Tapi tatapannya ke kamu… terlalu personal.
Bisikan Nena masih menempel bahkan setelah perempuan itu sibuk menjelaskan letak printer, rak arsip, dan ruang meeting kecil di ujung divisi.
Aruna mencoba tidak memikirkannya. Ia menarik napas pelan, menatap layar komputer, lalu kembali mencatat arahan Fitri tentang sistem dashboard internal, kolom status persetujuan, kode revisi, dan daftar vendor yang harus ia pahami satu per satu. Semuanya terasa asing, tetapi setidaknya lebih masuk akal setelah Fitri menjelaskannya dengan sabar.
“Kalau statusnya masih draft, jangan dikirim ke luar,” jelas Fitri sambil menunjuk layar. “Kalau sudah submitted, tunggu approval manajer. Kalau sudah approved, baru boleh masuk ke arsip final.”
Aruna mengangguk. “Berarti semua alurnya harus lewat sistem, bukan email manual?”
“Betul.”
“Kalau ada yang minta kirim manual?”
Fitri melirik sekilas ke arah Dona, lalu kembali menatap Aruna. “Tanya dulu ke manajer atau cek SOP. Jangan langsung percaya.”
Aruna paham maksudnya.
Dona...
Wanita itu duduk beberapa meja dari mereka, tampak sibuk mengetik. Namun sesekali, tatapannya tetap menyapu ke arah Aruna. Bukan tatapan biasa. Bukan sekadar tidak suka karena kalah debat di bus. Ada sesuatu yang lebih tajam.
Aruna menunduk pada catatannya. Ia tidak boleh takut.
Hari ini baru hari pertama. Ia tidak boleh membiarkan Dona menentukan bagaimana perasaannya sepanjang hari.
“Sudah mulai pusing?” tanya Nena tiba-tiba.
Aruna tersadar. “Sedikit.”
“Bagus. Berarti otakmu masih bekerja.” Nena mendorong segelas air mineral ke arah Aruna. “Minum dulu. Di divisi ini, dehidrasi dan deadline adalah pasangan paling setia.”
Aruna tertawa kecil. “Terima kasih.”
Kehadiran Nena dan Fitri sedikit demi sedikit membuat dadanya lebih ringan. Nena berisik, tetapi hangat. Fitri kalem, tetapi bisa diandalkan. Jika bukan karena mereka, mungkin Aruna sudah menghabiskan setengah hari pertamanya dengan menyalahkan diri sendiri atas jebakan kecil Dona.
Jam terus bergerak.
Aruna mulai mengikuti ritme kantor. Ia mencoba login ke sistem, membuka folder yang benar, membaca beberapa contoh dokumen, lalu mencocokkan format yang dijelaskan Fitri. Sesekali, ia bertanya. Fitri menjawab singkat tetapi jelas. Nena menambahkan komentar lucu yang membuat penjelasan rumit terasa lebih manusiawi.
Dona masih menyindir beberapa kali.
“Rajin sekali catatannya. Semoga nanti kerjanya serajin itu juga.”
“Jangan terlalu dimanja, ya. Di sini semua orang sibuk.”
“Kalau tiap langkah harus dituntun, kasihan yang menuntun.”
Aruna mendengarnya. Tentu saja. Namun ia memilih tidak membalas. Ia hanya mengangkat wajah sebentar, tersenyum tipis, lalu kembali bekerja. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia tahu tidak semua serangan harus dijawab dengan suara.
Kadang, diam adalah cara paling elegan untuk tidak memberi lawan panggung.
Menjelang siang, kepala Aruna terasa penuh. Huruf-huruf di layar mulai berbayang. Perutnya pun mulai berbunyi pelan, mengingatkan bahwa sarapan pagi tadi sudah lama berlalu.
Nena tiba-tiba muncul di sampingnya sambil menepuk meja pelan.
“Waktunya makan siang!”
Aruna menoleh. “Sudah jam istirahat?”
“Sudah. Kalau kamu terus menatap layar seperti itu, nanti komputer mengira kamu jatuh cinta padanya.”
