Aruna kembali ke meja kerjanya dengan pikiran yang tidak sepenuhnya berada di tempat.
Pertemuan singkat dengan Damian di pantri masih meninggalkan getar aneh di dadanya. Bukan getar cinta. Bukan pula rindu yang meledak-ledak. Lebih seperti suara pintu tua yang terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan gelap yang selama ini ia kunci rapat.
Damian masih sama. Tenang. Hangat. Tidak memaksa. Dan justru karena itu, Aruna merasa semakin tidak nyaman.
Orang baik kadang tidak melukai dengan sengaja. Namun keberadaannya bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk menusuk lebih dalam.
Aruna menarik kursinya, duduk, lalu membuka kembali catatan sistem kerja yang tadi dijelaskan Fitri. Ia memaksa matanya membaca baris demi baris. Folder proyek aktif. Kode dokumen. Status persetujuan. Dashboard internal. Semua harus ia pahami.
Ia tidak boleh terus memikirkan Damian. Ia tidak boleh terus mengingat Aray. Hari ini adalah hari pertama kerja, bukan hari pertama membuka kembali luka lama.
“Run, kamu baik-baik saja?”
Suara Nena membuat Aruna mendongak. Perempuan itu berdiri di sisi mejanya sambil memegang gelas plastik berisi es kopi. Wajahnya yang biasanya penuh ekspresi kini tampak sedikit hati-hati.
Aruna cepat-cepat tersenyum. “Iya. Kenapa?”
“Wajahmu kayak orang habis lihat hantu masa lalu.”
Jantung Aruna mencelos.
Nena langsung meringis. “Oke, maaf. Pemilihan katanya buruk.”
Fitri yang duduk di meja seberang menoleh sebentar. “Nena.”
“Iya, iya. Aku diam.” Nena mengangkat kedua tangan, lalu menarik kursi di samping Aruna. “Tapi serius, kalau kamu pusing gara-gara sistem, itu normal. Kalau pusing gara-gara orang, itu juga normal. Bedanya, sistem bisa dipelajari. Orang kadang tidak.”
Aruna tertawa kecil, meski tidak sepenuhnya lepas. “Aku hanya masih menyesuaikan diri.”
“Bagus. Itu jawaban aman.”
Fitri mendekat sambil membawa tablet. “Kita lanjutkan dari alur dokumen vendor. Setelah itu kamu cukup observasi sampai briefing sore.”
Aruna mengangguk. “Baik.”
Ia mulai kembali fokus ketika suasana ruangan mendadak berubah.
Awalnya hanya satu orang yang berdiri dan merapikan meja. Lalu yang lain ikut menata tumpukan dokumen. Seorang staf di dekat printer membersihkan sisa kertas. Dua orang di ujung ruangan tampak tergesa-gesa mengganti file presentasi di layar besar. Bahkan suara obrolan yang tadi cukup santai berubah menjadi bisik-bisik tegang.
Aruna melihat sekeliling dengan bingung.
“Ada apa?” tanyanya.
Nena menyesap kopinya, lalu berkata dengan nada dramatis, “Badai akan datang.”
Aruna menegang. “Badai?”
“CEO.”
Satu kata itu membuat tangan Aruna berhenti di atas buku catatan.
Fitri tampak lebih tenang. “Pak CEO kembali ke kantor hari ini setelah dinas luar negeri sebulan. Biasanya kalau beliau datang ke lantai operasional, semua divisi langsung mendadak rapi.”
“Biasanya memang jarang ke sini?” tanya Aruna.
“Jarang,” jawab Nena. “Beliau lebih sering di lantai eksekutif. Atau meeting di luar. Atau muncul tiba-tiba seperti pemeriksa ujian nasional.”
Aruna mencoba tersenyum. “Seseram itu?”
Nena menatapnya serius. “Lebih seram. Ujian nasional setidaknya jadwalnya jelas.”
Fitri membuka tablet dan menunjukkan jadwal internal. “Hari ini ada penyambutan manajemen. Tidak semua staf ikut langsung, tapi beberapa perwakilan divisi akan turun. Sisanya tetap siaga kalau ada pengecekan mendadak.”
“Pengecekan?” ulang Aruna.
“Dokumen, progres proyek, laporan mingguan,” jelas Fitri. “Beliau perfeksionis.”
“Perfeksionis level membuat orang mempertanyakan pilihan hidup,” tambah Nena.
Aruna menarik napas pelan. CEO. Lagi-lagi kata itu muncul.
Sejak pagi, nama itu seperti bayangan yang mengikuti langkahnya. Ia sudah berusaha mengabaikan, tetapi semakin lama, semakin banyak orang membicarakannya.
Di meja Dona, beberapa staf berkumpul sambil berbisik. Dona tampak sedang merapikan lipstiknya melalui kaca kecil. Ketika sadar Aruna melihat, ia tersenyum tipis.
“Staf baru juga harus siap,” kata Dona cukup keras. “Pak CEO tidak peduli kamu baru sehari atau sudah lima tahun. Kalau salah, ya salah.”
Aruna tidak menjawab.
