Napas Aruna tercekat.
Dona yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mejanya langsung membeku. Senyum tipis yang semula menghiasi wajahnya perlahan hilang. Matanya melebar menatap interkom di meja Aruna, seolah benda kecil itu baru saja berubah menjadi sesuatu yang mengancam.
Suara itu terlalu jelas. Terlalu dingin. Dan terlalu mustahil untuk diabaikan.
Suara Aray Mahendra.
CEO Aksara Nexus Teknologi.
“Ke ruangan saya. Sekarang!”
Ruangan divisi administrasi proyek mendadak sunyi.
Aruna masih duduk di kursinya, tangan kanannya menggenggam sisa roti dari Damian yang belum sempat ia habiskan. Roti itu terasa berubah menjadi barang bukti di tangannya. Air mineral di samping laptopnya tampak seperti saksi yang terlalu jujur.
Ia menatap interkom itu beberapa detik, seolah berharap suara tadi hanya kesalahan sistem. Namun tidak ada kesalahan.
Pak Aray memanggilnya. Langsung. Dari ruang CEO.
Dona menelan ludah pelan. Ia tidak lagi menyindir. Untuk pertama kalinya sejak pagi, perempuan itu tampak benar-benar terkejut.
Beberapa staf lain mulai saling melirik. Ada yang pura-pura mengetik, ada yang menunduk ke dokumen, tetapi hampir semua telinga jelas tertuju ke meja Aruna.
Aruna meletakkan roti itu perlahan di atas tisu. Tangannya gemetar.
Bukan karena takut dimarahi sebagai karyawan baru. Bukan hanya karena dipanggil CEO. Ia gemetar karena tahu panggilan ini datang terlalu cepat setelah Damian pergi.
Terlalu tepat. Seolah Aray melihat. Atau sengaja mengawasi.
Dari arah pantri, suara langkah tergesa terdengar.
Nena muncul lebih dulu sambil membawa kotak makan yang belum tertutup sempurna. Fitri menyusul di belakangnya dengan gelas minum di tangan. Keduanya berhenti saat melihat suasana divisi yang mendadak kaku.
“Kenapa hening banget?” tanya Nena, lalu matanya langsung tertuju pada wajah pucat Aruna. “Run?”
Fitri mengikuti arah pandang Nena. Ia melihat lampu kecil di interkom meja Aruna masih menyala merah redup.
Wajahnya berubah serius.
“Kamu dipanggil?” tanya Fitri pelan.
Aruna mengangguk.
Nena melangkah cepat mendekat. “Tadi suara Pak Aray?”
Aruna kembali mengangguk.
Nena menatap interkom itu seperti ingin memarahinya. “Serius? Lewat meja kamu langsung?”
Dona akhirnya menemukan kembali senyumnya, meski kali ini lebih kaku. “Menarik, ya. Baru saja dapat roti dari Pak Damian, langsung dipanggil Pak Aray.”
Nena menoleh tajam. “Dona, kalau mulutmu tidak ada tombol mute, minimal pakai mode hemat bicara.”
Dona tersenyum tipis. “Aku cuma menyimpulkan dari urutan kejadian.”
“Kesimpulanmu sering lebih kotor daripada tempat sampah pantri.”
“Nena,” potong Fitri tenang.
Nena mengembuskan napas kesal, tetapi tidak melanjutkan.
Fitri menatap Aruna. “Bawa draft laporanmu. Apa pun alasannya, tetap posisikan ini sebagai urusan kerja.”
Aruna mencoba menelan rasa kering di tenggorokannya. “Iya.”
Fitri menurunkan suaranya. “Kalau dia bertanya soal Pak Damian, jawab seperlunya. Kamu tidak salah menerima makanan.”
Nena ikut mendekat, suaranya lebih cemas. “Dan kalau dia marah-marah, jangan cuma diam. Kamu punya hak bicara.”
Aruna menatap dua perempuan itu.
Di tengah kantor yang penuh tatapan curiga, perhatian kecil mereka terasa seperti tempat berteduh. Namun Aruna tahu ia tidak bisa bersembunyi lama. Di lantai tiga puluh, seseorang sedang menunggu. Seseorang yang pernah menjadi masa lalunya dan kini memiliki kuasa atas pekerjaannya.
“Aku ke atas dulu,” kata Aruna.
Nena memegang lengannya sebentar. “Hati-hati.”
Aruna mengangguk. Ia merapikan blazer, mengambil map laporan revisi, lalu berjalan keluar dari divisi. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan Dona menempel seperti duri.
