Aruna masih berdiri di depan papan jadwal digital ketika udara di koridor terasa mendadak lebih dingin.
09.00 — Welcome Back, Mr. A. Mahendra
Tulisan itu tidak berubah. Seolah tidak tahu bahwa keberadaannya baru saja membuat seluruh pertahanan Aruna bergetar.
Inisial yang seharusnya tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi bagi Aruna terasa seperti pintu tua yang terbuka paksa. Dari balik pintu itu.
Aruna menarik napas pelan.
“Bukan dia,” bisiknya nyaris tanpa suara. “Tidak mungkin dia.”
A bisa berarti siapa saja. Mahendra juga bukan nama langka. Ada banyak orang bernama Mahendra di dunia ini. Tidak otomatis berhubungan dengan Aray. Tidak otomatis menjadi bencana.
Aruna memaksa kakinya bergerak. Ia harus kembali ke divisi. Fitri sedang menunggu map biru yang ia ambil. Ia tidak bisa berdiri lama di depan papan jadwal seperti orang kehilangan arah.
Namun saat ia berbalik, matanya menangkap sesuatu di papan tempel dekat ruang meeting eksekutif.
Sebuah lembar jadwal internal tercetak rapi. Mungkin salinan agenda untuk staf manajemen. Kertas itu ditempel bersama daftar tamu dan alur penyambutan.
Awalnya Aruna tidak berniat membaca. Tetapi matanya tanpa sengaja berhenti pada satu baris di bagian atas.
CEO — A. Mahendra
Bukan nama itu yang langsung membuat napas Aruna tertahan. Melainkan simbol kecil di samping tulisan tersebut.
Sebuah lambang sederhana berbentuk garis melengkung menyerupai huruf A yang terpotong di bagian tengah, dengan satu titik kecil di bawahnya. Sepintas, simbol itu terlihat seperti dekorasi biasa. Mungkin logo pribadi. Mungkin tanda divisi eksekutif. Mungkin hanya ornamen desain dalam dokumen internal.
Namun bagi Aruna, simbol itu bukan hal asing. Simbol yang sama pernah tergambar di sudut buku catatan lusuh milik Aray.
Aray pernah menggambarnya berkali-kali ketika mereka belajar di perpustakaan kampus. Saat Aruna bertanya apa artinya, Aray hanya tersenyum dan berkata, “Nanti kalau aku sudah punya sesuatu yang benar-benar kubangun sendiri, simbol ini akan kupakai.”
Dulu, Aruna menertawakannya. Ia mengira itu hanya coretan iseng seorang mahasiswa yang terlalu sering bermimpi besar di tengah keterbatasan.
Namun kini simbol itu muncul di samping nama CEO Aksara Nexus Teknologi. Jantung Aruna berhenti berdetak selama satu detik. Lalu berdetak lagi dengan cara yang menyakitkan.
Semuanya tiba-tiba terasa terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
Aruna merasakan ujung jarinya dingin. Lima tahun lalu, Aray Mahendra hanyalah mahasiswa sederhana di matanya. Laki-laki dengan jaket yang warnanya mulai pudar, motor tua yang sering mogok, dan tawa hangat yang selalu berhasil membuat hari paling berat terasa lebih ringan.
Aray yang makan nasi ayam di kantin sambil membagi kerupuk terakhir untuknya.
Pernah menghitung uang receh sebelum membeli bensin.
Pernah menggambar simbol aneh di sudut buku catatannya.
Bukan CEO. Bukan pria lantai eksekutif. Bukan seseorang yang membuat satu kantor gemetar hanya karena akan muncul.
Namun pada hari perpisahan itu, setelah semua tuduhan dan luka, Aray pernah berbisik dengan suara yang tidak pernah Aruna lupakan.
Saat kamu tahu siapa aku yang sebenarnya… aku pastikan kamu akan sangat menyesal.
Aruna memejamkan mata. Tidak mungkin. Ia tidak siap jika kalimat itu ternyata bukan sekadar ucapan marah dari laki-laki yang patah hati.
“Permisi, Mbak?”
