Malam tadi adalah malam terpanjang dalam hidup Aruna. Ia terbangun dengan mata yang terasa panas dan kepala yang berdenyut ngilu. Tidurnya jauh dari kata nyenyak. Rentetan kejadian di hari pertamanya bekerja terus berputar bagai kaset rusak—dari suara dingin Aray, tumpukan berkas yang mustahil, hingga tulisan 100% Completed berwarna hijau yang menyala di layar komputernya. Misteri tentang siapa yang membantunya terus menghantui, meski logika dan perasaannya bermuara pada satu nama: Damian.
Aruna bangkit dari ranjang, menatap pantulan wajahnya yang pucat di cermin kecil kamarnya. Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya untuk bersiap. Hari ini, ia harus kembali melangkah ke medan perang.
Di ruang makan yang sempit namun hangat, Mama Amel sudah menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi gor