“Dulu kau juga menyebutnya begitu sebelum membuangku.”
Kalimat itu masih bergaung di telinga Aruna bahkan setelah pintu ruang CEO tertutup rapat di belakangnya. Di dalam lift yang membawanya turun kembali ke lantai dua puluh satu, udara terasa menipis. Aruna menyandarkan punggungnya ke dinding logam yang dingin, memejamkan mata, dan membiarkan satu tarikan napas panjang yang gemetar lolos dari bibirnya.
Luka itu masih ada. Aray tidak pernah lupa, dan pria itu memastikan Aruna juga tidak akan pernah bisa melupakannya.
Begitu pintu lift terbuka, Aruna melangkah keluar dengan rahang mengeras. Ia tidak boleh hancur sekarang. Tidak ketika jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia hanya punya waktu empat jam. Empat jam untuk menyelesaikan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Aruna masuk ke ruangan divisi administrasi proyek dengan langkah cepat. Fitri dan Nena, yang sejak tadi menunggu dengan wajah cemas, langsung berdiri menghampirinya.
“Bagaimana?” tanya Nena tertahan. “Dia tidak memecatmu, kan?”
Aruna meletakkan map tebal di atas mejanya. Ia menatap layar komputer yang masih menyala, lalu beralih menatap kedua temannya.
“Laporannya harus diulang dari awal. Semua data pendukung harus diperiksa ulang. Dan harus ada di meja sekretaris CEO sebelum jam lima sore ini.”
Keheningan yang mencekik langsung menyelimuti meja itu.
Nena membelalakkan mata, mulutnya sedikit terbuka seolah ia baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu di dunia. “Jam lima? Sore ini? Run, ini penyiksaan berkedok jam kerja! Itu laporan rekapitulasi lintas divisi! Karyawan senior saja butuh waktu dua hari untuk memastikan semua kodenya benar!”
Fitri, yang biasanya selalu tenang, kali ini mengerutkan dahi dalam-dalam. Ia mengambil map di meja Aruna, membuka beberapa halamannya dengan cepat, lalu menghela napas berat. “Ini nyaris mustahil. Kamu belum punya akses ke folder root. Kalau kita harus mengecek ulang manual satu per satu, waktunya tidak akan cukup.”
“Aku tahu,” jawab Aruna pelan, tetapi tangannya sudah bergerak menyalakan ulang sistem.
“Oke, kita kerjakan bertiga lagi,” putus Nena sambil menarik kursi. “Aku batalkan jadwalku merapikan arsip. Kita bagi tiga bagian—”
“Tidak,” potong Aruna cepat.
Nena dan Fitri serentak menoleh padanya.
Aruna menelan ludah, menekan rasa paniknya sendiri dalam-dalam. “Aku akan mengerjakannya sendiri.”
“Run, jangan gila,” tegur Fitri dengan nada lebih keras dari biasanya. “Ini bukan saatnya membuktikan diri. Pak Aray sengaja memberikan tugas ini karena dia tahu kapasitas karyawan baru. Dia ingin melihatmu gagal.”
“Justru karena itu aku harus mengerjakannya sendiri, Kak Fitri,” jawab Aruna, matanya memancarkan tekad yang rapuh namun keras kepala. “Kalau kalian membantuku lagi, dan dia tahu, kalian berdua bisa ikut terseret. Aku tidak mau membawa masalah pribadi ini ke hidup kalian.”
Nena terdiam. Fitri menatap Aruna lurus-lurus.
“Lagi pula,” lanjut Aruna dengan suara sedikit melembut, “Kak Fitri ada meeting evaluasi mingguan jam tiga nanti, kan? Dan Nena bilang harus mengejar kereta jam lima pas karena ada acara keluarga. Aku sudah cukup merasa tidak enak membuat jam makan siang kalian berantakan tadi.”
Nena menggigit bibirnya, tampak sangat serba salah. Ia memang sudah memesan tiket kereta sejak jauh hari untuk acara syukuran di kampung halamannya. Fitri pun menghela napas, menyadari bahwa meeting jam tiga nanti bersama Manajer Divisi tidak bisa ia tinggalkan.