Aruna tersenyum lelah. “Aku masih mau merapikan catatan sebentar.”
“Tidak.” Nena menarik buku catatan Aruna dengan hati-hati lalu menutupnya. “Aturan kedua di kantor ini: staf baru yang tidak makan siang akan mudah ditindas deadline.”
Fitri yang sedang merapikan tablet ikut berdiri. “Ayo. Kamu perlu istirahat.”
Aruna ragu. Ia belum terlalu akrab dengan mereka. Makan siang bersama di hari pertama terasa sedikit canggung. Namun menolak pun terasa tidak sopan, apalagi dua orang itu sudah banyak membantunya.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku ikut.”
Pantri kantor berada di belakang divisi, cukup luas dan bersih. Ada meja panjang, dispenser, microwave, kulkas, beberapa sofa kecil, dan jendela besar yang menghadap gedung sebelah. Beberapa karyawan sudah duduk sambil membuka bekal atau memesan makanan lewat aplikasi.
Aroma kopi, mie instan, dan ayam goreng bercampur di udara.
Nena memilih meja dekat jendela.
“Duduk sini. Pemandangannya lumayan, walau tetap saja yang terlihat gedung orang lain.”
Aruna duduk di samping Fitri. Ia membuka bekal sederhana dari Mama Amel: nasi, telur dadar, tumis buncis, dan sambal kecil dalam wadah mungil. Melihat bekal itu, dadanya menghangat.
Mama Amel pasti menyiapkannya pagi-pagi sekali.
“Wah, bekal rumahan,” kata Nena iri. “Aku selalu kagum pada orang yang hidupnya teratur sampai bisa bawa bekal.”
Aruna tersenyum. “Ini Mama yang siapkan.”
“Pantas. Ada cinta ibunya.” Nena membuka kotak makan miliknya, isinya nasi dan ayam geprek. “Punyaku ada cinta promo diskon.”
Fitri menggeleng pelan, tetapi sudut bibirnya naik.
Untuk beberapa menit pertama, makan siang itu terasa ringan. Nena bercerita tentang printer kantor yang sering macet saat dibutuhkan, tentang manajer divisi yang wajahnya datar tetapi sebenarnya baik, dan tentang karyawan finance yang selalu menghitung jumlah gorengan di acara kantor.
Aruna mulai tertawa lebih lepas.
Ia hampir lupa bahwa Dona ada di ruangan yang sama. Hampir. Sebab dari sudut lain pantri, Dona duduk bersama dua staf perempuan. Sesekali ia menatap Aruna sambil berbicara pelan, lalu mereka tertawa kecil. Aruna tahu mungkin dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, tetapi ia memilih tidak mencari tahu.
Fitri tampaknya melihat arah pandang Aruna.
“Jangan habiskan energi untuk menebak omongan orang,” katanya tenang. “Nanti capek sendiri.”
Aruna menoleh, lalu mengangguk. “Iya.”
Nena menambahkan, “Betul. Simpan energimu untuk hal penting. Misalnya menghadapi jadwal meeting dadakan atau mendengar gosip CEO.”
Aruna hampir tersedak.
“CEO?” tanyanya tanpa sadar.
Nena langsung bersemangat. “Nah! Ini topik wajib karyawan baru. Kamu belum tahu banyak soal petinggi sini, kan?”
“Belum,” jawab Aruna hati-hati.
“Jadi, di perusahaan ini ada beberapa nama penting.” Nena mulai menghitung dengan jari. “Manajer divisi kita, Bu Siska. Orangnya tegas, tapi masih manusia. Lalu kepala operasional, Pak Rendra. Kalau bicara seperti baca undang-undang. Terus ada tim legal, tim partnership, finance, IT—”
“Jangan terlalu cepat,” sela Fitri. “Nanti dia makin pusing.”
“Iya, iya.” Nena menyuap ayamnya, lalu melanjutkan, “Pokoknya, kalau kamu berurusan dengan dokumen kontrak atau kerja sama, biasanya nanti nyangkut ke legal.”
Fitri mengangguk. “Terutama ke Pak Damian.”
