“Selamat datang di divisi yang salah, Aruna.”
Kalimat Dona masih menggantung di udara saat Aruna menatap tumpukan dokumen di atas mejanya.
Ada sesuatu dalam cara Dona mengucapkannya. Pelan, manis, tetapi terasa seperti ujung jarum yang sengaja ditekan ke kulit. Bukan ancaman besar yang bisa dilaporkan. Bukan pula hinaan terang-terangan yang bisa dibantah di depan semua orang. Justru karena itu, Aruna merasa lebih tidak nyaman.
Ia baru duduk di meja kerja kurang dari sepuluh menit, tetapi suasana hari pertamanya sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kata tenang.
Nena masih berdiri di sampingnya dengan wajah kesal. Fitri menatap tumpukan dokumen itu lebih lama, seolah sedang menghitung seberapa tidak masuk akalnya pekerjaan tersebut diberikan pada karyawan baru.
Dona sendiri tersenyum puas.
“Kenapa diam?” tanya Dona, suaranya kembali dibuat cerah. “Takut?”
Aruna menarik napas perlahan. Ia tidak boleh terpancing.
Hari pertama kerja bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling pandai membalas sindiran. Ia datang ke sini untuk bekerja, bukan berdebat.
“Tidak,” jawab Aruna akhirnya. “Saya hanya sedang melihat jenis dokumennya.”
“Bagus.” Dona melipat tangan di d**a. “Divisi ini memang butuh orang yang cepat tanggap. Kalau terlalu banyak bertanya, nanti semua orang repot.”
Nena mendengus pelan. “Bukannya memang tugas senior membimbing karyawan baru?”
Dona menoleh. “Aku sedang membimbing.”
“Dengan menaruh arsip proyek lama sebanyak ini?”
“Belajar dari dokumen lama itu penting.” Dona tersenyum tipis. “Kecuali kalau karyawan barunya tidak sanggup.”
Aruna mengangkat wajah. “Saya sanggup belajar, Mbak Dona. Tapi saya tetap perlu arahan yang benar.”
Senyum Dona sedikit berubah. Mungkin ia tidak menyangka Aruna akan menjawab setenang itu.
Fitri menyentuh lengan Nena pelan, memberi tanda agar tidak memperpanjang perdebatan. Lalu ia menoleh pada Aruna.
“Kita mulai dari sistem dasar dulu. Dokumen itu tidak perlu kamu selesaikan sekarang.”
“Eh, tunggu,” potong Dona cepat. “Kalau Fitri yang menjelaskan semua, nanti Aruna cuma tahu teori. Lebih baik langsung praktik. Aku bisa bantu.”
Nena menaikkan alis. “Tiba-tiba rajin sekali.”
Dona mengabaikannya. Ia menarik kursi kosong dan duduk di samping meja Aruna tanpa diminta.
“Buka komputermu,” kata Dona.
Aruna menurut. Ia memasukkan akun sementara yang diberikan HR. Ada banyak menu yang belum ia pahami: proyek aktif, arsip vendor, jadwal revisi, pengajuan dokumen, persetujuan digital, dan beberapa kode yang tampak asing.
“Klik folder Project Archive,” perintah Dona.
Aruna menggerakkan mouse. “Yang ini?”
“Bukan. Yang bawah. Folder lama.”
Fitri yang masih berdiri tidak jauh dari mereka mengernyit samar, tetapi belum bicara.
Aruna membuka folder yang ditunjuk Dona. Di dalamnya terdapat banyak subfolder dengan nama proyek dan tahun yang berbeda. Dona menyebutkan salah satu kode proyek, lalu meminta Aruna membuka template laporan.
“Formatnya begini,” kata Dona sambil menunjuk layar. “Nama file harus pakai tanggal dulu, baru kode proyek, lalu nama vendor.”
Aruna mencatat cepat di buku kecilnya.
“Tanggal, kode proyek, nama vendor,” ulangnya pelan.
