“Aruna?”
Suara itu membuat seluruh tubuh Aruna membeku.
Sendok yang masih ia pegang berhenti di udara. Untuk sesaat, suara-suara di pantri seperti menjauh. Tawa karyawan, bunyi gelas diletakkan di meja, derit kursi, bahkan suara Nena yang tadi masih bercanda, semuanya tenggelam di balik degup jantung Aruna sendiri.
Ia mengangkat wajah perlahan.
Di ambang pintu pantri, Damian Raditya Pradipta berdiri dengan ekspresi tidak percaya.
Pria itu tampak berbeda dari lima tahun lalu. Wajahnya lebih matang, rahangnya lebih tegas, dan tubuhnya terlihat lebih tegap dalam kemeja biru muda yang rapi. Lanyard kantor menggantung di lehernya. Rambutnya tertata sederhana, tetapi kesan tenang yang dulu melekat padanya masih sama.
Yang paling tidak berubah adalah tatapannya.
Hangat. Lembut. Dan kini, dipenuhi keterkejutan.
“Aruna,” ulang Damian pelan, seolah memastikan bahwa perempuan di hadapannya bukan bayangan dari masa lalu. “Kamu… benar-benar Aruna?”
Beberapa karyawan di pantri langsung menoleh. Ada yang saling pandang, ada pula yang tampak penasaran. Damian bukan tipe pria yang mudah menunjukkan reaksi berlebihan. Melihatnya terpaku hanya karena seorang karyawan baru jelas membuat suasana berubah.
Nena menatap Aruna, lalu menatap Damian. Matanya melebar seperti menemukan gosip baru yang terlalu besar untuk langsung dikomentari.
Fitri tidak bicara, tetapi pandangannya tajam. Ia jelas menyadari sesuatu.
Aruna menurunkan sendoknya perlahan. Tangannya terasa dingin.
“Hai, Damian,” ucapnya akhirnya.
Suaranya terdengar lebih kecil daripada yang ia harapkan.
Damian masih berdiri di tempatnya selama beberapa detik sebelum melangkah mendekat. Ia tampak ingin tersenyum, tetapi ada banyak pertanyaan yang menahan senyum itu agar tidak sepenuhnya muncul.
“Kamu kerja di sini?” tanyanya.
Aruna mengangguk pelan. “Hari ini hari pertamaku.”
“Hari pertama?” Damian mengulang, lalu tertawa kecil, lebih mirip embusan napas lega. “Aku benar-benar tidak menyangka.”
“Dunia sempit,” kata Aruna, memaksakan senyum.
Damian menatapnya lebih lama. “Terlalu sempit untuk kebetulan seperti ini.”
Kalimat itu membuat d**a Aruna menegang.
Ia tahu Damian tidak bermaksud membuatnya tidak nyaman. Damian selalu seperti itu—jujur, tenang, tidak suka berpura-pura. Namun di tempat ini, di hadapan banyak mata, kejujuran terasa berbahaya.
Aruna segera melirik sekeliling.
Benar saja. Beberapa staf masih memperhatikan mereka. Ada yang pura-pura minum, tetapi matanya mencuri pandang. Ada yang menunduk pada ponsel, tetapi telinganya jelas terpasang. Bahkan Dona, yang duduk di meja agak jauh bersama dua staf perempuan, kini menatap mereka dengan perhatian penuh.
Tatapan Dona berubah. Dari kesal menjadi penasaran. Lalu perlahan, menjadi waspada.
Aruna merasakan tengkuknya meremang. Ia tidak boleh membuat keadaan semakin rumit.
“Damian,” katanya pelan, berusaha terdengar biasa saja, “aku masih jam istirahat dengan teman divisi.”
Damian menangkap maksud itu. Ia menoleh pada Nena dan Fitri, lalu tersenyum sopan.
“Maaf, saya mengganggu.”
Nena langsung duduk tegak. “Tidak, Kak Damian. Sama sekali tidak mengganggu. Kami cuma… sedang makan. Dan sedikit terkejut.”
“Nena,” tegur Fitri pelan.
“Apa? Aku jujur.”
Damian tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”
Fitri mengangguk sopan. “Pak Damian.”
“Fitri...” Damian membalas anggukan itu dengan ramah, lalu kembali menatap Aruna. “Aku hanya kaget. Sudah lama sekali.”
Aruna menggenggam botol air mineral di dekat tangannya. “Iya. Sudah lama.”
Lima tahun.
Lima tahun sejak hari kelulusan. Sejak taman kampus basah oleh rintik hujan. Sejak Aray menatapnya dengan luka yang berubah menjadi dendam. Sejak nama Damian menjadi salah satu alasan yang dipakai Aray untuk menuduhnya.