Sendok di tangan Aruna berhenti.
Hanya satu nama. Satu nama yang diucapkan biasa saja oleh Fitri, tetapi seolah menarik seluruh udara dari paru-paru Aruna.
Damian.
Nena tidak menyadari perubahan wajah Aruna. Ia malah langsung menyambung dengan antusias.
“Oh iya, Kak Damian Raditya Pradipta. Senior legal sekaligus strategic partnership. Orangnya tenang, pintar, dan kalau menjelaskan kontrak, semua orang mendadak merasa hukum itu indah.”
Fitri menatap Nena datar. “Kamu saja yang merasa begitu.”
“Tidak juga. Banyak yang setuju.” Nena menyeringai. “Separuh karyawan perempuan di sini diam-diam mengagumi Kak Damian. Soalnya dia tipe pria green flag. Sopan, tidak banyak gaya, tidak merendahkan junior, dan kalau senyum rasanya seperti diberi cuti tambahan.”
Aruna mencoba tersenyum. Namun jari-jarinya terasa dingin.
Damian Raditya Pradipta.
Nama itu terlalu lengkap untuk disebut kebetulan.
Ia pernah mendengar nama itu diteriakkan dengan kemarahan. Pernah melihat mata Aray berubah gelap setiap kali Damian mendekatinya. Pernah menerima tuduhan bahwa ia meninggalkan cinta tiga tahun demi pria kaya yang lebih menjanjikan masa depan.
Padahal Damian hanya teman. Teman yang baik. Sering membantunya di kampus karena sama-sama terlibat dalam beberapa kegiatan akademik. Teman yang kebetulan anak Dekan. Teman yang keberadaannya dipelintir oleh mulut-mulut jahat sampai menjadi pisau yang memotong kepercayaan Aray padanya.
Aruna menelan ludah. Tiba-tiba makanan di mulutnya terasa hambar.
“Kamu kenal Kak Damian?” tanya Nena tiba-tiba.
Aruna hampir menjatuhkan sendok.
Fitri menoleh pelan. Tatapannya lebih tajam dari Nena, seolah ia menangkap sesuatu yang tidak sengaja bocor dari wajah Aruna.
Aruna cepat-cepat menunduk, lalu memaksa senyum kecil.
“Pernah dengar namanya,” jawabnya. “Dulu… mungkin dari kampus.”
Nena membelalak. “Oh iya? Kamu satu kampus dengan dia?”
“Mungkin,” jawab Aruna samar. “Aku tidak terlalu ingat.”
Itu bohong. Ia ingat.
Damian pernah berdiri di sampingnya pada hari wisuda, bertanya apakah ia baik-baik saja saat wajahnya pucat setelah bertemu Elza. Ia ingat Damian menawarkan bantuan, tetapi Aruna menolak karena tidak ingin melibatkan siapa pun. Ia ingat nama Damian kemudian menjadi alasan Aray menatapnya seolah ia perempuan paling hina di dunia.
Karena Damian? Suara Aray dari masa lalu kembali menusuk.
Aruna merapatkan jari pada sendok. Gemetarnya kecil membuat sendok beradu pelan dengan kotak makan.
Ting...
Fitri melihatnya. Namun perempuan itu tidak bertanya. Sebaliknya, Fitri mengambil botol air mineral dan menggesernya ke depan Aruna.
“Minum dulu...!”
Aruna menatapnya sekilas. Ada rasa terima kasih yang tidak bisa ia ucapkan. Ia meneguknya perlahan.
Nena, yang mulai menyadari suasana berubah, menurunkan nada suaranya. “Maaf, aku kebanyakan cerita, ya?”
Aruna menggeleng cepat. “Tidak. Aku hanya… sedikit kaget. Dunia ternyata sempit.”
“Memang sempit,” kata Nena. “Apalagi dunia kantor. Orang yang kita kira jauh bisa tiba-tiba jadi satu gedung.”
Kalimat itu membuat d**a Aruna semakin berat. Satu gedung. Dengan Damian.