“Iya. Jangan kebalik. Manajer tidak suka file berantakan.” Dona lalu menunjuk catatan lain. “Kalau sudah selesai, kirim ke email ini.”
Ia menyebutkan alamat email cukup cepat.
Aruna menulisnya dengan teliti. “Bisa diulang, Mbak?”
Dona menghela napas berlebihan. “Baru juga satu alamat email.”
Aruna merasakan telinganya memanas, tetapi ia tetap menunduk. “Saya hanya ingin memastikan tidak salah.”
Dona tersenyum sinis, lalu mengulang alamat tersebut dengan nada dibuat lambat, seperti sedang bicara pada anak kecil.
Nena yang berdiri di belakang Aruna tampak hampir membuka mulut, tetapi Fitri menahannya lagi.
Aruna terus mencatat. Ia tahu Dona sedang mencoba membuatnya merasa kecil. Namun Aruna tidak ingin memberi kepuasan itu. Kalau Dona ingin ia terlihat emosional, maka Aruna akan tetap tenang.
“Setelah itu, unggah dokumen ke sistem?” tanya Aruna.
Dona mengibaskan tangan. “Tidak perlu. Kirim email dulu. Nanti kalau ada revisi, baru unggah.”
“Baik.”
“Cepat ya. Kita lihat seberapa cepat kamu belajar.”
Dona berdiri, lalu kembali ke mejanya. Namun dari tempat duduknya, ia terus memperhatikan Aruna seperti kucing yang menunggu tikus keluar dari lubang.
Aruna mulai mengikuti catatan yang baru ia buat. Ia membuka folder yang disebutkan Dona, mencari template laporan, lalu mencoba mencocokkan dokumen fisik di meja dengan data di komputer.
Awalnya ia berpikir semua berjalan lancar. Namun setelah beberapa menit, kejanggalan mulai muncul.
Template laporan yang ia buka memiliki format berbeda dari contoh dokumen fisik terbaru. Kode proyek di folder lama tidak sesuai dengan kode di map biru briefing. Beberapa file bahkan tidak bisa dibuka karena statusnya hanya arsip.
Aruna mengerutkan dahi. Mungkin ia salah klik. Ia mencoba kembali dari awal, membaca ulang catatannya, lalu mengikuti arahan Dona satu per satu. Hasilnya tetap sama.
Folder yang disebut Dona terasa tidak cocok. Format penamaan file juga aneh.
Aruna melirik ke meja Dona. Wanita itu sedang menyesap kopi sambil menatap layar komputernya.
“Kenapa, Aruna?” tanya Dona tiba-tiba dengan suara cukup keras. “Masih belum bisa?”
Beberapa staf menoleh.
Aruna menahan napas. Ia tidak ingin terlihat panik.
“Saya sedang mencocokkan formatnya,” jawabnya hati-hati. “Ada beberapa bagian yang sepertinya berbeda dari panduan di map briefing.”
Dona langsung memasang wajah tersinggung. “Berbeda? Maksudmu aku salah mengajari?”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Aruna menatap Dona. “Saya tidak mengatakan begitu. Saya hanya ingin memastikan.”
“Tadi kamu minta diajari. Sekarang setelah diajari, kamu bilang arahanku berbeda.” Dona menyandarkan punggung ke kursi, lalu mengangkat bahu. “Kalau dari awal merasa lebih tahu, mungkin tidak perlu tanya.”
Darah Aruna berdesir. Ia mulai memahami permainan Dona.
Wanita itu sengaja memberi arahan setengah benar, lalu menunggu Aruna kebingungan. Saat Aruna bertanya, Dona akan membuatnya terlihat tidak teliti atau tidak tahu diri.
Licik. Tapi Aruna tidak punya bukti. Sebelum ia sempat menjawab, Fitri mendekat ke meja Aruna.
“Boleh aku lihat?” tanya Fitri.
Aruna mengangguk cepat. “Boleh.”
