“Dulu kau juga menyebutnya begitu sebelum membuangku.”
Kalimat Aray menghantam punggung Aruna tepat sebelum ia membuka pintu ruang CEO.
Tangannya membeku di gagang pintu.
Untuk beberapa detik, ruang dingin itu menghilang. Lantai tiga puluh, meja kerja hitam, kaca besar yang memamerkan kota, bahkan sosok Aray yang berdiri di belakangnya, semuanya lenyap seperti ditelan kabut.
Yang tersisa hanya satu kata.
Dulu.
Kata itu seperti tangan tak terlihat yang menarik Aruna mundur ke masa ketika segalanya belum serumit ini. Ketika Aray belum menjadi CEO yang dingin. Ketika ia belum memanggilnya dengan suara penuh dendam. Ketika nama Damian belum menjadi luka yang selalu mereka ulang.
Dulu, Aray hanya seorang laki-laki sederhana dengan motor tua, jaket lusuh, dan tawa yang selalu berhasil membuat hari paling buruk terasa sedikit lebih ringan.
Dulu, Aruna percaya cinta mereka cukup.
Cukup untuk bertahan.
Cukup untuk menunggu.
Cukup untuk melawan dunia yang tidak pernah ramah pada orang-orang yang tidak punya banyak pilihan.
---
“Helmnya jelek.”
Aruna berdiri di depan gerbang kampus sambil menatap helm merah kusam di tangan Aray. Catnya tergores di beberapa bagian. Kaca depannya sedikit buram. Di sisi kanan, ada stiker kecil berbentuk bintang yang sudah hampir terkelupas.
Aray menatap helm itu, lalu menatap Aruna dengan wajah tersinggung yang dibuat-buat.
“Jelek dari mana? Ini helm bersejarah.”
“Bersejarah karena sudah melewati tiga generasi?”
“Empat, mungkin.”
Aruna tertawa.
Sore itu, langit kampus berwarna jingga pucat. Angin membawa aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Mahasiswa berlalu-lalang melewati gerbang, sebagian pulang bersama teman, sebagian masih sibuk membahas tugas, sebagian lagi menunggu jemputan dengan wajah lelah.
Aruna berdiri dengan tas ransel di bahu, buku-buku tebal di pelukan, dan senyum yang tidak bisa ia tahan setiap kali Aray muncul di hadapannya dengan segala kesederhanaan yang anehnya selalu terasa menyenangkan.
Motor tua Aray terparkir tidak jauh dari mereka. Mesinnya sering batuk-batuk. Joknya sudah agak robek di bagian ujung. Spion kirinya pernah patah dan disambung dengan cara yang hanya Aray sendiri yang menganggapnya masuk akal.
Namun bagi Aruna, motor itu menyimpan banyak kenangan.
Di motor itu, mereka pernah pulang kehujanan. Di motor itu, Aray pernah berhenti mendadak hanya untuk membeli gorengan lima ribu rupiah karena Aruna bilang lapar. Di motor itu juga, Aruna pernah tertidur sebentar saat macet panjang, lalu terbangun karena Aray menepikan motor dan berkata, “Kalau ngantuk, jangan dipaksa. Aku bisa tunggu.”
Aray mengangkat helm merah itu ke depan wajah Aruna.
“Pakailah, Nona Kirana. Helm ini mungkin tidak cantik, tapi dia setia.”
Aruna mengangkat alis. “Dia?”
“Iya. Helm ini sudah menemaniku lebih lama daripada beberapa teman palsu di kampus.”
“Kamu ngomong sama helm sekarang?”
“Jangan meremehkan hubungan kami.”
Aruna tertawa lagi. Suara tawanya membuat Aray tersenyum tanpa sadar.
Ada hal-hal kecil yang diam-diam ia syukuri setiap hari. Salah satunya adalah bisa membuat Aruna tertawa. Perempuan itu terlalu sering terlihat kuat, terlalu sering terlihat seolah semua beban bisa ia tanggung sendirian. Padahal Aray tahu, di balik mata jernih itu ada lelah yang tidak selalu ia ceritakan.
Maka kalau satu helm jelek bisa membuat Aruna tertawa, Aray rela disebut aneh setiap sore.
“Ayo,” katanya. “Nanti kamu terlambat sampai rumah.”
Aruna menghela napas, pura-pura berat hati. “Baiklah. Demi keselamatan dan sejarah panjang helm ini.”
Ia hendak mengambil helm itu, tetapi Aray menarik tangannya sedikit.
“Biar aku.”
Aruna terdiam. Aray melangkah mendekat.