Karena Damian?
Aruna menelan ludah. Tidak. Jangan ingat itu sekarang.
Damian menarik kursi kosong di ujung meja, tetapi tidak langsung duduk. Ia menatap Aruna seolah meminta izin.
“Boleh?”
Aruna ragu sesaat, tetapi menolak akan membuat suasana semakin aneh.
“Silakan.”
Damian duduk dengan jarak yang sopan. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Sikapnya masih sama seperti dulu. Ia selalu tahu cara hadir tanpa membuat orang merasa terpojok.
“Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Damian pelan. “Setelah wisuda, kamu seperti menghilang.”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi bagi Aruna, jawabannya terlalu panjang.
Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa ia sengaja menghilang karena tidak sanggup menghadapi semua yang terjadi. Tidak mungkin berkata bahwa ia mengganti nomor, menjauh dari beberapa teman kampus, dan menutup pintu pada siapa pun yang bisa menyeretnya kembali pada nama Aray.
“Aku… sibuk dengan keluarga,” jawabnya. “Banyak hal terjadi.”
Damian menatapnya. Ada keraguan di matanya, seolah ia tahu jawaban itu hanya lapisan paling luar dari kebenaran.
Namun ia tidak mendesak.
“Aku sempat mencarimu,” katanya.
Aruna menunduk.
Rasa bersalah bergerak pelan di dadanya. Damian tidak pernah jahat padanya. Pria itu tidak pernah meminta apa pun, tidak pernah memaksakan perasaan, tidak pernah memanfaatkan kedekatan mereka. Justru karena ia terlalu baik, namanya dulu mudah dipakai orang lain untuk membangun fitnah yang tampak meyakinkan.
“Maaf,” bisik Aruna.
Damian menggeleng pelan. “Kamu tidak perlu minta maaf. Aku hanya… khawatir.”
Kata itu membuat Aruna semakin sulit bernapas.
Khawatir.
Dulu, Damian juga menatapnya seperti itu pada hari wisuda. Ketika wajah Aruna pucat dan matanya sembap, Damian sempat bertanya apakah ia butuh bantuan. Aruna menolak. Ia terlalu takut. Terlalu terpojok. Terlalu ingin melindungi semua orang dengan caranya sendiri, meski akhirnya justru menghancurkan dirinya.
Nena yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdeham kecil.
“Jadi… kalian teman kampus?”
Aruna langsung menoleh. “Iya.”
Damian menatap Aruna sekilas, lalu mengangguk. “Kami satu kampus. Dulu beberapa kali terlibat kegiatan akademik yang sama.”
“Beberapa kali?” Nena mengangkat alis. “Kak Damian sampai langsung mengenali setelah lima tahun. Berarti bukan cuma beberapa kali, dong?”
“Nena,” Fitri memperingatkan lagi.
Nena mengatupkan bibir, tetapi matanya tetap berbinar.
Aruna tersenyum kaku. “Kami memang cukup sering bertemu dulu.”
“Aruna salah satu mahasiswa paling tekun di angkatannya,” kata Damian. “Sulit tidak mengingat orang seperti dia.”
Kalimat itu terdengar tulus. Namun bagi Aruna, pujian itu seperti suara langkah yang mendekat ke jurang lama.
Ia bisa merasakan tatapan beberapa orang semakin tajam. Di sudut pantri, Dona menyandarkan punggung ke kursi, senyumnya mulai terbentuk tipis.
Aruna segera menunduk pada kotak makannya.
“Damian, aku senang bertemu kamu lagi,” katanya hati-hati. “Tapi mungkin kita bicara lain kali saja. Aku masih harus menyesuaikan diri di hari pertama.”
Damian terdiam sebentar. Lalu ia mengangguk.
“Tentu.” Suaranya tetap lembut. “Aku tidak mau memperumit hari pertamamu.”
Aruna mengangkat wajah.
Damian tersenyum kecil. “Aku tahu kamu tidak suka jadi pusat perhatian.”
Dada Aruna berdenyut. Ia masih ingat. Lima tahun berlalu, tetapi Damian masih mengingat hal-hal kecil yang bahkan Aruna sendiri berusaha kubur.
“Terima kasih,” ucap Aruna pelan.
Damian berdiri. “Kalau kamu butuh bantuan soal dokumen legal atau sistem kontrak, kamu bisa hubungi aku. Bukan sebagai teman lama saja, tapi memang itu bagian pekerjaanku.”
“Aku akan tanya lewat jalur resmi kalau perlu,” jawab Aruna cepat.
Damian memahami batas itu. Ia tidak tersinggung. Justru senyumnya melembut.
“Baik. Lewat jalur resmi.”