Lift menuju lantai tiga puluh terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Aruna berdiri sendirian di dalamnya, menatap angka yang bergerak naik satu per satu. Ia mencoba mengatur napas, tetapi semakin dekat ke ruang CEO, semakin kuat bayangan Aray muncul di kepala.
Aray yang berdiri di bawah hujan lima tahun lalu.
Aray yang tersenyum miring.
Aray yang berkata bahwa suatu hari Aruna akan menyesal pernah membuangnya.
Dan Aray yang beberapa menit lalu mungkin melihat Damian memberinya roti.
Pintu lift terbuka. Raline sudah berdiri di meja sekretaris, wajahnya rapi dan profesional seperti biasa. Namun kali ini, ada sedikit kehati-hatian dalam tatapannya.
“Saudari Aruna,” kata Raline. “Pak Aray menunggu.”
Aruna mengangguk. “Terima kasih.”
Raline mengetuk pintu ruang CEO dua kali.
“Masuk!”
Suara itu terdengar dari dalam. Rendah. Dingin. Singkat.
Raline membuka pintu. Aruna melangkah masuk.
Ruang CEO masih sama seperti sebelumnya. Luas, bersih, dan terlalu dingin. Jendela kaca besar memperlihatkan kota dari ketinggian, tetapi pemandangan itu tidak memberi Aruna rasa lapang. Justru sebaliknya. Ia merasa seperti berada di ruang yang seluruh udaranya dikendalikan oleh satu orang.
Aray berdiri di dekat meja kerjanya.
Tidak duduk. Tidak membelakangi jendela.
Ia menatap Aruna sejak perempuan itu masuk, seolah sudah menunggu bukan hanya kedatangannya, tetapi juga kegugupannya.
Pintu tertutup di belakang Aruna. Klik. Suara kecil itu membuat dadanya semakin sesak.
“Duduk,” kata Aray.
Aruna tetap berdiri. “Bila ini tentang laporan, saya membawa draft revisinya, Pak.”
Satu alis Aray terangkat sedikit.
“Selalu ingin terlihat profesional.”
“Saya datang untuk urusan pekerjaan.”
Senyum tipis muncul di bibir Aray.
Senyum yang tidak hangat.
Senyum yang Aruna tahu selalu menjadi awal dari kalimat menyakitkan.
“Pekerjaan,” ulang Aray pelan. “Kupikir kau sedang sibuk menerima perhatian dari senior legal.”
Aruna membeku sesaat. Jadi benar. Ini tentang Damian.
Aruna mengeratkan genggaman pada map di tangannya. “Pak Damian hanya memberikan roti dan air mineral karena saya belum sempat makan.”
“Pak Damian,” ucap Aray, memberi tekanan pada nama itu. “Sekarang terdengar sangat formal.”
“Karena kami berada di kantor.”
“Kami,” gumam Aray. “Kata yang rapi.”
Aruna menatapnya. “Saya tidak memahami maksud Bapak.”
Aray berjalan pelan memutari meja. Setiap langkahnya tidak tergesa, tetapi justru karena itu terasa lebih menekan. Ia berhenti beberapa langkah di depan Aruna.
“Kau masih sama,” katanya.
Aruna menahan napas.
“Masih pandai membuat pria kaya merasa perlu iba padamu.”
Kalimat itu menghantam Aruna dengan cara yang terlalu akrab. Terlalu lama ia mengenal rasa sakit itu.
Lima tahun lalu, tuduhan serupa pernah menjadi badai yang menghancurkan hubungan mereka. Damian hanya teman, tetapi nama Damian terus dijadikan pisau. Setiap bantuan kecil berubah menjadi bukti. Setiap perhatian sederhana berubah menjadi alasan untuk curiga.
Kini, lima tahun kemudian, Aray masih melihatnya dengan cara yang sama. Sebagai perempuan yang memanfaatkan iba. Sebagai perempuan yang berlindung di balik pria lain. Sebagai perempuan yang dulu membuangnya demi seseorang yang dianggap lebih aman.
Dada Aruna terasa nyeri. Namun ia tidak mau menangis. Tidak di depan Aray. Tidak di ruangan ini.
“Kalau Bapak memanggil saya hanya untuk mengatakan itu,” ucap Aruna pelan, “saya mohon izin kembali ke divisi.”
Tatapan Aray mengeras. “Tersinggung?”
“Iya.”
Jawaban itu membuat Aray diam sesaat. Aruna mengangkat wajah. Suaranya masih pelan, tetapi tidak pecah.
“Saya tersinggung karena Bapak menilai saya dengan tuduhan yang sama seperti dulu.”
