“Ulangi dari awal.”
Empat kata itu membuat udara di sekitar meja Aruna terasa berhenti bergerak.
Fitri baru saja menyampaikan pesan dari sekretaris CEO, tetapi yang terasa seperti berdiri tepat di hadapan Aruna adalah Aray sendiri. Dingin. Tegas. Tidak memberi celah untuk membantah.
Aruna menatap layar komputernya yang gelap.
Beberapa menit lalu, ia hampir percaya bahwa ia berhasil melewati hukuman pertama. Ia sudah mengirim laporan sebelum jam makan siang, meski harus belajar sistem sambil berlari, meski aksesnya terbatas, meski kepalanya terasa penuh oleh kode proyek dan tabel revisi.
Namun ternyata belum cukup. Bagi Aray, tidak pernah cukup.
Nena yang berdiri di sampingnya langsung mengembuskan napas kesal. “Kurang rapi apanya? Itu laporan dikerjakan orang yang bahkan belum tahu password printer!”
Fitri menatapnya tajam. “Nena.”
“Aku tahu, aku tahu. Aku harus tenang. Tapi ini keterlaluan.” Nena menurunkan suara, tetapi wajahnya masih penuh emosi. “Dia baru hari pertama, Fit.”
Aruna akhirnya menarik napas.
“Aku ulangi,” katanya pelan.
Nena menoleh cepat. “Run—”
“Aku ulangi,” ulang Aruna, kali ini lebih tegas.
Bukan karena ia tidak marah. Bukan karena ia tidak lelah. Bukan karena ia tidak ingin menangis. Justru karena semua itu sudah menumpuk di d**a, Aruna tahu ia tidak boleh memberi Aray satu alasan pun untuk berkata bahwa ia mudah menyerah.
Fitri duduk kembali di sampingnya. “Kita lihat dulu bagian mana yang bisa diperbaiki.”
“Tidak,” kata Aruna.
Fitri dan Nena menatapnya.
Aruna menelan ludah. “Kalian sudah banyak membantu. Aku tidak mau kalian mengorbankan jam makan siang lagi.”
“Jam makan siang bisa ditunda,” sahut Nena.
“Lapar juga bisa ditunda,” tambah Aruna, mencoba tersenyum tipis, meski gagal. “Tapi aku tidak mau kalian ikut terseret.”
Fitri memperhatikannya beberapa detik. “Kalau kamu buntu, panggil aku.”
Aruna mengangguk. “Iya.”
Nena tampak tidak rela, tetapi akhirnya mundur selangkah. “Aku ambil makan dulu. Tapi kalau dalam sepuluh menit kamu terlihat seperti mayat administratif, aku kembali.”
Dalam keadaan lain, Aruna mungkin tertawa. Sekarang, ia hanya mengangguk.
Setelah Nena pergi ke pantri bersama beberapa staf lain, suasana divisi sedikit lebih lengang. Jam makan siang membuat sebagian besar meja kosong. Fitri masih duduk tidak jauh, sesekali melirik Aruna dari balik layar tabletnya. Dona tetap berada di mejanya, seolah sengaja menunda makan hanya untuk menikmati kekalahan kecil Aruna.
Aruna membuka kembali file laporan.
Mengulang dari awal. Ia membaca tabel pertama, lalu membandingkannya dengan dokumen pendukung. Ia menghapus beberapa bagian yang terlalu panjang, mengubah format, memperbaiki susunan status proyek, dan menyesuaikan istilah yang tadi disebut Fitri.
Perutnya berbunyi pelan. Aruna pura-pura tidak mendengar.
Bekal dari Mama Amel masih ada di tasnya. Nasi dan telur dadar yang tadi belum sempat ia habiskan. Namun membuka bekal saat laporan belum selesai terasa seperti kemewahan yang tidak pantas ia ambil.
Ia mengetik lagi. Menghapus. Mengetik lagi. Memindahkan tabel. Membaca ulang. Matanya mulai panas.
Bukan hanya karena menatap layar terlalu lama, tetapi karena rasa lelah yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan.
Kenapa Aray melakukan ini?
Apakah ini benar-benar soal laporan?
Atau karena lima tahun lalu Aray tidak pernah mendapat jawaban yang ia inginkan?