Fitri memeriksa catatan Aruna terlebih dahulu, lalu menatap layar komputer. Jarinya bergerak cepat membuka beberapa menu lain. Wajahnya tetap tenang, tetapi dahinya sedikit berkerut.
“Ini folder lama,” kata Fitri akhirnya.
Dona menoleh tajam. “Memang arsip lama.”
“Arsip lama boleh dipelajari, tapi bukan untuk alur kerja aktif.” Fitri membuka folder lain. “Sejak dua bulan lalu, semua revisi proyek masuk lewat Project Current Review, bukan Project Archive.”
Nena langsung bersedekap. “Oh.”
Dona mendengus. “Aku mungkin lupa. Banyak kerjaan.”
Fitri tidak menanggapi nada itu. Ia menunjuk catatan Aruna. “Format nama file juga sudah berubah. Sekarang kode proyek dulu, baru tanggal, lalu jenis dokumen. Bukan tanggal dulu.”
Aruna menatap catatannya, lalu layar. “Berarti tadi saya memang masuk folder yang salah?”
“Bukan kamu yang salah,” jawab Fitri tenang. “Informasinya tidak lengkap.”
Nena menambahkan dengan suara manis, “Lengkap sih. Lengkap versi dua bulan lalu.”
Beberapa staf di dekat mereka menunduk sambil menahan senyum.
Wajah Dona mengeras.
“Lucu sekali,” katanya dingin.
Nena tersenyum polos. “Syukurlah kalau menghibur.”
Fitri kembali membuka sistem. “Email yang kamu catat juga tidak aktif lagi. Sekarang semua pengiriman melalui dashboard internal. Email hanya untuk notifikasi otomatis.”
Aruna menelan ludah. Kalau ia mengikuti semua arahan Dona tanpa memeriksa ulang, bisa saja ia langsung melakukan kesalahan pada hari pertama.
“Terima kasih, Kak Fitri,” ucap Aruna pelan.
Fitri mengangguk. “Di sini, jangan percaya arahan yang tidak tertulis. Selalu cocokkan dengan sistem. Kalau ada yang berbeda, tanya dua sumber.”
Dona berdiri mendadak. “Aku ke pantri dulu,” katanya singkat.
Tidak ada yang menjawab. Dona berjalan melewati meja Aruna dengan dagu terangkat. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia sempat melirik Aruna. Tatapan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Aruna mengerti bahwa masalah ini belum selesai.
Setelah Dona menghilang ke arah pantri, Nena langsung mendekat.
“Aku tahu dia nyebelin, tapi level pagi ini lumayan juga.”
Aruna menghela napas pelan. “Apa dia selalu begitu?”
“Ke staf baru? Sering.” Nena menarik kursi dan duduk di samping Aruna. “Dia suka bikin orang kelihatan bodoh supaya dia tampak paling dibutuhkan.”
Fitri masih berdiri di depan komputer Aruna. “Makanya kamu harus hati-hati.”
Aruna memandang tumpukan dokumen di mejanya. “Aku tidak ingin bermasalah di hari pertama.”
“Kadang masalah datang bahkan kalau kita diam,” kata Fitri.
Kalimat itu membuat Aruna terdiam.
Ia pernah merasakan hal seperti itu. Lima tahun lalu, ia juga tidak ingin bermasalah. Ia hanya ingin mencintai seseorang dengan tenang. Namun masalah datang lewat orang lain, lewat fitnah, lewat ancaman, lewat tuduhan yang bahkan tidak sempat ia luruskan.
Aruna menepis bayangan itu sebelum sempat tumbuh lebih jauh.
Tidak. Ini kantor. Ini masa kini. Ini bukan masa lalu.
Ia menarik napas, lalu menatap Fitri. “Boleh ajari aku sistem yang benar dari awal?”
Fitri mengangguk. “Tentu.”
