Dua huruf itu berdiri diam di layar monitor, namun bagi Aruna, mereka seolah berteriak.
"AA"
Darah Aruna berdesir kencang. Tangannya yang memegang mouse terasa membeku. Inisial itu... Aray Aruna. Sebuah nama gabungan yang dulu sering Aray ukir dengan ujung pena di sudut meja perpustakaan kampus. Ada sedikit keingintahuan yang tiba-tiba meremas dadanya dengan kuat. Ia ingin membukanya. Ia ingin tahu apakah Aray, pria yang kini menatapnya dengan sebongkah es di matanya, masih menyimpan kenangan mereka di dalam sana.
Namun, akal sehatnya menahan. Itu tidak pantas. Itu bukan haknya.
Semakin keras Aruna mencoba untuk mengabaikannya, dorongan itu justru semakin kuat menyiksa batinnya. Kursor di layar perlahan-lahan bergerak, merayap inci demi inci mendekati ikon folder kuning tersebut. Satu