“Kau tidak akan pergi sebelum aku mengizinkan.”
Kalimat itu terus berdengung di kepala Aruna saat ia keluar dari ruang CEO.
Pintu besar berwarna hitam doff tertutup perlahan di belakangnya, tetapi tekanan dari ruangan itu seolah ikut menempel di pundaknya. Udara di lantai tiga puluh tetap dingin, rapi, dan mahal. Namun bagi Aruna, koridor itu terasa seperti lorong panjang yang tidak berujung.
Ia menggenggam map tipis yang diberikan Aray. Bukan. Bukan diberikan. Dilemparkan. Tugas itu jatuh ke pangkuannya seperti vonis.
Rekap dokumen proyek lintas divisi. Revisi laporan awal. Deadline: sebelum jam makan siang!
Aruna menelan ludah. Sebelum jam makan siang?
Ia bahkan belum bekerja setengah hari di perusahaan ini. Ia belum menghafal seluruh menu dashboard internal. Ia belum memahami kode-kode proyek. Ia belum tahu siapa saja PIC tiap divisi. Namun Aray memerintahkannya mengerjakan revisi laporan yang seharusnya dikerjakan staf berpengalaman.
Aruna berhenti di depan lift. Tangannya gemetar saat menekan tombol turun.
Ia ingin marah. Ia ingin menangis. Ia ingin kembali masuk ke ruangan itu dan mengatakan bahwa Aray tidak berhak menggunakan masa lalu untuk menghukumnya di tempat kerja.
Namun ia tahu satu hal. Kalau ia menangis sekarang, Aray menang. Kalau ia menyerah sekarang, Aray benar.
Ketika keadaan sulit, kau memilih pergi.
Ucapan Aray menusuk kembali. Aruna memejamkan mata.
Tidak. Kali ini ia tidak akan pergi begitu saja.
Lift terbuka. Aruna masuk sendirian. Pantulan dirinya di dinding logam terlihat pucat, tetapi matanya perlahan mulai mengeras.
“Aku hanya perlu menyelesaikannya,” bisiknya. “Apa pun caranya.”
Ketika ia kembali ke lantai dua puluh satu, suasana divisi masih sibuk. Beberapa staf sudah kembali ke meja masing-masing setelah penyambutan CEO. Ada yang membahas aura Aray dengan suara pelan, ada yang langsung tenggelam dalam pekerjaan, dan ada pula yang mencuri pandang ke arah Aruna begitu ia masuk.
Dona tentu salah satunya. Wanita itu duduk di kursinya dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan. Matanya turun ke map di tangan Aruna, lalu naik ke wajahnya.
“Wah,” ucap Dona manis. “Dapat oleh-oleh dari lantai tiga puluh?”
Aruna tidak menjawab. Ia berjalan ke mejanya. Nena langsung berdiri begitu melihat wajahnya.
“Run, kamu tidak apa-apa?”
Aruna meletakkan map di atas meja. “Aku dapat tugas tambahan.”
Fitri yang sedang memeriksa dokumen segera mendekat. “Tugas apa?”
Aruna membuka map itu. Nena ikut menunduk membaca. Dalam beberapa detik, wajahnya berubah.
“Ini bercanda?” bisiknya.
Fitri mengambil satu lembar, membaca cepat, lalu dahinya berkerut. “Ini laporan lintas divisi. Kamu bahkan belum punya akses penuh.”
“Aku tahu,” kata Aruna pelan.
“Deadline-nya?” tanya Fitri.
Aruna menunjuk catatan kecil di sudut lembar pertama. Nena membaca, lalu langsung memekik tertahan, “Sebelum jam makan siang?! Ini orang nyuruh kerja atau nyuruh reinkarnasi?”
Beberapa staf menoleh. Nena cepat-cepat menutup mulut.
Dona tertawa kecil dari mejanya. “Kenapa? Karyawan baru kita sudah kewalahan?”
Aruna tetap menatap dokumen. Ia tidak punya tenaga untuk melayani sindiran Dona.
Fitri menatap jam. “Kita punya sekitar dua jam.”
“Kita?” ulang Aruna.
Fitri menatapnya datar. “Kamu kira aku akan membiarkanmu dibiarkan tenggelam begitu saja?”
Nena langsung mengangkat tangan. “Aku juga ikut. Meski kontribusiku mungkin lebih banyak sebagai penyedia panik dan cemilan.”
Aruna menatap mereka berdua. Dadanya menghangat, tetapi ia segera menggeleng.
“Jangan. Ini tugasku. Aku tidak mau kalian kena masalah.”