Suara seseorang membuat Aruna tersentak. Ia sadar dirinya masih berdiri terlalu dekat dengan papan tempel, menghalangi seorang staf yang hendak masuk ke ruang meeting.
“Maaf,” ucap Aruna cepat.
Ia bergeser, lalu segera berjalan menjauh dengan map biru di tangan. Langkahnya terasa tidak stabil. Koridor yang tadi luas dan terang kini seperti menyempit.
Simbol itu terus menempel di kepalanya.
Saat kembali ke divisi, Aruna berusaha memasang wajah biasa. Namun sepertinya ia gagal, karena Fitri langsung menoleh begitu melihatnya.
“Kamu lama,” kata Fitri, lalu matanya menyipit sedikit. “Kamu sakit?”
Aruna menyerahkan map biru. “Tidak. Aku cuma sempat bingung cari raknya.”
Nena yang sedang memegang beberapa lembar kertas mendekat. “Mukamu pucat lagi. Serius, Run, kalau kamu mau pingsan, bilang dulu. Aku belum pernah menangkap orang pingsan, tapi aku bisa teriak minta bantuan.”
Aruna memaksa tersenyum. “Aku tidak akan pingsan.”
“Bagus. Karena aku juga belum siap jadi pahlawan.”
Fitri mengambil map dari tangan Aruna. “Duduk dulu. Minum.”
“Aku baik-baik saja.”
“Duduk,” ulang Fitri.
Aruna akhirnya duduk di kursinya. Fitri menyodorkan botol air mineral yang tadi masih tersisa. Aruna meminumnya perlahan, berharap dinginnya air bisa menurunkan panas aneh yang berkumpul di dadanya.
Namun pikirannya tetap berputar.
Ia harus memastikan. Tidak. Ia tidak boleh memastikan. Kalau ia mencari tahu dan ternyata benar, apa yang akan ia lakukan?
Mengundurkan diri pada hari pertama?
Melarikan diri seperti lima tahun lalu?
Atau berpura-pura tidak mengenal pria yang pernah menjadi seluruh dunianya?
Aruna menekan pelipisnya pelan.
“Run,” panggil Nena, kali ini lebih lembut. “Kamu kelihatan kayak habis lihat nama mantan di undangan nikah.”
Aruna nyaris tersedak air.
Fitri menatap Nena tajam.
“Apa?” Nena mengangkat kedua tangan. “Itu deskripsi paling dekat yang bisa kupikirkan.”
Aruna menurunkan botol minumnya. “Aku hanya… melihat jadwal CEO.”
Nena membulatkan mata. “Oh. Pak Mahendra?”
Aruna diam sejenak. “Di samping namanya… ada simbol kecil.”
Nena mengerutkan dahi. “Simbol?”
“Semacam logo. Garis seperti huruf A yang terpotong, ada titik kecil di bawahnya.”
“Oh, itu.” Nena mengangguk santai. “Kayaknya memang sering dipakai di dokumen eksekutif. Katanya semacam tanda pribadi CEO atau identitas awal Aksara Nexus. Aku juga kurang paham.”
Dada Aruna terasa diremas.
Fitri menatapnya lebih serius. “Kamu pernah lihat simbol itu sebelumnya?”
Pertanyaan itu terlalu tepat.
Aruna menunduk, pura-pura merapikan buku catatan. “Mungkin. Aku merasa pernah melihatnya.”
“Di mana?” tanya Nena.
Aruna tidak langsung menjawab.
Di sudut buku catatan Aray.
Di sisi helm lamanya yang pernah ditempeli stiker kecil buatan tangan.
Di masa ketika Aray masih berbicara tentang mimpi-mimpinya tanpa dendam.
“Aku tidak ingat jelas,” jawab Aruna akhirnya.
Itu bohong. Ia ingat terlalu jelas.
Dona, yang sejak tadi tampak mengetik di mejanya, tiba-tiba ikut bersuara.
“Staf baru penasaran sekali dengan CEO.”
Aruna menoleh.
Dona tersenyum. “Pagi tadi sudah dikenal Pak Damian. Sekarang sibuk cari tahu CEO. Ambisius juga.”