Aruna menekan tombol backspace terlalu keras.
Jangan pikirkan itu. Fokus. Namun semakin ia mencoba fokus, semakin jelas bayangan ruang CEO kembali muncul. Aray berdiri di samping kursinya. Suaranya rendah. Kalimatnya dingin.
Kau tidak akan pergi sebelum aku mengizinkan.
Aruna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak boleh menangis. Tidak di kantor. Tidak di depan Dona. Tidak untuk Aray.
“Rajin sekali.”
Suara Dona muncul dari seberang ruangan.
Aruna tidak menoleh.
Dona berjalan mendekat dengan gelas kopi di tangan. “Tidak makan siang?”
“Saya masih ada pekerjaan,” jawab Aruna datar.
“Kasihan.” Dona berhenti di samping meja Aruna. “Hari pertama saja sudah dibuat begini. Mungkin Pak Aray memang punya standar tinggi. Atau mungkin…”
Aruna tetap menatap layar. “Mungkin apa?”
Dona tersenyum. “Mungkin ada orang yang sejak awal memang tidak cocok berada di sini.”
Aruna akhirnya menoleh. “Kalau Mbak Dona tidak ada pekerjaan lain, saya sedang perlu konsentrasi.”
Senyum Dona menegang. Sebelum ia sempat membalas, suara langkah terdengar dari arah pintu divisi.
“Aruna?”
Suara itu membuat Aruna menoleh.
Damian berdiri di ambang pintu divisi dengan satu kantong kertas kecil dan sebotol air mineral di tangan. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, tetapi matanya langsung menangkap kelelahan di wajah Aruna.
Dona perlahan menegakkan tubuh.
“Pak Damian,” sapanya dengan nada yang dibuat manis.
Damian mengangguk sopan, lalu kembali menatap Aruna. “Aku dengar dari Nena kamu belum makan.”
Aruna terkejut. “Nena bilang?”
“Dia bertemu aku di pantri. Lebih tepatnya, dia hampir memarahiku karena tim legal mengambil roti terakhir yang katanya bisa menyelamatkan nyawa staf administrasi.”
Aruna nyaris tertawa, tetapi dadanya terlalu sesak.
Damian melangkah mendekat dan meletakkan kantong kertas itu di atas meja Aruna. “Ini roti. Dan air mineral. Makan sedikit dulu.”
Aruna menatap benda itu. Roti sederhana dalam kantong kertas. Air mineral dingin. Bantuan kecil.
Namun entah kenapa, kebaikan sekecil itu membuat pertahanannya hampir runtuh.
Sejak pagi, ia berlari dari satu tekanan ke tekanan lain. Dona. Nama CEO. Aray. Ruang dingin. Tugas mustahil. Laporan yang disuruh ulang. Ia menahan semuanya dengan kalimat yang sama: aku baik-baik saja.
Lalu Damian datang hanya dengan roti, dan tiba-tiba Aruna merasa ingin menangis.
Ia menunduk cepat.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Damian memperhatikan suaranya yang berubah. “Run…”
Panggilan itu membuat Aruna menegang. Bukan karena Damian. Bukan karena ia tidak suka. Tetapi karena ruangan ini kantor, dan ia sudah terlalu banyak menjadi pusat perhatian hari ini.
Dona berdiri tidak jauh dari mereka. Tatapannya terang-terangan tertarik.
Aruna mengambil roti itu, lalu berkata dengan suara rendah, “Damian, jangan panggil aku begitu di kantor.”
Damian terdiam. Sesaat kemudian, ia mengangguk. “Maaf.”
Aruna memegang kantong kertas itu lebih erat. “Aku tidak bermaksud kasar.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya…” Aruna menatap layar komputernya, mencari kata yang tidak terlalu jujur tetapi juga tidak bohong. “Aku tidak ingin orang salah paham.”
Damian menoleh sekilas ke arah Dona. Dona langsung berpura-pura melihat ponselnya.
“Aku mengerti,” kata Damian.
Aruna menarik napas pelan. “Terima kasih untuk rotinya. Tapi setelah ini, tolong jangan terlalu memperhatikanku di kantor.”
