Aruna tidak langsung berdiri. Gagang telepon sudah kembali ke tempatnya, tetapi suara Raline masih tertinggal di telinganya.
Pak Aray meminta Saudari datang ke ruang beliau sekarang.
Sekarang... Bukan nanti. Bukan setelah jam kerja. Bukan setelah Aruna sempat menata napas, menenangkan diri, atau memutuskan apakah ia ingin bertahan di perusahaan ini.
Sekarang.
Nena berdiri di samping meja Aruna dengan wajah cemas. “Run, kamu yakin bisa?”
Aruna menatap layar laptopnya yang masih kosong. Surat resign yang tadi hampir ia ketik sudah hilang, tetapi alasan untuk menulisnya kini menunggu di lantai tiga puluh.
Ia menelan ludah.
“Aku harus bisa,” jawabnya pelan.
Fitri menatapnya dengan serius. “Ingat, kamu karyawan. Dia CEO. Apa pun masa lalu kalian, di kantor kamu punya hak untuk diperlakukan profesional.”
Aruna tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. “Aku juga sedang berusaha mengingat itu.”
Dona, dari mejanya, pura-pura mengetik. Namun matanya jelas memperhatikan. Bibirnya membentuk senyum kecil, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan bahan gosip terbaik hari ini.
“Dipanggil langsung CEO di hari pertama,” ucap Dona cukup keras. “Hebat juga, Aruna.”
Nena langsung menoleh tajam. “Dona, sekali saja dalam hidupmu, coba diam!”
Dona mengangkat bahu. “Aku cuma kagum.”
“Kalau kagummu selalu terdengar seperti racun, mungkin masalahnya bukan di telinga kami.”
Fitri menyentuh lengan Nena. “Sudah.”
Aruna tidak ingin memperpanjang. Ia berdiri perlahan. Kakinya terasa tidak sepenuhnya miliknya. Ia merapikan blazer abu-abu yang tiba-tiba terasa terlalu tipis untuk melindunginya dari apa pun.
Nena memegang tangannya sebentar. “Kalau kamu butuh alasan keluar dari sana, telepon aku. Aku akan pura-pura ada keadaan darurat.”
“Keadaan darurat apa?”
“Apa saja. Printer meledak. Dona berubah jadi manusia baik. Itu darurat besar.”
Dalam situasi lain, Aruna mungkin tertawa. Kali ini hanya sudut bibirnya yang bergerak.
“Terima kasih.”
Fitri berkata pelan, “Jangan biarkan dia melihat kamu takut.”
Aruna mengangguk.
Namun begitu ia berjalan keluar dari divisi menuju lift eksekutif, ketakutan itu justru terasa semakin besar.
Koridor menuju lift tampak sama seperti sebelumnya: bersih, terang, dengan lantai mengilap dan dinding kaca. Namun setiap langkah Aruna terasa seperti mendekati ruang sidang. Ia melihat bayangan dirinya pada kaca: seorang perempuan dengan wajah pucat, mata lelah, dan tangan yang terus menggenggam tali tas seolah itu satu-satunya pegangan.
Di depan lift, ia menekan tombol lantai tiga puluh. Pintu terbuka hampir tanpa suara. Aruna masuk sendirian.
Begitu pintu tertutup, ia membiarkan bahunya turun. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar, tetapi tidak membuat dadanya lega. Angka di atas pintu bergerak naik perlahan.
22.
23.
24.
Setiap angka adalah jarak yang semakin pendek antara dirinya dan Aray.
Aray Mahendra.
Nama itu masih terasa aneh jika dikaitkan dengan ruang CEO. Bagaimana mungkin pria yang dulu menunggunya di depan perpustakaan kini menunggunya di lantai tertinggi perusahaan? Bagaimana mungkin laki-laki yang pernah membeli dua gelas es teh dengan uang receh kini bisa memanggilnya seperti memanggil bawahan?
Lift berdenting. Lantai tiga puluh. Pintu terbuka.
Udara di lantai itu berbeda. Lebih sunyi. Lebih dingin. Lebih mahal.
Tidak ada suara ketikan ramai seperti di divisi. Tidak ada tawa Nena. Tidak ada aroma kopi pantri. Hanya koridor luas dengan karpet abu-abu gelap, lampu putih lembut, dan dinding kaca yang memperlihatkan kota dari ketinggian.
Seorang perempuan berpenampilan rapi berdiri di dekat meja sekretaris.