Jarak mereka memendek. Tidak terlalu dekat untuk membuat orang lain memperhatikan, tetapi cukup dekat untuk membuat Aruna sadar pada aroma jaket Aray: campuran sabun murah, angin jalanan, dan sedikit bau hujan yang tertinggal.
Aray memakaikan helm itu ke kepala Aruna dengan hati-hati. Tangannya bergerak pelan, memastikan rambut Aruna tidak tersangkut. Jemarinya sempat menyentuh dekat pipi Aruna ketika ia menarik tali pengaman ke bawah dagunya.
Aruna menahan napas.
Aneh. Sudah hampir dua tahun mereka dekat, hampir satu tahun resmi bersama, tetapi hal-hal kecil seperti ini masih bisa membuat dadanya bergetar.
Aray menunduk sedikit untuk mengaitkan pengunci helm.
Klik.
“Sudah,” katanya.
Namun ia tidak langsung mundur. Matanya menatap wajah Aruna yang sebagian tertutup helm merah kusam. Helm itu memang membuat penampilannya sedikit lucu. Terlalu besar. Terlalu tua. Sama sekali tidak cocok dengan wajah Aruna yang lembut.
Tapi bagi Aray, Aruna tetap terlihat cantik. Bukan cantik yang membuat orang ingin memamerkan. Melainkan cantik yang membuat seseorang ingin pulang.
“Apa?” tanya Aruna, salah tingkah karena Aray terus menatapnya.
Aray tersenyum kecil. “Kamu cocok pakai helm jelek.”
Aruna langsung memukul pelan lengannya dengan buku. “Itu pujian macam apa?”
“Pujian tulus. Artinya kamu tetap cantik walau helmnya berusaha keras merusak penampilanmu.”
Aruna memutar mata, tetapi senyumnya gagal ia sembunyikan. Aray mengambil buku-buku dari pelukan Aruna dan memasukkannya ke tas belakang motor. “Naik.”
Aruna duduk di jok belakang. Seperti biasa, ia menjaga jarak kecil di antara mereka.
Aray menoleh. “Pegangan.”
“Aku bisa seimbang.”
“Motor ini tidak selalu sepakat dengan kepercayaan dirimu.”
Seolah ingin membuktikan ucapan Aray, motor itu tiba-tiba mengeluarkan suara batuk kecil saat dinyalakan.
Aruna menatap punggung Aray. “Motormu protes.”
“Dia sensitif kalau direndahkan.”
“Sepertinya kalian cocok.”
Aray tertawa. Motor mulai berjalan pelan meninggalkan gerbang kampus. Angin sore menyentuh lengan Aruna. Ia akhirnya memegang ujung jaket Aray dengan satu tangan, tidak terlalu erat, tetapi cukup untuk membuat Aray tersenyum diam-diam.
Mereka melewati jalan kecil di samping kampus, tempat pepohonan mahoni berbaris dan daun-daunnya meneteskan sisa hujan. Jalanan agak licin. Aray mengemudi lebih pelan dari biasanya.
“Kamu kenapa lambat sekali?” tanya Aruna.
“Bawa barang berharga.”
“Buku-bukuku?”
“Bukan.”
“Laptopku?”
“Bukan.”
Aruna terdiam sejenak, lalu menyadari maksudnya. Ia bersyukur helm tua itu menutupi sebagian wajahnya yang mulai panas.
“Gombal,” gumamnya.
“Fakta.”
“Fakta yang terlalu percaya diri.”
“Kalau soal kamu, aku memang percaya diri.”
Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Aray.
Punggung itu tidak lebar seperti tokoh drama. Jaketnya juga bukan barang mahal. Ada jahitan kecil di bagian bahu kanan yang dulu robek karena tersangkut pagar kos. Namun entah mengapa, di belakang punggung itu Aruna merasa aman.
Mereka berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam mengilap berhenti dengan tenang. Di dalamnya, seorang mahasiswa dari kampus mereka duduk sambil memainkan ponsel. Aruna mengenalnya sekilas. Anak keluarga terpandang. Jenis orang yang tidak perlu menghitung uang bensin sebelum mengajak seseorang pulang.
Aruna menatap mobil itu sebentar. Aray menyadarinya.
“Kamu malu naik motor tua?” tanyanya.
Aruna langsung menoleh. “Apa?”
“Motorku.” Aray menepuk setang pelan. “Dia tua, berisik, dan kadang mogok di saat paling tidak romantis.”
Aruna menatap punggungnya. Ada nada bercanda dalam suara Aray, tetapi ia menangkap sesuatu yang lain di bawahnya.
Ragu.
Takut.
Perasaan tidak cukup yang jarang Aray tunjukkan.
Aruna mengeratkan genggaman pada ujung jaketnya.
“Aku tidak malu.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Kalau suatu hari ada yang bisa jemput kamu pakai mobil bagus?”