“Bantuan tidak harus terlihat,” kata Fitri. “Aku tidak akan mengerjakan untukmu. Aku akan menunjukkan alurnya. Kamu tetap yang mengerjakan.”
Nena mengangguk cepat. “Aku bisa bantu cari dokumen pendukung. Itu bukan curang, itu namanya bertahan hidup.”
Aruna ingin menolak lagi, tetapi waktu berjalan. Dan ia tahu, tanpa bantuan Fitri, tugas itu mustahil selesai.
“Terima kasih,” ucapnya lirih.
Fitri menarik kursi ke samping Aruna. “Buka dashboard.”
Aruna segera menyalakan layar komputer. Jari-jarinya masih sedikit gemetar saat memasukkan akun sementara. Masalah pertama muncul kurang dari satu menit kemudian.
Akses ditolak.
Aruna menatap layar. “Aku belum bisa membuka folder lintas divisi.”
Fitri menghela napas. “Sudah kuduga.”
Dona yang pura-pura sibuk mengetik tiba-tiba bersuara, “Kalau tidak punya akses, mungkin karena memang belum pantas pegang dokumen penting.”
Nena menoleh tajam. “Dona, kursimu jauh. Kenapa suaramu selalu sampai sini?”
“Akustik ruangan bagus,” jawab Dona ringan.
Fitri tidak terpancing. Ia membuka tablet miliknya. “Aku punya akses sebagai mentor divisi. Kamu catat kode dokumen dari sini, lalu buka bagian yang bisa kamu akses lewat folder briefing. Untuk bagian terkunci, kamu tulis statusnya sebagai pending verification.”
Aruna mengangguk cepat. Pekerjaan dimulai. Selama hampir satu jam, Aruna tenggelam dalam angka, tabel, kode proyek, dan catatan revisi. Fitri duduk tidak jauh darinya, sesekali memberi arahan singkat.
“Kolom itu bukan tanggal upload. Itu tanggal approval.”
“Jangan pakai istilah selesai. Pakai closed.”
“Kalau vendor belum final, statusnya tentative.”
“Revisi anggaran pisahkan dari revisi kontrak.”
Aruna mencatat semuanya sambil mengetik cepat. Otaknya terasa seperti dipaksa berlari sebelum belajar berjalan. Namun anehnya, semakin lama, kepanikannya mulai berubah menjadi fokus.
Nena bolak-balik dari printer ke meja Aruna, membawa dokumen yang diperlukan.
“Ini laporan proyek Q3.”
“Ini notulensi meeting terakhir.”
“Ini kopi. Bukan dokumen, tapi lebih penting.”
Aruna menerima gelas kopi itu tanpa sempat tersenyum. “Terima kasih.”
“Minum. Jangan sampai kamu tumbang sebelum Aray—maksudku Pak Aray—sempat memberi hukuman kedua.”
Aruna hampir tersedak. Fitri melirik Nena.
“Maaf,” kata Nena cepat. “Mulutku belum sinkron dengan situasi trauma.”
Aruna menatap layar. Nama Aray diucapkan biasa oleh Nena, tetapi tetap membuat dadanya berdenyut nyeri.
Pak Aray.
CEO.
Mantan.
Dendam yang duduk di lantai tiga puluh. Ia mempercepat ketikannya.
Di seberang ruangan, Dona memperhatikan dengan mata menyipit. Aruna tahu wanita itu sedang mencari celah. Mungkin menunggu Aruna salah. Mungkin menunggu kesempatan untuk berkata bahwa karyawan baru yang dipanggil CEO ternyata tidak mampu bekerja.
Aruna tidak akan memberi kesempatan itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.20 ketika laporan mulai terbentuk. Belum sempurna. Namun sudah jauh lebih rapi dari yang Aruna kira bisa ia lakukan.
Ia memeriksa ulang tabel pertama. Lalu kedua. Lalu ringkasan status. Fitri menandai beberapa bagian yang perlu diperbaiki.
“Bagian ini kurang jelas. Tambahkan sumber data.”
“Yang ini jangan pakai kalimat panjang. CEO tidak suka laporan bertele-tele.”
Aruna berhenti mengetik sesaat.
“Dari mana kamu tahu?”
Fitri menatapnya. “Semua orang tahu.”
Nena yang baru datang membawa dokumen tambahan ikut menyahut, “Pak Aray itu alergi pada kalimat tidak efektif. Konon katanya satu paragraf terlalu panjang bisa membuat satu tim lembur.”
Aruna menatap layar.