“Saudari Aruna?” tanyanya.
Aruna mengangguk. “Iya.”
“Saya Raline.” Perempuan itu tersenyum formal. “Pak Aray sudah menunggu.”
Aruna ingin bertanya apakah ia boleh menunggu lima tahun lagi sebelum masuk. Tentu saja ia tidak melakukannya.
Ia hanya mengangguk.
Raline berjalan menuju pintu besar berwarna hitam doff di ujung ruangan. Di samping pintu itu, terdapat papan kecil bertuliskan:
CEO — Aray Mahendra
Tidak ada inisial lagi. Tidak ada simbol untuk disangkal. Tidak ada ruang bagi Aruna untuk berpura-pura salah mengenali.
Raline mengetuk dua kali.
“Pak, Saudari Aruna sudah datang.”
Dari dalam, suara rendah terdengar.
“Masuk!”
Satu kata itu cukup membuat lutut Aruna melemah.
Raline membuka pintu dan memberi isyarat agar Aruna masuk. “Silakan.”
Aruna melangkah masuk.
Ruang CEO itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Jendela kaca membentang dari lantai ke langit-langit, memperlihatkan kota yang tampak kecil di bawah sana. Di tengah ruangan ada meja kerja besar dengan permukaan hitam mengilap, beberapa rak buku, sofa abu-abu, dan lukisan abstrak dengan warna gelap di salah satu dinding.
Namun semua kemewahan itu tidak membuat ruangan terasa hangat.
Justru sebaliknya. Ruang itu dingin. Terlalu dingin. Seperti pemiliknya.
Aray berdiri membelakangi Aruna di depan jendela. Setelan gelapnya tampak rapi tanpa cela. Satu tangannya masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang cangkir kopi. Dari tempat Aruna berdiri, ia hanya melihat punggung pria itu.
Namun punggung itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
Raline menutup pintu dari luar.
Klik.
Aruna kini sendirian bersama Aray. Tidak ada Nena. Tidak ada Fitri. Tidak ada barisan karyawan yang bisa menjadi perisai. Hanya mereka berdua. Dan lima tahun luka yang berdiri di antara keduanya.
“Duduk,” kata Aray tanpa menoleh.
Aruna tidak langsung bergerak.
“Aku bilang duduk, Aruna.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan tenang. Tidak keras. Tidak penuh emosi. Namun justru ketenangan itu membuatnya lebih tajam.
Aruna berjalan ke kursi di depan meja kerja, lalu duduk perlahan. Tangannya ia letakkan di pangkuan agar gemetarnya tidak terlalu terlihat.
Aray masih membelakangi.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu ia berbalik. Aruna menahan napas.
Dari dekat, wajah Aray tampak lebih asing sekaligus lebih menyakitkan. Lima tahun menambahkan ketegasan pada garis wajahnya. Matanya lebih tajam. Senyumnya tidak ada. Hanya ada ketenangan dingin yang membuat Aruna merasa seperti sedang diperiksa, bukan ditemui.
Aray berjalan pelan ke mejanya, meletakkan cangkir kopi, lalu duduk di kursi kebesarannya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Aruna. Datar. Terlalu datar.
“Aku penasaran,” ucapnya akhirnya.
Aruna menggenggam jari-jarinya di pangkuan.
“Setelah melihat namaku di perusahaan ini,” lanjut Aray, “apa yang pertama kali kau pikirkan?”
Aruna memaksa suaranya keluar. “Saya tidak mengerti maksud Bapak.”
Satu alis Aray terangkat sedikit.
“Bapak?”
Aruna menelan ludah. “Anda CEO saya.”
Senyum tipis muncul di bibir Aray.
Bukan senyum hangat. Bukan senyum yang dulu pernah membuat Aruna lupa betapa berat hidupnya. Itu senyum seseorang yang menemukan sesuatu yang pahit tetapi menarik.
“Lima tahun,” gumam Aray. “Dan sekarang kau memanggilku Bapak.”
Aruna menunduk. “Saya datang karena dipanggil untuk urusan pekerjaan.”
“Pekerjaan?” Aray mengulang, seolah kata itu lucu. “Kau benar-benar pandai memakai kata yang aman.”
Aruna mengangkat wajah. “Kalau tidak ada arahan pekerjaan, saya mohon izin kembali ke divisi.”
Keheningan jatuh. Mata Aray menggelap. Detik berikutnya, ia berdiri.
Aruna refleks menegakkan tubuh.
