulungnya itu.
@@@@@@
Chit…. Ardian menghentikan laju mobilnya di parkiran rumah Yolanda. Blak! Ia pun menutup pintu mobilnya. Lalu Ardian segera berjalan ke dalam rumahnya. Baru berjalan beberapa langkah, mobil Yolanda pun datang.
Tin…. Tin…. Klaksonnya saat melihat Ardian masih berdiri di sana. Ardian pun mengangkat tangannya untuk membalas.
"Kok baru pulang?" tanya Ardian setelah istrinya itu berjalan ke arahnya. Tangannya pun ia rentangkan untuk menyambut wanita itu masuk ke dalam pelukannya.
"Iya. Tadi ketemu temen di jalan. Jadi, ngobrol dulu deh. Kamu sendiri, kok baru pulang, Mas?" jawab Yolanda sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Ardian.
"Aku juga tadi ketemu Mama di jalan," ucap Ardian. Kemudian mereka pun terdiam. Sebenarnya, Ardian ingin segera cerita dengan Yolanda tentang nasib Mama tadi sore. Tapi, entah mengapa ia masih merasa enggan. 'Sekarang kan dia baru pulang. Nggak enak juga kalau harus ngomongin uang sekarang. Nunggu saat dia santai aja deh,' batin Ardian sambil berjalan beriringan dengan Yolanda.
"Gimana presentasi dengan klien tadi?" tanya Yolanda. Namun, sampai beberapa saat kemudian Ardian tetap tak menjawab pertanyaannya. Yolanda pun merasa penasaran. Lalu memiringkan kepalanya untuk menangkap wajah Ardian yang sepertinya terlihat bingung. "Mas," panggil Yolanda sambil menepuk pinggang Ardian pelan. Seketika Ardian pun langsung menoleh ke arahnya.
"Oh, iya. Kenapa Yo?" tanya Ardian balik dengan gelagapan.
"Kamu ada yang lagi dipikirin ya?" tanya Yolanda dengan pelan. Ardian pun tak langsung menjawab. Ia bingung harus jawab apa. "Mas. Kalau ada apa-apa bicara saja sama aku. Kan aku istri Mas. Bukan orang lain," ucap Yolanda lalu berdiri tepat di depan Ardian yang masih terdiam. Kepalanya pun menunduk, seperti menyembunyikan sesuatu. Dan saat Yolanda menatap manik mata elangnya, Ardian pun membalasnya dengan tatapan yang tak menentu. "Hem. Bilang saja, Mas. Aku tungguin lho," kata Yolanda lagi. Senyum manisnya pun terpancar begitu meluluhkan hati setiap orang yang melihatnya.
"Mama…." Ucapan Ardian terpotong. Seakan dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Iya? Mama kenapa, Mas?" tanya Yolanda semakin penasaran.
"Mama lagi kena masalah, Yo," ucapnya akhirnya meluncur juga dari mulutnya itu.
"Masalah? Masalah apa?"
"Mama kena tipu perhiasan berlian ratusan juta," lanjut Ardian merasa sudah lebih ringan saat mengatakannya.
"Ratusan juta? Astaga? Kasihan sekali?" sahut Yolanda sambil menutup mulutnya yang sempat menganga.
"Dan ternyata semua uang yang ia belikan berlian itu bukanlah uangnya. Tapi, uang teman-teman arisannya," kata Ardian lirih. Takut Yolanda akan segera meledak emosinya.
"Jadi?" tanya Yolanda dengan nada yang nggak enak didengar.
"Jadi, Mama harus mengganti semua kerugian mereka," jawab Ardian nyaris tak terdengar.
"Apa? Dari mana Mama dapat uang sebanyak itu?" tanya Yolanda lagi.
"Itu sebabnya aku bilang sama kamu. Aku berharap kamu mau ya tolongin Mama," ucap Ardian pelan.
"Emang kerugian mereka semua berapa?"
"Hampir dua ratus juta," jawab Ardian semakin tak enak rasanya.
"Hampir dua ratus juta?!" ulang Yolanda kaget.