Nena langsung mendelik. “Dona, hobi banget menyimpulkan hidup orang dari dua kalimat.”
“Aku cuma observasi,” jawab Dona ringan.
“Observasimu bisa kamu simpan di draft pribadi.”
Dona tersenyum lebih lebar. “Kenapa? Takut Aruna tersinggung?”
Aruna menggenggam botol airnya. Dona selalu tahu cara membuat hal kecil terdengar seperti gosip yang layak diperhatikan.
“Saya bertanya karena saya karyawan baru,” kata Aruna setenang mungkin. “Wajar kalau saya ingin tahu struktur perusahaan.”
“Tentu.” Dona menopang dagu.
Fitri menutup map biru di tangannya dengan suara pelan namun tegas. “Cukup, Dona.”
Dona menatap Fitri, lalu mengangkat bahu. “Baik. Aku diam.”
Namun senyumnya tidak menunjukkan tanda-tanda kalah.
Aruna menatap layar komputernya. Ia membuka situs internal perusahaan dengan tangan sedikit gemetar. Halaman utama muncul, menampilkan berita perusahaan, jadwal kegiatan, dan beberapa pengumuman.
Ia mengetik di kolom pencarian internal.
CEO Aksara Nexus
Beberapa hasil muncul. Sebagian hanya pengumuman rapat. Sebagian agenda manajemen.
Satu hasil bertuliskan Executive Profile, tetapi ketika Aruna menekan tautannya, layar menampilkan pesan akses terbatas.
Access Denied. Executive-level authorization required.
Aruna menelan ludah. Ia mencoba hasil lain. Artikel internal lama tentang pendanaan perusahaan.
Di sana tertulis: Founder and CEO A. Mahendra menyampaikan bahwa Aksara Nexus Teknologi akan memperluas layanan digital korporasi…
Di samping paragraf itu, simbol yang sama muncul lagi. Kecil. Sederhana. Namun cukup untuk membuat napas Aruna tersangkut.
Tidak ada foto. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya inisial.
Aruna mengambil ponselnya diam-diam di bawah meja. Ia membuka mesin pencari dan mengetik:
Aksara Nexus CEO A Mahendra
Jaringan kantor terasa lambat. Beberapa hasil muncul, tetapi kebanyakan artikel bisnis singkat. Ada yang menyebut CEO muda misterius. Ada yang membahas pendanaan startup. Ada yang menyebut Aksara Nexus sebagai perusahaan teknologi yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun foto CEO tidak terlihat jelas. Beberapa gambar hanya menampilkan siluet panggung atau tangkapan layar dari jauh.
Aruna menggulir cepat. Tangannya makin dingin.
Satu artikel menyebut: A. Mahendra dikenal sebagai figur tertutup yang jarang menghadiri acara publik.
Itu seharusnya membuatnya lega, karena artinya ia tidak mudah memastikan apa pun. Tetapi justru sebaliknya, setiap informasi yang kabur terasa seperti kabut yang menyembunyikan sesuatu besar di depannya.
“Run,” panggil Fitri pelan.
Aruna cepat-cepat menutup layar ponselnya. “Iya?”
“Jangan cari tahu sambil panik. Nanti makin tidak jelas.”
Aruna terdiam.
Fitri rupanya melihat semuanya.
Nena mencondongkan tubuh sedikit. “Serius, kamu kenapa? Kamu punya masalah dengan nama Pak Mahendra? Atau simbol itu?”
Aruna memandang dua perempuan yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Aneh sekali, pikirnya. Ia bahkan belum mengenal mereka cukup lama, tetapi sudah beberapa kali mereka menyelamatkannya dari jatuh terlalu jauh.
Namun ia belum bisa bercerita.
“Aku hanya punya kenangan buruk dengan seseorang yang pernah memakai simbol yang sama,” jawab Aruna akhirnya.
Itu jawaban paling aman yang bisa ia berikan.
Nena langsung melembut. “Oh.”
Fitri tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berkata, “Kalau begitu, jangan paksa diri menyimpulkan sesuatu sebelum ada bukti.”
