“Lama tidak bertemu, Aruna.”
Kalimat itu tidak keras. Bahkan nyaris tenggelam di antara suara langkah karyawan, bisik-bisik lobi, dan pintu ruang meeting yang menutup perlahan di belakang Aray. Namun bagi Aruna, suara itu terasa seperti dentuman yang menghantam langsung ke dadanya.
Langkahnya terhenti. Darahnya seolah membeku. Ia tidak menoleh. Ia tidak sanggup.
Di belakangnya, pintu ruang meeting tertutup rapat. Bunyi klik kecil dari pintu itu terdengar terlalu jelas di telinga Aruna, seperti tanda bahwa tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Aray mengenalinya.
Aray mengingatnya.
Dan lebih buruk dari itu, Aray memilih tidak membongkar semuanya di depan orang lain.
Ia memilih menunggu. Menunggu waktu yang lebih tepat. Menunggu tempat yang lebih sunyi. Menunggu cara yang mungkin jauh lebih menyakitkan.
“Run?”
Suara Nena terdengar dekat, tetapi seolah berasal dari ujung lorong yang jauh. Aruna berkedip, berusaha mengembalikan kesadarannya ke lantai marmer, ke cahaya lobi, ke kerumunan karyawan yang mulai bergerak menuju lift.
Tangan Nena menyentuh lengannya pelan.
“Kamu dengar aku?”
Aruna mengangguk, meski tidak yakin benar-benar mendengar apa pun.
Fitri berdiri di sisi lainnya. Wajah perempuan itu tetap tenang, tetapi matanya menyimpan kewaspadaan.
“Ayo kembali ke divisi,” kata Fitri pelan. “Kamu perlu duduk.”
Aruna ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Kalimat itu sudah terlalu sering ia pakai hari ini sampai hampir menjadi kebohongan otomatis. Namun bibirnya tidak bergerak. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya seperti kehilangan kemampuan untuk berpura-pura.
Ia hanya mengangguk sekali lagi. Mereka berjalan menuju lift bersama karyawan lain. Di sekitarnya, orang-orang mulai berbisik tentang sambutan CEO.
“Pak Aray dingin banget, ya.”
“Tapi keren. Auranya beda.”
“Dia sempat berhenti di divisi administrasi proyek, kan?”
“Iya, tadi nanya staf baru.”
“Untung bukan aku yang ditanya. Bisa lupa nama sendiri.”
Aruna menunduk.
Setiap kali nama Aray terdengar, dadanya seperti ditusuk pelan. Dulu nama itu pernah menjadi panggilan paling hangat dalam hidupnya. Sekarang, nama yang sama terdengar seperti ancaman di gedung tempat ia seharusnya memulai hidup baru.
Lift datang. Mereka masuk bersama beberapa staf lain.
Ruang sempit itu membuat Aruna sulit bernapas. Pantulan wajahnya di dinding lift terlihat pucat. Matanya kosong, bibirnya kering, dan tangannya masih menggenggam tali tas terlalu erat.
Nena berdiri di depannya, sengaja menutupi Aruna dari pandangan orang lain. Untuk pertama kalinya, Nena tidak bercanda.
Fitri menekan tombol lantai dua puluh satu, lalu berbisik, “Tarik napas pelan.”
Aruna mengikuti.
Satu tarikan.
Satu embusan.
Tidak cukup.
Kalimat Aray masih melekat di telinganya.
Lama tidak bertemu, Aruna.
Ia mengatakannya seolah mereka hanya dua kenalan lama yang kebetulan berpapasan.
Bukan dua orang yang pernah saling menggenggam masa depan.
Bukan dua orang yang berakhir dengan tuduhan, tangis, dan dendam.
Bukan dua orang yang seharusnya tidak pernah bertemu lagi.
Begitu pintu lift terbuka di lantai divisi, Aruna hampir tersandung saat melangkah keluar. Nena segera menahan sikunya.
“Pelan-pelan.”
“Terima kasih,” bisik Aruna.
Dona berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Aruna bisa merasakan tatapannya meski tidak menoleh. Tatapan penuh rasa ingin tahu, seperti seseorang yang menemukan retakan kecil pada dinding dan sedang menunggu waktu tepat untuk membongkarnya.
“Menarik sekali,” gumam Dona.
Nena langsung menoleh. “Apa?”
Dona tersenyum tipis. “Tidak ada. Aku cuma bilang hari ini menarik sekali.”
Fitri menatap Dona datar. “Kembali ke meja masing-masing.”
Dona mengangkat bahu, lalu berjalan lebih dulu menuju mejanya.
Aruna sampai di mejanya dan langsung duduk. Kursi kerja itu terasa terlalu keras. Layar komputernya masih menampilkan dashboard internal yang tadi ia pelajari bersama Fitri. Catatan kecilnya terbuka di samping keyboard. Pulpen perusahaan tergeletak di atas halaman terakhir.