Dari seberang ruangan, Dona yang sedari tadi menguping tersenyum miring. Ia memutar kursinya sedikit, menopang dagu dengan gaya meremehkan.
“Makanya, jadi staf baru itu jangan sok pahlawan dan sok profesional,” sindir Dona lantang. “Sekarang lihat sendiri, kan? Pak Aray itu tidak bodoh. Dia tahu mana yang hasil kerja sendiri, mana yang hasil keroyokan. Semoga sukses deh sampai jam lima.”
Aruna mengabaikan Dona sepenuhnya. Ia menatap Fitri dan Nena dengan senyum tipis. “Aku akan baik-baik saja. Tolong, biarkan aku mencoba menyelesaikannya sendiri.”
Dengan berat hati, Fitri akhirnya menepuk bahu Aruna. “Kalau kamu benar-benar menemui jalan buntu pada kode sistem, segera panggil aku.”
“Semangat, Run,” bisik Nena, meski wajahnya masih penuh rasa bersalah.
Dan dimulailah balapan gila melawan waktu itu.
Pukul 14.00. Aruna mengetik dengan kecepatan penuh. Matanya bergerak liar dari tumpukan kertas pendukung ke layar monitor. Ia harus mencocokkan setiap angka anggaran, status vendor, dan jadwal revisi. Beberapa kali sistem menolak aksesnya, memaksanya mencari jalan memutar melalui riwayat email divisi.
Pukul 15.30. Suasana kantor mulai berubah. Beberapa staf mulai bersiap pulang, merapikan meja mereka. Fitri sudah masuk ke ruang meeting. Nena sibuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri dengan terburu-buru.
Bahu Aruna terasa kaku. Matanya perih karena terlalu lama menatap cahaya layar tanpa berkedip. Perutnya yang sejak tadi pagi kosong mulai melilit hebat, tetapi roti pemberian Damian masih tergeletak utuh di sudut meja. Ia tidak punya waktu bahkan untuk sekadar mengunyah.
Pukul 16.30.
Tiga puluh menit sebelum tenggat waktu.
Jari-jari Aruna berhenti di atas keyboard. Ia menatap layar dengan d**a bergemuruh. Kolom status proyek bagian teknis masih kosong. Ada sekitar dua puluh baris data yang belum diverifikasi karena file aslinya terkunci di server eksekutif.
Ia tidak akan sempat.
Mustahil.
Aruna menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang sedingin es. Napasnya memburu. Perasaan tidak berdaya merayap naik, mencekik kerongkongannya. Ia ingin menangis. Ia benar-benar ingin menangis dan menyerah. Bayangan tatapan merendahkan Aray sudah tergambar jelas di pelupuk matanya. Aray menang. Ia membuktikan bahwa Aruna memang lemah, bahwa Aruna pantas dihukum.
Sementara itu, di lantai tiga puluh.
Aray Mahendra berdiri menghadap jendela kaca raksasa di ruangannya. Langit sore Jakarta mulai menguning. Pantulan wajahnya di kaca terlihat keras, tetapi ada ketegangan aneh di rahangnya.
Ia menoleh ke arah jam dinding eksklusif di ruangannya.
16.40.
Dua puluh menit lagi.
Raline masuk ke ruangan membawa tablet. “Pak Aray, jadwal selanjutnya adalah penandatanganan dokumen legal dengan tim—”
“Tunda besok pagi,” potong Aray dingin tanpa menoleh.
Raline terdiam sejenak, mencatat, lalu membungkuk sopan dan keluar.
Aray berjalan menuju meja kerjanya. Layar monitornya menampilkan dashboard eksekutif. Status laporan dari divisi administrasi proyek: Pending.
Aray menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya. Pikirannya mendadak kacau. Ia teringat wajah pucat Aruna saat berdiri di ruangannya tadi. Mata perempuan itu memerah menahan tangis, tangannya bergetar, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya.
Aray mengusap wajahnya kasar. Sial.