Aruna terdiam sebentar. Pertanyaan itu ringan, tetapi entah kenapa Aray menunggu jawabannya dengan terlalu serius.
Lampu merah masih menyala. Angin sore lewat di antara mereka.
Aruna menunduk melihat helm merah yang menutupi kepalanya, lalu berkata pelan, “Kalau aku hanya butuh mobil bagus, aku tidak akan naik motor ini dari awal.”
Aray diam.
Aruna melanjutkan, “Aku naik karena kamu yang menjemput.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu Aray tertawa kecil. Bukan tawa keras. Hanya tawa lega yang keluar dari d**a.
“Bahaya,” katanya.
“Apa?”
“Kamu kalau ngomong begitu, aku jadi ingin kerja lebih keras.”
Aruna tersenyum. “Kerja keras untuk beli helm baru dulu.”
“Helm ini tersinggung.”
“Bagus. Biar dia sadar diri.”
Lampu berubah hijau. Motor kembali melaju.
Sore itu, jalan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Aray sengaja mengambil jalur memutar melewati toko roti kecil yang sering mereka lewati. Ia berhenti sebentar, membeli dua roti cokelat yang dibungkus plastik tipis.
Mereka makan di tepi lapangan kecil, masih dengan helm di pangkuan Aruna.
“Ray,” panggil Aruna.
“Hm?”
“Setelah lulus nanti, kamu mau ke mana?”
Aray menatap langit yang mulai gelap. “Membangun sesuatu.”
“Sesuatu apa?”
“Belum tahu bentuknya. Tapi aku mau punya perusahaan sendiri.”
Aruna menatapnya.
Aray tertawa kecil melihat ekspresinya. “Kenapa? Kedengaran terlalu besar?”
“Tidak.”
“Jujur saja.”
“Aku justru percaya.”
Kali ini Aray yang terdiam. Aruna menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Kamu mungkin sekarang cuma punya motor tua, helm jelek, dan kebiasaan membeli roti diskon, tapi aku tahu kamu tidak akan selamanya di situ.”
Aray memandang roti di tangannya, lalu tersenyum tipis. “Jahat juga caramu menyemangati.”
“Aku realistis.”
“Realistis tapi tetap percaya?”
Aruna mengangguk. “Iya.”
Aray menatapnya lama.
Di bawah langit sore yang pelan-pelan menjadi ungu, dengan suara kendaraan lewat dan aroma roti cokelat murah di tangan, Aray merasa sesuatu di dadanya penuh.
Tidak ada janji mewah. Tidak ada cincin. Tidak ada rencana yang benar-benar pasti. Namun ada Aruna yang menatapnya seolah masa depan sulit bukan alasan untuk pergi.
“Aku akan selalu jemput kamu,” kata Aray tiba-tiba.
Aruna tersenyum. “Dengan motor tua?”
“Kalau belum mampu beli mobil, iya.”
“Kalau motormu mogok?”
“Aku dorong.”
“Kalau hujan?”
“Aku bawa jas hujan.”
“Kalau helmnya rusak?”
“Aku beli yang baru. Tapi mungkin tetap murah.”
Aruna tertawa. Aray menatapnya dengan senyum yang lebih lembut.
“Serius, Run,” katanya. “Aku mungkin belum punya banyak sekarang. Tapi selama kamu mau menunggu, aku akan terus datang. Aku akan jemput kamu. Dari kampus, dari kantor, dari hari buruk, dari apa pun yang bikin kamu merasa sendirian.”
Tawa Aruna perlahan hilang. Ia menatap Aray.
Ada kesungguhan di mata laki-laki itu. Kesungguhan yang sederhana, tetapi justru karena itu terasa mahal. Ia tidak sedang menjanjikan hidup mudah. Ia hanya menjanjikan kehadiran.
Dan saat itu, Aruna percaya.
Percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan dunia.
Percaya bahwa motor tua, helm murah, dan dua roti cokelat bisa menjadi awal dari masa depan yang besar.
Percaya bahwa selama Aray menjemput, ia akan selalu punya alasan untuk pulang.
Aruna mengangguk pelan, “Aku tunggu,” bisiknya.
Aray tersenyum.
Di kejauhan, tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik batang pohon dekat lapangan kecil.
Tasya.... Tangannya menggenggam tali tas dengan kuat. Matanya tertuju pada Aray yang sedang menatap Aruna seolah perempuan itu adalah seluruh dunia.
Senyum iri perlahan muncul di bibir Tasya. Bukan senyum biasa. Melainkan senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa sebelum ia bisa memiliki Aray, ia harus lebih dulu merusak tempat laki-laki itu pulang.