Rahang Aray menegang.
“Jangan mulai bicara seolah kau korban,” katanya dingin.
“Saya tidak sedang meminta Bapak mengasihani saya.”
“Bukankah itu keahlianmu?”
Aruna menggigit bibir bagian dalam. Sakitnya membantu ia tetap sadar.
“Pak Aray,” katanya, menekan setiap kata, “saya tidak akan membahas masa lalu di kantor.”
“Karena kau tidak punya jawaban?”
“Karena kantor bukan tempatnya.”
Aray tertawa pendek. “Nyaman sekali. Dulu kau pergi, sekarang kau bersembunyi di balik kata profesional.”
Aruna menggenggam map itu semakin kuat. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Bahwa ia pergi karena lelah dituduh. Bahwa ia berteriak putus karena sudah tidak sanggup terus diadili. Bahwa Damian tidak pernah menjadi alasan. Bahwa Aray sendiri yang mengubah cinta mereka menjadi ruang penuh kecurigaan.
Namun ia tahu, menjelaskan luka kepada orang yang sudah memutuskan untuk membenci bukanlah percakapan. Itu hanya cara lain untuk terluka lagi. Maka Aruna memilih menahan semuanya.
“Pak Damian hanya teman saya,” katanya.
Senyum Aray menghilang.
“Dia melihat saya belum makan. Dia membantu. Itu saja.”
“Itu saja?” ulang Aray.
“Iya.”
“Kau pikir aku percaya?”
Aruna menatapnya lurus. “Bapak tidak harus percaya.”
Mata Aray menyipit.
“Tapi saya juga tidak berkewajiban menjelaskan kehidupan pribadi saya kepada Bapak,” lanjut Aruna. “Selama pekerjaan saya tidak melanggar aturan perusahaan, hubungan pertemanan saya dengan siapa pun bukan urusan Bapak.”
Hening. Ruangan itu terasa makin dingin. Aray menatap Aruna seolah baru pertama kali menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukan lagi Aruna yang menangis di bawah hujan. Ia masih pucat. Ia masih takut. Tetapi ketakutan itu tidak membuatnya tunduk sepenuhnya.
Dan entah kenapa, hal itu membuat d**a Aray semakin panas. Karena Aruna yang berani membalas seperti ini mengingatkannya pada perempuan yang dulu ia cintai.
Perempuan yang pernah ia anggap rumah. Perempuan yang kemudian pergi.
“Teman,” ucap Aray pelan.
Satu kata itu keluar dengan nada yang terlalu gelap.
“Benar,” jawab Aruna. “Teman.”
Aray berjalan kembali ke meja, mengambil sebuah berkas, lalu meletakkannya di depan Aruna.
“Kalau begitu, buktikan kau datang ke perusahaan ini untuk bekerja, bukan mencari perlindungan.”
Aruna menatap berkas itu. “Apa maksud Bapak?”
“Laporanmu tetap harus diulang. Semua data pendukung harus diperiksa ulang dari awal. Aku ingin hasilnya di meja Raline sebelum jam lima.”
Aruna menahan napas.
Jam lima. Waktu yang hampir mustahil untuk karyawan baru dengan akses terbatas. Namun ia tahu membantah sekarang hanya akan memberi Aray ruang untuk melukainya lebih jauh.
“Baik,” jawabnya.
“Hanya itu?”
“Akan saya kerjakan.”
“Kau tidak ingin meminta bantuan Damian?”
Tusukan itu datang lagi.
Aruna mengangkat wajah. “Saya akan meminta bantuan sesuai jalur kerja resmi jika dibutuhkan.”
“Jawaban yang aman.”
“Jawaban yang benar.”
Mata Aray menggelap. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tidak ada teriakan. Tidak ada pengakuan. Hanya dua orang yang dulu saling mencintai, kini saling melukai dengan kalimat paling tertata.
Akhirnya Aray berkata, “Kau boleh keluar!”
Aruna mengambil berkas itu. “Baik, Pak.”
Ia berbalik menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Aray kembali menghentikannya.
“Aruna.”
Tubuh Aruna menegang. Ia tidak menoleh. “Iya, Pak?”
Keheningan menggantung sebentar.
Lalu suara Aray terdengar rendah, tajam, dan penuh luka lama yang belum selesai.
“Teman?”
Aruna memejamkan mata. Ia tahu kata itu tidak pernah sederhana bagi Aray.
Aray melanjutkan dengan suara dingin.
“Dulu kau juga menyebutnya begitu sebelum membuangku.”