Semuanya tampak normal. Terlalu normal. Padahal hidup Aruna baru saja retak di tempat yang sama untuk kedua kalinya.
Nena berdiri di samping mejanya. “Run, aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi aku perlu tanya. Kamu kenal Pak Aray?”
Aruna memejamkan mata. Pertanyaan itu akhirnya datang.
Ia tahu Nena akan bertanya. Siapa pun yang melihat tubuh Aruna membeku setelah bisikan Aray pasti akan bertanya. Apalagi Nena, yang meski cerewet, punya kepekaan lebih tajam daripada yang ia tunjukkan.
Fitri tidak ikut bertanya, tetapi tatapannya menunggu.
Aruna membuka mata perlahan.
“Iya,” jawabnya lirih. “Dulu.”
Nena menahan napas. “Dulu… sedekat apa?”
Aruna menatap layar komputernya yang mulai buram oleh pandangan sendiri.
Sedekat apa?
Sedekat janji yang pernah ia percaya.
Sedekat tangan yang pernah menggenggamnya di bawah meja perpustakaan.
Sedekat nama yang dulu ia simpan diam-diam dalam doa.
Sedekat luka yang sampai lima tahun pun belum benar-benar menutup.
“Cukup dekat,” jawab Aruna akhirnya.
Nena tidak langsung bicara. Fitri menarik kursi kecil dan duduk di samping Aruna.
“Kamu tidak harus cerita sekarang.”
Aruna menoleh. Ada sesuatu dalam suara Fitri yang membuat dadanya terasa sedikit lebih aman. Tidak mendesak. Tidak menghakimi.
Namun aman saja tidak cukup. Karena Aray bukan sekadar masa lalu yang muncul kembali. Ia adalah CEO. Atasan tertinggi. Orang yang memegang nasib pekerjaannya di perusahaan ini.
Dan Aruna tahu betul bagaimana dendam bisa hidup dalam diri seseorang selama bertahun-tahun.
“Aku harus pergi dari sini,” ucap Aruna pelan.
Nena mengerjap. “Maksudnya?”
“Aku harus resign.”
Kata itu keluar begitu saja.
Namun begitu terucap, Aruna merasa kalimat itu seperti satu-satunya jalan keluar yang masuk akal.
Ia tidak bisa bekerja di bawah Aray. Tidak bisa melihat wajahnya setiap hari. Tidak bisa menunggu kapan pria itu akan memanggilnya, menyindirnya, mempermalukannya, atau membalas semua rasa sakit yang ia yakini pernah Aruna berikan.
Nena langsung panik. “Run, kamu baru masuk hari ini.”
“Aku tahu.”
“Belum sampai sehari.”
“Aku tahu.”
“Bahkan komputer kamu belum hafal wajahmu.”
Dalam keadaan lain, Aruna mungkin akan tertawa. Namun kali ini ia hanya menatap keyboard di depannya dengan mata kosong.
Fitri bersuara lebih tenang. “Resign karena takut pada Pak Aray?”
Aruna menggigit bibir.
Takut?
Ya, ia takut.
Bukan hanya takut dimarahi atasan. Bukan takut pekerjaan berat. Bukan takut pada tuntutan kantor.
Ia takut pada orang yang pernah ia cintai dan kini mungkin membencinya dengan seluruh ingatan yang tersisa.
“Aku tidak bisa di sini,” kata Aruna. “Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Tapi aku tahu dia tidak akan membiarkan semuanya biasa saja.”
Nena menelan ludah. “Apa dia… mantanmu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Aruna tidak menjawab dengan kata-kata. Namun diamnya sudah cukup.
Nena menutup mulut dengan satu tangan. “Ya Tuhan.”
Fitri tetap tenang, tetapi matanya sedikit melembut. “Kalau begitu, jangan ambil keputusan saat kamu masih gemetar.”
“Aku tidak punya pilihan.”
“Kamu selalu punya pilihan,” kata Fitri. “Tapi keputusan yang diambil saat panik biasanya cuma terlihat seperti jalan keluar. Belum tentu benar-benar menyelamatkan.”
Aruna tahu Fitri benar. Namun pikirannya sudah terlalu kacau untuk menerima nasihat.
Di kepalanya, ia melihat Mama Amel yang pagi tadi merapikan kerah blazer-nya. Mona yang melambai dari depan rumah. Bekal makan siang sederhana. Cicilan rumah. Tagihan listrik. Biaya sekolah Mona. Obat Mama Amel saat tubuhnya terlalu lelah.
Lalu wajah Aray muncul di antara semuanya.
Dingin.
Diam.
Mengancam tanpa perlu berkata banyak.
Aruna menatap layar komputer.
“Aku akan ketik surat resign dulu,” katanya.
Nena langsung memegang bahunya. “Run—”
“Aku belum tentu langsung kirim.” Aruna mencoba terdengar tenang. “Aku hanya… perlu menyiapkannya.”
Fitri menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil. “Kalau itu membuatmu bisa bernapas, tulis. Tapi jangan kirim sebelum kamu benar-benar yakin.”