Dona melanjutkan sambil menutup kaca kecilnya. “Apalagi kalau ada yang merasa paling benar sejak pagi. Di sini, ceramah moral tidak berlaku kalau berhadapan dengan orang yang benar-benar punya kuasa.”
Nena memutar bola mata. “Dona, kalau mau kasih motivasi, coba yang tidak terdengar seperti ancaman low budget.”
Beberapa staf menahan tawa.
Dona melirik Nena tajam. “Aku cuma mengingatkan.”
“Terima kasih. Kami semua sangat tercerahkan,” balas Nena.
Fitri menyentuh meja pelan, memberi tanda agar Nena tidak memperpanjang. Lalu ia menatap Aruna.
“Kamu tidak perlu panik. Hari pertama biasanya tidak langsung berurusan dengan CEO.”
Aruna mengangguk. “Iya. Aku paham.”
Namun ia tidak sepenuhnya paham kenapa dadanya terasa berat.
Di sisi lain ruangan, seorang staf pria berkata kepada temannya, “Serius, kalau Pak Mahendra sampai turun langsung, laporan minggu ini harus benar-benar bersih.”
Aruna membeku. Pena di tangannya berhenti bergerak.
Pak Mahendra. Nama itu meluncur begitu saja di udara, tetapi sampai di telinga Aruna seperti suara kaca pecah.
Mahendra. Ia mencoba menahan ekspresinya, tetapi tubuhnya mengkhianati. Jemarinya mengerat pada pena. Napasnya tertahan sepersekian detik. Fitri menyadarinya.
“Kamu kenapa?” tanya Fitri pelan.
Aruna cepat-cepat menunduk pada catatannya. “Tidak apa-apa.”
Nena ikut menoleh. “Wajahmu mendadak pucat.”
“Aku cuma… kaget. Banyak sekali yang harus diperhatikan.”
“Tenang,” kata Nena. “Pak Mahendra memang menakutkan menurut legenda kantor, tapi beliau tidak muncul sambil bawa pedang.”
Aruna memaksa tertawa kecil. “Mahendra itu nama CEO?”
Nena mengangguk. “Iya. Kami biasa menyebutnya Pak Mahendra. Kadang orang-orang eksekutif menyebut Pak A.”
Pak A?
Dunia di sekitar Aruna terasa mengecil. Ia menunduk lebih dalam, berusaha menyembunyikan perubahan wajahnya.
Aray dulu dikenal di kampus sebagai Aray Mahendra. Hanya itu. Aray Mahendra.
Mahasiswa sederhana yang datang dengan motor tua, jaket lusuh, dan senyum yang selalu berhasil membuat hari paling berat terasa lebih ringan. Aray yang tidak pernah terlihat seperti pewaris apa pun. Aray yang pernah menertawakan dirinya sendiri karena hanya mampu membeli roti sobek untuk merayakan nilai ujian Aruna yang bagus. Aray yang pernah berkata bahwa ia ingin membangun hidup dari nol.
Bukan CEO.
Bukan pria lantai eksekutif.
Bukan seseorang yang membuat satu kantor gemetar hanya karena akan muncul.
Aruna menelan ludah.
Tidak mungkin. Mahendra nama umum. Pak A bisa siapa saja. CEO Aksara Nexus Teknologi pasti bukan Aray. Tidak boleh Aray.
“Run?” panggil Nena.
Aruna mengerjap. “Iya?”
“Kamu kenal orang bernama Mahendra?”
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi menghantam terlalu dekat.
Aruna menggeleng cepat. “Tidak. Maksudku… mungkin pernah dengar nama itu. Nama umum, kan?”
“Umum banget,” jawab Nena santai. “Di sekolahku dulu ada tiga Mahendra. Satu tukang bolos, satu ketua OSIS, satu mantanku yang gagal jadi manusia dewasa.”
Fitri menatapnya datar. “Informasi terakhir tidak diperlukan.”
“Penting untuk konteks bahwa nama Mahendra tidak otomatis istimewa.” Nena lalu tersenyum pada Aruna. “Jadi jangan pucat cuma karena nama.”
Aruna mencoba percaya. Ia benar-benar mencoba.
Fitri menambahkan, “CEO kita jarang tampil di media internal. Beberapa staf baru bahkan belum pernah lihat langsung. Tapi nama Mahendra memang dipakai dalam komunikasi kantor.”
“Nama lengkapnya?” tanya Aruna, lalu langsung menyesal karena terdengar terlalu ingin tahu.
Fitri menatapnya sejenak. “Aku tidak terlalu hafal dokumen legal perusahaan. Biasanya tertulis inisial dan nama belakang di jadwal manajemen.”
Nena menyahut, “Pokoknya Pak Mahendra. Tampan, muda, dingin, susah disentuh, dan sepertinya tidak berasal dari dunia manusia biasa.”
Aruna menatap Nena.
Nena mengangkat bahu. “Itu kata orang-orang. Aku pribadi lebih takut sama deadline.”
Dona yang sejak tadi mendengar percakapan itu tersenyum dari mejanya.
