BAB 25 | Pengakuan Berbisik dan Pasang Mata di Sudut Ruang
Langkah Aruna terasa seperti menginjak kapas saat ia keluar dari lift di lantai dua puluh satu. Udara di lantai divisinya ini jauh lebih bising dan hangat dibandingkan dengan lantai tiga puluh yang seakan membekukan aliran darah. Namun, meski secara fisik ia telah turun dari sangkar sang CEO, pikiran dan detak jantungnya masih tertinggal di ruangan itu. Rasa malu akibat membuka folder berisi data Divisi 9 masih menyisakan rona merah yang samar di pipinya.
Begitu Aruna menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya, dua bayangan langsung menutupi cahaya lampu di atasnya.
Fitri dan Nena sudah berdiri mengapit mejanya seperti sepasang penyidik yang menemukan buronannya. Wajah Nena menyiratkan kepanikan tingkat tinggi, sementara Fitri memancarkan aura menuntut yang sulit diabaikan.
"Run! Cepat ceri