Dulu Aray justru suka membaca tulisan-tulisannya yang panjang.
Dulu, saat Aruna menulis esai untuk lomba kampus, Aray duduk di sebelahnya sambil mencorat-coret bagian yang menurutnya terlalu rumit.
Kalimatmu cantik, Run. Tapi jangan bikin pembaca tersesat di taman bunga.
Aruna memejamkan mata sesaat. Jangan. Tidak sekarang.
Ia kembali mengetik.
Pukul 11.43, sebagian besar laporan selesai.
Aruna mengembuskan napas panjang. Bahunya terasa pegal. Matanya panas. Namun di layar, dokumen itu nyata. Rapi. Tersusun. Belum sempurna, tapi setidaknya layak dikirim sebagai hasil kerja karyawan baru yang belum memahami seluruh sistem.
Fitri membaca cepat dari samping. “Ini sudah cukup untuk draft awal.”
“Cukup?” tanya Aruna.
“Untuk ukuran waktu dan aksesmu, iya.”
Nena mengangkat dua jempol. “Menurutku kamu berhak dapat penghargaan ‘tidak jadi resign sebelum makan siang’.”
Aruna tersenyum lelah, ia merasa bisa bernapas.
“Terima kasih,” katanya pada Fitri dan Nena. “Serius. Tanpa kalian, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Fitri hanya mengangguk. “Kamu yang mengerjakan.”
Nena menunjuk dirinya sendiri. “Aku juga berjasa sebagai kurir dokumen dan komentator moral.”
“Iya,” kata Aruna. “Terima kasih juga.”
Nena tampak puas.
Aruna menyimpan file dengan format yang diajarkan Fitri. Lalu ia mengirimkannya melalui dashboard internal sesuai arahan. Jarinya berhenti sebentar di atas tombol submit.
Ia teringat wajah Aray. Senyum tipisnya. Kalimat dinginnya.
Kau tidak akan pergi sebelum aku mengizinkan.
Aruna menekan tombol. File terkirim. Status berubah menjadi:
Submitted to Executive Office.
Aruna bersandar ke kursi. Tubuhnya terasa lelah, tetapi ada sedikit rasa menang yang diam-diam muncul. Ia belum kalah. Hari ini belum berakhir, tetapi setidaknya ia berhasil melewati hukuman pertama.
Dona, yang melihat perubahan ekspresi Aruna, mendengus pelan. “Sudah selesai? Cepat juga kalau dibantu rame-rame.”
Nena langsung menoleh. “Kamu iri karena tidak diajak membantu atau karena tidak berhasil melihat orang gagal?”
Dona tersenyum. “Aku hanya berkomentar.”
Fitri menatap Dona. “Kalau komentarnya tidak membantu pekerjaan, simpan saja.”
Dona terdiam, tetapi sorot matanya semakin tajam.
Aruna tidak ingin memperpanjang. Ia mematikan layar sebentar, lalu menatap jam. 11.50. Sepuluh menit sebelum makan siang.
Ia hampir tertawa kecil. Tugas mustahil itu benar-benar selesai sebelum jam makan siang. Mungkin setelah ini ia bisa makan bekal yang tersisa, minum air, dan menenangkan diri sebelum menghadapi sisa hari.
Namun harapan kecil itu tidak bertahan lama.
Telepon meja Fitri berbunyi. Fitri mengangkatnya. “Divisi administrasi proyek, Fitri bicara.”
Ekspresi Fitri berubah sedikit. Ia menatap Aruna. Aruna langsung menegakkan punggung.
“Iya, Bu Raline,” jawab Fitri. “Baik. Akan saya sampaikan.”
Telepon ditutup. Ruangan terasa lebih hening meski tidak benar-benar sunyi.
Nena menelan ludah. “Jangan bilang…”
Fitri memandang Aruna dengan wajah yang sulit dibaca.
“Pesan dari sekretaris CEO.”
Aruna merasakan sesuatu jatuh di dalam dadanya. Fitri menarik napas pelan, lalu mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati.
“Pak Aray bilang laporanmu kurang rapi.”
Aruna membeku.
Nena menutup mata. “Ya Tuhan.”
Fitri melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Ulangi dari awal.”
Untuk beberapa detik, Aruna tidak bisa bergerak. Layar komputernya gelap. Jari-jarinya dingin. Tumpukan dokumen di mejanya seperti mendadak menjulang lebih tinggi.
Dari seberang ruangan, Dona tersenyum. Dan di lantai tiga puluh, Aray Mahendra baru saja membuktikan bahwa hukuman pertama belum benar-benar selesai.