“Staf baru penasaran sekali dengan CEO,” ucapnya. “Hati-hati, Aruna. Di sini banyak yang ingin dilirik Pak Mahendra, tapi kebanyakan cuma berakhir dilihat karena salah kerja.”
Aruna menoleh pelan. “Saya hanya bertanya karena belum tahu struktur perusahaan.”
“Tentu.” Dona menopang dagu. “Semua hal selalu punya alasan yang terdengar baik.”
Nena langsung membuka mulut, tetapi Aruna mendahului.
“Terima kasih masukannya, Mbak Dona. Saya akan fokus pada pekerjaan.”
Jawaban tenang itu membuat Dona terdiam sesaat.
Fitri menatap Aruna sekilas. Ada kilatan kecil di matanya, seperti persetujuan diam-diam.
Nena tersenyum bangga. “Nah, itu baru karyawan baru favoritku.”
Aruna kembali menunduk pada catatannya, meski jantungnya masih belum tenang. Ia memaksa diri mengikuti penjelasan Fitri. Alur persetujuan dokumen. Kode vendor. Format revisi. Dashboard internal. Namun di sela semua itu, satu nama terus mengganggu pikirannya.
Mahendra.
Pak A.
CEO muda.
Kembali dari luar negeri.
Tertutup.
Perfeksionis.
Dingin.
Semua potongan itu tidak seharusnya ia hubungkan dengan Aray. Namun luka lama punya cara buruk untuk menyusun ketakutan dari serpihan paling kecil.
Menjelang sore, aktivitas di divisi semakin sibuk. Beberapa staf diminta menyiapkan dokumen untuk briefing manajemen. Nena pergi ke printer, Fitri mendapat panggilan dari manajer, dan Aruna diminta membantu mengambil berkas briefing tambahan di dekat ruang meeting utama.
“Bisa ambil map biru di rak koridor meeting?” tanya Fitri. “Labelnya Project Briefing Q3.”
“Bisa,” jawab Aruna cepat.
Ia senang diberi tugas kecil yang jelas. Setidaknya itu membuatnya bergerak dan berhenti memikirkan hal-hal yang belum pasti.
Aruna berdiri, merapikan blazer, lalu berjalan keluar dari ruangan divisi. Koridor kaca di luar terasa lebih sunyi dibanding area kerja. Dari sisi jendela, kota terlihat terbentang jauh di bawah sana. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat seperti barisan rahasia yang tidak pernah selesai dibaca.
Aruna mengikuti petunjuk arah menuju ruang meeting utama.
Di sepanjang koridor, beberapa staf berlalu-lalang sambil membawa map, laptop, dan kabel presentasi. Semua tampak sibuk. Tidak ada yang memperhatikan Aruna terlalu lama.
Ia berhenti di depan rak dokumen dekat pintu meeting. Matanya mencari label yang disebut Fitri.
Project Briefing Q3. Ada disitu.
Aruna mengambil map biru itu, memeriksa sebentar, lalu hendak kembali. Namun langkahnya tertahan saat ia melewati papan jadwal digital di dinding dekat ruang meeting utama.
Layar itu menampilkan agenda manajemen hari itu. Awalnya Aruna hanya melirik sepintas.
Internal Review.
Vendor Alignment.
Executive Briefing.
Lalu matanya berhenti pada baris paling atas.
09.00 — Welcome Back, Mr. A. Mahendra
Aruna tidak bergerak. Udara di koridor terasa mendadak menipis. Ia membaca tulisan itu sekali. Lalu sekali lagi.
Mr. A. Mahendra.
Jari-jarinya mencengkeram map biru yang ia pegang. Sudut map tertekuk di bawah tekanan tangannya.
Tidak. Itu masih bisa siapa saja. A bisa berarti Andra. Arya. Adrian. Abimanyu. Apa saja. Mahendra juga bisa nama keluarga siapa pun.
Namun semakin keras ia mencoba membantah, semakin jelas satu nama muncul dari dasar ingatannya.
Aray. Aray Mahendra. Pria yang dulu pernah mencintainya dengan seluruh hangat yang ia punya. Pria yang kemudian meninggalkannya dengan sumpah paling dingin.
Suatu saat nanti, saat kamu tahu siapa aku yang sebenarnya… aku pastikan kamu akan sangat menyesal.
Aruna memejamkan mata.
Tidak mungkin. Tidak mungkin semesta sekejam itu.
“Permisi, Mbak?”
Suara staf yang hendak lewat membuat Aruna tersadar. Ia cepat-cepat bergeser dari depan papan jadwal.
“Maaf,” ucapnya pelan.
Staf itu berlalu, tetapi Aruna masih berdiri beberapa detik di tempat yang sama.
Tangannya dingin. Dadanya sesak. Ia menatap sekali lagi tulisan di layar digital itu, berharap huruf-hurufnya berubah jika ia cukup lama melihat.
Namun tulisan itu tetap sama.
Welcome Back, Mr. A. Mahendra
Dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Aksara Nexus Teknologi, Aruna merasa bahwa hari pertamanya bukan sekadar retak.
Hari itu mungkin sedang membawanya kembali pada seseorang yang paling ingin ia hindari.