“Sekarang... kamu boleh jujur, Aruna.”
Kalimat itu menggantung di udara, berbenturan dengan dinginnya pendingin ruangan dan kesunyian yang membungkus lantai tiga puluh.
Aruna tercengang. Matanya melebar menatap Aray yang duduk bersandar di kursi kebesarannya, menautkan jemari di atas meja kaca. Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, tetapi bagi Aruna, itu adalah labirin tanpa jalan keluar.
Beberapa detik berlalu.
Hanya hening dan kediaman yang membisu di antara mereka. Pikiran Aruna berputar liar, kacau balau. Ia ingin meminta arahan, setidaknya petunjuk kecil, terkait kejujuran pada aspek apa yang pria ini maksud? Apakah Aray sudah tahu semuanya tentang siapa yang mengerjakan laporan itu? Ataukah hanya sebagian? Atau tentang hal lain di masa lalu mereka? Atau hanya... entahlah. Ar