Nena memandang mereka bergantian dengan ekspresi tertahan. Fitri memilih menyesap air mineralnya, seolah tidak ingin ikut campur.
Damian hendak pergi, tetapi langkahnya tertahan sebentar. Ia menoleh kembali pada Aruna.
“Run...”
Panggilan itu membuat Aruna membeku. Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya begitu selain keluarganya.
Damian tampak sadar bahwa ia baru saja memakai panggilan lama. Wajahnya berubah sedikit canggung, tetapi ia tidak menarik kembali ucapannya.
“Aku hanya senang melihatmu baik-baik saja,” katanya pelan.
Aruna memaksa bibirnya tersenyum.
“Aku juga senang kamu baik-baik saja.”
Damian menatapnya sekali lagi, seolah masih ada ratusan pertanyaan yang ia simpan. Namun, seperti biasa, ia memilih tidak memaksa.
“Aku ke ruang legal dulu,” katanya pada mereka. “Selamat makan siang.”
Nena langsung tersenyum. “Siap, Kak Damian.”
Fitri mengangguk. “Pak Damian.”
Aruna hanya mengangguk kecil.
Damian berjalan keluar dari pantri. Beberapa staf menyapanya. Ia membalas dengan ramah, lalu menghilang di balik pintu.
Begitu Damian pergi, Nena langsung mencondongkan tubuh ke arah Aruna.
“Oke. Aku tahu aku tidak boleh terlalu kepo, tapi itu tadi bukan interaksi ‘cuma pernah dengar nama’.”
Aruna mengusap pelan ujung kotak makannya. “Kami memang teman lama.”
“Teman lama yang masih dipanggil Run?”
Aruna terdiam.
Fitri menatap Nena. “Biarkan dia bernapas dulu.”
Nena mengangkat kedua tangan. “Baik. Maaf. Aku diam.”
Namun diam Nena hanya bertahan tiga detik.
“Tapi Kak Damian tadi kelihatan benar-benar senang melihatmu.”
Aruna menatap pintu pantri yang sudah kosong.
“Damian memang orang baik,” katanya pelan.
Dan itulah masalahnya. Damian tidak pernah berubah menjadi jahat. Tidak pernah sekali pun. Bahkan ketika Aruna menghilang tanpa penjelasan, ia tidak menyalahkannya. Bahkan ketika mereka bertemu lagi secara tiba-tiba, ia tidak menuntut jawaban.
Ia hanya khawatir. Ia hanya lega. Ia hanya baik...
Kebaikan Damian dulu pernah menjadi tempat berlindung kecil bagi Aruna saat dunia kampus mulai terasa berat. Namun kebaikan yang sama juga menjadi bahan bakar bagi fitnah yang menghancurkan hubungannya dengan Aray.
Aruna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak boleh dekat dengan Damian lagi. Setidaknya tidak di kantor. Tidak di depan banyak orang. Tidak ketika ia belum tahu siapa saja yang akan memutarbalikkan kenyataan.
Di sudut pantri, Dona berdiri sambil membawa gelas kopinya. Ia berjalan melewati meja Aruna dengan langkah pelan. Saat berada cukup dekat, ia berhenti sebentar.
“Wah,” katanya manis. “Hari pertama sudah dikenal senior legal. Hebat juga.”
Aruna menatapnya. “Kami teman lama.”
“Tentu.” Dona tersenyum tipis. “Semua hubungan yang menarik biasanya dimulai dari kata teman.”
Nena langsung menegakkan tubuh. “Dona.”
“Apa? Aku cuma memuji.” Dona mengangkat bahu, lalu berjalan keluar pantri dengan wajah puas.
Aruna merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.
Fitri menatap kepergian Dona, lalu berkata pelan, “Kamu harus hati-hati.”
“Aku tahu,” jawab Aruna.
Namun ia belum sepenuhnya tahu betapa jauh akibat dari pertemuan singkat itu.
Karena di lantai atas, di balik kaca ruangan eksekutif yang menghadap sebagian koridor dan area pantri, seseorang berdiri diam sejak beberapa menit lalu.
Pria itu mengenakan setelan gelap. Tubuhnya tegap, wajahnya keras, dan tatapannya tidak pernah lepas dari pintu pantri tempat Damian baru saja keluar.
Ia melihat semuanya. Damian yang tersenyum pada Aruna. Aruna yang membalas senyum itu. Panggilan lama yang tidak terdengar, tetapi cukup terbaca dari gerak bibir dan cara Aruna membeku.
Jari pria itu mengepal perlahan di sisi tubuhnya. Di atas meja kerja mewah di belakangnya, sebuah nameplate perak memantulkan cahaya.
CEO — Arayyan Mahendra
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, luka lama di d**a Aray kembali terbakar.