Aray berjalan mengitari meja. Langkahnya pelan, tetapi setiap langkah terasa seperti mengurangi jarak aman yang tersisa. Ia berhenti beberapa langkah dari kursi Aruna, lalu menatapnya dari atas.
“Kau pikir bisa lari lagi?”
Kalimat itu menusuk tepat ke tempat yang paling lama Aruna tutup.
Ia tahu kalimat itu akan datang. Entah dalam bentuk apa, entah kapan. Namun mendengarnya langsung dari mulut Aray tetap membuat dadanya seperti diremas.
“Saya tidak lari,” jawab Aruna, meski suaranya nyaris pecah.
Aray tersenyum miring. “Tidak?”
Aruna memaksa dirinya tetap menatap pria itu. “Saya bekerja di sini karena diterima melalui proses rekrutmen. Kalau keberadaan saya mengganggu Bapak, saya bisa mengajukan pengunduran diri sesuai prosedur.”
Mata Aray menyipit.
“Pengunduran diri,” ulangnya pelan. “Jadi itu yang ada di kepalamu sejak tadi?”
Aruna diam.
Aray menunduk sedikit, cukup untuk membuat jarak mereka terasa semakin menekan.
“Masih sama,” katanya. “Ketika keadaan sulit, kau memilih pergi.”
Napas Aruna tertahan.
“Dulu kau pergi dari hidupku,” lanjut Aray. “Sekarang kau ingin pergi dari perusahaanku.”
“Pak Aray,” potong Aruna, suaranya bergetar tetapi jelas. “Saya mohon, jangan mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Aray diam. Panggilan itu akhirnya keluar.
Pak Aray. Bukan Ray.
Bukan nama lama yang dulu pernah ia ucapkan dengan lembut. Jarak itu berdiri jelas di antara mereka.
Aray menatapnya lama. Sesuatu bergerak di matanya, terlalu cepat untuk disebut luka, terlalu dingin untuk disebut rindu.
“Urusan pribadi?” tanyanya. “Kau yakin masih ada yang pribadi di antara kita?”
Aruna menggenggam ujung blazer di pangkuannya. “Tidak ada lagi.”
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada yang ia duga. Dan begitu terucap, ruangan terasa semakin dingin.
Senyum Aray menghilang sepenuhnya.
“Benar,” katanya pelan. “Tidak ada lagi.”
Aruna merasakan kalimat itu menghantam balik dadanya sendiri.
Ia seharusnya lega. Ia yang mengatakannya. Namun mendengar Aray menyetujuinya membuat sesuatu dalam dirinya retak halus.
Aray berjalan kembali ke meja, mengambil sebuah map tipis, lalu melemparkannya perlahan ke atas meja di depan Aruna.
“Mulai besok, kau akan membantu rekap dokumen proyek lintas divisi.”
Aruna menatap map itu. “Saya masih karyawan baru.”
“Aku tahu.”
“Saya belum memahami seluruh sistem.”
“Belajar.”
Jawaban itu pendek dan mutlak.
Aruna mengangkat wajah. “Apakah ini arahan dari manajer divisi saya?”
“Ini arahan dariku.”
“Dengan segala hormat, Pak Aray, prosedur pekerjaan saya seharusnya melalui—”
“Di ruangan ini,” potong Aray.
Suaranya tidak meninggi. Namun cukup membuat Aruna berhenti bicara.
Aray melangkah mendekat lagi. Kali ini ia berhenti tepat di sisi kursi Aruna. Jarak mereka terlalu dekat. Aruna bisa mencium aroma parfumnya, bercampur samar dengan kopi pahit. Aroma yang berbeda dari masa lalu, tetapi entah kenapa tetap menyeret ingatan Aruna pada hujan, jaket tua, dan sore kampus yang pernah ia cintai.
Aruna menahan diri agar tidak mundur. Ia tidak boleh terlihat takut.
Aray menunduk sedikit, suaranya turun menjadi lebih rendah.
“Di ruangan ini, aku yang menentukan sejauh mana kau bisa bertahan.”
Jantung Aruna berdetak keras. Aray menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi sebelum kau berpikir untuk menulis surat resign,” lanjutnya pelan, “ingat satu hal!”
Aruna tidak sanggup bertanya, tetapi matanya terlanjur menatapnya.
Senyum tipis kembali muncul di bibir Aray.
“Kau tidak akan pergi sebelum aku mengizinkan.”