Tangan Aray Mahendra membeku di gagang pintu kaca divisi administrasi proyek.
Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. Niat awal yang baru saja ia rajut di lantai tiga puluh—niat untuk meredam ego dan memberikan sedikit kelonggaran pada Aruna—hancur berkeping-keping dalam satu detik. Matanya, yang biasanya setajam elang, kini menatap kosong pada pemandangan di sudut ruangan.
Aruna tidak sedang menangis. Aruna tidak sedang meratapi nasib atau putus asa. Perempuan itu sedang ditemani. Dan dari sekian banyak manusia di gedung raksasa ini, pria yang berdiri membungkuk di dekat kursi Aruna, dengan lengan kemeja digulung dan senyum menenangkan, adalah Damian.
Rahang Aray mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Kilat cemburu yang gelap dan purba menyala di matanya. Rasa sakit yang ia kubur selama lima tahun kembali berdarah.
Teman? batin Aray dengan senyum sinis yang mengiris hatinya sendiri. Kau selalu tahu cara mencari pelindung yang tepat, Aruna.
Alih-alih melangkah masuk dan melampiaskan amarahnya di depan umum, Aray menarik tangannya dari gagang pintu. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan membuat keributan murahan. Ia adalah CEO. Ia punya cara yang jauh lebih absolut untuk mengendalikan situasi. Dengan langkah yang lebih dingin dan kaku dari sebelumnya, Aray berbalik. Ia menekan tombol lift, kembali naik ke ruangannya di lantai tiga puluh, membawa serta badai gelap di dalam kepalanya.
Begitu pintu ruangannya tertutup rapat, Aray berjalan lurus ke arah meja kerjanya. Jarinya menekan tombol interkom dengan kasar.
Di lantai dua puluh satu, keheningan ruangan divisi yang nyaris kosong tiba-tiba dirobek oleh suara statis dari telepon meja Aruna. Lampu merah berkedip. Lalu, suara bariton yang teramat dingin dan mutlak terdengar.
"Ke ruangan saya. Sekarang."
Aruna tersentak keras hingga bahunya menabrak sandaran kursi. Jari-jarinya yang berada di atas keyboard seketika gemetar hebat. Jam di sudut layar komputernya menunjukkan pukul 16.45. Laporannya belum selesai. Aksesnya terkunci. Dan panggilan itu adalah lonceng kematian bagi hari pertamanya.
Aruna gelagapan. Ia langsung membereskan berkas-berkas di atas mejanya dengan gerakan acak dan panik. Kertas-kertas berhamburan, beberapa map jatuh ke lantai.
Damian, yang sebenarnya hanya kebetulan lewat setelah mengurus dokumen di lantai ini dan melihat Aruna bekerja sendirian melampaui jam pulang, segera berjongkok untuk membantu memungut map tersebut. Tadi, ia bermaksud menawarkan bantuan karena tahu betapa rumitnya sistem arsip eksekutif bagi karyawan baru. Namun sekarang, melihat kepanikan Aruna, dahi Damian berkerut khawatir.
"Aruna, kamu baik-baik saja? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Damian lembut, menyerahkan map itu ke atas meja.
Aruna menerima map itu dengan tangan dingin. Ia tidak berani menatap mata Damian. Ia tahu Aray. Ia tahu bagaimana cara pikiran pria itu bekerja. Jika Aray melihat atau mengetahui keterlibatan Damian sekecil apa pun, Damian akan menjadi target kebencian Aray berikutnya. Aruna tidak ingin pria sebaik Damian hancur hanya karena masa lalunya.
"Tidak, Pak Damian. Tolong..." Suara Aruna bergetar, memohon dengan nada yang nyaris putus asa. "Saya tidak butuh bantuan. Silakan Bapak pulang lebih dulu. Saya mohon."
Damian terdiam. Ia bisa melihat ketakutan yang nyata di mata Aruna. Meski instingnya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah, sifat gentleman-nya memilih untuk menghargai batasan yang Aruna buat.
"Baiklah. Hati-hati, Aruna," ucap Damian pelan, melangkah mundur perlahan.
Tanpa membuang waktu lagi, Aruna memeluk map laporannya yang belum selesai dan berlari kecil menuju lift. Ia harus segera menghadap Aray. Ia siap menerima hukuman terburuknya.
Namun, begitu pintu lift tertutup dan membawa Aruna naik ke lantai tiga puluh, Damian tidak benar-benar pergi.
Pria itu berhenti di tengah koridor, lalu berbalik menatap meja Aruna yang masih menyala terang di sudut ruangan yang mulai remang. Alih-alih melangkah ke pintu keluar, Damian berjalan kembali mendekati meja itu. Matanya yang tajam menatap layar monitor Aruna. Pesan eror berkedip merah: Access Denied. Executive Code Required.
Damian menghela napas pelan. Ia tahu betul laporan jenis apa yang sedang dikerjakan Aruna. Itu bukan tugas untuk staf divisi biasa. Itu adalah jebakan.
Dengan tenang, Damian duduk di kursi Aruna. Jari-jarinya yang panjang mulai menari di atas keyboard. Ia memasukkan kode otorisasi legal tingkat tingginya. Dalam hitungan detik, gembok virtual itu terbuka. Tanpa sepengetahuan Aruna, Damian mulai menginput sisa data yang kosong, mengkalibrasi tabel, dan merapikan formatnya dengan kecepatan seorang profesional yang sudah bertahun-tahun menangani data perusahaan.
Sementara itu, di lantai tiga puluh, Aruna berdiri mematung di tengah ruangan CEO yang luas dan dingin.