Aruna mengangguk. Benar. Ia harus rasional.
Aray yang ia kenal dulu tidak mungkin menjadi CEO perusahaan sebesar ini. Aray dulu sederhana. Aray dulu tidak punya apa-apa selain mimpi, motor tua, dan tekad keras. Simbol itu mungkin saja kebetulan. Mungkin Aruna salah ingat. Mungkin bentuknya mirip, tetapi bukan sama.
Bisa saja CEO itu orang lain dengan inisial yang sama.
Bisa saja semua ini kebetulan buruk.
Bisa saja semesta tidak sekejam itu.
Aruna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
“Aku baik-baik saja,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Nena dan Fitri.
Nena menatapnya ragu. “Yakin?”
“Yakin.”
Fitri menyodorkan kembali buku catatan Aruna. “Kalau begitu, fokus dulu. CEO tidak akan langsung berurusan dengan staf baru.”
“Iya,” tambah Nena. “Biasanya acara penyambutan cuma manajemen dan beberapa perwakilan. Kita paling disuruh rapi-rapi dan pura-pura tidak pernah lembur sambil mengeluh.”
Aruna mencoba tersenyum. Ia ingin percaya itu. Ia hanya perlu melewati jam-jam berikutnya, pulang ke rumah, memeluk Mama Amel, mendengar ocehan Mona, lalu memikirkan ulang semuanya dengan kepala lebih jernih.
Mungkin besok ia bisa mencari tahu pelan-pelan.
Mungkin ia bisa bertanya ke HR.
Mungkin ia bisa memastikan tanpa harus bertemu langsung.
Namun sebelum pikirannya selesai menyusun kemungkinan, pengeras suara kantor berbunyi. Bunyi pendek itu membuat seluruh ruangan mendadak hening. Semua orang berhenti sejenak. Suara ketikan melemah. Obrolan terputus. Bahkan Dona mengangkat wajah dari komputernya.
Lalu suara sekretaris manajemen terdengar formal dan jelas dari pengeras suara.
“Perhatian kepada seluruh karyawan Aksara Nexus Teknologi. Dimohon untuk turun ke lobi utama dalam waktu sepuluh menit untuk mengikuti penyambutan CEO. Seluruh divisi diharapkan hadir sesuai arahan manajemen. Terima kasih.”
Aruna membeku. Kalimat itu seolah jatuh tepat di atas dadanya.
Di sekelilingnya, kursi-kursi mulai bergeser. Para staf berdiri, merapikan pakaian, mengambil kartu identitas, mengecek rambut, dan bergerak menuju pintu. Suasana yang tadi tegang berubah menjadi sibuk dalam hitungan detik.
Nena menatap Aruna. “Oke. Sepertinya kita ikut turun.”
Fitri memperhatikan wajah Aruna. “Kamu sanggup?”
Aruna tidak langsung menjawab.
Dona berdiri dari mejanya, merapikan blouse-nya, lalu melirik Aruna dengan senyum kecil yang terlalu puas.
“Semoga CEO kita sesuai ekspektasimu, Aruna.”
Aruna menatap Dona, tetapi tidak punya tenaga untuk membalas.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Ia belum siap.
Ia belum tahu.
Ia belum ingin memastikan.
Namun semua orang sudah bergerak menuju pintu, dan ia tidak punya alasan untuk tetap duduk.
Perlahan, Aruna berdiri. Kakinya terasa ringan dan berat sekaligus. Ia merapikan blazer, mengambil kartu identitas sementara, lalu mengikuti Nena dan Fitri menuju koridor.
Setiap langkah menuju lift terasa seperti langkah menuju masa lalu yang bangkit dari kubur.
Jika CEO itu bukan Aray, ia akan menertawakan ketakutannya sendiri malam ini.
Tetapi jika benar…
Aruna menggenggam tali tasnya erat.
Jika benar simbol kecil itu memang milik Aray Mahendra, maka dalam beberapa menit lagi, luka yang ia kubur lima tahun akan berdiri di hadapannya.
Bukan sebagai masa lalu. Melainkan sebagai atasannya.