Aruna mengangguk. Nena tampak ingin membantah, tetapi Fitri menggeleng pelan. Akhirnya Nena hanya berdiri di samping Aruna dengan wajah cemas.
Aruna membuka dokumen baru di laptopnya. Layar putih kosong muncul. Kursor berkedip. Ia menatapnya lama.
Jari-jarinya bergerak ke keyboard, lalu berhenti. Ia mencoba menyusun kalimat formal.
Kepada Yth. HRD Aksara Nexus Teknologi…
Ia mengetik perlahan. Setiap huruf terasa seperti pengakuan bahwa ia kalah sebelum bertarung.
Kepada Yth. Tim Human Resources Aksara Nexus Teknologi,
Aruna berhenti. Ia membaca kalimat itu. Lalu menghapusnya. Bukan karena salah. Tetapi karena bayangan Mama Amel muncul lagi.
Perut kosong tidak bisa diajak berjuang.
Kalimat sederhana ibunya pagi tadi menyusup ke kepalanya. Lalu suara Mona.
Semangat, Kak!
Aruna menekan kedua tangannya di atas keyboard. Matanya mulai panas.
Kalau ia resign sekarang, apa yang akan ia katakan pada mereka?
Bahwa hari pertamanya hancur karena bertemu mantan?
Bahwa ia takut pada pria yang pernah ia tinggalkan demi melindungi keluarganya?
Bahwa pekerjaan yang sudah lama ia tunggu harus dilepas sebelum gaji pertama karena ia tidak sanggup menghadapi masa lalu?
Aruna menggigit bibirnya lebih kuat.
Tidak. Ia tidak boleh selemah itu. Tetapi bertahan pun terasa seperti berjalan ke arah api.
Ia membuka dokumen itu lagi dan mengetik kalimat baru.
Dengan hormat, melalui surat ini saya bermaksud mengajukan pengunduran diri dari posisi staf administrasi proyek…
Tangannya berhenti di tengah kalimat. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya mati-matian.
Nena tidak bicara. Fitri juga diam. Keduanya membiarkan Aruna bergulat dengan dirinya sendiri.
Di seberang ruangan, Dona memperhatikan dari balik layar komputer. Senyum kecil muncul di bibirnya, seolah ia menikmati pemandangan Aruna yang terlihat nyaris runtuh.
Aruna tidak melihatnya. Ia hanya melihat kursor yang berkedip di ujung kalimat resign yang belum selesai.
Kalau ia menekan tombol kirim suatu saat nanti, semua selesai.
Ia bisa pergi.
Ia bisa menjauh dari Aray.
Ia bisa menghindari dendam yang mungkin sudah menunggunya.
Namun ia juga akan kehilangan kesempatan. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan harapan baru untuk keluarganya.
Aruna menghapus kalimat itu perlahan. Satu kata. Lalu kata berikutnya. Sampai layar kembali kosong.
Nena mengembuskan napas lega yang jelas sekali terdengar. “Aku tidak mau memaksa, tapi… terima kasih karena belum mengirim apa pun.”
Aruna menutup matanya. “Aku belum tahu harus bagaimana.”
Fitri berkata pelan, “Untuk sekarang, cukup jangan melakukan apa pun yang tidak bisa kamu tarik kembali.”
Aruna mengangguk lemah. Ia baru saja hendak menutup dokumen kosong itu ketika telepon meja di samping komputernya berbunyi.
Tring.
Aruna tersentak. Nena ikut kaget. Fitri langsung menoleh ke pesawat telepon.
Dering kedua terdengar.
Tring.
Aruna menatap benda itu seolah melihat ular.
“Angkat,” kata Fitri pelan.
Dengan tangan gemetar, Aruna meraih gagang telepon.
“Halo?” suaranya nyaris pecah.
Di seberang sana, suara perempuan terdengar formal dan rapi.
“Selamat siang. Dengan Saudari Aruna Kirana dari divisi administrasi proyek?”
“I-iya. Saya sendiri.”
“Saya Raline, sekretaris CEO. Pak Aray meminta Saudari datang ke ruang beliau sekarang.”
Napas Aruna berhenti. Nena menutup mulut. Fitri menatap Aruna tanpa berkedip. Dari kejauhan, Dona perlahan mengangkat wajah, seolah mencium sesuatu yang menarik.
Aruna menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Sekarang?” tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.
“Betul. Ruang CEO, lantai tiga puluh. Mohon datang segera.”
Sambungan telepon terputus. Aruna masih memegang gagang itu beberapa detik setelah suara di seberang hilang. Lalu perlahan, ia meletakkannya kembali.
Nena berbisik, “Run…”
Aruna menatap layar laptopnya yang masih kosong. Surat resign itu belum sempat selesai diketik.
Namun pemilik alasan terbesar untuk menulisnya baru saja memanggilnya ke ruang paling berbahaya di gedung ini.