Apakah ia sudah kelewatan? Meminta staf baru yang bahkan belum memegang ID Card permanen untuk merangkum data level manajerial dalam waktu kurang dari empat jam adalah sebuah kekejaman korporat. Aray tahu itu. Ia sengaja melakukannya untuk memberi pelajaran, untuk membalas rasa sakitnya, untuk melihat Aruna memohon bantuan padanya.
Tetapi Aruna tidak memohon. Perempuan itu menerimanya dalam diam.
Kenangan lima tahun lalu mendadak berkelebat. Aruna yang duduk di belakang motor tuanya, Aruna yang tersenyum memakai helm kebesaran, Aruna yang selalu bekerja lebih keras dari siapa pun untuk bertahan hidup.
Perasaan bersalah, sekecil apa pun, tiba-tiba menyusup ke sudut d**a Aray.
“Dia tidak akan bisa menyelesaikannya,” gumam Aray pada dirinya sendiri. Sistem keamanan file untuk data itu terlalu rumit untuk staf pemula.
Aray berdiri. Ia merapikan jasnya. Mungkin… mungkin ia akan turun ke bawah. Bukan untuk meminta maaf, tentu saja. Ia hanya akan mengatakan bahwa Aruna gagal memenuhi standar, tetapi karena ini hari pertamanya, ia diberi kelonggaran untuk melanjutkannya besok pagi. Ya, itu terdengar profesional. Cukup profesional untuk menutupi rasa cemas yang diam-diam menyiksanya.
Aray melangkah keluar dari ruangannya, mengabaikan tatapan bingung Raline, dan masuk ke dalam lift khusus eksekutif.
Lantai dua puluh satu terasa jauh lebih sepi saat Aray tiba. Jam kerja nyaris berakhir. Beberapa staf yang melihat CEO mereka tiba-tiba muncul di koridor divisi langsung menunduk tegang, tidak berani menyapa.
Langkah sepatu Aray terdengar mantap di lantai berkarpet. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia membayangkan Aruna mungkin sedang menunduk frustrasi di mejanya, atau bahkan meneteskan air mata kekalahan. Dan Aray akan datang, berdiri di sana sebagai atasan yang memberinya kesempatan kedua.
Ia sampai di depan pintu kaca divisi administrasi proyek. Ruangan itu sudah setengah kosong.
Aray mendorong pintu itu perlahan.
Matanya langsung mencari satu meja di sudut ruangan, di dekat rak dokumen. Meja milik Aruna.
Langkah Aray terhenti. Tepat di ambang pintu.
Tubuhnya membeku, dan seluruh niat baik yang baru saja ia kumpulkan dalam perjalanan dari lantai tiga puluh hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Udara di sekitarnya mendingin drastis.
Di meja itu, Aruna tidak sendirian.
Damian ada di sana.
Pria dari divisi legal itu berdiri sangat dekat di belakang kursi Aruna, membungkuk dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Satu tangan Damian bertumpu pada sandaran kursi Aruna, sementara tangan lainnya dengan lincah mengendalikan mouse komputer. Wajah mereka begitu dekat. Damian menatap layar sambil menjelaskan sesuatu dengan senyum lembut yang menenangkan, sementara Aruna menatap pria itu dengan raut wajah lega yang luar biasa.
Roti yang tadi utuh kini sudah terbuka, tanda bahwa Damian mungkin telah memaksanya untuk makan di sela-sela kepanikan.
Mereka terlihat seperti tim yang sempurna.
Seperti tempat berlindung yang selalu Aruna cari.
Tangan Aray yang berada di sisi tubuhnya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya menegang hebat. Rasa bersalah yang tadi sempat melembutkan hatinya kini menguap, digantikan oleh api cemburu dan amarah yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Aruna bilang Damian hanya teman?
Aruna bilang ia akan bekerja profesional?
Pembohong.
Aray menatap pemandangan itu dengan mata menyipit tajam. Tiba-tiba, Damian menoleh ke arah pintu dan tatapan kedua pria itu bertemu.
Waktu seolah berhenti berdetak. Dan dari sorot mata Aray, Aruna akan segera belajar bahwa batas antara masa lalu yang belum selesai dan neraka di masa kini baru saja sepenuhnya runtuh.