Berikutnya, Fitri menjelaskan alur kerja dengan jelas. Folder utama untuk proyek aktif. Kode dokumen. Cara melihat status persetujuan. Cara mengunggah revisi. Cara memeriksa apakah file sudah diverifikasi manajer. Nena sesekali menambahkan komentar ringan yang membuat suasana tidak terlalu tegang.
Aruna mencatat semuanya dengan serius.
Pelan-pelan, rasa paniknya berkurang. Sistem kantor memang rumit, tetapi bukan mustahil dipahami. Yang sulit bukan pekerjaannya, melainkan membaca niat orang-orang di sekitarnya.
“Jadi kalau dokumen belum masuk status approved, tidak boleh dikirim ke pihak luar?” tanya Aruna.
“Betul,” jawab Fitri. “Kalau dikirim sebelum approved, itu pelanggaran.”
Aruna langsung teringat arahan Dona tadi. “Tadi dia menyuruhku kirim email dulu.”
Nena mendecak. “Nah, kan.”
Fitri menatap Aruna dengan lebih serius. “Untung kamu bertanya.”
Aruna mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini, ia merasa benar-benar harus waspada. Dona bukan sekadar orang yang tidak suka kalah. Dona bisa menjebaknya secara pekerjaan.
Dan di kantor seperti ini, satu kesalahan administratif bisa menjadi senjata untuk menjatuhkan seseorang.
“Tenang,” kata Nena, seolah membaca kecemasan Aruna. “Kamu tidak sendirian. Kalau bingung, tanya kami.”
Aruna tersenyum kecil. “Terima kasih. Aku benar-benar terbantu.”
“Jangan terlalu formal. Nanti aku merasa jadi HR.” Nena menunjuk layar. “Sekarang coba kamu buka dashboard yang tadi.”
Aruna menurut. Ia mulai mengikuti langkah yang dijelaskan Fitri. Kali ini, semua menu yang muncul sesuai. Formatnya jelas, alurnya masuk akal, dan data proyek yang ia lihat cocok dengan dokumen briefing.
Rasa percaya dirinya sedikit kembali. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dari arah pantri, Dona muncul sambil membawa gelas kopi. Ia berjalan pelan, lalu berhenti sebentar tidak jauh dari meja Aruna. Tatapannya jatuh pada layar komputer Aruna, lalu pada Fitri dan Nena yang masih berada di sana.
Senyumnya kembali muncul. Tipis. Dingin. Seolah ia sedang berkata bahwa bantuan kecil dari dua rekan kerja itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan Aruna selamanya.
Nena memperhatikan Dona sampai wanita itu kembali ke mejanya. Lalu Nena mencondongkan tubuh ke arah Aruna dan berbisik, “Dona memang sering menjatuhkan staf baru.”
Aruna masih menatap layar, tetapi telinganya menangkap nada serius dalam suara Nena.
“Dia suka menguji orang,” lanjut Nena. “Bikin orang salah, lalu pura-pura paling tahu cara memperbaiki.”
Aruna menoleh. “Berarti ini bukan pertama kali?”
Nena menggeleng. “Bukan.”
Fitri tidak membantah. Itu saja sudah cukup menjadi jawaban.
Aruna menarik napas pelan. “Kalau begitu aku hanya perlu lebih hati-hati.”
“Iya,” kata Nena. Lalu suaranya menurun, hampir seperti bisikan rahasia. “Tapi kali ini beda.”
Aruna mengerutkan dahi. “Beda bagaimana?”
Nena melirik ke arah Dona.
Dona sedang mengaduk kopinya, tetapi matanya tetap mengarah ke meja Aruna. Saat tatapan mereka bertemu, Dona mengangkat gelasnya sedikit, seolah memberi salam.
Senyumnya manis. Terlalu manis.
Nena menelan ludah kecil sebelum melanjutkan, “Biasanya dia cuma iseng jahat.”
Aruna diam.
Nena menatapnya dengan wajah serius yang jarang terlihat sejak mereka bertemu.
“Tapi tatapannya ke kamu…” bisiknya, “terlalu personal.”