Kalau Damian ada di sini, bagian masa lalunya sudah lebih dekat daripada yang ia kira. Perasaan tidak nyaman tentang CEO yang baru kembali dari luar negeri mendadak terasa lebih kuat.
Aruna mencoba mengusir pikiran itu. Tidak mungkin. Ia tidak boleh menghubungkan semuanya hanya karena takut.
Mungkin ini hanya kebetulan buruk. Damian bekerja di sini karena memang kompeten. Dunia profesional sering mempertemukan orang dari kampus yang sama. Tidak ada hubungannya dengan Aray. Tidak ada hubungannya dengan luka lima tahun lalu.
“Dia orang baik,” kata Fitri tiba-tiba.
Aruna menoleh.
“Pak Damian,” lanjut Fitri. “Kalau nanti kamu berurusan dengan legal, jangan takut. Dia tidak seperti beberapa senior lain yang suka membuat junior merasa bodoh.”
Nena mengangguk semangat. “Benar. Kak Damian itu baik banget. Pernah ada staf magang salah kirim lampiran kontrak, dia tidak marah. Dia bantu perbaiki sebelum masalahnya naik.”
Aruna menunduk.
Ya. Damian memang selalu seperti itu. Sampai kebaikannya dulu menjadi bahan fitnah.
Aruna memaksa diri menyuap makanannya lagi. “Syukurlah kalau begitu. Setidaknya ada banyak orang baik di sini.”
“Ada,” kata Nena. “Aku, Fitri, Kak Damian…”
Fitri menyela datar, “Jangan lupa menyebut diri sendiri paling awal.”
“Karena itu fakta penting.”
Aruna tertawa kecil, meski masih terasa kaku.
Percakapan perlahan bergeser ke topik lain. Nena membahas menu kantin bawah yang katanya mahal tapi porsinya menyedihkan. Fitri menjelaskan aturan cuti dan absensi. Aruna berusaha mengikuti, mengangguk pada waktu yang tepat, tertawa saat harus tertawa.
Namun pikirannya masih tertinggal pada satu nama.
Damian.
Apakah pria itu masih mengingatnya? Apakah ia tahu apa yang terjadi setelah hari wisuda? Apakah ia pernah bertemu Aray lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban.
Aruna meremas tisu di pangkuannya, lalu menarik napas pelan. Ia harus tenang. Jika benar Damian bekerja di sini, mereka mungkin akan bertemu suatu saat nanti. Ia hanya perlu bersikap profesional. Masa lalu sudah lewat. Tidak ada alasan untuk takut dan gemetar.
Namun tubuhnya tidak semudah itu diajak berbohong. Saat suasana pantri mulai kembali ramai, Nena tiba-tiba mengangkat tangan dan melambai ke arah pintu.
“Oh, panjang umur,” katanya ceria. “Baru saja dibicarakan.”
Aruna membeku.
Fitri menoleh ke pintu.
Beberapa staf perempuan di meja lain langsung merapikan rambut atau duduk lebih tegak. Ada yang tersenyum ramah. Ada yang menyapa lebih dulu.
Aruna tetap menunduk, menggenggam sendok yang belum sempat ia letakkan.
Langkah seseorang terdengar mendekat. Tenang. Teratur.
Lalu suara pria lembut yang sangat ia kenal terdengar dari arah pintu pantri.
“Aruna?”
Sendok di tangan Aruna berhenti di udara. Untuk sesaat, seluruh suara di ruangan seperti menjauh. Obrolan karyawan, denting gelas, bahkan tawa Nena menghilang di balik degup jantungnya sendiri.
Aruna mengangkat wajah perlahan.
Di ambang pintu pantri, Damian berdiri dengan kemeja biru muda dan lanyard kantor di lehernya. Wajahnya lebih dewasa dari yang Aruna ingat, rahangnya lebih tegas, tetapi tatapannya masih sama.
Hangat... Terkejut... Dan penuh sesuatu yang belum sempat selesai.
“Aruna,” ulang Damian pelan, seolah takut nama itu hanya bayangan. “Kamu… benar-benar Aruna?”