Sepotong roti cokelat di tangan Damian dan seulas senyum tulus dari bibir Aruna.
Bagi mereka berdua, momen singkat di kafetaria itu hanyalah bentuk rasa terima kasih dan sikap saling menghargai. Namun, bagi sepasang mata yang mengintai dari balik pilar beton, pemandangan itu adalah bahan bakar yang sempurna untuk menyalakan api.
Makan siang telah usai. Aruna, Fitri, dan Nena berjalan beriringan kembali ke lantai dua puluh satu. Langkah Aruna terasa jauh lebih ringan. Beban rahasia tentang laporan eksekutif itu telah ia bagi dengan kedua temannya, dan rasa berutang budinya pada Damian telah terbayar dengan cara yang sederhana.
Namun, perasaan lega itu seketika menguap begitu Aruna melangkah melewati pintu kaca Divisi Administrasi Proyek.
Ada yang aneh dengan udara di ruangan ini. Hening