Aray berdiri membelakanginya, menatap hiruk-pikuk kota Jakarta dari balik kaca jendela raksasa. Asap tipis dari rokok yang terselip di jarinya mengepul pelan, menambah aura kelam di ruangan itu.
"Waktumu habis," suara Aray memecah keheningan, tanpa repot-repot berbalik.
Aruna menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Ia menunduk, meremas tepi map di tangannya. "Saya tahu, Pak. Laporan saya belum selesai. Ada sekitar dua puluh persen data yang tidak bisa saya akses."
Aray berputar perlahan. Matanya menatap Aruna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perempuan itu terlihat berantakan, kelelahan, dan ketakutan. Persis seperti mangsa yang sudah terpojok.
"Kau gagal di hari pertamamu," ucap Aray datar. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma parfum maskulinnya yang bercampur tembakau mengintimidasi penciuman Aruna. "Lalu? Apa pembelaanmu? Kau akan meminta temanmu dari divisi legal untuk menjadi tamengmu lagi?"
Kata teman itu diucapkan dengan bisa yang mematikan. Aruna memejamkan mata. Jadi dugaannya benar. Entah bagaimana, Aray tahu Damian ada bersamanya tadi.
"Pak Damian tidak ada hubungannya dengan ini," jawab Aruna, berusaha menstabilkan suaranya. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam mata gelap Aray. "Ini murni kelalaian saya. Saya tidak mampu memenuhi standar yang Bapak berikan. Jika Bapak memanggil saya untuk memecat saya, saya siap menerima suratnya sekarang juga."
Keheningan yang sangat panjang menyusul kalimat itu.
Aruna menahan napas. Ia bersiap. Ia sudah ikhlas jika hari pertamanya juga menjadi hari terakhirnya. Setidaknya, jika ia dipecat, ia tidak perlu lagi bertatap muka dengan iblis dari masa lalunya ini. Ia bisa lari, ia bisa mencari pekerjaan lain—
"Siapa yang bilang aku akan memecatmu?"
Mata Aruna melebar. Ia menatap Aray dengan kebingungan yang tak bisa disembunyikan.
Aray menatapnya dengan rahang menegang. Jauh di dalam lubuk hatinya, Aray memang masih sangat terganggu dan marah dengan pemandangan Aruna bersama Damian tadi. Ia ingin menghancurkan apa pun yang membuat Aruna merasa aman selain dirinya. Namun, memecat Aruna berarti membiarkan perempuan ini pergi. Membiarkan Aruna lepas dari genggamannya dan mungkin berlari ke pelukan pria lain.
Tidak. Aray tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Hukuman yang sebenarnya bukanlah perpisahan, melainkan penahanan.
"Memecatmu di hari pertama hanya akan menunjukkan bahwa perusahaanku buruk dalam merekrut karyawan," lanjut Aray dingin, berjalan melewati Aruna menuju meja kerjanya. "Tinggalkan berkasmu di situ. Pulanglah. Kau akan melanjutkan pekerjaan itu besok pagi."
Aruna terpaku. "B-besok pagi?"
"Apa pendengaranmu juga bermasalah?" sindir Aray tajam. "Pulang. Sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu tidur di lobi."
Dengan tangan masih sedikit gemetar, Aruna meletakkan map itu di atas meja kaca. Ia membungkuk kaku, lalu bergegas keluar dari ruangan itu seakan sedang dikejar malaikat maut.
Saat pintu tertutup di belakangnya, Aruna bersandar di dinding koridor, meraup oksigen sebanyak mungkin. Perasaannya hancur berkeping-keping dan saling bertabrakan. Ia bingung antara harus senang atau susah.
Sisi logis dan harga dirinya berteriak kecewa. Ia sebenarnya sudah sangat berharap dipecat hari ini, agar penderitaan mental ini berakhir. Berada di dekat Aray sama saja dengan menggores ulang luka yang sudah susah payah ia jahit. Namun, sisi realistisnya menangis lega. Terbayang wajah Mama Amel yang menyodorkan bekal pagi tadi, terbayang senyum Mona, terbayang deretan tagihan dan biaya obat yang harus dibayar bulan depan. Desakan kebutuhan memaksanya untuk bersyukur. Ia masih memiliki pekerjaan. Ia belum kalah oleh kerasnya ibukota.
Dengan langkah gontai dan tenaga yang nyaris habis, Aruna kembali turun ke lantai dua puluh satu untuk mengambil tasnya.
Ruangan divisi administrasi proyek kini sudah benar-benar gelap. Hanya lampu dari area koridor luar yang memberikan sedikit penerangan. Aruna berjalan menuju sudut ruangannya.
Ia meraih tasnya, lalu pandangannya secara refleks jatuh pada layar monitor yang masih menyala.
Napas Aruna seketika terhenti. Matanya memicing, mendekatkan wajahnya ke arah layar.
Tabel yang tadi kosong kini telah terisi penuh. Angka-angka yang tadinya terkunci kini sudah terkalibrasi dengan sempurna. Format font, warna sel, dan ringkasan eksekutif di bagian bawah telah tersusun rapi. Dan di sudut kanan bawah layar, sebuah kotak dialog kecil menampilkan tulisan berwarna hijau yang membuat jantung Aruna berdegup kencang:
Status: 100% Completed. Saved in Root Directory.
Aruna menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Pekerjaannya sudah selesai. Benar-benar selesai dengan tingkat presisi yang mustahil dilakukan oleh staf pemula.
Bulu kuduk Aruna meremang. Ruangan itu sunyi senyap. Tidak ada siapa pun di sana. Ia menatap berkeliling ke arah kubikel-kubikel kosong yang membisu.
Siapakah yang diam-diam telah menyelamatkannya dari jurang kehancuran hari ini?