Kalimat itu keluar lebih menyakitkan daripada yang ia kira. Damian tidak melakukan kesalahan. Damian hanya baik. Sama seperti dulu.
Namun justru kebaikan Damian pernah menjadi sesuatu di masa lalunya. Aruna tidak mau sejarah itu terulang. Tidak di tempat ini. Tidak saat Aray sudah berdiri sebagai pemegang kuasa tertinggi.
Damian menatap Aruna lama. Tidak tersinggung. Tidak marah. Hanya ada kesedihan kecil yang ia sembunyikan dengan senyum tipis.
“Kamu masih takut orang-orang salah paham tentang kita,” katanya pelan.
Aruna tidak menjawab.
Damian memahami diam itu.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Aku akan jaga jarak di kantor. Tapi tolong, jangan sampai kamu tidak makan hanya karena ingin terlihat kuat.”
Aruna menggenggam roti itu. Matanya kembali panas.
“Aku tidak sedang berusaha terlihat kuat.”
“Aku tahu.” Damian menatapnya lembut. “Kamu memang selalu begitu. Memaksa diri bertahan sampai lupa bahwa kamu juga manusia.”
Aruna menelan ludah. Dona masih berada di dekat mereka. Beberapa staf yang belum makan siang juga mulai melirik dari meja masing-masing. Aruna tahu percakapan ini harus segera dihentikan.
“Damian,” katanya lebih formal, “saya masih harus menyelesaikan laporan.”
Damian mengangguk pelan. Ia menerima batas itu.
“Baik. Kalau nanti ada bagian legal yang membingungkan, hubungi aku melalui email kantor. Jalur resmi.”
Aruna mengangkat wajah. Ada rasa terima kasih di matanya.
“Terima kasih, Pak Damian.”
Panggilan itu membuat Damian tersenyum sedikit. “Sama-sama, Saudari Aruna.”
Ada kelembutan yang disamarkan dalam formalitas itu. Untuk sesaat, Aruna merasa sedikit lebih bisa bernapas. Damian berbalik hendak pergi, tetapi sebelum itu ia berhenti dan berkata, “Makan rotinya sebelum dingin.”
Aruna hampir tertawa. “Roti tidak dingin.”
“Kalau terlalu lama didiamkan, semua hal bisa kehilangan rasanya.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Aruna, entah kenapa, terasa seperti sesuatu yang lebih dalam.
Damian pergi dari divisi.
Dona menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu tersenyum tipis.
“Manis sekali.”
Aruna membuka kantong roti tanpa menatapnya. “Mbak Dona masih di sini?”
“Aku cuma heran. Baru hari pertama, tapi sudah ada senior legal yang repot-repot mengantar makanan.”
Aruna memotong kecil roti itu dan memasukkannya ke mulut. Ia baru sadar betapa laparnya ia ketika rasa manis roti menyentuh lidahnya.
“Pak Damian hanya membantu rekan kerja.”
“Tentu.” Dona menyilangkan tangan. “Semua yang menarik selalu dimulai dari kata hanya.”
Aruna menelan roti dengan susah payah. “Saya harus bekerja.”
Dona tersenyum. “Silakan. Jangan sampai Pak Aray kecewa lagi.”
Nama itu membuat tangan Aruna berhenti sebentar.
Dona melihatnya. Senyumnya semakin tipis. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, telepon internal di meja Aruna berbunyi.
Bukan telepon biasa. Lampu kecil di samping tombol interkom menyala merah. Seluruh tubuh Aruna menegang.
Fitri yang sejak tadi memperhatikan dari mejanya langsung berdiri. Nena yang baru kembali dari pantri dengan kotak makan di tangan ikut membeku di pintu.
Dering itu hanya berbunyi sekali. Lalu suara rendah yang sangat Aruna kenal terdengar langsung dari speaker interkom.
Dingin. Tenang. Tidak menyisakan ruang untuk menolak.
“Aruna.”
Napas Aruna tercekat.
Dona tidak lagi tersenyum. Ia menatap interkom itu dengan mata melebar, terkejut karena suara CEO terdengar langsung dari meja karyawan baru.
Suara Aray kembali terdengar.
“Ke ruangan saya. Sekarang!”